Awal 1993
Aku lega, urusanku dengan pihak kepolisian tidak berlanjut lebih
panjang lagi. Hal itu karena masalah tawuran di sekolah kami bisa
diselesaikan dengan damai. Inilah pertama kalinya aku berurusan dengan
polisi. Seorang siswa kelas 3 SMP, yang masih mengenakan celana pendek
ketika sekolah, tapi sudah berani ikut tawuran. Masalahnya? Ah, aku
sendiri lupa. Yang pasti, justru ada rasa bangga di hatiku. Orang tuaku
tidak boleh tahu hal ini. Surat panggilan untuk mereka sudah kubuang
jauh-jauh tadi.
“Afwan (maaf) Ukhti[1], semoga ini tidak melukai Anti [2] dan keluarga Anti . Ana [3] pikir sudah saatnya Ana memberi keputusan tentang “proses” kita. Ya…, seperti yang Anti ketahui bahwa selama ini Ana telah berusaha melobi orang tua dengan beragam cara mulai dari memahamkan konsep nikah “versi” kita, memperkenalkan Anti pada mereka hingga melibatkan orang yang paling ayah percaya untuk membujuk ayah agar mengizinkan Ana untuk menikahi Anti .”
“Bu, ada teman yang mau datang bersilaturahim dengan ibu. Kapan bu ada
waktu” Siang itu kuhampiri ibu yang sedang duduk menonton televisi. Ibu
tak bereaksi apapun, seakan-akan tak mendengar dan merasakan
kehadiranku.
“Bu, teman itu bermaksud datang melamar. Bagaimana kalau…”
Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al
Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya,
selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi
militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding
teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin
shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.
Waktu
itu di tepi pantai duduklah seorang wanita di atas karpetnya dan
didekatnya terhidang secangkir teh. Dia memandangi lingkaran matahari
yang sedang tenggelam di ufuk untuk melewatkan satu hari dari hidupnya
yang sudah mencapai usia 70 tahun. Dia memandangi air laut yang
memantulkan sinar ufuk yang berwarna kuning keemasan. Terlihat sangat
indah. Akan tetapi, dia tidak pernah melupakan berapa banyak tragedi
dan cerita yang bergejolak di dalam hatinya. Lalu dia kembali ke
tempatnya, mengingat-ngingat hakikat kehidupannya yang ternyata mirip
dengan laut di hadapannya.
Sejak kecil aku mengenalmu, karena kau tetangga dekatku. Namun tak pernah terbayang kau akan menjadi pendamping hidupku.
Sebenarnya engkau tak terlalu cantik, tapi lebih
sulit untuk mengatakan engkau jelek. Biasa saja. Engkau juga tak pernah
memoleskan make-up di wajahmu, apalagi mengenakan perhiasan sebagaimana
kebanyakan teman-temanmu.Namun kesehajaan itulah yang justru mengusik
hatiku, sehingga kuputuskan untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku.
Engkau yang sederhana, pintar dan tak banyak bicara, sungguh terlihat
dewasa.
“Tika! Sudah siap belum?”
Teriakan Raka dari bawah balkon terdengar. Gadis tujuh belas tahun itu
buru-buru meraih sepatu ketsnya. Kalau dia tidak turun ke bawah dalam
lima menit, bisa-bisa si Bangor itu ngomel panjang lebar.
“Tikaaa….!!!”
Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur'an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.
Prolog:
Rasa cinta kan tetap ada selama kau memikirkannya
Rasa sakit kan bertahan selama kau membiarkannya
Semangat dan air mata, bukankah itu karunia?