|
|
KEKUATAN YANG TERKANDUNG DALAM AHIMSA Kekuatan dari Ahimsa lebih besar dari kekuatan intelek. Adalah mudah
untuk membangun intelektualitas, akan tetapi amat sulit untuk
memurnikan dan mengembangkan batin. Dengan mempraktekan Ahimsa berarti
mengembangkan batin dengan cara yang amat mengagumkan.
Sebetulnya hanya ada satu pesan bagi umat beragama, yakni pesan Ahimsa. Ahimsa adalah satu tugas luhur dari manusia. Ahimsa, atau penghentian dari menyakiti makhluk hidup, merupakan
kwalitas khusus yang amat ditekankan didalam etika-moral Hindu. Ahimsa
telah menjadi doktrin sentral bagi Hindu sejak masa-masa yang paling
awal dari peradaban India. Sesungguhnyalah, Ahimsa adalah kekuatan
spiritual yang agung.
Dalam melaksanakan Nyepi, pada intinya umat
Hindu melaksanakan proses keagamaan untuk pembersihkan diri, alam
semesta dan lingkungan, serta menempatkan makhluk alam bawah sesuai
dengan tempatya. Lalu, apa konteks pantai, sungai, serta "pempatan
agung" dalam perayaan Nyepi ini?
Banyak kalangan lain di luar umat Hindu
melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara dalam merayakan
Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan dengan
kemeriahan, pesta makan – minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat
Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan
Sasih Kadasa” menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya
dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana sepi,
tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa
melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan
(amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah “Catur berata penyepian”.
Liukan ombak pantai yang memecahkan karang
menandakan kebesaran Tuhan yang tiada tandingannya. Tiupan angin laut
Samudera Indonesia ini memecahkan keheningan umat yang dengan khusyuk
melantunkan doa-doa memohon karunia dari Beliau yang berstana di Pura
Masceti. Sebuah pura besar yang berada di tepian utara pantai untuk
memuja Batara Wisnu dengan saktinya Dewi Sri guna memohon kamakmuran.
Selain itu, di Pura Masceti juga sebagai tempat mencari kawisesan
(kesaktian) dan ilmu pengobatan bagi para balian.
Dulu Menjadi Lokasi Pelabuhan di Zaman Arya
Pura Buwit yang berlokasi di pinggir pantai Tulikup Gianyar menyimpan
nilai sejarah yang cukup tinggi. Zaman dahulu pura tersebut adalah
pelabuhan para arya yang datang dari Pulau Jawa ke Bali Dwipa. Seperti
apa?
Digagas Megawati, Diharap Dapat Diresmikan
SBY Megaproyek embung Telagatunjung di Desa Timpag, Kerambitan,
Tabanan, akhirnya kelar dan kemarin telah digelar pecaruan serta mulang
pakelem. Kegiatan ritual tersebut dilakukan Gubernur Bali Dewa Made
Beratha dan dipuput Ida Pedanda Keniten dari Gria Jumpung Banjar Lebah,
Timpag. Bagaimana suasananya?
TRADISI beragama Hindu di Bali wujudnya
sangat lokal Bali. Tetapi, di dalamnya terkandung nilai-nilai moral
yang universal. Galungan, misalnya, yang segera akan dirayakan umat
Hindu, dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja. Nilai yang
dikandungnya tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu saja. Nilai
yang universal diwujudkan dengan budaya lokal, agar nilai global
universal itu lebih mudah diaktualkan dalam kehidupan sosial yang
kontekstual dengan perkembangan ruang dan waktu. Nilai-nilai moral yang
universal dalam perayaan Galungan tersurat dan tersirat dalam teks
kitab sastra. Teks penjelasan Galungan tersurat dalam Lontar
Sunarigama. Dalam teksnya ada yang tersurat pesan moral yang universal
dan ada juga yang tersurat untuk aplikasi lokal. Galungan pada
hakikatnya untuk mensinergikan kekuatan suci yang ada dalam diri setiap
manusia untuk membangun jiwa yang terang untuk menghapuskan kekuatan
gelap (adharma) dalam diri.
Om Svastyastu, Tidak semua abu dari benda yang dibakar dianggap abu suci. Bhasma
adalah abu suci dari homa (api suci) yang menggunakan kayu khusus
dengan ghee serta daun obat lainnya yang dipersembahkan sebagai
pemujaan kepada Tuhan.
SIFAT benci, marah dan iri hati adalah tiga
sekawan yang lahir dari kemelekatan dan keakuan (egois). Bila ketiganya
ini dimiliki oleh seseorang, maka jadilah dia orang yang paling
menderita karena ketegangan dan frustasi. Rasa benci adalah pembunuh
kegembiraan yang paling besar, tidak ada kegembiraan maupun ketenangan
dihati mereka yang memiliki rasa benci. Seseorang menjadi benci karena
melihat orang lain berhasil dan banyak punya pengikut. Ke"akuannya"
tidak membenarkan orang lain menyaingi dirinya, baik dalam materi,
kekuasaan maupun pengaruh. Dengan segala tipu dan cara ingin dia
melenyapkan saingannya itu. Kami akan mengutifkan dua buah contoh dari
kejahatan yang ditimbulkan oleh rasa benci serta bagaimana untuk
mengatasinya.
Meditasi yang diterapkan secara baik
ternyata sangat membantu proses belajar mengajar. Hal ini telah
dibuktikan di SD Cipta Darma, Denpasar yang telah membudayakan meditasi
serta duduk hening sejak setahun belakangan. Kepala SD Cipta Darma, Ni
Nyoman Muliathi, menyatakan terjadi perubahan perilaku anak didik sejak
sekolah ini menerapkan meditasi yang teratur di sekolahnya sebelum
proses belajar mengajar.
PERAYAAN Siwaratri identik dengan
melaksanakan monobrata (tidak berbicara), upawasa (puasa) dan jagra
(begadang). Tak hanya itu, kisah Lubdaka pun sering dijadikan flash
back perayaan Siwaratri. Bagi kebanyakan orang, Siwaratri sering
dianggap malam penebusan dosa. Padahal sebenarnya tidak begitu. Istilah
yang mungkin lebih tepat adalah malam perenungan dan mohon ampunan.
PURA Dang Kahyangan adalah pura tempat
asrama para rsi atau pandita menyebarkan ajaran kerohanian Hindu pada
umat agar ajaran agama itu dapat menjadi penuntun umat dalam segala
aspek kehidupannya. Pura Dang Kahyangan, seperti Pura Silayukti di
Padangbai dan Pura Rambutsiwi di Jembrana.
Bahwa Bali itu istimewa, unik, khas,
menarik, tidak terbantah karena masyarakat dunia telah mengakuinya
bahkan sejak ratusan tahun lampau ketika Bali mula-mula terkuak oleh
laporan Aernoudt Lintgens yang tak sengaja mengunjungi Bali pada
tanggal 9-25 Pebruari 1597. Ia menulis dalam laporannya kepada
Pemerintah Belanda, pulau kecil ini sangat istimewa terutama oleh
keramah tamahan penduduknya yang hidup makmur, didukung alam yang indah
dan subur, pemerintahan Raja yang bijaksana dan taat melaksanakan
ritual agama Hindu sehari-hari. Segala bentuk kesenian yang tiada
bandingnya di dunia, berkembang sejalan dengan keyakinan kuat
penduduknya yang memeluk agama Hindu.
Asal muasal sehingga dr Janu menjalani vegetarian sungguhlah unik. Setelah melihat mayat yang dibedah ketika th 1983 menjadi mahasiswa fakultas kedokteran, timbul stigma mayat setiap saat makan makanan yang mengandung daging. Dokter Janu lalu memutuskan untuk mencari makanan pengganti daging. Karena seorang dokter, dia mencari info secara detail tentang vegetarian, yang pada hakikatnya mengganti protein hewani dengan protein nabati. Setelah mantap, kemudian terjadilah proses vegetarian di dalam menu sehari-harinya.
Tuk mengembalikan keseimbangan alam, bakal
diadain Upacara Pemarisudha Karipubaya di Legian, yang juga diikuti
semua umat Hindu di Bali. Upacara Pemarisudha Karipubaya sudah
berlansung Mulai tgl 4 Nop 2002, Senin wage julungwangi. Rangkaian upacaranya sbb:
Hari Galungan merupakan hari raya yang paling
meriah dirayakan oleh umat Hindu di Bali. Ada beberapa rangkaian hari
raya yang mendahului Hari Raya Galungan yaitu:
Penjor, simbol Gunung Agung Segala pala bungkah- pala gantung dan sajen pada sanggah penjor,
melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri
Putri). Gunung adalah sumber dari kesuburan dan akhirnya ke kemakmuran.
Umat Hindu di Nusantara mempunyai banyak
hari raya seperti Galungan, Kuningan,Saraswati, agerwesi, Nyepi dan
lain lainnya, setiap hari raya mempunyai makna tersendiri sesuai dengan
tatwa, teologi, sosiokultural. Di antara semua hari raya yang
dilaksanakan di Bali, Hari Raya Galungan merupakan hari
raya yang paling meriah, karena mempunyai makna sebagai hari
kemenangan. Arti kemenangan di sini adalah umat Hindu selama 6 (enam)
bulan, melakukan proses kegiatan kehidupan (karma) baik dalam bidang
Dharma Agama maupun Dharma Negara banyak mengalami rintangan-rintangan
yang selalu menghadang dalam kehidupan ini, tetapi dengan selalu menegakkan Dharma,
semua permasalahan tersebut dapat diatasi dengan baik, inilah yang
disebut dengan kemenangan.
Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama
saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi
sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini.
Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama
di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali.
Hari Raya Galungan merupakan hari
raya terbesar dan termeriah bagi umat Hindu di Bali. Semua orang,
terutama anak-anak dan kaum muda tentu menyambut hari raya ini dengan
penuh suka cita, bahkan dengan menyiapkan pakaian baru dan sebagainya.
Bagi para orang tua, kegiatan mereka disibukkan untuk menyiapkan segala
sesuatunya untuk perayaan Galungan. Berdasarkan kitab Usana Bali dan Kekawin Mayadanawantaka,
Hari Raya Galungan merupakan perayaan kemenangan Dharma (kebenaran)
atas Adharma (kejahatan). Keberadaan hari raya ini sangat erat
kaitannya dengan cerita Mayadanawa yang sangat terkenal bagi masyarakat Bali.
A. Memahami Makna Kehidupan Hidup bermasyarakat merupakan kebutuhan bagi setiap orang, karena
manusia tidak dapat hidup dalam kesendirian. Hidup bersama dalam
masyarakat memerlukan pengorbanan dan saling pengertian. Tanpa
kesediaan berkorban dan saling pengertian, maka hidup manusia akan
mencemaskan, pada saat itu akan berlaku "matsyanyàya", yakni, hukum
rimba, yang kuat mengalahkan yang lemah.
Cerita Mayadanawa merupakan gabungan antara
cerita sejarah dan mithologis. Cerita ini merupakan latar belakang
pelaksanaan Hari Raya Galungan bagi umat Hindu.
Satu-satunya yang akan menyertai
seseorang bahkan setelah mati adalah dharma itu, yang lainnya akan
hilang pada waktu bersamaan dengan musnahnya jasad ini (Manawa Dharmacastra VIII.17).
Kata Olihan diartikan sebagai
‘oleh-oleh’ (buku Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir
Aspek-aspek Agama Hindu). Maksudnya, umat menyuguhkan oleh-oleh kepada
para dewa dan pitara yang akan kembali ke kahyangan. Oleh-oleh itu
dapat berupa rempah-rempah, urutan, beras, dll. Atau berupa makanan
sehari-hari, seperti jajan misalnya, yang diperkirakan tepat dihaturkan
sebagai oleh-oleh untuk para dewa dan pitara.
Umanis Galungan saat tepat masimakrama,
untuk mempererat tali kekerabatan. Kalau toh dimanfaatkan untuk maceki
dan meapelalianan, hendaknya jangan sampai menjadi perjudian. Hari
Umanis Galungan dimanfaatkan oleh masyarakat Bali untuk masimakrama
dengan keluarga dan sanak famili. Tak ketinggalan, bajang-teruna merayakannya dengan melali ke tempat-tempat rekreasi dan pusat perbelanjaan. Ida Pedanda Gede Pidada Punia Atmadja melihat keduanya sebagai ungkapan suka cita. Berikut pandangan Sulinggih yang pernah menjabat Ketua Umum PHDI Pusat ini.
Hari Raya Kuningan merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan, yang kali ini jatuh pada tgl 30 ov 2002. Sehari sebelum Hari Raya Kuningan disebut dengan Hari Penampahan Kuningan,
yang jatuh pada hari Jumat, Wage, wuku Kuningan yaitu tgl 29 Nov 2002.
Pada hari ini merupakan saat untuk mempersiapkan segala perlengkapan
upacara untuk perayaan Kuningan keesokan harinya.
Sabtu, 30 November 2002, yang dalam almanak Bali disebut Saniscara Kliwon Wuku Kuningan umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Ritual tiap 210 hari ini menjadi satu rangkaian dengan perayaan Hari
Galungan yang dirayakan sepuluh hari sebelumnya. Filosofinya, pada hari
Kuningan ini umat Hindu mempersembahkan ritual khusus kepada para
leluhur sebelum 'pulang' ke alam dewa-dewa. Setelah 'menjenguk' alam
manusia sejak Hari Raya Galungan, saat umat Hindu merayakan kemenangan
memerangi segala ripu (kekotoran batin) dan bersiap dengan jiwa bersih
suci menegakkan kebenaran di dalam kehidupan selanjutnya.
|