|
|
[ 1 ]
Seorang pendaki Inggris David Sharp mengalami kematian secara perlahan di atas Everest pada bulan Mei lalu. Ketika ia terbaring menuju maut, sekitar 40 orang pendaki berjalan melewatinya. Benarkah ambisi untuk menaklukan puncak dunia telah menghilangkan sisi kemanusiaan? Peter Gillman dari The Sunday Time Magazine mencoba investigasi.
RUMAH TANGGAkU memang benar-benar berantakan. Bayangkan, dulu kami yang terbilang kaya dengan memiliki sejumlah usaha. Tapi, kini usaha itu bangkrut satu per satu. Tinggallah aku tinggal bersama ayah dan ibu tiriku, Bahkan, mobil pun telah dijual.
Derita batin yang dialami istriku, dibawanya hingga akhir hayat. Sungguh tak ada yang paling kusesali kecuali rasa berdosa akan semua kelakuanku. Pembaca, sebut saja aku Gali (samaran). Aku menikah dengan Dea (samaran) tahun 2002 lalu, dan kini telah dikaruniai seorang anak.
Siapa sih yang tidak kesal bila memiliki suami yang tak bertanggung jawab dan tidak dewasa. Itulah yang aku alami sekarang. Bahar (nama samaran), suamiku, sudah lima bulan tidak pulang ke rumah. Itu pun tidak memberikan nafkah lahir maupun bathin. Beruntung, aku memiliki warung kecil-kecilan di halaman rumah sehingga bisa menghidupi kedua anakku yang masih kecil.
Perjodohan kadang membawa petaka. Begitu juga halnya denganku. Oleh orang tua, aku dijodohkan dengan seorang pria yang tidak kekenali. Memang sih, dari segi materi, semua kebutuhanku tercukupi.. Namun, keluarga yang bahagia kan bukan cuma diukur dari materi ?
Tak sedikitpun yang terbersik untuk menyakiti Kak Dian (samaran) kakak kandungku sendiri. Aku hanya tak kuasa melawan godaan seks dari Mas Ferry (samaran), suaminya, sehingga kami terlibat hubungan seksual yang begitu jauh. Kakak Ipar ku itu telah merenggut kegadisanku. Dan aku menjadi terbuai dan tergoda oleh Ipar ku yang perkasa itu.
Bagi orang lain, Mas Har (samaran,red) dianggapnya sebagai lelaki yang ganteng, baik, dan tegas. Namun bagiku, dia tak lebih dari seorang lelaki yang telah membuat hatiku tersiksa begitu lama.
Perceraian yang terjadi di antara dua pasangan suami-istri memiliki alasan bermacam-macam. Ada yang karena salah satunya ketahuan selingkuh, ketakcocokan paham dan prinsip, adanya pihak orang tua yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga dan lainnya.
Nama
saya Djuhdi Adam (usia 66 tahun), tinggal di Koja, Jakarta Utara. Saya
adalah pensiunan pegawai Perum Pelindo II Jakarta. Saya juga menjabat
sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kotamadya Jakarta Utara.
Suami saya punya penyakit gula, ada darah tinggi,
suka mengeluh, suka lemas. Saya minta suami saya memakai kalung biofir,
dia menyatakan bahwa semenjak memakai kalung bio, lebih segar, lebih
bersemangat. Sekarang kalung bio tidak pernah lepas dari leher suami
saya, kecuali saat mandi.
[ 1 ]
|