|
|
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keenam - Cerita Gharaniq (5/5) Muhammad Husain Haekal
Jadi orang yang sudah dikenal sejak kecil hingga tuanya begitu jujur, bagaimana orang akan percaya bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah, ia akan takut kepada orang dan bukan kepada Allah! Hal ini tidak mungkin. Mereka yang sudah mempelajari jiwanya yang begitu kuat, begitu cemerlang, jiwa yang begitu membenteng mempertahankan kebenaran dan tidak pula pernah mencari muka dalam soal apapun, akan mengetahui ketidak mungkinan cerita itu. Betapa kita melihat Muhammad berkata: Kalau Quraisy meletakkan matahari di sebelah kanannya, dan meletakkan bulan di sebelah kirinya dengan maksud supaya ia melepaskan tugasnya, akan mati sekalipun dia tidak akan melakukan hal itu - bagaimana pula akan mengatakan sesuatu yang tidak diwahyukan Allah kepadanya, dan mengatakan itu untuk meruntuhkan sendi agama yang oleh karenanya ia diutus Allah sebagai petunjuk dan berita gembira bagi seluruh umat manusia!
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keenam - Cerita Gharaniq (4/5) Muhammad Husain Haekal
Sedang bunyi ayat-ayat "Dan tiada seorang rasul dan seorang nabi yang Kami utus sebelum kauÉ" sama sekali tak ada hubungannya dengan cerita gharaniq itu. Apalagi yang menyebutkan bahwa Tuhan telah menghapuskan gangguan yang dimasukkan setan dan akan menjadikan godaan bagi mereka yang berpenyakit dalam hatinya dan berhati batu; kemudian Allah menguatkan keterangan-keteranganNya. Dan Allah Maha mengetahui dan Bijaksana.
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keenam - Cerita Gharaniq (3/5) Muhammad Husain Haekal
Disinilah pihak Quraisy menyadari, bahwa penderitaan yang dialami Muhammad dan sahabat-sahabatnya, hampir-hampir menimbulkan perang saudara, yang akibat-akibatnya tidak akan dapat dibayangkan, dan siapa pula yang akan binasa. Ada orang-orang dari kabilah-kabilah Quraisy dan dari keluarga-keluarga bangsawannya yang sudah menerima Islam, mereka akan lalu berontak bila siapa saja dari kabilahnya itu ada yang terbunuh sekalipun orang itu berlainan agama. Jadi, dalam memerangi Muhammad ini, mereka harus memempuh suatu cara yang tidak akan membawa akibat yang begitu berbahaya. Di samping itu supaya cara ini dapat pula disepakati oleh Quraisy mereka mengadakan genjatan senjata dengan pihak Muslimin, sehingga dengan demikian tiada seorangpun dari mereka itu yang boleh diganggu.
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keenam - Cerita Gharaniq (2/5) Muhammad Husain Haekal
Orientalis-orientalis bertahan pada cerita ini - Pegangan mereka dalam hal ini - Lemahnya pegangan tersebut
"Ketika
itulah mereka mengambil engkau menjadi kawan mereka. Dan kalaupun tidak
Kami tabahkan hatimu, niscaya engkau hampir cenderung juga kepada
mereka barang sedikit. Dalam hal ini, akan Kami timpakan kepadamu
hukuman berlipat ganda, dalam hidup dan mati. Selanjutnya engkau tiada
akan mempunyai penolong menghadapi Kami." (Qur'an 17:73-75) Dengan
begitu kembali ia memburuk-burukkan dewa-dewa Quraisy itu, dan
Quraisypun kembali lagi memusuhinya dan mengganggu sahabat-sahabatnya.
Demikianlah
cerita gharaniq ini, yang bukan seorang saja dari penulis-penulis
biografi Nabi yang menceritakannya, demikian juga ahli-ahli tafsir
turut menyebutkan, dan tidak sedikit pula kalangan Orientalis yang
memang sudah sekian lama mau bertahan. Jelas sekali dalam cerita ini
ada kontradiksi. Dengan sedikit pengamatan saja hal ini sudah dapat
digugurkan.
Sejarah Hidup Muhammad : Bagian Keenam - Cerita Gharaniq 1 (1/5) Muhammad Husain Haekal
Kembalinya mereka yang hijrah ke Abisinia - Gharaniq yang luhur
KAUM Muslimin yang hijrah ke Abisinia tinggal selama tiga bulan di sana. Sementara itu Umar ibn'l-Khattab sudah pula masuk Islam. Setelah para pengungsi ini mengetahui bahwa pihak Quraisy sudah mulai surut dari mengganggu Muhammad dan pengikut-pengikutnya - setelah Umar masuk Islam - menurut sebuah sumber, banyak diantara mereka itu yang kembali, dan sumber lain mengatakan semua mereka itu kembali ke Mekah. Tetapi setelah mereka sampai di Mekah, ternyata pihak Quraisy kembali menyiksa kaum Muslimin, bahkan lebih keras lagi dari pada yang pernah dialami kaum pengungsi itu dulu. Sebahagian mereka ada yang kembali ke Abisinia, ada pula yang memasuki Mekah atau di dekat-dekatnya dengan sembunyi-sembunyi. Konon katanya, bahwa mereka yang kembali itu membawa pula sejumlah kaum Muslimin dan mereka ini tinggal di Abisinia sampai sesudah Hijrah dan sesudah keadaan Muslimin di Medinah jadi lebih stabil.
BAGIAN KEEMPAT: MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA (1/2) Muhammad Husain Haekal
Perawakan dan sifat-sifat Muhammad - Penduduk Mekah membangun Ka'bah - Putusan Muhammad tentang Hajar Aswad - Pemikir-pemikir Quraisy dan paganisma - Putera-puteri Muhammad - Kematian putera-puterinya - Perkawinan putera-puterinya - Kecenderungan Muhammad menyendiri - Menjauhi dosa ke Gua Hira'- Mimpi Hakiki - Wahyu pertama.
BAGIAN KEEMPAT: MUHAMMAD DARI PERKAWINAN SAMPAI MASA KERASULANNYA (2/2) Muhammad Husain Haekal
Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu ternyata tenteram adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah, yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah-bunda yang bahagia dan rela. Oleh karena itu wajar sekali apabila Muhammad membiarkan dirinya berjalan sesuai dengan bawaannya, bawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala, serta apa pula yang dikatakan orang-orang Nasrani dan Yahudi tentang diri mereka itu. Ia berpikir dan merenungkan. Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung.
BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (1/4) Muhammad Husain Haekal
Percakapan Khadijah dengan Waraqa b. Naufal - Wahyu terhenti - Islamnya Abu Bakr - Muslimin yang mula-mula - Ajakan Muhammad kepada keluarganya - Quraisy menghasut penyair-penyairnya terhadap Muhammad - Muhammad menista dewa-dewa Quraisy - Utusan Quraisy kepada Abu Talib - Kedudukan Muhammad terhadap pamannya - Quraisy menyiksa kaum Muslimin - Kaum Muslimin hijrah ke Abisinia - Islamnya Umar.
BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (2/4) Muhammad Husain Haekal
Ia minta waktu akan berunding dengan ayahnya lebih dulu. Semalaman itu
ia merasa gelisah. Tetapi besoknya ia memberi tahukan kepada
suami-isteri itu, bahwa ia akan mengikuti mereka berdua, tidak perlu
minta pendapat Abu Talib. "Tuhan menjadikan saya tanpa saya perlu
berunding dengan Abu Talib. Apa gunanya saya harus berunding dengan dia
untuk menyembah Allah."
BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (3/4) Muhammad Husain Haekal
Sikap dan kata-kata kemenakannya itu oleh Abu Talib disampaikan kepada
Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib. Pembicaranya tentang Muhammad itu
terpengaruh oleh suasana yang dilihat dan dirasakannya ketika itu. Dimintanya supaya Muhammad dilindungi dari tindakan Quraisy. Mereka
semua menerima usul ini, kecuali Abu Lahab. Terang-terangan ia
menyatakan permusuhannya. Ia menggabungkan diri pada pihak lawan
mereka. Permintaan mereka supaya ia dilindungi itu sudah tentu karena
terpengaruh oleh fanatisma golongan dan permusuhan lama antara Banu
Hasyim dan Banu Umayya. Tetapi bukan fanatisma itu saya yang mendorong
Quraisy bersikap demikian. Ajarannya itu sungguh berbahaya bagi
kepercayaan yang biasa dilakukan oleh leluhur mereka. Kedudukan
Muhammad di tengah-tengah mereka, pendiriannya yang teguh serta
ajarannya pada kebaikan supaya orang hanya menyembah Zat Yang Tunggal,
yang pada waktu itu memang sudah meluas juga di kalangan
kabilah-kabilah Arab, bahwa agama Allah itu bukanlah seperti yang ada
pada mereka sekarang, membuat mereka dapat membenarkan juga sikap
kemenakan mereka itu, Muhammad, dalam menyatakan pendiriannya, seperti
yang pernah dilakukan oleh Umayya b. Abi'sh-Shalt dan Waraqa b. Naufal
dan yang lain.
BAGIAN KELIMA - MUHAMMAD DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (4/4) Muhammad Husain Haekal
Kedua orang utusan itu ialah 'Amr bin'l-'Ash dan Abdullah bin Abi
Rabi'a. Kepada Najasyi dan kepada para pembesar istana mereka
mempersembahkan hadiah-hadiah dengan maksud supaya mereka sudi
mengembalikan orang-orang yang hijrah dari Mekah itu kepada mereka.
"Paduka Raja," kata mereka, "mereka datang ke negeri paduka ini
adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan
agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka; mereka membawa
agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak
juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin
masyarakat mereka, oleh orang-orang tua, paman mereka dan keluarga
mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada
mereka. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan
memaki-maki."
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (1/9) Pembela-pembela Orientalis;
Sebab-sebab kesalahan Orientalis; Buku biografi penulis-penulis Islam
sebagai pegangan; Orientalis dan ketentuan-ketentuan agama; Qur'an
tidak diubah-ubah; Pendapat Muir; Penulisan Qur'an pada zaman Nabi;
Bila berselisih kembali kepada Nabi; Pengumpulan Qur'an langkah
pertama; Mushaf Usman; Persatuan Islam zaman Usman; Mushaf Usman
cermat dan lengkap; Cara yang sebenarnya dalam mengadakan penyelidikan;
Fitnah sekitar ayan; Kembali kepada ilmu pengetahuan; Kadang ilmu yang
tidak cukup; Menyerang Muhammad karena gagal menyerang ajarannya;
Pertimbangan mereka yang aktif dalam soal-soal Islam; Selawat kepada
Nabi; Menangkis kecaman; Buku-buku sejarah dan buku-buku hadis;
Kontradiksi; Faktor waktu, ketika cerita itu ditulis; Pengaruh
pertentangan politik dalam dunia Islam; Penghimpunan hadis; Kriterium
yang sebenarnya tentang Hadis; Penghimpunan hadis pada masa Ma'mun;
Cerita-cerita tidak masuk akal dan tidak ilmiah; Qur'an dan mujizat;
Mujizat terbesar; Iman menurut pemuka-pemuka Islam; Orang-orang mukmin
pada masa Nabi; Gharaniq dan Tabuk; Metoda saya dalam penyelidikan ini;
Penyelidikan-penyelidikan Orientalis; Kaum Muslimin dan penyelidikan.
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (2/9)
PEMBELA-PEMBELA ORIENTALIS
Yang mula-mula saya terima sebagai sanggahan ialah adanya sebuah
karangan yang disampaikan kepada saya oleh seorang penulis bangsa
Mesir yang menyebutkan, bahwa itu adalah sebuah terjemahan
bahasa Arab dari artikel yang dikirimkannya ke sebuah majalah
Orientalis berbahasa Jerman, sebagai kritik atas buku ini. Artikel ini
tidak saya siarkan dalam surat-surat kabar berbahasa Arab, karena
isinya hanya berupa kecaman-kecaman yang tidak berdasar. Oleh karena
itu terserah kepada penulisnya jika mau menyiarkannya sendiri. Saya
rasa nama orang itupun tidak perlu disebutkan dalam pengantar ini
dengan keyakinan bahwa dia sudah akan mengenal identitasnya sendiri
sesudah membaca sanggahannya itu dimuat di sini. Artikel itu
ringkasnya ialah bahwa penyelidikan yang saya lakukan tentang peri
hidup Muhammad ini bukan suatu penyelidikan ilmiah dalam arti
modern, sebab saya hanya berpegang pada sumber berbahasa Arab saja,
tidak pada penyelidikan-penyelidikan kaum Orientalis sebangsa
Weil, Goldziher, Noldeke dan yang lain; bukan mengambil dari hasil
penyelidikan mereka, dan karena saya menganggap Qur'an sebagai
dokumentasi sejarah yang sudah tidak diragukan, padahal studi
Orientalis-orientalis itu menunjukkan bahwa Qur'an sudah diubah dan
diganti-ganti setelah Nabi wafat dan pada permulaan sejarah Islam, dan
bahwa nama Nabipun pernah diganti.
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (3/9)
QUR'AN TIDAK DIUBAH-UBAH
Ia percaya sekali kepada kaum Orientalis dan kepada pendapat mereka.
Memang ada segolongan Orientalis yang beranggapan seperti yang
dikutipnya itu. Tetapi anggapan mereka ini menunjukkan, bahwa mereka
terdorong oleh maksud-maksud yang tak ada hubumgannya dengan ilmu
pengetahuan. Hal ini sudah bukan rahasia lagi. Sebagai bukti, cukup
apa yang mereka katakan, bahwa versi "Dan membawa berita gembira
dengan kedatangan seorang rasul sesudahku, namanya Ahmad," yang
tersebut dalam Surah "Ash-Shaf" (61) ayat 6, adalah
ditambahkan sesudah Nabi wafat untuk dijadikan bukti atas kenabian
Muhammad dan Risalahnya dari Kitab-kitab Suci sebelum Qur'an.
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (4/9)
MUSHAF USMAN
"Karena banyaknya dan jauhnya perbedaan itu, ia merasa gelisah
sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman turun tangan. "Supaya
jangan ada lagi orang berselisih tentang kitab mereka sendiri
seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani." Khalifahpun dapat
menerima saran itu. Untuk menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid
bin Thabit dimintai bantuannya dengan diperkuat oleh tiga orang
dari Quraisy. Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha lalu dibawa,
dan cara membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran Islam
itupun dikemukakan, lalu semuanya diperiksa kembali dengan
pengamatan yang luarbiasa, untuk kali terakhir. Kalaupun Zaid
berselisih juga dengan ketiga sahabatnya dari Quraisy itu, ia lebih
condong pada suara mereka mengingat turunnya wahyu itu menurut logat
Quraisy, meskipun dikatakan wahyu itu diturunkan dengan tujuh dialek
Arab yang bermacam-macam."
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (5/9)
FITNAH SEKITAR AYAN
Baiklah kita kembali sekarang pada titik persoalan terakhir dalam
sanggahan si Muslim Mesir itu. Dia menyebutkan, bahwa hasil
penyelidikan kaum Orientalis itu menunjukkan, bahwa Nabi menderita
penyakit ayan. Gejala-gejala demikian itu tampak padanya ketika ia
tidak sadarkan diri, keringatnya mengucur dengan disertai kekejangan-kekejangan dan busa yang keluar dari mulutnya. Apabila ia
sudah sadar kembali, ia lalu membacakan apa yang dikatakannya wahyu
Tuhan kepadanya itu - kepada orang-orang yang mempercayainya. Padahal
yang dikatakan wahyu itu tidak lain ialah akibat
serangan-serangan ayan tersebut.
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (6/9)
PERTIMBANGAN MEREKA YANG AKTIF DALAM SOAL-SOAL ISLAM
Baiklah sekarang saya pindah kebahagian lain dalam tinjauan ini.
Sesudah cetakan pertama buku ini terbit, beberapa kalangan Islam
yang aktif dalam bidang pengetahuan agama, memberikan pula
pendapatnya. Menurut hemat saya kecaman-kecaman rendah semacam
ini, yang tak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan, hendaknya tidakkan
berulang lagi. Terhadap kaum Orientalis barangkali masih dapat
dimaafkan, terutama atas tindakan mereka yang sebelum itu memang
sangat berlebih-lebihan. Mereka merasa, bahwa mereka menulis buat
orang-orang Kristen Eropa. Dengan demikian pada waktu itu mereka
telah menjalankan suatu tugas nasional atau tugas agama. Mereka
didorong oleh keyakinan mereka, dengan memperkosa ilmu
pengetahuan sebagai alat dalam melaksanakan tugasnya itu.
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (7/9)
BUKU-BUKU SEJARAH DAN BUKU-BUKU HADIS
Sekarang kita kembali ke pokok pertama, kepada mereka yang aktif
dalam bidang pengetahuan agama Islam, yang mengkritik saya dengan cara
lemah-lembut dan dengan cara yang baik itu. Mereka mengatakan, bahwa
saya tidak menuruti apa yang ada dalam buku-buku sejarah hidup Nabi
dan kitab-kitab hadis. Dalam mengungkapkan berbagai peristiwa saya
tidak menempuh cara yang sudah ada.
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (8/9)
CERITA-CERITA TIDAK MASUK AKAL DAN TIDAK ILMIAH
Yang aneh lagi dalam hal ini ialah apa yang diceritakan oleh Ibn 'Asakir dari Abu Sa'd Isma'il bin Muthanna al-Astrabadhi.
Tatkala ia sedang berkhutbah di Damsyik, salah seorang yang hadir
bertanya tentang hadis Nabi yang berbunyi: "Saya gudang ilmu dan Ali
pintunya" Ismail menekur sebentar, lalu diangkatnya kepalanya seraya
katanya: "Ya, tak ada yang mengetahui hadis ini dari Nabi, kecuali
yang hidup pada masa permulaan Islam. Akan tetapi Nabi berkata:
"Saya gudang ilmu, Abu Bakr fondasinya, Umar dindingnya, Usman
atapnya dan Ali pintunya." Dengan demikian para hadirin puas
rasanya. Tetapi ketika diminta kepadanya supaya menerangkan sanadnya,
ia merasa gusar sekali karena memang tidak mampu.
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (8/9)
GHARANIQ DAN TABUK
Lalu apa yang terdapat dalam buku riwayat hidup Nabi dan hadis
tentang mujizat itu kadang berbeda-beda pula. Sekalipun
menurut buku-buku hadis sudah dipastikan benar tapi kadang masih
merupakan sasaran kritik juga. Masalah gharaniq misalnya, dalam
pengantar ini ada juga kita sebutkan sepintas lalu, dan akan kita
sebutkan lagi lebih terperinci dalam teks nanti. Cerita membelah dada
juga sudah berbeda-beda sebagaimana diceritakan oleh Halima inang
pengasuh Nabi kepada ibunya; begitu juga mengenai waktu terjadinya
sehubungan dengan usia Muhammad.
BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (1/4) Muhammad Husain Haekal Sumber
peradaban pertama - Agama Yahudi dan Kristen - Sekta-sekta Kristen dan
Pertentangannya - Majusi Persia di jazirah Arab - Jalan-jalan kafilah -
Yaman dan peradabannya - Sebabnya Jazirah bertahan pada paganisma.
PENYELIDIKAN
mengenai sejarah peradaban manusia dan dari mana pula asal-usulnya,
sebenarnya masih ada hubungannya dengan zaman kita sekarang ini.
Penyelidikan demikian sudah lama menetapkan, bahwa sumber
peradaban itu sejak lebih dari enam ribu tahun yang lalu adalah
Mesir. Zaman sebelum itu dimasukkan orang kedalam kategori
pra-sejarah. Oleh karena itu sukar sekali akan sampai kepada suatu
penemuan yang ilmiah. Sarjana-sarjana ahli purbakala
(arkelogi) kini kembali mengadakan penggalian-penggalian di Irak
dan Suria dengan maksud mempelajari soal-soal peradaban Asiria
dan Funisia serta menentukan zaman permulaan daripada kedua
macam peradaban itu: adakah ia mendahului peradaban Mesir masa
Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa itu dan
terpengaruh karenanya?
BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (2/4) Muhammad Husain Haekal Kedua
kekuatan yang sekarang sedang berhadap-hadapan itu ialah: kekuatan
Kristen dan kekuatan Majusi, kekuatan Barat berhadapan dengan
kekuatan Timur. Bersamaan dengan itu kekuasaan-kekuasaan kecil yang
berada dibawah pengaruh kedua kekuatan itu, pada awal abad keenam
berada di sekitar jazirah Arab. Kedua kekuatan itu masing-masing
mempunyai hasrat ekspansi dan penjajahan. Pemuka-pemuka kedua
agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan
agamanya ke atas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya.
Sungguhpun demikian jazirah itu tetap seperti sebuah oasis yang
kekar tak sampai terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa
tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah oleh
penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagian kecil
saja pada beberapa kabilah. Gejala demikian ini dalam sejarah
kadang tampak aneh kalau tidak kita lihat letak dan iklim jazirah
itu serta pengaruh keduanya terhadap kehidupan penduduknya, dalam
aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka
masing-masing.
BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (3/4) Muhammad Husain Haekal Setelah
surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia mengirimkan bersama orang
Yaman itu - yang membawa surat - sepasukan tentara di bawah
pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha al-Asyram salah seorang
prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas nama penguasa Abisinia.
Ia memerintah Yaman ini sampai ia dibunuh oleh Abraha yang
kemudian menggantikan kedudukannya. Abraha inilah yang memimpin
pasukan gajah, dan dia yang kemudian menyerbu Mekah guna
menghancurkan Ka'bah tetapi gagal, seperti yang akan terlihat nanti
dalam pasal berikut.
BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (4/4) Muhammad Husain Haekal Orang-orang
Yahudi di negeri-negeri Arab merupakan kaum imigran yang besar,
kebanyakan mereka tinggal di Yaman dan Yathrib. Di samping itu
kemudian agama Majusi (Mazdaisma) Persia tegak menghadapi arus
kekuatan Kristen supaya tidak sampai menyeberangi Furat (Euphrates)
ke Persia, dan kekuatan moril demikian itu didukung oleh keadaan
paganisma di mana saja ia berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya
kekuasaan yang di tangannya, ialah sesudah pindahnya pusat peradaban
dunia itu ke Bizantium.
BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (1/4) Muhammad Husain Haekal
Letak
Mekah - Ibrahim dan Ismail - Kisah penyembelihan dan penebusan - Zamzam
- Perkawinan Ismail dengan Jurhum - Pembangunan Ka'bah - Mekah di bawah
Jurhum - Qushay dan anak-anaknya - Mekah di tangan Qushay - Hasyim dan
Abdul Muttalib - Tugas-tugas duniawi dan agama di Mekah - Berhaji ke
Mekah - Kisah Abraha dan gajah - Abdullah bin Abdul Muttalib - Kisah
penebusannya.
BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (2/4) Muhammad Husain Haekal
Cerita
ini diambil dari sejarah yang hampir merupakan konsensus dalam
garis besarnya tentang kepergian Ibrahim dan Ismail ke Mekah,
meskipun terdapat perbedaan dalam detail. Dan yang memajukan kritik
atas peristiwa secara mendetail itu berpendapat, bahwa Hajar dan
Ismail telah pergi ke lembah yang sekarang terletak Mekah itu dan bahwa
di tempat itu terdapat mata air yang ditempati oleh kabilah
Jurhum. Hajar disambut dengan senang hati oleh mereka ketika ia
datang bersama Ibrahim dan anaknya ke tempat itu. Sesudah Ismail
besar ia kawin dengan wanita Jurhum dan mempunyai beberapa orang anak.
Dari percampuran perkawinan antara Ismail dengan unsur-unsur
Ibrani-Mesir di satu pihak dan unsur Arab di pihak lain,
menyebabkan keturunannya itu membawa sifat-sifat Arab, Ibrani dan
Mesir. Mengenai sumber yang mengatakan tentang Hajar yang kebingungan
setelah melihat air yang habis menyerap serta tentang usahanya
berlari tujuh kali dari Shafa dan Marwa dan tentang sumur Zamzam dan
bagaimana air menyembur, oleh mereka masih diragukan.
BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (3/4) Muhammad Husain Haekal
Seperti
ayahnya, Abd'd-Dar juga telah memegang pimpinan Ka'bah dan kemudian
diteruskan oleh anak-anaknya. Akan tetapi anak-anak Abd Manaf
sebenarnya mempunyai kedudukan yang lebih baik dan terpandang juga
di kalangan masyarakatnya. Oleh karena itu, anak-anak Abd
Manaf, yaitu Hasyim, Abd Syams, Muttalib dan Naufal sepakat akan
mengambil pimpinan yang ada di tangan sepupu-sepupu mereka itu.
Tetapi pihak Quraisy berselisih pendapat: yang satu membela satu
golongan yang lain membela golongan yang lain lagi.
BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA'BAH DAN QURAISY (4/4) Muhammad Husain Haekal Malam gelap gelita tatkala mereka memikirkan akan meninggalkan kota
itu dan di mana pula akan tinggal. Malam itulah
Abd'l-Muttalib pergi dengan beberapa orang Quraisy, berkumpul
sekeliling pintu Ka'bah. Dia bermohon, mereka pun bermohon minta
bantuan berhala-berhala terhadap agresor yang akan menghancurkan
Baitullah itu.
BAGIAN KETIGA: MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA (2/3) Muhammad Husain Haekal
Baik
kaum Orientalis maupun beberapa kalangan kaum Muslimin sendiri tidak
merasa puas dengan cerita dua malaikat ini dan menganggap sumber
itu lemah sekali. Yang melihat kedua laki-laki (malaikat) dalam
cerita penulis-penulis sejarah itu hanya anak-anak yang baru dua
tahun lebih sedikit umurnya. Begitu juga umur Muhammad waktu itu. Akan
tetapi sumber-sumber itu sependapat bahwa Muhammad tinggal di
tengah-tengah Keluarga Sa'd itu sampai mencapai usia lima tahun.
Andaikata peristiwa itu terjadi ketika ia berusia dua setengah
tahun, dan ketika itu Halimah dan suaminya mengembalikannya kepada
ibunya, tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita itu yang
tak dapat diterima. Oleh karena itu beberapa penulis berpendapat,
bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga kalinya.
|