Lampiran Ketetapan Maha Sabha VII No. IV/TAP/M.Sabha VII/1996
20 September 1996
Pedoman dalam Melaksanakan DHARMA NEGARA
Atas Asung Kertha Wara Nugraha Hyang Widhi Wasa
Dengan berpedoman pada ajaran catur guru bhakti serta di dorong oleh rasa tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia
yang Bhineka Tunggal Ika, maka untuk meningkatkan peran serta
pengabdian umat Hindu dalam melaksanakan pembangunan nasional sebagai
pengamalan Pancasila, dengan ini mengeluarkan pedoman pelaksanaan
dharma negara sebagai berikut:
Om Swastyastu,
Umat Se-Dharma Yang Berbahagia,
Melalui latihan rohani, terutama penelitian tentang batin kita akan dapat menyadari dan menikmati sifat Tuhan yang selalu ada dalam hati nurani kita. Kerinduan untuk memperoleh pencerahan pengetahuan suci ini, untuk menghayati Hyang Widhi Wasa dalam keberagaman. Hal ini dinyatakan dalam sebuah doa yang terdapat dalam Upanisad yaitu :
Om Swastyastu,
Umat Se-Dharma dan pembaca yang budiman,
Sebagaimana kita ketahui bahwa Hindu mengenal empat jaman dari Treta Yuga, Kertha Yuga, Dwapara Yuga dan yang terakhir adalah Kali Yuga. Kehidupan kita sekarang ini berada pada jaman kali Yuga. Pada jaman ini banyak hal yang terjadi dan bertentangan dengan hati nurani. Anehnya kegiatan yang justru bertentangan dengan konsep hati nurani banyak penggemarnya. Inilah yang perlu kita kaji dan menjadi acuan berpikir, berkata dan bertindak untuk tetap kiranya ajeg dalam tatanan ajaran Dharma.
Hari Raya Galungan jatuh pada Budha Keliwon Dungulan. Berdasarkan pustaka 'Panji Alamat Rasmi' di Jawa Timur pada jaman Jenggala (abad XI), hari raya ini sudah dirayakan. Demikian juga pada 'Pararaton' akhir jaman kerajaan Majapahit pada abad XVI, hari raya ini juga telah dirayakan.
Hari Raya Galungan mempunyai arti "Pawedalan Jagat" atau "Oton Gumi". Ini bukan berarti gumi/jagat lahir pada hari Budha Keliwon wuku Dungulan. Melainkan pada hari itulah umat Hindu menghaturkan 'maha suksemaning idepnya' (rasa terima kasih) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan atas terciptanya dunia beserta segala isinya. Pada hari inilah umat Hindu 'angayubagia' (bergembira), bersyukur atas karunia-Nya.
Beberapa jenis dan bentuk persembahan beserta fungsi dan artinya:
Hindu ditandai dengan sifat rasional yang sangat kuat. Melalui
jalan berliku dari harapan samar dan renunsiasi praktis, dogma-dogma
ketat dan petualangan jiwa yang tidak mengenal takut, melalui empat
atau lima melinium upaya-upaya tanpa henti dalam bidang menthapisik dan teologi
para Maharesi Hindu telah mencoba untuk menangkap masalah-masalah
terakhir dalam suatu kesetiaan kepada kebenaran dan perasaan
atas kenyataan. Peradaban brahmanikal, terlatih menilai masalah-masalah
tanpa emosi dan mendasarkan kesimpulan mereka atas pengalaman-pengalaman
fundamental.
Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang
Widhi) yaitu :
Bhakti Marga adalah salah satu jalan menuju Hyang Widhi
dengan memuja-Nya secara tulus ikhlas. Mereka yang melakukan dengan baik
disebut Bhakta. Bhakti ada dua kelompok besar yaitu :
Catur Asrama adalah empat tingkatan kehidupan yang wajib/ideal dijalani manusia Hindu selama hidupnya, yaitu : Brahmacari, Grhastha, Vanaprastha, dan Bhiksuka. Karena menjadi kewajiban, maka bila ada manusia Hindu yang tidak
melaksanakan catur ashrama dengan baik, akan sia-sialah hidupnya di
dunia ini.
Grhastha adalah masa berumah tangga, masa menikah dan mengembangkan
keturunan. Dalam menempuh ashrama yang kedua ini diupayakan
terwujudnya rumah tangga/keluarga yang bahagia. Kebahagiaan
ditunjang oleh unsur-unsur material dan non material. Unsur
material adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan/perumahan,
semuanya disebut artha. Unsur non material adalah rasa kedekatan
dengan Hyang Widhi yang disebut dharma, dan unsur non material
lainnya : pendidikan, sex, kasih sayang antara suami - istri - anak,
mempunyai keturunan, keamanan rumah tangga, harga diri keluarga,
dan eksistensi sosial di masyarakat yang semuanya disebut kama.
Berkeluarga mempunyai arti dan kedudukan khusus dalam kehidupan
manusia karena melalui pernikahan lahirlah anak-anak yang disebut
putra.
Setelah berhasil melaksanakan grhastha ashrama
(kehidupan berumah tangga) dengan baik maka tahapan berikutnya adalah
vanaprastha. Ukuran yang digunakan menilai keberhasilan melaksanakan
grhastha antara lain sudah tua, dan sudah mempunyai keturunan atau
penyambung generasi yang mapan.
Etika kehidupan sehari-hari yang harus dilaksanakan oleh seorang
Bhakta. Etika ini merupakan rambu-rambu Dharma yang mencegah kita
kedalam kesesatan adharma. Yang pertama adalah:
Apakah Pengertian dari Dana Punia itu ?
Apakah yang menjadi landasan Dana Punia ?
Berapa jeniskah kita mengenal Dana Punia ?
Siapakah yang berkewajiban melaksanakan dana punia ?
Siapakah yang berhak menerima Dana Punia ?
Bagaimana Pelaksanaan Dana Punia ?
Apakah dasarnya dana Punia ?
Sampai kapankah Dana Punia itu dilaksanakan ?
- Moksa (by: Yoga Adi Purwanto)
Menurut kitab-kitab Upanisad, moksa adalah keadaan atma yang bebas
dari segala bentuk ikatan dan bebas dari samsara. Yang dimaksud dengan atma
adalah roh, jiwa. Sedangkan hal-hal yang termasuk ikatan adalah :
Maharsi Patanjali adalah pelopor ajaran Yoga yang merupakan bagian dari
filsafat Hindu yaitu Sad Darsana. Buku beliau yang bernama Yogasutra terdiri
dari empat bagian yaitu :
Kalau kita tidak mendalami konsep Atman dan hukum karma (karma pala),
maka reinkarnasi sebagai suatu kepercayaan adanya kelahiran yang
berulang-ulang dalam agama Hindu agak meragukan, sebab kenyataan yang
kita lihat adalah manusia lahir hanya sekali dalam hidupnya. Setelah
kita mendalami konsep Atman dan hukum karma(karma pala ) baru kita
jelas bahwa reinkarnasi merupakan kelahiran yang berulang-ulang dengan
melalui Triloka yaitu Bhur, Bvah, Svah. Reinkarnasi dapat dibuktikan
dalam kehidupan umat Hindu dalam melakukan upacara maupun kehidupan
sebagai berikut.
Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu karma dan phala, berasal dari bahasa Sanskerta.
"Karma" artinya perbuatan dan "Phala" artinya buah, hasil,
atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan
seseorang.
Kita percaya bahwa perbuatan yang baik
(subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan
yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk.
Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan
diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk,
buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan
kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar
selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai
cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan
yang buruk.
Proses reinkarnasi digambarkan sebagai putaran roda yang berputar dari
atas ke
bawah, kemudian naik ke atas dengan tidak pernah berhenti. Perputaran
roda reinkarnasi ini dipengaruhi oleh hokum karma yang dibawa oleh
Atman yang disinari dengan Brahman melalui Triloka
(tiga tempat), yaitu Bhur, Buvah dan Svah. Maka dalam Gayatri Mantram,
Tri loka sangat penting diketahui sebagai tempat terjadinya proses
reinkarnasi
Reikarnasi/Punarbhawa/Samsara
berarti kelahiran yang berulang-ulang, yang disebut juga penitisan
kembali (reinkarnasi) atau Samsara. Di dalam Weda disebutkan bahwa
“Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau di dunia
yang lebih tinggi disebut Samsara. Kelahiran yang berulang-ulang ini
membawa akibat suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh
karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian diikuti
oleh kelahiran”. Dalam suatu sloka disebutkan:
Pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu dibagi
menjadi lima bagian yang disebut dengan Panca Sradha, yaitu percaya
adanya Tuhan (Hyang Widhi), percaya adanya Atman, percaya adanya Hukum
Karma Phala, percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/ Samsara) dan
percaya adanya Moksa.