|
|
Pengantar Tulisan ini bukanlah cerita tentang hubungan seksual saja, akan tetapi
merupakan pengalaman perjalanan seksual penulis sepanjang hidup.
Apabila ada peneliti ataupun pembaca yang tertarik dengan pengalaman
seksual penulis, atau sekedar ingin memberikan komentar, pertanyaan,
maupun berkenalan, penulis mempersilakan Anda untuk menghubungi
penulis.
Tulisan ini dimaksud sebagai penambah wawasan. Tulisan ini
seluruhnya diceritakan secara jujur, namun nama-nama yang disebutkan
bukanlah nama aslinya. Penulis juga mengganti nama penulis kerahasiaan
identitas nama-nama yang tertulis tetap terjaga. Semoga tulisan ini
berguna
Tentang Masturbasi & Sunat Masturbasi Aku sudah sejak kecil bermasturbasi. Aku sudah tidak ingat umur
berapa pertama kali aku bermasturbasi. Yang jelas, aku masih belum
sekolah TK, aku sudah biasa memainkan alat kelaminku sendiri. Jelas,
pada saat itu tidak ada terpikir olehku tentang hubungan seksual dengan
lawan jenis. Aku hanya menikmati rasa nikmat yang timbul ketika
bermasturbasi.
Sejak kecil, saat bermasturbasi aku menggunakan alat-alat, entah
dari mana, aku mengasosiasikan atau membayangkan bahwa aku disunat, dan
dengan alat itu disentuhkan ke kulit kemaluan/kulit kulup/kulit yang
menutup kepala kemaluan (foreskin).
Ada rasa nikmat saat aku menyentuhkan alat-alat, seperti jarum untuk
merajut, dll. Kalau tidak terganggu oleh panggilan ibuku, biasanya aku
akan asyik sendiri memainkan foreskin-ku, dan mencapai suatu
kenikmatan yang nikmatnya tiada tara (orgasme), namun setelah itu pasti
diiringi dengan perasaan bersalah.
Seringkali masturbasiku gagal karena Ibuku memanggilku, dan
biasanya, apabila Ibuku menemukanku dengan celana yang 'amburadul'
(apakah ada di antara Anda yang pernah bisa menggunakan celana dengan
rapi tapi cepat pada usia sebelum TK?). Entah mengapa aku selalu tidak
ingin permainanku ketahuan oleh Ibuku ataupun orang lain. Aku selalu
berusaha mengalihkan perhatian dengan pura-pura bertanya tentang hal
lain kepada Ibuku. Dan biasanya dengan senyum Ibuku merapikan celanaku
dan menjawab pertanyaanku. Setelah aku besar, aku yakin bahwa Ibuku
sebetulnya tahu bahwa aku bermasturbasi, tapi dia dengan bijaksana
tidak memarahiku, ataupun menanyaiku tentang apa yang telah kuperbuat.
Kegiatan bermasturbasi ini terus kulakukan setiap ada kesempatan,
bahkan sampai saat ini tentunya. Saat ini aku tidak lagi merasa
bersalah setelah bermasturbasi. Perasaan bersalah ini hilang setelah
aku mulai mengenal apa sebenarnya masturbasi, dan banyak pula orang
yang bermasturbasi (hampir 90 persen pria pernah melakukan masturbasi).
Di sekolahku selalu diajarkan tentang 'Family Education' sejak SMP dan SMA. Pada pelajaran tersebut kami para siswa diajarkan
pendidikan seks. Bukan hubungan seksual, akan tetapi apa yang
sebenarnya terjadi pada seorang laki-laki, dan juga apa yang terjadi
dengan wanita berkaitan dengan perubahan seksual pada dirinya.
Pada waktu SMP, pendidikan secara terpisah antara pria dan wanita,
begitu juga pada saat SMA kelas 2. Akan tetapi ketika SMA kelas 3,
Pendidikan seks tidak dipisahkan antara pria dan wanita, dan sudah
mulai membicarakan tentang seksualitas, ketertarikan pada lawan jenis
dll. Dan sejak saat itulah aku mengetahui bahwa masturbasi adalah wajar
dilakukan manusia, baik pria maupun wanita, karena itu adalah cara
manusia mengurangi ketegangannya, oleh karena itu masturbasi masih bisa
diterima, selama tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain. (Aku
bersyukur bisa mendapatkan Family Education seperti ini). Selain Famili Education,
beberapa seminar tentang ini juga membuatku percaya bahwa masturbasi
bukanlah perbuatan yang amoral. Perlahan-lahan perasaan bersalah ketika
bermasturbasi itu hilang dan aku jadi melakukannya dengan tenang.
Setelah aku dewasa aku baru tahu bahwa ternyata kebiasaan bermasturbasi
berhubungan erat dengan kebiasaan berbohong. Dan ajaibnya, kebiasaanku
berbohong bersamaan dengan hilangnya perasaan bersalah yang timbul
setelah bermasturbasi
Sunat Kilas balik.., kelas 6 SD, aku baru tahu yang namanya hubungan
seksual. Teman-temanku yang sudah duluan memasuki usia remaja banyak
yang bercerita tentang payudara wanita, bulu kemaluan yang mulai
tumbuh, dan juga menceritakan tentang hubungan seksual. Aku baru tahu
bahwa alat kelaminku dapat dimasukkan ke alat kelamin wanita dan
menyebabkan nikmat. Saat itu pula aku tahu arti kata 'perkosa' (semula
aku mengira perkosa = siksa), 'ngentot' (aku pernah dimarahi guru
SD-ku, karena aku memaki teman ku dengan kata 'ngentot' yang aku
sendiri tidak tahu artinya), 'ngewe' dll.
Saat usia itu aku sudah menyadari bahwa sunat adalah pemotongan foreskin.
Dari sekian banyak temanku yang disunat aku mendapat keterangan bahwa
disunat tidak terlalu sakit, sakit sedikit. Biasanya orang tua mereka
akan berkata demikian ketika aku datang pada syukuran sunatan temanku.
Semakin bertambah umur, semakin banyak daftar nama temanku yang sudah
di sunat, termasuk teman-teman paling dekat denganku mulai disunat
seiring dengan mulai memasuki usia akil baliq. "Semakin besar akan
semakin sakit, lo", begitu banyak komentar seperti itu yang kudengar,
apalagi kalau menguping percakapan orang dewasa.
Keinginanku untuk disunat bertambah besar, sudah sangat
meluap-luap, bahkan sudah sejak aku kecil. Aku merasa bahwa aku semakin
berpacu dengan waktu (karena sudah mulai menginjak SMP pada waktu itu).
Aku tidak pernah meminta kepada orang tuaku untuk mengantarkan aku
untuk disunat, aku malu (aku tidak terbiasa meminta kepada orang tuaku
untuk hal-hal yang kuinginkan, aku seorang yang tertutup dan pemalu).
Terlebih lagi, aku dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang
menganut faham yang tidak mewajibkan anak laki-laki untuk disunat.
Ayahku sebenarnya disunat, dan Ayahku mengatakan bahwa dirinya disunat
sejak kecil.
Sampai akhir kelas 1 SMP aku masih belum disunat, bulu-bulu
kemaluanku mulai tumbuh. Saat liburan, temanku yang belum disunat
hampir semua disunat, jadi tinggal aku. Dan seringkali pada saat sedang
sendiri, aku memainkan foreskin, dan membayangkan kalau foreskin itu hilang (foreskin-ku cukup panjang, aku bisa menjilat ujung foreskin-ku sendiri).
Suatu saat aku bermasturbasi dan tidak sengaja foreskin-ku
kutarik agak kuat sehingga kepala kemaluan muncul sedikit. Merah
sekali, dan ketika kusentuh, aku merasakan seperti aliran listrik yang
menyengat pada kepala kemaluanku sedikit sakit, geli, dan nikmat,
begitu sensasional. Ketika kucium tanganku, ternyata bagian kepala
penisku berbau kurang sedap. Sejak saat itulah aku mulai berusaha
membuka kepala penisku dengan menarik foreskin. Tidak mudah, karena ujung foreskin-ku
agak sempit, sehingga kepala penis tidak dengan mudah menyembul tanpa
menyebabkan rasa sakit. Aku terus berusaha untuk membukanya. (Aku tidak
tahu bahwa kepala penis seharusnya bisa tersembul keluar ketika
seusiaku, untuk mengakomodir apabila ereksi.) Namun foreskin-ku sangat panjang sehingga aku tidak pernah merasa terganggu pada saat ereksi.
Pada saat ereksi, foreskin-ku dapat meregang dan masih
menutupi kepala penis, hanya lubang penis yang sedikit menyembul keluar
(mungkin karena sejak kecil aku biasa menarik-narik foreskin-ku sendiri sehingga kulit foreskin-ku menjadi panjang), dan memang apabila dibandingkan dengan teman-temanku, foreskin-ku lebih panjang.
Suatu hari, ketika keinginan tahuku begitu meluap, karena ingin melihat kepala penisku sendiri, aku menarik foreskin-ku dengan agak dipaksa (saat penis sedang tidak terlalu besar), dan aku merasakan sakit yang luar biasa pada foreskin-ku
ketika kepala penisku menyembul muncul. Wah, deg-degan rasanya. Sakit
namun sangat senang, karena bentuknya persis seperti penis yang sudah
disunat. Akhirnya dapat juga penisku berbentuk seperti penis yang sudah
disunat. Betapa senangnya aku pada saat itu. Akupun menyentuh kepala
penis (yang saat itu tampak seperti dilapisi oleh sesuatu berwarna
keputihan (smegma)) dan terasa seperti terkena setrum, sensasional.
Namun sayangnya posisi terbuka ini tidak dapat bertahan lama, karena
begitu tidak dipegang, maka foreskin akan menutup kembali, dan kepala penisku kembali terselubung oleh foreskin.
Suatu saat, aku tengah membuka kepala penisku, tapi aku menarik agak terlalu keras, sehingga tampak kulit foreskin yang masih menempel pada corona terbuka (corona = area kepala penis yang melebar, yang menghubungkan batang dan kepala
penis, bagian ini termasuk bagian kepala penis yang paling peka). Aku
merasakan sakit yang luar biasa, dan pada corona tampak kulitnya memerah. Semakin lama, kulit foreskin yang terlepas dari corona semakin melebar, sampai akhirnya lepas dari sekeliling corona.
Selama proses ini aku merasa tersiksa, karena mengalami sakit yang luar
biasa, tapi anehnya diiringi perasaan yang sensasional, perih namun
nikmat.
Terbukanya seluruh kepala penis dan juga terkelupasnya foreskin dari corona membuat keinginanku untuk disunat bertambah besar, namun aku tetap
segan untuk mengungkapkan keinginanku untuk disunat kepada orang tuaku.
Dan ternyata orang tuaku tidak mau mengajakku untuk disunat karena
mereka berpikir bahwa aku takut disunat. Penasaran akan keinginan
disunat terus menggebu pada diriku.
Pada liburan kenaikan kelas 1 SMP ke 2 SMP seluruh teman di
kompleks rumahku yang seusia sudah disunat. Jadi, tinggal aku saja yang
belum disunat. Wah. Pikiran tentang sunat tersebut mulai menghantuiku,
"Kalau bertambah besar, maka kemungkinan akan semakin sakit dan
sembuhnya semakin lama, ditambah lagi, tentunya aku akan malu jika
rambut dikemaluanku semakin panjang (well, saat itu kan aku masih
remaja)". Aku harus segera disunat, tapi aku masih takut untuk bicara
kepada orang tuaku. Cerita-cerita di film-film tentang self mutilation,
seperti Yakuza yang memotong jari sendiri, dan melihat buku-buku yang
banyak di rumahku, yang melihatkan anak di daerah-daerah yang disunat
tanpa dibius dan dijahit (di Afrika dll), mungkin anda juga ingat di
koran pernah dimuat seseorang yang mengoperasi sendiri dan mengangkat
sendiri batu ginjalnya, berita-berita ini menjadi ide buat diriku untuk
menyunat diriku sendiri. Kalau cepat dan dengan benda yang sangat
tajam, pasti tidak begitu sakit, begitu pikirku.
Berpacu dengan liburan kenaikan kelas, aku tekadku sudah bulat, aku
akan menyunat diriku sendiri, maka suatu hari aku mempersiapkan segala
keperluan seperti kapas, obat merah, perban, cutter, alkohol, lilin
dll. Keesokan harinya, ketika seluruh keluarga sedang tidur siang, aku
membersihkan seluruh foreskin dan kelaminku bersih-bersih, saat itu juga aku bermasturbasi supaya aku tidak ereksi pada saat pemotongan foreskin,
soalnya selain sulit, pasti juga akan terasa sakit jika ereksi sebelum
luka sembuh (begitu keterangan yang aku peroleh dari temanku yang sudah
disunat). Selesai membersihkan kemaluanku, aku bersiap-siap, kamar aku
kunci dan mulailah dengan ritual, aku mengambil cutter dengan isi baru
yang belum ada karat, dan untuk mensuci hama kuberi alkohol dan dibakar
di lilin. foreskin-ku kusapu dengan alkohol dengan menggunakan
kapas yang telah kusiapkan banyak-banyak. Sedikit konflik dalam
pikiranku tentang seberapa banyak foreskin yang harus dipotong.
Akhirnya kuputuskan untuk memotong setengah dari panjang foreskin-ku, dengan pertimbangan bahwa jika ternyata disunat itu tidak enak, maka aku masih memiliki foreskin,
tapi jika ternyata menyenangkan, aku masih bisa memotongnya suatu saat.
Akhirnya dengan panas dingin dan debar jantung yang sangat kuat, aku
mengikat foreskin-ku dengan tali kecil (aku berpikir ini akan
mengurangi darah yang keluar dan juga mengurangi rasa sakit). Dengan
cepat aku memotong foreskin-ku dengan cutter. Sakit yang teramat sangat kurasakan ketika cutter menyobek foreskin-ku, darah mengalir dari luka tersebut, namun tidak seluruh foreskin-ku
terpotong. Aku menjadi bertambah bingung, darah mengalir dan belum
terpotong semua. Untuk memotong lagi, rasanya aku tidak sanggup lagi
karena sakit sekali rasanya. Segera kuteteskan obat luka dengan kapas
dan berusaha untuk menutup kembali luka tersebut dan menguatkan ikatan
tali kecil di foreskin-ku.
Aku tidak kuat lagi dan bingung sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk membalut foreskin-ku
dengan perban dan tidur. Aku berharap bahwa darah akan berhenti
mengalir ketika aku bangun tidur. Sore harinya ketika aku bangun tidur
aku melihat bahwa darah belum berhenti, aku menjadi sangat panik. Aku
harus memberitahu orang tuaku agar dibawa ke dokter dan lukaku harus
dijahit. "Oooh my God.." Aku tidak mungkin berterus terang mengatakan
bahwa aku telah berusaha menyunat diriku sendiri.
Di tengah galau pikiranku, muncul ide cemerlang, aku memecahkan
gelas minum, dan menempelkan darah pada pecahan gelas. Disusunlah
cerita bahwa aku mandi, kemudian secara tidak sengaja handuk terkena
gelas hingga jatuh, dan pecahan gelas tersebut kembali jatuh ketika aku
mengangkatnya dan mengenai kulit foreskin-ku. Hal ini di dukung bahwa aku punya kebiasaan hanya berhanduk saja ke kamar dan baru menggunakan baju di kamar tidurku.
Dengan berdebar-debar aku menyampaikan cerita ini kepada orang tuaku.
Orang tuaku panik sejadi-jadinya, mereka takut kalau penisku juga ikut
terluka. Mereka memeriksa dengan hati-hati penisku dan segera membawa
aku ke rumah sakit. Aku berdebar-debar. Ibuku mengatakan bahwa jangan
takut, penisku tidak terkena. Lalu dia berkata bahwa ada kemungkinan
bahwa kemungkinan hanya akan dijahit lukanya dan tidak perlu takut,
karena tidak sakit karena dibius terlebih dahulu. Aku hanya mengangguk
lemas. Dalam pikiranku aku hanya menyesali tindakanku.
Setelah diperiksa oleh dokter UGD, mereka berdiskusi dengan orang
tuaku, dan aku mendengar bahwa mereka menyarankan dan meminta
persetujuan orang tuaku agar aku disunat saja. Mereka menyebutkan
alternatif jika dijahit, dan juga tentunya biaya yang harus dibayar
orang tuaku. Tidak lama kemudian Ibuku mengatakan bahwa aku akan
disunat! Ibuku menenangkanku, dan mengatakan bahwa aku tidak usah takut
disunat, apalagi aku sudah besar katanya. Ahh, pada akhirnya aku
disunat juga! Hatiku berbinar-binar senang karena pada hari itu aku
mengalami peristiwa yang kutungu-tunggu sejak aku kecil. Akhirnya
dokter UGD menyunatku, dan parahnya, bius lokal yang mereka berikan
sudah habis efeknya sebelum proses jahit selesai. Rasa sakit luar biasa
aku rasakan pada saat foreskin-ku dijahit oleh dokter.
Luka bekas sunatku baru sembuh kira-kira satu bulan setelah sunat,
karena ada sedikit infeksi karena penisku sudah mulai menggantung dan
selalu kontak dengan skrotum kontak inilah yang menyebabkan luka
tersebut tidak cepat mengering dan terkena kuman. Walaupun aku sudah
bisa menggunakan celana ketika 10 hari setelah sunat (dengan luka tetap
diperban), namun atas saran dokter, aku tetap menggunakan sarung dan
tidak menggunakan celana dalam sampai infeksi sembuh dan kering. Jadi
aku hanya mengenakan celana selama sekolah dan pulang sekolah aku
kembali menggunakan sarung tanpa celana dalam sepanjang hari. Rasa
geli-geli nikmat terasa saat kepala penisku mengenai sarung. Dan
celakanya sampai saat ini aku punya kebiasaan untuk tidak mengenakan
apa-apa ketika tidur. Bahkan walaupun aku menggunakan celana saat
tidur, secara tidak sadar pasti aku akan membuka seluruh celana hingga
aku tidak menggunakan apa-apa kecuali pakaian atas (kaos, atau piama).
Kebiasaan ini tidak pernah hilang pada diriku. Oleh karena itu, aku
selalu sulit apabila diajak untuk tidur bersama orang lain dalam satu
kamar, karena pasti waktu terbangun aku menemukan aku sudah tidak
mengenakan celana sama sekali. Aku mencoba dengan menggunakan celana
yang sulit dibuka, tapi tetap saja kebiasaan ini tidak bisa hilang. Aku
bahkan tidak pernah sadar membuka sendiri celanaku ketika tidur. Anda
mungkin tidak percaya, tapi aku tidak berbohong mengenai ini. Sampai
saat ini aku selalu tidur tidak mengenakan penutup tubuh bawah.
Untunglah isteriku memaklumi keadaanku ini, dan mungkin malah dia
senang dengan hal ini.
Jika aku ditanya tentang bagaimana perasaanku setelah aku disunat,
dengan tegas aku katakan bahwa aku justru merasa tidak senang dengan
kondisi penisku yang sudah disunat. Mengapa? Karena tidak nyaman saat
bermasturbasi. Kepala penis langsung bersentuhan dengan tangan dan
menyebabkan rasa yang kurang nikmat. Aku menjadi sangat tidak senang
dengan kondisi ini, sehingga cara bermasturbasiku kuubah, aku tidak
lagi menggosokkan tanganku, tapi aku menggosok-gosokkan kemaluanku ke
permukaan yang agak lembut seperti kain yang lembut, selimut dll.
Apabila Anda melihat selimutku pada waktu remaja, penuh dengan bekas
spermaku. Aku menyesal bahwa aku disunat, dan seperti orang sering
bilang, penyesalan datang selalu belakangan. Aku juga menjadi percaya
bahwa sunat dapat mengurangi kebiasaan bermasturbasi.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Seorang Istri 01 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
66,346 |
| Masturbasi Dan Anal Seks |
alvin_sakura@yahoo.com |
60,689 |
| Pijat Clitoris - 1 |
deknas@yahoo.com |
39,231 |
| Rangsangan dan Orgasme |
katon_sh@yahoo.com |
33,885 |
| Tentang Ereksi dan Ukuran Penis |
tedi_brawijaya@yahoo.com |
33,619 |
| Teknik Membuat Wanita Multi Orgasme |
Cerita Erotis |
29,607 |
| Pengalaman Seorang Istri 03 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
27,810 |
| G-Spot (Zone 'X' Wanita) |
Artikel Sex |
26,703 |
| Pengalaman Seorang Istri 02 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
25,215 |
| Pengakuan Wanita |
Artikel Sex |
24,371 |
| Panduan Mainan Nikmat |
Artikel Sex |
19,756 |
| 10 Mitos vs Fakta Tentang Seks - 1 |
apineraka666@yahoo.com |
17,616 |
| Bangkitnya Gairah dan Kenikmatan |
Artikel Sex |
15,105 |
| Panduan Permainan Belakang |
Artikel Sex |
14,016 |
| Posisi Enam Sembilan |
roxane@operamail.com |
12,555 |
|
|
|
|
|
|
|