THE PASSION OF JIM CAVIEZEL
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Ini Kesaksiannya,…
JIM
CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM
FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA
(SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Sally baru berumur 8 tahun, saat ia mendengar ayah dan ibunya berbicara tentang adiknya, Georgi, yang sedang sakit keras dan mereka telah melakukan segala cara sebatas kemampuan untuk mengobatinya. Hanya tinggal operasi yang sangat, sangat mahal yang dapat membantu adiknya ....... dan itu sangat sukar karena keterbatasan keuangan keluarga Sally. Sally mendengar ayahnya berbisik dengan putus asa, " Hanya tinggal mukjizat yang dapat menyelamatkan Georgi".
Pengakuan Harun Jusuf, Mantan Tukang Kwamia.
Harun Jusuf, mantan tukang mantan tukang kwamia
yang namanya pernah sangat ngetop di kalangan etnis Tionghoa ini,
berpenampilan sederhana. Ditemani Acu, istrinya, Harun Yusuf menjawab
serta membuka semua rahasia kwamia secara blak-blakan. Iapun mengaku
sedang menyiapkan sebuah tulisan untuk diterbitkan menjadi sebuah buku
mengenai perjalanan hidupnya dari Tukang Kwamia menjadi Anak Tuhan Yesus.
Tanggal 16 Februari 1995 saya diberi sebuah mimpi. Di dalam mimpi itu
saya melihat sepasukan besar tentara neraka telah dilepaskan untuk
melawan Gereja. Dua hari kemudian saya diberi suatu penglihatan, dan di
dalam penglihatan itu saya melihat gerombolan Iblis itu lagi, tetapi
secara sangat rinci.
Ada beberapa aspek dari penglihatan itu
yang sungguh-sungguh menjijikkan, tetapi saya mencoba menyampaikannya
persis sebagaimana saya telah melihatnya. Pekerjaan kegelapan memang
menjijikkan dalam artian yang sedalam-dalamnya, dan kita harus
mengenali bahwa sedemikianlah adanya.
Tengah malam itu, saya terbangun. Rupanya telepon berdering di kesunyian malam. "Halo, selamat malam. Ada yang bisa dibantu?" sapaku. "Pak Valen, ini dari Theo," suaranya bergetar. Saya mengenali itu suara Teophilus, rohaniwan gereja cabang di perumahan Bukit Asri.
"Ada apa, pak?"
"Gawat,
Pak. Barusan Gereja Bukit Asri dikepung massa. Mereka mempertanyakan
apa gereja ini sudah ada izin atau IMB. Pak RT menyerahkan surat
pernyataan penghentian ibadah dan penutupan gereja. Saya diminta tanda
tangan, tapi saya tolak."
"Lalu bagaimana kondisi sekarang?"
Malam kian larut pada 22 Januari 1999, di Manoharpur, India. Sebuah
desa terpencil, tersembunyi di lekukan perbukitan Keonjhar. Jauh dari
peradaban. Ber-jarak 250 km dari kota terdekat, Orissa. Senyap dan
gelap. Nyaris tak terdengar suara. Selain nyanyian binatang malam dan
dentuman tabla (alat musik tradisional India) yang dimainkan sekelompok
pemuda mengiringi liukan tarian tradisional, Dhangri.
Sebelum mengenal Kristus, saya dahulu adalah seorang pemuja berhala
baik di rumah maupun di rumah-rumah ibadat kira-kira selama 35 tahun.
Dalam kurun waktu yang lama itu, saya telah membangun sekolah Budha di
Ampel – Solo dan rumah-rumah ibadah di desa-desa. Saya sendiri sekolah
Budha di Taiwan, Bangkok dan Amerika. Namun selama 35 tahun itu saya
belum pernah merasakan yang namanya hidup tenteram, masalah demi
masalah silih berganti datang dalam keluarga besar kami. Karena saya
anak yang paling besar maka semua masalah saya ikut menanggung.
Elia adalah anak tunggal dari pasangan Maxi Sigar dan Chenni Sigar.
Tidak ada yang menyangka sebuah kecelakaan kecil membawa dampak yang
sangat besar dalam kehidupan Elia. Hari itu, Kamis tanggal 5 April 2007
jam 11 siang, Elia yang sedang bercanda dengan temannya terjatuh di
kamar. Awalnya Elia hanya bermaksud untuk pura-pura terjatuh tapi
kemudian kakinya terpeleset. Kepalanya langsung membentur lantai.
Benturan itu tidak dihiraukan oleh Elia karena sakit yang ia rasakan
tidaklah parah. Elia tidak menyadari bahwa sebenarnya malapetaka sedang
menanti. Kejadian itu pun tidak dilaporkannya kepada orang tuanya.
Setelah kejadian itu, Elia masih sempat bermain basket dengan temannya.
Suatu kali Presiden Megawati mengadakan kunjungan kerja ke Lampung. Di
antara para penyambutnya itu terdapat seorang purnawirawan ABRI. Walau
wajahnya sudah berkerut-kerut tetapi sisa-sisa kegagahan militer masih
tampak dari sikap tubuhnya. Begitu Megawati melintas di depannya, pria
ini bersikap sempurna sambil menghormati. Langkah Bu Mega terhenti
sejenak sambil mengamati wajah pria ini. Dia berusaha menggali
ingatannya akan kenangan yang sudah lama sekali. "Lho, Paklik kok ada di sini?" tanya bu Mega setelah berhasil mengingat siapa pria ini. "Sekarang Paklik kerja apa?" lanjut Bu Mega. "Oh, sekarang saya menjadi hamba Tuhan di wilayah sini," jawab pria ini. "Oh, bagus itu," kata Bu Mega.
Padahal sejak TK, SD, SMP, SMA, saya sekolah di sekolah Khatolik dan
Kristen. Jadi saya sangat familiar dengan nama Yesus, Alkitab, Natal,
Paskah, dan hal-hal berbau Kristen Khatolik. Latar belakang keluarga
saya adalah penganut aliran Buddhis, atau Kong Hu Chu, pokoknya tradisi
cina. Buat keluarga saya, nama Yesus itu nggak ada arti apa-apanya.
Bahkan cenderung menggangu.
Apa yang saya maksud bukanlah serangan yang dilakukan oleh manusia,
tetapi serangan yang dilakukan oleh roh jahat selama retreat Gerakan
Pemuda GPIB Pelita Hidup-Depok, tgl 17-19 Agustus 2007 lalu.
Apa
yang penulis ingin sampaikan semata untuk menyatakan kebesaran dan
kuasa Tuhan Yesus yang telah dilakukan dan disaksikan oleh kita semua
peserta retreat.
Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain. Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan-bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.
Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu. Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah, jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain. Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan - bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.
Suatu malam saya telah bekerja keras membantu seorang ibu di bangsal buruh, tetapi meskipun kami sudah berusaha sebisa mungkin, ibu itu tetap meninggal dunia dengan meninggalkan seorang bayi prematur yang kurus dan seorang anak perempuan berusia dua tahun yang sedang menangis. Kami mengalami kesulitan mengurus bayi tersebut karena kami tidak punya inkubator (kami tidak mempunyai listrik untuk mengoperasikan inkubator) dan tidak ada fasilitas makanan yang memadai khusus untuk bayi tersebut.
Sung Du adalah seorang guru Kristen muda yang tinggal di Korea sebelum perang dunia ke-2 meletus. Ketika tentara Jepang menduduki Korea, iman Sung Du tidak cukup kuat untuk berkata tidak, sehingga akhirnya dia turut menyembah dewa-dewa bersama orang-orang Jepang di kuil Shinto. Semua guru misionarisnya sangat kecewa terhadapnya, tetapi mereka tetap berdoa untuknya. Namun Allah belum selesai berurusan dengan Sung Du.
Tanggal 11
Oktober 2004 yang lalu, saya bersama-sama dengan jemaat dan
pengerja RDSB Magelang mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani
di desa Candirejo Borobudur Jawa Tengah. Mayoritas penduduknya
beragama Islam, hanyasatu keluarga yang beragama Kristen.
Pada tanggal 24 Oktober 2004 jam 9.30 malam, saya kedatangan tamu seorang wanita muda yang mengidap penyakit jantung sejak kecil. Dia menceritakan tentang masalahnya sejak kecil sampai dewasa ini, dan saat ini tubuhnya lemah serta sesak nafas, dan dadanya sakit. Menurut dokter ada penyumbatan di jantungnya dan harus dikoret melalui operasi jantung.
|
|