Setiap tanggal 7 Juni Mama selalu merayakan ulang tahunku.
Pada ulang tahunku yang ke 12, mama memberiku sebuah kado yang sangat menarik.
Sebuah sepeda mini termahal yang pernah dijual di Indonesia.
Aku senang menerima hadiah dari mama. Bukan saja karena
harganya yang sangat mahal, tetapi juga karena mama memperbolehkan aku
bersepeda ke sekolah.
"Ketika usiamu menginjak 12 tahun engkau boleh bersepeda ke
sekolah," kata mama suatu hari.
"Kenapa harus menunggu usia 12 tahun?" aku bertanya dengan
kesal.
"Tubuhmu kecil Nita. Kalau engkau bersepeda pada usia 10
tahun, aku khawatir akan keselamatanmu. Kendaraan yang begitu padat selalu
menghantuiku."
Akhirnya aku memaklumi kekhawatiran mama.
Kini aku boleh bersepeda ke sekolah. Teman-temanku
menyambutku dengan riang. Mereka senang karena aku mempunyai sepeda baru.
"Aku boleh pinjam ya Nita?" seru Triana sambil mendekatiku.
"Aku juga ya Nita?" kata yang lain.
Aku mengangguk lemah. Bukan aku tidak mau memberi
pinjaman kepada teman. Aku khawatir mereka tidak bisa bersepeda dengan
baik. Jika jatuh tentu sepedaku lecet, atau ada bagian yang rusak.
Tapi tak mungkin aku menolak keinginannya.
"Tapi hati-hati ya!" seruku mengingatkan.
Triana senang sekali ketika aku mengijinkan dia naik sepeda.
Selama ini dia tidak pernah mempunyai sepeda. Kalau ingin naik sepeda
selalu pinjam teman. Biasanya teman-teman jarang yang memberi pinjaman.
Alasannya sederhana saja, takut sepedanya rusak.
Aku hanya melihat-lihat Triana bersepeda. Suatu saat
hampir saja ia jatuh, tapi aku berhasil menangkapnya. Setelah itu aku
tidak memperbolehkannya lagi. Setelah Triana kini Nunung yang pinjam.
Karena aku sudah berjanji untuk memberikan pinjaman maka kuberikan sepeda
kesayanganku.
Nunung lebih mahir bersepeda dari pada Triana, walaupun begitu
dia agak ugal-ugalan. Di tempat yang sempit pun dia berani naik sepeda.
Karena sikapnya yang ugal-ugalan itu maka ia terjatuh. Aku menjerit tapi
Nunung hanya tersenyum saja.
"Wah...pasti aku dimarahi mama," kataku kepada Nunung.
"Ah begitu saja marah. Mana mungkin mamamu akan marah?
Bukankan kamu anak kesayangan?" kata Nunung tanpa memperdulikan perasaanku.
"Enak saja kamu berbicara. Di rumah pasti mama
memarahiku. Bisa-bisa aku tidak boleh naik sepeda lagi."
Ketika pulang sekolah hatiku bimbang. Pikiranku hanya
teringat mama. Kalau aku bercerita terus terang tentu mama akan marah,
tapi jika aku berbohong aku merasa berdosa. Kini sayap depan sepedaku terkelupas
sedikit. Mama pasti akan mengetahuinya. Karena itu aku akan
bercerita terus terang.
"Bagaimana Nita enak kan memakai sepeda baru?"
Aku mengangguk.
"Lho, kenapa wajahmu kusam? Ada apa, sayang?"
Aku secepatnya menjelaskan masalahnya. Hatiku bimbang.
"Jadi temanmu yang jatuh?"
Aku mengangguk.
"Semahal apapun sepeda tidak lebih baik dari persahabatan,"
kata mama dengan wajah tenang.
"Maksud mama?"
"Jangan risaukan semua itu. Mama memang memberimu hadiah
ulang tahun, tapi mana mungkin engkau sendiri yang akan naik sepeda?
Bukankah teman-temanmu juga ingin mencobanya?"
Sungguh aku malu kepada Nunung. Ketika Nunung
menjatuhkan sepedaku, aku cemberut dan marah-marah. Ternyata mama justru
sebaliknya.
"Apakah engkau memarahi Nunung?"
"Tentu saja Ma. Aku sayang sekali dengan sepeda baru itu.
Mama membelinya dengan uang yang sangat banyak."
Mama tertawa mendengar pengakuanku.
"Nita, Nita...sekali lagi mama katakan...jangan engkau tukar
persahabatan dengan sebuah sepeda. Jika engkau tidak mempunyai teman,
pasti engkau susah. Tetapi jika kamu bersepeda dengan sepeda yang rusak
sedikit, engkau masih tetap bahagia."
Keesokan harinya, aku buru-buru menemui Nunung. Aku
ingin minta maaf karena aku marah-marah kepadanya. Tetapi kata Triana,
Nunung tidak masuk sekolah karena takut telah merusak sepedaku. Aku
mengajak Triana ke rumah Nunung. Begitu tahu kedatanganku, Nunung berlari
masuk ke rumahnya.
"Nunung, aku datang untuk minta maaf kepadamu. Mama
tidak memarahiku, mama maklum kesalahanmu. Karena itu aku kemari ingin
minta maaf."
Tak berapa lama, Nunung keluar dari kamarnya dan segera
memelukku.
"Maafkan aku, Nita. Aku telah merusak sepeda
kesayanganmu!"
"Maafkan aku juga Nung. Aku terlalu emosi!"
Kami menjadi teman baik kembali.