Sumber Cerita
  1   2   >   >>

    BAGIAN KEEMPAT: MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA (1/2)
    Muhammad Husain Haekal

    Perawakan dan sifat-sifat Muhammad - Penduduk Mekah membangun Ka'bah - Putusan Muhammad tentang Hajar Aswad - Pemikir-pemikir Quraisy dan paganisma - Putera-puteri Muhammad - Kematian putera-puterinya - Perkawinan putera-puterinya - Kecenderungan Muhammad menyendiri - Menjauhi dosa ke Gua Hira'- Mimpi Hakiki - Wahyu pertama.

    BAGIAN KEEMPAT: MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA (2/2)
    Muhammad Husain Haekal

    Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu  ternyata  tenteram adanya.  Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan  bersama  Khadijah, yang  setia  dan  penuh  kasih,  hidup sebagai ayah-bunda yang bahagia  dan  rela.  Oleh  karena  itu  wajar  sekali  apabila Muhammad membiarkan dirinya berjalan sesuai dengan bawaannya, bawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan  percakapan masyarakatnya  tentang  berhala-berhala,  serta  apa pula yang dikatakan orang-orang Nasrani dan Yahudi tentang  diri  mereka itu.  Ia  berpikir  dan merenungkan. Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung.

    BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (1/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Percakapan Khadijah dengan Waraqa b. Naufal - Wahyu terhenti - Islamnya Abu Bakr - Muslimin yang mula-mula - Ajakan Muhammad kepada keluarganya - Quraisy menghasut penyair-penyairnya terhadap Muhammad - Muhammad menista dewa-dewa Quraisy - Utusan Quraisy kepada Abu Talib - Kedudukan Muhammad terhadap pamannya - Quraisy menyiksa kaum Muslimin - Kaum Muslimin hijrah ke Abisinia - Islamnya Umar.

    BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (2/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Ia minta waktu akan berunding dengan ayahnya lebih dulu. Semalaman itu ia merasa gelisah. Tetapi besoknya ia memberi tahukan kepada suami-isteri itu, bahwa ia akan mengikuti mereka berdua, tidak perlu minta pendapat Abu Talib. "Tuhan menjadikan saya tanpa saya perlu berunding dengan Abu Talib. Apa gunanya saya harus berunding dengan dia untuk menyembah Allah."

    BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (3/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Sikap dan kata-kata kemenakannya itu oleh Abu Talib disampaikan kepada Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib. Pembicaranya tentang Muhammad itu terpengaruh oleh suasana yang dilihat dan dirasakannya ketika itu. Dimintanya supaya Muhammad dilindungi dari tindakan Quraisy. Mereka semua menerima usul ini, kecuali Abu Lahab. Terang-terangan ia menyatakan permusuhannya. Ia menggabungkan diri pada pihak lawan mereka. Permintaan mereka supaya ia dilindungi itu sudah tentu karena terpengaruh oleh fanatisma golongan dan permusuhan lama antara Banu Hasyim dan Banu Umayya. Tetapi bukan fanatisma itu saya yang mendorong Quraisy bersikap demikian. Ajarannya itu sungguh berbahaya bagi kepercayaan yang biasa dilakukan oleh leluhur mereka. Kedudukan Muhammad di tengah-tengah mereka, pendiriannya yang teguh serta ajarannya pada kebaikan supaya orang hanya menyembah Zat Yang Tunggal, yang pada waktu itu memang sudah meluas juga di kalangan kabilah-kabilah Arab, bahwa agama Allah itu bukanlah seperti yang ada pada mereka sekarang, membuat mereka dapat membenarkan juga sikap kemenakan mereka itu, Muhammad, dalam menyatakan pendiriannya, seperti yang pernah dilakukan oleh Umayya b. Abi'sh-Shalt dan Waraqa b. Naufal dan yang lain.

    BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (4/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Kedua orang utusan itu ialah 'Amr bin'l-'Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'a. Kepada Najasyi dan kepada para pembesar istana mereka mempersembahkan hadiah-hadiah dengan maksud supaya mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah dari Mekah itu kepada mereka.

    "Paduka Raja," kata mereka, "mereka datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, oleh orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada mereka. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan memaki-maki."

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (1/9)
     
    Pembela-pembela Orientalis; Sebab-sebab  kesalahan Orientalis; Buku biografi penulis-penulis Islam sebagai pegangan; Orientalis dan ketentuan-ketentuan agama; Qur'an tidak diubah-ubah; Pendapat  Muir; Penulisan Qur'an  pada zaman Nabi; Bila berselisih kembali kepada Nabi; Pengumpulan Qur'an langkah  pertama; Mushaf  Usman; Persatuan Islam zaman Usman; Mushaf Usman cermat dan lengkap; Cara yang sebenarnya dalam mengadakan penyelidikan; Fitnah sekitar ayan; Kembali kepada ilmu pengetahuan; Kadang ilmu yang tidak cukup; Menyerang Muhammad karena gagal menyerang ajarannya; Pertimbangan mereka yang aktif dalam soal-soal Islam; Selawat  kepada Nabi; Menangkis kecaman; Buku-buku sejarah dan buku-buku hadis; Kontradiksi; Faktor waktu, ketika cerita itu ditulis; Pengaruh pertentangan politik dalam dunia Islam; Penghimpunan hadis; Kriterium yang sebenarnya tentang Hadis; Penghimpunan hadis pada masa Ma'mun; Cerita-cerita tidak masuk akal dan tidak ilmiah; Qur'an dan mujizat; Mujizat terbesar; Iman menurut pemuka-pemuka Islam; Orang-orang mukmin pada masa Nabi; Gharaniq dan Tabuk; Metoda saya dalam penyelidikan ini; Penyelidikan-penyelidikan Orientalis; Kaum Muslimin dan penyelidikan.

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (2/9)

    PEMBELA-PEMBELA ORIENTALIS

    Yang  mula-mula  saya  terima sebagai sanggahan ialah adanya sebuah karangan yang disampaikan kepada  saya  oleh  seorang penulis  bangsa  Mesir  yang  menyebutkan,  bahwa itu adalah sebuah   terjemahan   bahasa   Arab   dari   artikel    yang dikirimkannya ke sebuah majalah Orientalis berbahasa Jerman, sebagai kritik atas buku ini. Artikel ini tidak saya siarkan dalam  surat-surat kabar berbahasa Arab, karena isinya hanya berupa kecaman-kecaman yang tidak berdasar. Oleh karena  itu terserah  kepada  penulisnya jika mau menyiarkannya sendiri. Saya rasa nama orang itupun  tidak  perlu  disebutkan  dalam pengantar ini dengan keyakinan bahwa dia sudah akan mengenal identitasnya sendiri sesudah membaca sanggahannya itu dimuat di  sini.  Artikel  itu  ringkasnya ialah bahwa penyelidikan yang saya lakukan tentang  peri  hidup  Muhammad  ini  bukan suatu  penyelidikan  ilmiah  dalam  arti  modern, sebab saya hanya berpegang pada sumber berbahasa Arab saja, tidak  pada penyelidikan-penyelidikan  kaum  Orientalis  sebangsa  Weil, Goldziher, Noldeke dan yang lain; bukan mengambil dari hasil penyelidikan  mereka,  dan  karena  saya  menganggap  Qur'an sebagai dokumentasi  sejarah  yang  sudah  tidak  diragukan, padahal  studi  Orientalis-orientalis  itu menunjukkan bahwa Qur'an sudah diubah dan diganti-ganti setelah Nabi wafat dan pada  permulaan sejarah Islam, dan bahwa nama Nabipun pernah diganti.

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (3/9)

    QUR'AN TIDAK DIUBAH-UBAH

    Ia percaya sekali kepada kaum Orientalis dan kepada pendapat mereka. Memang ada segolongan  Orientalis  yang beranggapan seperti  yang  dikutipnya  itu.  Tetapi  anggapan mereka ini menunjukkan, bahwa mereka terdorong oleh maksud-maksud  yang tak  ada  hubumgannya dengan ilmu pengetahuan. Hal ini sudah bukan rahasia lagi. Sebagai bukti,  cukup  apa  yang  mereka katakan,  bahwa  versi  "Dan  membawa  berita gembira dengan kedatangan seorang rasul  sesudahku,  namanya  Ahmad,"  yang tersebut   dalam   Surah  "Ash-Shaf"  (61)  ayat  6,  adalah ditambahkan sesudah Nabi wafat untuk  dijadikan  bukti  atas kenabian  Muhammad  dan  Risalahnya dari  Kitab-kitab  Suci sebelum Qur'an.

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (4/9)

    MUSHAF USMAN

    "Karena  banyaknya  dan  jauhnya  perbedaan  itu,  ia merasa gelisah sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman  turun tangan.  "Supaya  jangan  ada  lagi orang berselisih tentang kitab  mereka  sendiri  seperti   orang-orang   Yahudi   dan Nasrani."   Khalifahpun  dapat  menerima  saran  itu.  Untuk menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid bin  Thabit  dimintai bantuannya  dengan  diperkuat  oleh tiga orang dari Quraisy. Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha  lalu  dibawa,  dan cara  membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran Islam itupun dikemukakan, lalu  semuanya  diperiksa  kembali dengan  pengamatan  yang  luarbiasa,  untuk  kali  terakhir. Kalaupun Zaid berselisih juga dengan ketiga sahabatnya  dari Quraisy  itu,  ia  lebih condong pada suara mereka mengingat turunnya wahyu itu menurut logat Quraisy, meskipun dikatakan wahyu itu diturunkan dengan tujuh  dialek  Arab  yang bermacam-macam."

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (5/9)

    FITNAH SEKITAR AYAN

    Baiklah kita kembali sekarang pada titik persoalan  terakhir dalam  sanggahan si Muslim Mesir itu. Dia menyebutkan, bahwa hasil penyelidikan kaum Orientalis  itu  menunjukkan,  bahwa Nabi  menderita  penyakit  ayan.  Gejala-gejala demikian itu tampak padanya ketika ia tidak  sadarkan  diri,  keringatnya mengucur dengan disertai kekejangan-kekejangan dan busa yang keluar dari mulutnya. Apabila ia  sudah  sadar  kembali,  ia lalu  membacakan apa yang dikatakannya wahyu Tuhan kepadanya itu - kepada orang-orang yang mempercayainya. Padahal  yang dikatakan wahyu itu tidak lain ialah akibat serangan-serangan ayan tersebut.

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (6/9)

    PERTIMBANGAN MEREKA YANG AKTIF DALAM SOAL-SOAL ISLAM

    Baiklah sekarang saya pindah kebahagian lain dalam  tinjauan ini.  Sesudah  cetakan  pertama  buku  ini  terbit, beberapa kalangan Islam yang aktif dalam  bidang  pengetahuan  agama, memberikan pula pendapatnya.
     
    Menurut  hemat saya kecaman-kecaman rendah semacam ini, yang tak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan, hendaknya tidakkan berulang  lagi.  Terhadap  kaum  Orientalis barangkali masih dapat dimaafkan, terutama atas tindakan mereka yang  sebelum itu  memang  sangat  berlebih-lebihan.  Mereka merasa, bahwa mereka  menulis  buat  orang-orang  Kristen  Eropa.   Dengan demikian pada waktu itu mereka telah menjalankan suatu tugas nasional atau tugas agama. Mereka  didorong  oleh  keyakinan mereka,  dengan  memperkosa  ilmu  pengetahuan  sebagai alat dalam melaksanakan tugasnya itu.

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (7/9)

    BUKU-BUKU SEJARAH DAN BUKU-BUKU HADIS

    Sekarang kita kembali ke pokok pertama, kepada  mereka  yang aktif  dalam bidang pengetahuan agama Islam, yang mengkritik saya dengan cara lemah-lembut dan dengan cara yang baik itu. Mereka  mengatakan,  bahwa  saya tidak menuruti apa yang ada dalam buku-buku sejarah hidup Nabi  dan  kitab-kitab  hadis. Dalam  mengungkapkan  berbagai peristiwa saya tidak menempuh cara yang sudah ada.

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (8/9)

    CERITA-CERITA TIDAK MASUK AKAL DAN TIDAK ILMIAH

    Yang aneh lagi dalam hal ini ialah apa yang diceritakan oleh Ibn   'Asakir   dari   Abu   Sa'd   Isma'il   bin   Muthanna
    al-Astrabadhi.  Tatkala  ia  sedang  berkhutbah  di Damsyik, salah seorang yang hadir bertanya tentang  hadis  Nabi  yang berbunyi: "Saya gudang ilmu dan Ali pintunya" Ismail menekur sebentar, lalu diangkatnya kepalanya  seraya  katanya:  "Ya, tak  ada  yang  mengetahui hadis ini dari Nabi, kecuali yang hidup pada masa permulaan Islam. Akan tetapi  Nabi  berkata: "Saya  gudang  ilmu,  Abu  Bakr fondasinya, Umar dindingnya, Usman  atapnya  dan  Ali  pintunya."  Dengan  demikian  para hadirin puas rasanya. Tetapi ketika diminta kepadanya supaya menerangkan sanadnya, ia merasa gusar sekali  karena  memang tidak mampu.

    PENGANTAR CETAKAN KEDUA (8/9)

    GHARANIQ DAN TABUK

    Lalu  apa  yang  terdapat  dalam buku riwayat hidup Nabi dan hadis  tentang  mujizat  itu   kadang   berbeda-beda   pula. Sekalipun  menurut  buku-buku  hadis  sudah dipastikan benar tapi kadang masih merupakan  sasaran  kritik  juga.  Masalah gharaniq   misalnya,  dalam  pengantar  ini  ada  juga  kita sebutkan sepintas lalu, dan akan kita  sebutkan  lagi  lebih terperinci dalam teks nanti. Cerita membelah dada juga sudah berbeda-beda  sebagaimana  diceritakan  oleh  Halima   inang pengasuh  Nabi  kepada  ibunya;  begitu  juga mengenai waktu terjadinya sehubungan dengan usia Muhammad.

    BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (1/4)
    Muhammad Husain Haekal
     
    Sumber peradaban pertama - Agama Yahudi dan Kristen - Sekta-sekta Kristen dan Pertentangannya - Majusi Persia di jazirah Arab - Jalan-jalan kafilah - Yaman dan peradabannya - Sebabnya Jazirah bertahan pada paganisma.

    PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari  mana pula  asal-usulnya,  sebenarnya  masih  ada hubungannya dengan zaman kita sekarang  ini.  Penyelidikan  demikian  sudah  lama menetapkan,  bahwa  sumber peradaban itu sejak lebih dari enam ribu  tahun  yang  lalu  adalah  Mesir.  Zaman   sebelum   itu dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu sukar sekali akan sampai kepada suatu  penemuan  yang  ilmiah. Sarjana-sarjana   ahli   purbakala   (arkelogi)  kini  kembali mengadakan penggalian-penggalian  di  Irak  dan  Suria  dengan maksud  mempelajari  soal-soal  peradaban  Asiria  dan Funisia serta  menentukan  zaman  permulaan   daripada   kedua   macam peradaban  itu:  adakah  ia  mendahului  peradaban  Mesir masa Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa itu dan terpengaruh karenanya?

    BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (2/4)
    Muhammad Husain Haekal
     
    Kedua  kekuatan  yang  sekarang  sedang  berhadap-hadapan  itu ialah: kekuatan Kristen dan kekuatan  Majusi,  kekuatan  Barat berhadapan   dengan   kekuatan  Timur.  Bersamaan  dengan  itu kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada dibawah  pengaruh  kedua kekuatan  itu, pada awal abad keenam berada di sekitar jazirah Arab.  Kedua  kekuatan  itu  masing-masing  mempunyai   hasrat ekspansi   dan   penjajahan.  Pemuka-pemuka  kedua  agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya ke   atas   kepercayaan   agama  lain  yang  sudah  dianutnya. Sungguhpun demikian jazirah itu  tetap  seperti  sebuah  oasis yang  kekar  tak sampai terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat  di  bagian  pinggir  saja,  juga  tak  sampai terjamah  oleh  penyebaran  agama-agama  Masehi  atau  Majusi, kecuali sebagian kecil  saja  pada  beberapa  kabilah.  Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau tidak kita lihat letak dan iklim  jazirah  itu  serta  pengaruh  keduanya terhadap  kehidupan  penduduknya,  dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing.

    BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (3/4)
    Muhammad Husain Haekal
     
    Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia  mengirimkan bersama  orang  Yaman  itu  -  yang  membawa surat - sepasukan tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha  al-Asyram salah  seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas nama penguasa Abisinia. Ia  memerintah  Yaman  ini  sampai  ia dibunuh  oleh  Abraha yang kemudian menggantikan kedudukannya. Abraha inilah  yang  memimpin  pasukan  gajah,  dan  dia  yang kemudian  menyerbu  Mekah  guna  menghancurkan  Ka'bah  tetapi gagal, seperti yang akan terlihat nanti dalam pasal berikut.

    BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (4/4)
    Muhammad Husain Haekal
     
    Orang-orang   Yahudi  di  negeri-negeri  Arab  merupakan  kaum imigran yang besar, kebanyakan mereka  tinggal  di  Yaman  dan Yathrib.  Di  samping  itu  kemudian  agama Majusi (Mazdaisma) Persia tegak menghadapi arus  kekuatan  Kristen  supaya  tidak sampai  menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan moril demikian itu didukung oleh  keadaan  paganisma  di  mana saja  ia  berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang di tangannya, ialah sesudah pindahnya  pusat  peradaban  dunia itu ke Bizantium.

    BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (1/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Letak Mekah - Ibrahim dan Ismail - Kisah penyembelihan dan penebusan - Zamzam - Perkawinan Ismail dengan Jurhum - Pembangunan Ka'bah - Mekah di bawah Jurhum -  Qushay dan anak-anaknya - Mekah di tangan Qushay - Hasyim dan Abdul Muttalib - Tugas-tugas duniawi dan agama di Mekah - Berhaji ke Mekah - Kisah Abraha dan gajah - Abdullah bin Abdul Muttalib - Kisah penebusannya.

    BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (2/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Cerita   ini   diambil  dari  sejarah  yang  hampir  merupakan konsensus dalam garis besarnya tentang kepergian  Ibrahim  dan Ismail ke Mekah, meskipun terdapat perbedaan dalam detail. Dan yang memajukan kritik  atas  peristiwa  secara  mendetail  itu berpendapat, bahwa Hajar dan Ismail telah pergi ke lembah yang sekarang terletak Mekah itu dan bahwa di tempat  itu  terdapat mata  air  yang  ditempati oleh kabilah Jurhum. Hajar disambut dengan senang  hati  oleh  mereka  ketika  ia  datang  bersama Ibrahim  dan  anaknya  ke  tempat itu. Sesudah Ismail besar ia kawin dengan wanita Jurhum dan mempunyai beberapa orang  anak. Dari  percampuran  perkawinan antara Ismail dengan unsur-unsur Ibrani-Mesir di satu pihak  dan  unsur  Arab  di  pihak  lain, menyebabkan  keturunannya itu membawa sifat-sifat Arab, Ibrani dan Mesir. Mengenai sumber yang mengatakan tentang Hajar  yang kebingungan  setelah  melihat  air  yang  habis menyerap serta tentang usahanya berlari tujuh kali dari Shafa dan  Marwa  dan tentang  sumur Zamzam dan bagaimana air menyembur, oleh mereka masih diragukan.

    BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (3/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Seperti ayahnya, Abd'd-Dar juga telah memegang pimpinan Ka'bah dan  kemudian  diteruskan  oleh anak-anaknya.   Akan   tetapi anak-anak  Abd Manaf sebenarnya mempunyai kedudukan yang lebih baik dan  terpandang  juga  di  kalangan  masyarakatnya.  Oleh karena  itu,  anak-anak  Abd  Manaf,  yaitu Hasyim, Abd Syams, Muttalib dan Naufal sepakat akan mengambil pimpinan  yang  ada di  tangan  sepupu-sepupu  mereka  itu.  Tetapi  pihak Quraisy berselisih pendapat: yang satu membela satu golongan yang lain membela golongan yang lain lagi.

    BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (4/4)
    Muhammad Husain Haekal

    Malam gelap gelita tatkala mereka memikirkan akan meninggalkan kota  itu  dan  di  mana  pula  akan  tinggal.  Malam   itulah Abd'l-Muttalib  pergi dengan beberapa orang Quraisy, berkumpul sekeliling pintu Ka'bah. Dia  bermohon,  mereka  pun  bermohon minta  bantuan  berhala-berhala  terhadap  agresor  yang  akan menghancurkan Baitullah itu.

    BAGIAN KETIGA: MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA (1/3)
    Muhammad Husain Haekal

    Perkawinan Abdullah dengan Aminah - Abdullah wafat - Muhammad lahir disusukan oleh Keluarga Sa'd - Kisah dua malaikat - Lima tahun selama tinggal di pedalaman - Aminah wafat - Di bawah asuhan Abd'l-Muttalib - Abd'l-Muttalib wafat - Di bawah asuhan Abu Talib - Pergi ke Suria dalam usia dua belas tahun- Perang Fijar - Menggembala kambing - Ke Suria membawa dagangan Khadijah - Perkawinannya dengan Khadijah

    BAGIAN KETIGA: MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA (2/3)
    Muhammad Husain Haekal

    Baik  kaum  Orientalis  maupun beberapa kalangan kaum Muslimin sendiri tidak merasa puas dengan cerita dua malaikat  ini  dan menganggap   sumber  itu  lemah  sekali.  Yang  melihat  kedua laki-laki (malaikat) dalam cerita penulis-penulis sejarah  itu hanya  anak-anak  yang  baru  dua tahun lebih sedikit umurnya. Begitu juga umur Muhammad waktu itu. Akan tetapi sumber-sumber itu   sependapat   bahwa  Muhammad  tinggal  di  tengah-tengah Keluarga Sa'd itu sampai mencapai usia lima  tahun.  Andaikata peristiwa  itu  terjadi  ketika ia berusia dua setengah tahun, dan ketika itu Halimah dan  suaminya  mengembalikannya  kepada ibunya,  tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita itu yang tak dapat diterima. Oleh karena itu beberapa  penulis berpendapat,  bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga kalinya.

    BAGIAN KETIGA: MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA (3/3)
    Muhammad Husain Haekal

    Juga orang berselisih pendapat mengenai  tugas  yang  dipegang Muhammad  dalam  perang  itu.  Ada  yang  mengatakan  tugasnya mengumpulkan anak-anak panah yang datang  dari  pihak  Hawazin lalu di berikan kepada paman-pamannya untuk dibalikkan kembali kepada pihak lawan. Yang  lain  lagi  berpendapat,  bahwa  dia sendiri yang ikut melemparkan panah. Tetapi, selama peperangan tersebut telah berlangsung sampai empat tahun, maka  kebenaran kedua  pendapat  itu dapat saja diterima. Mungkin pada mulanya ia  mengumpulkan  anak-anak  panah  itu  untuk  pamannya   dan kemudian  dia  sendiripun  ikut  melemparkan.  Beberapa  tahun sesudah  kenabiannya  Rasulullah  menyebutkan  tentang  Perang Fijar  itu  dengan  berkata:  "Aku mengikutinya bersama dengan paman-pamanku, juga ikut melemparkan panah dalam  perang  itu; sebab aku tidak suka kalau tidak juga aku ikut melaksanakan."

     

    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D


    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1

     

    KATA PERKENALAN

     
    Oleh almarhum Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi
    (Rektor Magnificus Universitas Al-Azhar)
     
    SEJAK manusia berada di permukaan bumi  ini,  hasratnya  ingin mengetahui  segala  hukum  dan  kodrat  alam  yang terdapat di sekitarnya, besar  sekali.  Makin  dalam  ia  meneliti,  makin tampak  kepadanya  kebesaran  alam  itu, melebihi yang semula.
    Kelemahan dirinya makin tampak pula dan keangkuhannyapun makin berkurang.

    PRAKATA (1/6)

    Lingkungan kekuasaan Islam yang pertama; Islam dan Nasrani;  Kaum  Muslimin  dan  Isa; Orang-orang Kristen yang fanatik dan  Muhammad; Dasar-dasar  yang  sederhana  dalam  kedua agama; Perbedaan Tauhid  dan  Trinitas;  Kaum  Nasrani mengajak  Nabi  berdebat; Masalah penyaliban Almasih;  Rumawi  dan  kaum  Muslimin; Penulis-penulis  Kristen  dan  Muhammad;  Sebab permusuhan Islam-Kristen; Kristen  tidak sesuai dengan  watak  Barat; Penjajahan dan propaganda anti Islam; Islam dan apa yang terjadi dengan umat  Islam; Sikap jumud di kalangan pemuda; Ilmu dan literatur Barat; Usaha-usaha modernisasi  dunia  Islam; Misi penginjil dan golongan yang berpikiran beku; Terpikir  akan menulis  buku  ini; Qur'an sumber yang paling otentik; Konsultasi yang tepat; Dalam batas-batas  biografi, tidak lebih; Penyelidikan berguna bagi seluruh umat manusia.

    PRAKATA (2/6)

    DASAR-DASAR YANG SEDERHANA DALAM KEDUA AGAMA

    Kemudian kita melihat kedua  agama  ini  mempunyai  konsepsi tentang hidup dan akhlak yang dapat dikatakan sama. Keduanya memandang manusia dan awal  mula  penjadiannya  sama:  Allah menciptakan  Adam  dan  Hawa  dan keduanya ditempatkan dalam surga, kemudian diwahyukan jangan mereka mendengarkan godaan setan.  Tetapi mereka makan juga (buah) dari pohon itu, maka merekapun keluar dari  surga.  Setan  yang  tak  mau  tunduk kepada  Adam,  adalah  musuh mereka - sebagaimana diwahyukan Allah kepada  Muhammad  -  dan  yang  tidak  mau  menyucikan kalimat  Allah, menurut kitab-kitab SUCI kaum Nasrani. Setan memperdayakan Hawa dan membujuknya.  Lalu  Hawapun  membujuk Adam  dan  keduanya  sama-sama  makan  dari Pohon Abadi itu. Karena itu, maka tampaklah  aurat  mereka.  Merekapun  minta ampun  kepada  Tuhan  dan  Tuhan mengirimkan mereka ke bumi, yang  akan  jadi  saling  bermusuhan  di   antara   sebagian keturunan mereka, dan yang akan diperdayakan setan, sehingga akan ada golongan yang sesat dan ada pula yang akan  melawan kehancuran itu.

  1   2   >   >>

 

 

atom feed entries rss feed entries
Link Exchange
Copyright © 2008 sumbercerita.com - Kumpulan Cerita Terpopuler
Dengan beraktivitas di website kami berarti anda setuju dengan Kebijaksanaan Privasi serta Syarat Persetujuan
Powered by Mana Visual Directory
eXTReMe Tracker