Sumber Cerita
  1   2   >   >>

    Pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu dibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan Panca Sradha, yaitu percaya adanya Tuhan (Hyang Widhi), percaya adanya Atman, percaya adanya Hukum Karma Phala, percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/ Samsara) dan percaya adanya Moksa.

    Reikarnasi/Punarbhawa/Samsara berarti kelahiran yang berulang-ulang, yang disebut juga penitisan kembali (reinkarnasi) atau Samsara. Di dalam Weda disebutkan bahwa “Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut Samsara. Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian diikuti oleh kelahiran”. Dalam suatu sloka disebutkan:

    Proses reinkarnasi digambarkan sebagai putaran roda yang berputar dari atas ke bawah, kemudian naik ke atas dengan tidak pernah berhenti. Perputaran roda reinkarnasi ini dipengaruhi oleh hokum karma yang dibawa oleh Atman yang disinari dengan Brahman melalui Triloka (tiga tempat), yaitu Bhur, Buvah dan Svah. Maka dalam Gayatri Mantram, Tri loka sangat penting diketahui sebagai tempat terjadinya proses reinkarnasi

    Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu karma dan phala, berasal dari bahasa Sanskerta. "Karma" artinya perbuatan dan "Phala" artinya buah, hasil, atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan seseorang.

    Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.

    Kalau kita tidak mendalami konsep Atman dan hukum karma (karma pala), maka reinkarnasi sebagai suatu kepercayaan adanya kelahiran yang berulang-ulang dalam agama Hindu agak meragukan, sebab kenyataan yang kita lihat adalah manusia lahir hanya sekali dalam hidupnya. Setelah kita mendalami konsep Atman dan hukum karma(karma pala ) baru kita jelas bahwa reinkarnasi merupakan kelahiran yang berulang-ulang dengan melalui Triloka yaitu Bhur, Bvah, Svah. Reinkarnasi dapat dibuktikan dalam kehidupan umat Hindu dalam melakukan upacara maupun kehidupan sebagai berikut.

    Maharsi Patanjali adalah pelopor ajaran Yoga yang merupakan bagian dari filsafat Hindu yaitu Sad Darsana. Buku beliau yang bernama Yogasutra terdiri dari empat bagian yaitu :

  • Moksa  (by: Yoga Adi Purwanto)

    Menurut kitab-kitab Upanisad, moksa adalah keadaan atma yang bebas dari segala bentuk ikatan dan bebas dari samsara. Yang dimaksud dengan atma adalah roh, jiwa. Sedangkan hal-hal yang termasuk ikatan adalah :

    Apakah Pengertian dari Dana Punia itu ? Apakah yang menjadi landasan Dana Punia ? Berapa jeniskah kita mengenal Dana Punia ? Siapakah yang berkewajiban melaksanakan dana punia ? Siapakah yang berhak menerima Dana Punia ? Bagaimana Pelaksanaan Dana Punia ? Apakah dasarnya dana Punia ? Sampai kapankah Dana Punia itu dilaksanakan ?

    Etika kehidupan sehari-hari yang harus dilaksanakan oleh seorang Bhakta. Etika ini merupakan rambu-rambu Dharma yang mencegah kita kedalam kesesatan adharma. Yang pertama adalah:

    Setelah berhasil melaksanakan grhastha ashrama (kehidupan berumah tangga) dengan baik maka tahapan berikutnya adalah vanaprastha. Ukuran yang digunakan menilai keberhasilan melaksanakan grhastha antara lain sudah tua, dan sudah mempunyai keturunan atau penyambung generasi yang mapan.

    Grhastha adalah masa berumah tangga, masa menikah dan mengembangkan keturunan. Dalam menempuh ashrama yang kedua ini diupayakan terwujudnya rumah tangga/keluarga yang bahagia. Kebahagiaan ditunjang oleh unsur-unsur material dan non material. Unsur material adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan/perumahan, semuanya disebut artha. Unsur non material adalah rasa kedekatan dengan Hyang Widhi yang disebut dharma, dan unsur non material lainnya : pendidikan, sex, kasih sayang antara suami - istri - anak, mempunyai keturunan, keamanan rumah tangga, harga diri keluarga, dan eksistensi sosial di masyarakat yang semuanya disebut kama. Berkeluarga mempunyai arti dan kedudukan khusus dalam kehidupan manusia karena melalui pernikahan lahirlah anak-anak yang disebut putra.

    Catur Asrama adalah empat tingkatan kehidupan yang wajib/ideal dijalani manusia Hindu selama hidupnya, yaitu : Brahmacari, Grhastha, Vanaprastha, dan Bhiksuka. Karena menjadi kewajiban, maka bila ada manusia Hindu yang tidak melaksanakan catur ashrama dengan baik, akan sia-sialah hidupnya di dunia ini.

    Bhakti Marga adalah salah satu jalan menuju Hyang Widhi dengan memuja-Nya secara tulus ikhlas. Mereka yang melakukan dengan baik disebut Bhakta. Bhakti ada dua kelompok besar yaitu :

    Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu :

    Hindu ditandai dengan sifat rasional yang sangat kuat. Melalui jalan berliku dari harapan samar dan renunsiasi praktis, dogma-dogma ketat dan petualangan jiwa yang tidak mengenal takut, melalui empat atau lima melinium upaya-upaya tanpa henti dalam bidang menthapisik dan teologi para Maharesi Hindu telah mencoba untuk menangkap masalah-masalah terakhir dalam suatu kesetiaan kepada kebenaran dan perasaan atas kenyataan. Peradaban brahmanikal, terlatih menilai masalah-masalah tanpa emosi dan mendasarkan kesimpulan mereka atas pengalaman-pengalaman fundamental.

    Beberapa jenis dan bentuk persembahan beserta fungsi dan artinya:

    Hari Raya Galungan jatuh pada Budha Keliwon Dungulan. Berdasarkan pustaka 'Panji Alamat Rasmi' di Jawa Timur pada jaman Jenggala (abad XI), hari raya ini sudah dirayakan. Demikian juga pada 'Pararaton' akhir jaman kerajaan Majapahit pada abad XVI, hari raya ini juga telah dirayakan.

    Hari Raya Galungan mempunyai arti "Pawedalan Jagat" atau "Oton Gumi". Ini bukan berarti gumi/jagat lahir pada hari Budha Keliwon wuku Dungulan. Melainkan pada hari itulah umat Hindu menghaturkan 'maha suksemaning idepnya' (rasa terima kasih) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan atas terciptanya dunia beserta segala isinya. Pada hari inilah umat Hindu 'angayubagia' (bergembira), bersyukur atas karunia-Nya.

     

    Asal muasal sehingga dr Janu menjalani vegetarian sungguhlah unik.
    Setelah melihat mayat yang dibedah ketika th 1983 menjadi mahasiswa fakultas kedokteran, timbul stigma mayat setiap saat makan makanan yang mengandung daging. Dokter Janu lalu memutuskan untuk mencari makanan  pengganti daging. Karena seorang dokter, dia mencari info secara detail tentang vegetarian, yang pada hakikatnya mengganti protein hewani dengan protein nabati. Setelah mantap, kemudian terjadilah proses vegetarian di dalam menu sehari-harinya.

    Sebetulnya hanya ada satu pesan bagi umat beragama, yakni pesan Ahimsa.
    Ahimsa adalah satu tugas luhur dari manusia.
    Ahimsa, atau penghentian dari menyakiti makhluk hidup, merupakan kwalitas khusus yang amat ditekankan didalam etika-moral Hindu. Ahimsa telah menjadi doktrin sentral bagi Hindu sejak masa-masa yang paling awal dari peradaban India. Sesungguhnyalah, Ahimsa adalah kekuatan spiritual yang agung.

    KEKUATAN YANG TERKANDUNG DALAM AHIMSA
    Kekuatan dari Ahimsa lebih besar dari kekuatan intelek. Adalah mudah untuk membangun intelektualitas, akan tetapi amat sulit untuk memurnikan dan mengembangkan batin. Dengan mempraktekan Ahimsa berarti mengembangkan batin dengan cara yang amat mengagumkan.

    Banyak kalangan lain di luar umat Hindu melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara dalam merayakan Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan dengan kemeriahan, pesta makan – minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah “Catur berata penyepian”.

    Dalam melaksanakan Nyepi, pada intinya umat Hindu melaksanakan proses keagamaan untuk pembersihkan diri, alam semesta dan lingkungan, serta menempatkan makhluk alam bawah sesuai dengan tempatya. Lalu, apa konteks pantai, sungai, serta "pempatan agung" dalam perayaan Nyepi ini?

    Digagas Megawati, Diharap Dapat Diresmikan SBY Megaproyek embung Telagatunjung di Desa Timpag, Kerambitan, Tabanan, akhirnya kelar dan kemarin telah digelar pecaruan serta mulang pakelem. Kegiatan ritual tersebut dilakukan Gubernur Bali Dewa Made Beratha dan dipuput Ida Pedanda Keniten dari Gria Jumpung Banjar Lebah, Timpag. Bagaimana suasananya?

    Dulu Menjadi Lokasi Pelabuhan di Zaman Arya Pura Buwit yang berlokasi di pinggir pantai Tulikup Gianyar menyimpan nilai sejarah yang cukup tinggi. Zaman dahulu pura tersebut adalah pelabuhan para arya yang datang dari Pulau Jawa ke Bali Dwipa. Seperti apa?

    Liukan ombak pantai yang memecahkan karang menandakan kebesaran Tuhan yang tiada tandingannya. Tiupan angin laut Samudera Indonesia ini memecahkan keheningan umat yang dengan khusyuk melantunkan doa-doa memohon karunia dari Beliau yang berstana di Pura Masceti. Sebuah pura besar yang berada di tepian utara pantai untuk memuja Batara Wisnu dengan saktinya Dewi Sri guna memohon kamakmuran. Selain itu, di Pura Masceti juga sebagai tempat mencari kawisesan (kesaktian) dan ilmu pengobatan bagi para balian.

    TRADISI beragama Hindu di Bali wujudnya sangat lokal Bali. Tetapi, di dalamnya terkandung nilai-nilai moral yang universal. Galungan, misalnya, yang segera akan dirayakan umat Hindu, dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja. Nilai yang dikandungnya tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu saja. Nilai yang universal diwujudkan dengan budaya lokal, agar nilai global universal itu lebih mudah diaktualkan dalam kehidupan sosial yang kontekstual dengan perkembangan ruang dan waktu. Nilai-nilai moral yang universal dalam perayaan Galungan tersurat dan tersirat dalam teks kitab sastra. Teks penjelasan Galungan tersurat dalam Lontar Sunarigama. Dalam teksnya ada yang tersurat pesan moral yang universal dan ada juga yang tersurat untuk aplikasi lokal. Galungan pada hakikatnya untuk mensinergikan kekuatan suci yang ada dalam diri setiap manusia untuk membangun jiwa yang terang untuk menghapuskan kekuatan gelap (adharma) dalam diri.

    Om Swastyastu,
    Umat Se-Dharma dan pembaca yang budiman,

    Sebagaimana kita ketahui bahwa Hindu mengenal empat jaman dari Treta Yuga, Kertha Yuga, Dwapara Yuga dan yang terakhir adalah Kali Yuga. Kehidupan kita sekarang ini berada pada jaman kali Yuga. Pada jaman ini banyak hal yang terjadi dan bertentangan dengan hati nurani. Anehnya kegiatan yang justru bertentangan dengan konsep hati nurani banyak penggemarnya. Inilah yang perlu kita kaji dan menjadi acuan berpikir, berkata dan bertindak untuk tetap kiranya ajeg dalam tatanan ajaran Dharma.

     

    Om Svastyastu,

    Tidak semua abu dari benda yang dibakar dianggap abu suci. Bhasma adalah abu suci dari homa (api suci) yang menggunakan kayu khusus dengan ghee serta daun obat lainnya yang dipersembahkan sebagai pemujaan kepada Tuhan.

    Meditasi yang diterapkan secara baik ternyata sangat membantu proses belajar mengajar. Hal ini telah dibuktikan di SD Cipta Darma, Denpasar yang telah membudayakan meditasi serta duduk hening sejak setahun belakangan. Kepala SD Cipta Darma, Ni Nyoman Muliathi, menyatakan terjadi perubahan perilaku anak didik sejak sekolah ini menerapkan meditasi yang teratur di sekolahnya sebelum proses belajar mengajar.

    SIFAT benci, marah dan iri hati adalah tiga sekawan yang lahir dari kemelekatan dan keakuan (egois). Bila ketiganya ini dimiliki oleh seseorang, maka jadilah dia orang yang paling menderita karena ketegangan dan frustasi. Rasa benci adalah pembunuh kegembiraan yang paling besar, tidak ada kegembiraan maupun ketenangan dihati mereka yang memiliki rasa benci. Seseorang menjadi benci karena melihat orang lain berhasil dan banyak punya pengikut. Ke"akuannya" tidak membenarkan orang lain menyaingi dirinya, baik dalam materi, kekuasaan maupun pengaruh. Dengan segala tipu dan cara ingin dia melenyapkan saingannya itu. Kami akan mengutifkan dua buah contoh dari kejahatan yang ditimbulkan oleh rasa benci serta bagaimana untuk mengatasinya.

  1   2   >   >>

 

 

atom feed entries rss feed entries
Link Exchange
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
Powered by Mana Visual Directory
eXTReMe Tracker