Gudang Lagu
Sumber Lainnya
English Articles
Pengetahuan Umum
Info Cewek Hot
Hot Asian Cigarettes
Facebook Layouts
Kumpulan Tips & Trik Jitu
Free Games Download
Tanah Murah
Info Selebritis Sexy
Perkakas Wanita
Info Property
Tarif Booking Cewek
Situs Film Dewasa
Handphone Murah

Komentar
 [ 1 ]   2     >>

KEKUATAN YANG TERKANDUNG DALAM AHIMSA
Kekuatan dari Ahimsa lebih besar dari kekuatan intelek. Adalah mudah untuk membangun intelektualitas, akan tetapi amat sulit untuk memurnikan dan mengembangkan batin. Dengan mempraktekan Ahimsa berarti mengembangkan batin dengan cara yang amat mengagumkan.

Sebetulnya hanya ada satu pesan bagi umat beragama, yakni pesan Ahimsa.
Ahimsa adalah satu tugas luhur dari manusia.
Ahimsa, atau penghentian dari menyakiti makhluk hidup, merupakan kwalitas khusus yang amat ditekankan didalam etika-moral Hindu. Ahimsa telah menjadi doktrin sentral bagi Hindu sejak masa-masa yang paling awal dari peradaban India. Sesungguhnyalah, Ahimsa adalah kekuatan spiritual yang agung.

Dalam melaksanakan Nyepi, pada intinya umat Hindu melaksanakan proses keagamaan untuk pembersihkan diri, alam semesta dan lingkungan, serta menempatkan makhluk alam bawah sesuai dengan tempatya. Lalu, apa konteks pantai, sungai, serta "pempatan agung" dalam perayaan Nyepi ini?

Banyak kalangan lain di luar umat Hindu melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara dalam merayakan Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan dengan kemeriahan, pesta makan – minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah “Catur berata penyepian”.

Liukan ombak pantai yang memecahkan karang menandakan kebesaran Tuhan yang tiada tandingannya. Tiupan angin laut Samudera Indonesia ini memecahkan keheningan umat yang dengan khusyuk melantunkan doa-doa memohon karunia dari Beliau yang berstana di Pura Masceti. Sebuah pura besar yang berada di tepian utara pantai untuk memuja Batara Wisnu dengan saktinya Dewi Sri guna memohon kamakmuran. Selain itu, di Pura Masceti juga sebagai tempat mencari kawisesan (kesaktian) dan ilmu pengobatan bagi para balian.

Dulu Menjadi Lokasi Pelabuhan di Zaman Arya Pura Buwit yang berlokasi di pinggir pantai Tulikup Gianyar menyimpan nilai sejarah yang cukup tinggi. Zaman dahulu pura tersebut adalah pelabuhan para arya yang datang dari Pulau Jawa ke Bali Dwipa. Seperti apa?

Digagas Megawati, Diharap Dapat Diresmikan SBY Megaproyek embung Telagatunjung di Desa Timpag, Kerambitan, Tabanan, akhirnya kelar dan kemarin telah digelar pecaruan serta mulang pakelem. Kegiatan ritual tersebut dilakukan Gubernur Bali Dewa Made Beratha dan dipuput Ida Pedanda Keniten dari Gria Jumpung Banjar Lebah, Timpag. Bagaimana suasananya?

TRADISI beragama Hindu di Bali wujudnya sangat lokal Bali. Tetapi, di dalamnya terkandung nilai-nilai moral yang universal. Galungan, misalnya, yang segera akan dirayakan umat Hindu, dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja. Nilai yang dikandungnya tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu saja. Nilai yang universal diwujudkan dengan budaya lokal, agar nilai global universal itu lebih mudah diaktualkan dalam kehidupan sosial yang kontekstual dengan perkembangan ruang dan waktu. Nilai-nilai moral yang universal dalam perayaan Galungan tersurat dan tersirat dalam teks kitab sastra. Teks penjelasan Galungan tersurat dalam Lontar Sunarigama. Dalam teksnya ada yang tersurat pesan moral yang universal dan ada juga yang tersurat untuk aplikasi lokal. Galungan pada hakikatnya untuk mensinergikan kekuatan suci yang ada dalam diri setiap manusia untuk membangun jiwa yang terang untuk menghapuskan kekuatan gelap (adharma) dalam diri.

Om Svastyastu,

Tidak semua abu dari benda yang dibakar dianggap abu suci. Bhasma adalah abu suci dari homa (api suci) yang menggunakan kayu khusus dengan ghee serta daun obat lainnya yang dipersembahkan sebagai pemujaan kepada Tuhan.

SIFAT benci, marah dan iri hati adalah tiga sekawan yang lahir dari kemelekatan dan keakuan (egois). Bila ketiganya ini dimiliki oleh seseorang, maka jadilah dia orang yang paling menderita karena ketegangan dan frustasi. Rasa benci adalah pembunuh kegembiraan yang paling besar, tidak ada kegembiraan maupun ketenangan dihati mereka yang memiliki rasa benci. Seseorang menjadi benci karena melihat orang lain berhasil dan banyak punya pengikut. Ke"akuannya" tidak membenarkan orang lain menyaingi dirinya, baik dalam materi, kekuasaan maupun pengaruh. Dengan segala tipu dan cara ingin dia melenyapkan saingannya itu. Kami akan mengutifkan dua buah contoh dari kejahatan yang ditimbulkan oleh rasa benci serta bagaimana untuk mengatasinya.

Meditasi yang diterapkan secara baik ternyata sangat membantu proses belajar mengajar. Hal ini telah dibuktikan di SD Cipta Darma, Denpasar yang telah membudayakan meditasi serta duduk hening sejak setahun belakangan. Kepala SD Cipta Darma, Ni Nyoman Muliathi, menyatakan terjadi perubahan perilaku anak didik sejak sekolah ini menerapkan meditasi yang teratur di sekolahnya sebelum proses belajar mengajar.

PERAYAAN Siwaratri identik dengan melaksanakan monobrata (tidak berbicara), upawasa (puasa) dan jagra (begadang). Tak hanya itu, kisah Lubdaka pun sering dijadikan flash back perayaan Siwaratri. Bagi kebanyakan orang, Siwaratri sering dianggap malam penebusan dosa. Padahal sebenarnya tidak begitu. Istilah yang mungkin lebih tepat adalah malam perenungan dan mohon ampunan.

PURA Dang Kahyangan adalah pura tempat asrama para rsi atau pandita menyebarkan ajaran kerohanian Hindu pada umat agar ajaran agama itu dapat menjadi penuntun umat dalam segala aspek kehidupannya. Pura Dang Kahyangan, seperti Pura Silayukti di Padangbai dan Pura Rambutsiwi di Jembrana.

Bahwa Bali itu istimewa, unik, khas, menarik, tidak terbantah karena masyarakat dunia telah mengakuinya bahkan sejak ratusan tahun lampau ketika Bali mula-mula terkuak oleh laporan Aernoudt Lintgens yang tak sengaja mengunjungi Bali pada tanggal 9-25 Pebruari 1597. Ia menulis dalam laporannya kepada Pemerintah Belanda, pulau kecil ini sangat istimewa terutama oleh keramah tamahan penduduknya yang hidup makmur, didukung alam yang indah dan subur, pemerintahan Raja yang bijaksana dan taat melaksanakan ritual agama Hindu sehari-hari. Segala bentuk kesenian yang tiada bandingnya di dunia, berkembang sejalan dengan keyakinan kuat penduduknya yang memeluk agama Hindu.

Asal muasal sehingga dr Janu menjalani vegetarian sungguhlah unik.
Setelah melihat mayat yang dibedah ketika th 1983 menjadi mahasiswa fakultas kedokteran, timbul stigma mayat setiap saat makan makanan yang mengandung daging. Dokter Janu lalu memutuskan untuk mencari makanan  pengganti daging. Karena seorang dokter, dia mencari info secara detail tentang vegetarian, yang pada hakikatnya mengganti protein hewani dengan protein nabati. Setelah mantap, kemudian terjadilah proses vegetarian di dalam menu sehari-harinya.

Tuk mengembalikan keseimbangan alam, bakal diadain Upacara Pemarisudha Karipubaya di Legian, yang juga diikuti semua umat Hindu di Bali. Upacara Pemarisudha Karipubaya sudah berlansung Mulai tgl 4 Nop 2002, Senin wage julungwangi.

Rangkaian upacaranya sbb:

Hari Galungan merupakan hari raya yang paling meriah dirayakan oleh umat Hindu di Bali. Ada beberapa rangkaian hari raya yang mendahului Hari Raya Galungan yaitu:

Penjor, simbol Gunung Agung
Segala pala bungkah- pala gantung dan sajen pada sanggah penjor, melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri Putri). Gunung adalah sumber dari kesuburan dan akhirnya ke kemakmuran.

Umat Hindu di Nusantara mempunyai banyak hari raya seperti Galungan, Kuningan,Saraswati, agerwesi, Nyepi dan lain lainnya, setiap hari raya mempunyai makna tersendiri sesuai dengan tatwa, teologi, sosiokultural. Di antara semua hari raya yang dilaksanakan di
Bali, Hari Raya Galungan merupakan hari raya yang paling meriah, karena mempunyai makna sebagai hari kemenangan. Arti kemenangan di sini adalah umat Hindu selama 6 (enam) bulan, melakukan proses kegiatan kehidupan (karma) baik dalam bidang Dharma Agama maupun Dharma Negara banyak mengalami rintangan-rintangan yang selalu
menghadang dalam kehidupan ini, tetapi dengan selalu menegakkan Dharma, semua permasalahan tersebut dapat diatasi dengan baik, inilah yang disebut dengan kemenangan.

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali.

Hari Raya Galungan merupakan hari raya terbesar dan termeriah bagi umat Hindu di Bali. Semua orang, terutama anak-anak dan kaum muda tentu menyambut hari raya ini dengan penuh suka cita, bahkan dengan menyiapkan pakaian baru dan sebagainya. Bagi para orang tua, kegiatan mereka disibukkan untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk perayaan Galungan. Berdasarkan kitab Usana Bali dan Kekawin Mayadanawantaka, Hari Raya Galungan merupakan perayaan kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan). Keberadaan hari raya ini sangat erat kaitannya dengan cerita Mayadanawa yang sangat terkenal bagi masyarakat Bali.

A. Memahami Makna Kehidupan
Hidup bermasyarakat merupakan kebutuhan bagi setiap orang, karena manusia tidak dapat hidup dalam kesendirian. Hidup bersama dalam masyarakat memerlukan pengorbanan dan saling pengertian. Tanpa kesediaan berkorban dan saling pengertian, maka hidup manusia akan mencemaskan, pada saat itu akan berlaku "matsyanyàya", yakni, hukum rimba, yang kuat mengalahkan yang lemah.

Cerita Mayadanawa merupakan gabungan antara cerita sejarah dan mithologis. Cerita ini merupakan latar belakang pelaksanaan Hari Raya Galungan bagi umat Hindu.

Satu-satunya yang akan menyertai seseorang bahkan setelah mati adalah dharma itu, yang lainnya akan hilang pada waktu bersamaan dengan musnahnya jasad ini (Manawa Dharmacastra VIII.17).

Kata Olihan diartikan sebagai ‘oleh-oleh’ (buku Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-aspek Agama Hindu). Maksudnya, umat menyuguhkan oleh-oleh kepada para dewa dan pitara yang akan kembali ke kahyangan. Oleh-oleh itu dapat berupa rempah-rempah, urutan, beras, dll. Atau berupa makanan sehari-hari, seperti jajan misalnya, yang diperkirakan tepat dihaturkan sebagai oleh-oleh untuk para dewa dan pitara.

Umanis Galungan saat tepat masimakrama, untuk mempererat tali kekerabatan. Kalau toh dimanfaatkan untuk maceki dan meapelalianan, hendaknya jangan sampai menjadi perjudian. Hari Umanis Galungan dimanfaatkan oleh masyarakat Bali untuk masimakrama dengan keluarga
dan sanak famili. Tak ketinggalan, bajang-teruna merayakannya dengan melali ke tempat-tempat rekreasi dan pusat perbelanjaan. Ida Pedanda Gede Pidada Punia Atmadja melihat keduanya sebagai ungkapan suka cita. Berikut pandangan Sulinggih yang pernah menjabat Ketua Umum PHDI Pusat ini.

Hari Raya Kuningan merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan, yang kali ini jatuh pada tgl 30 ov 2002.

Sehari sebelum Hari Raya Kuningan disebut dengan Hari Penampahan Kuningan, yang jatuh pada hari Jumat, Wage, wuku Kuningan yaitu tgl 29 Nov 2002. Pada hari ini merupakan saat untuk mempersiapkan segala perlengkapan upacara untuk perayaan Kuningan keesokan harinya.

Sabtu, 30 November 2002, yang dalam almanak Bali disebut Saniscara Kliwon Wuku Kuningan umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Ritual tiap 210 hari ini menjadi satu rangkaian dengan perayaan Hari Galungan yang dirayakan sepuluh hari sebelumnya. Filosofinya, pada hari Kuningan ini umat Hindu mempersembahkan ritual khusus kepada para leluhur sebelum 'pulang' ke alam dewa-dewa. Setelah 'menjenguk' alam manusia sejak Hari Raya Galungan, saat umat Hindu merayakan kemenangan memerangi segala ripu (kekotoran batin) dan bersiap dengan jiwa bersih suci menegakkan kebenaran di dalam kehidupan selanjutnya.

 [ 1 ]   2     >>

 

atom feed entries rss feed entries Valid XHTML 1.0 Transitional
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
Powered by Mana Visual Article
eXTReMe Tracker