Berikut ini adalah sebuah kesaksian yang berasal dari Republik Demokrat Kongo saat di sana terjadi peperangan antara pemerintah dengan tentara pemberontak.
Bunyi-bunyi tembakan terdengar di luar gereja. Padahal sore itu gereja cukup ramai. Remaja-remaja hadir untuk mengikuti katekisasi dan penatua-penatua berkumpul untuk mengikuti rapat majelis. Ketika tembakan terdengar kami sedang menunggu kedatangan pak Pendeta. Akupun berada di antara remaja-remaja itu. Peristiwa itu terjadi tahun 1964 waktu aku berusia 15 tahun.
Sung Du adalah seorang guru Kristen muda yang tinggal di Korea sebelum perang dunia ke-2 meletus. Ketika tentara Jepang menduduki Korea, iman Sung Du tidak cukup kuat untuk berkata tidak, sehingga akhirnya dia turut menyembah dewa-dewa bersama orang-orang Jepang di kuil Shinto. Semua guru misionarisnya sangat kecewa terhadapnya, tetapi mereka tetap berdoa untuknya. Namun Allah belum selesai berurusan dengan Sung Du.
“Waktu itu saya masih SD dan si dia masih SMP, umurnya 16 tahun. Dia sering nyamperin ke sekolah saya, ngajak ngobrol dan ngajak main. Satu hari dia bawa saya ke tempat yang benar-benar sepi, yang tidak ada orang, tempatnya seperti di hutan. Dan disitulah dia membuka baju saya, semuanya…”.
“Sejak hari itu, saya terus melakukan hubungan seperti itu…..dan akhirnya saya hamil”.
Dear all,
Saya punya pengalaman pribadi mengenai okultisme ini. Bukan saya sih tapi kakak saya. Kejadiannya sekitar 1 tahun yg lalu. Pada saat itu, kami sekeluarga senang baca buku2nya Daud Tony, mantan dukun sakti yang sudah bertobat menjadi penginjil.
Suatu malam saya telah bekerja keras membantu seorang ibu di bangsal buruh, tetapi meskipun kami sudah berusaha sebisa mungkin, ibu itu tetap meninggal dunia dengan meninggalkan seorang bayi prematur yang kurus dan seorang anak perempuan berusia dua tahun yang sedang menangis. Kami mengalami kesulitan mengurus bayi tersebut karena kami tidak punya inkubator (kami tidak mempunyai listrik untuk mengoperasikan inkubator) dan tidak ada fasilitas makanan yang memadai khusus untuk bayi tersebut.
Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA.
Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu.
Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu. Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen;
bersiaplah, jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
Namanya Silvania. Dia tinggal di Brasilia. Ibu empat anak ini tiba-tiba
saja terkenal secara internasional, terutama di dunia kekristenan. Dia
bukan artis. Bukan pula pengkhotbah televisi. Dia adalah ibu rumah
tangga biasa dengan empat anak. Lebih dari itu, dia menderita empat
macam kanker stadium lanjut. Dokter sudah angkat tangan. Dari pori-pori
tubuhnya keluar cairan empedu hijau yang sangat bau. Masyarakat di
sekitarnya meninggalkan dia. Hanya suami dan keempat anaknya yang masih
tahan berada di dekatnya.
Shaloom... terima kasih untuk informasinya, beberapa hari saya mencari web Kristiani tapi belum menemukan. Akhirnya saya menemukan web sumbercerita ini untuk dapat membagi kesaksian yang saya alami. Semoga kesaksian saya menjadi berkat bagi saudara seiman.
Kesaksian ini ditulis dengan harapan apa yang saya alami, kiranya bisa menjadi berkat baik bagi mereka yang telah percaya maupun yang belum percaya.
Pada tanggal 24 Oktober 2004 jam 9.30 malam, saya kedatangan tamu seorang wanita muda yang mengidap penyakit jantung sejak kecil. Dia menceritakan tentang masalahnya sejak kecil sampai dewasa ini, dan saat ini tubuhnya lemah serta sesak nafas, dan dadanya sakit. Menurut dokter ada penyumbatan di jantungnya dan harus dikoret melalui operasi jantung.
Sumber Kesaksian : David Gideon
Suatu malam, aku berjalan-jalan di pertokoan, saya mencari buku tentang belajar ilmu gaib. Aku kemudian menemukan satu buku yang berjudul “primbon pusaka sakti”. Tujuanku membeli buku itu adalah untuk mendapatkan kesaktian dan mendapat keselamatan.
Sally baru berumur 8 tahun, saat ia mendengar ayah dan ibunya berbicara tentang adiknya, Georgi, yang sedang sakit keras dan mereka telah melakukan segala cara sebatas kemampuan untuk mengobatinya. Hanya tinggal operasi yang sangat, sangat mahal yang dapat membantu adiknya ....... dan itu sangat sukar karena keterbatasan keuangan keluarga Sally. Sally mendengar ayahnya berbisik dengan putus asa, " Hanya tinggal mukjizat yang dapat menyelamatkan Georgi".
Tanggal 11
Oktober 2004 yang lalu, saya bersama-sama dengan jemaat dan
pengerja RDSB Magelang mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani
di desa Candirejo Borobudur Jawa Tengah. Mayoritas penduduknya
beragama Islam, hanyasatu keluarga yang beragama Kristen.
Kesaksian
keajaiban yang mengherankan di Ambon Ini adalah dari
salah satu hamba Tuhan tentang kejadian-kejadian di Ambon
kesaksian yang benar2 memperkuat iman kepercayaan kita akan
Yesus Kristus.
Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain. Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan - bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.
Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain. Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan-bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.
Ini adalah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun lalu di USC University of Southern California.