|
|
Sambungan dari bagian 01 Hubungan Seksual Sebelum Menikah & Keperawanan Secara jujur, aku mengatakan bahwa aku telah melakukan hubungan seksual
pertama kali ketika aku sedang duduk di bangku SMA. Hubungan seksual
pertama kali itu kulakukan dengan pembantuku. Apabila dalam
cerita-cerita biasanya diceritakan pembantu itu bahenol, seksi dll.
Secara jujur aku katakan bahwa pembantuku itu jauh sekali dari cantik,
bahkan lebih tepat jelek. Jauh sekali dari yang namanya seksi, bahenol
dll. Pembantuku ini type kutilang darat (kurus tinggi langsing dada
rata). Apa yang menyebabkan aku berhubungan seksual dengannya adalah
nafsu yang menggebu-gebu dan juga rasa ingin tahu yang kuat.
Aku sering menonton blue film dengan teman SMA-ku. Biasanya aku
penasaran setelah nonton dan selalu timbul rasa ingin mencoba. Aku
memang sudah punya pacar, tapi tidak terlintas dalam pikiranku bahwa
aku akan melakukan hubungan seksual dengan pacarku yang alim, bahkan
aku hanya beberapa kali saja mencuri-curi untuk mencium pipinya. Dengan
pembantuku, aku sering bertanya-tanya tentang rasa berhubungan seksual.
Dia seorang janda yang dicerai oleh suaminya. Dia bercerita tentang
pengalamannya setelah kupaksa untuk bercerita. Aku juga
memancing-mancing dia agar dia ingin melihat kemaluanku. Aku selalu
bercerita bahwa aku merasa tidak senang dengan keadaanku yang sudah
disunat (pada saat aku disunat, dia sudah menjadi pembantu rumah tangga
di rumahku).
Ketika aku sudah memperlihatkan kemaluanku, rupanya dia menjadi
lebih terbuka, terkadang dia mengolok-olok bahwa kemaluanku lebih kecil
dibandingkan bekas suaminya, kemaluanku kecil, dll. Tapi dia akhirnya
menjadi senang memegang-megang kemaluanku jika kuperlihatkan kepadanya.
Dia mengatakan bahwa dia senang kalau memegang penis pria yang kembang
kempis waktu ereksi, 'lucu' katanya.
Semakin lama semakin sering dia memegangi, mengurut, bahkan
mengulum kemaluanku tanpa kuminta. Terkadang malah dia yang
memegang-megang kemaluanku apabila ada kesempatan (rumah kosong atau
sedang tidur siang). Aku menjadi tambah ingin tahu tentang kelamin
wanita. Aku memang sudah biasa melihat di Blue Film, tapi tidak
aslinya. Suatu saat aku memintanya untuk menunjukan alat kelaminnya
kepadaku. Setelah didesak dan setengah dipaksa, akhirnya dia mengajak
masuk ke kamarnya dan dia membuka celananya. Di situlah aku pertama
kali melihat kelamin wanita dewasa ketika aku telah masuk usia akil
baliq (remaja). Rasa ingin tahuku bertambah besar ingin melihat isi
'dompet wanita' itu. Aku minta dia berbaring dan aku ingin melihatnya.
Semula dia menolak karena malu, tapi setelah aku desak dia mau juga.
Perlahan dia mengangkangkan kakinya di atas tempat tidur, dan aku
berlutut melihat kemaluannya yang ditutupi bulu-bulu keriting. Aku
tidak bernafsu saat itu, akan tetapi aku sangat senang melihat
bentuknya dan juga rasa ingin tahuku mengalahkan nafsuku. Perlahan
kubuka labia mayora, labia minora,
dan aku merasakan bahwa lubang kemaluannya begitu basah. Saat itu aku
tahu bahwa dia bernafsu sekali untuk melakukan hubungan seksual karena
pada saat itu dia mengatakan, "Ayo.., ayo..", tapi aku sendiri tidak
menghiraukan dan masih ingin tahu, perlahan kumasukkan jari tanganku ke
dalam lubang vaginanya yang basah, ada perasaan yang sangat nyaman
terasa di jariku. Dinding vagina begitu lembut, basah dan licin. Luar
biasa, seumur hidupku, aku baru pernah melihat, meraba dan memasukkan
bagian tubuhku ke alat kelamin yang bernama vagina! Saat itu aku tidak
tahu bahwa clitoris adalah bagian yang paling sensitif, bahkan aku
tidak memperhatikan bahwa di alat kelaminnya ada clitoris. Aku hanya
berkosentrasi pada lubang kemaluannya saja yang terasa begitu
menyenangkan untuk dipegang.
Didorong oleh penasaran, pembantuku nekat memaksaku membuka celana
dan memintaku untuk berhubungan seksual dengannya. "Ayo dong
masukin..", katanya. Saat dia membuka celanaku, penisku saat itu belum
ereksi. Dia menarikku untuk segera memasukkan penisku ke lubang
vaginanya yang saat itu memang sudah basah. Memasukkan penisku yang
lemas (baru setengah berdiri) ke lubang vaginanya adalah pekerjaan yang
sulit. Karena licin, selalu saja kelaminku meleset dan keluar dari
lubangnya. Dia penasaran dan akhirnya dia memegang penisku dan
memasukkannya ke lubang vaginanya. Belum sempat aku bergoyang lama,
baru saja menekan dan mencabut, penisku melesat keluar. Dia frustrasi
hingga akhirnya dia memaksa-maksa penisku untuk masuk ke lubang
vaginanya. Ketika masuk agak dalam, aku melihat dia menengadahkan
kepalanya seperti orang kenikmatan, dan secepat itu pula aku ejakulasi.
Tidak ada kesan yang mendalam pada hubungan seksualku yang pertama.
Begitu cepat selesai dan aku hampir tidak merasakan apa-apa ketika
penisku berada dalam vaginanya. Yang kurasakan adalah sensasi yang luar
biasa ketika mendengar deru nafasnya yang terdengar di telingaku.
Dia begitu kesal karena aku menyudahi persetubuhan. "Curang",
katanya. Dan sejak itu aku menjadi penasaran dengan yang namanya
berhubungan seksual. Aku dan dia bergantian meminta melakukan hubungan
seksual, namun selalu aku yang menyudahinya terlebih dahulu dengan
ejakulasi terlebih dahulu. Hubungan dengan pembantuku baru dirasa
memuaskan dirinya ketika suatu saat, ketika aku sedang tidur siang, dia
masuk ke kamarku, mengulum penisku hingga berdiri, dan dia memasukkan
penisku ke vaginanya dengan berjongkok di atas tubuhku. Dia yang berada
di atas. Aku bisa bertahan agak lama dan baru ejakulasi sesaat atau
bersamaan dengannya mencapai orgasme. Hubungan seksual terus
berlangsung setiap ada kesempatan dan baru berhenti ketika dia berhenti
mengundurkan diri karena dia hamil (Aku tidak tahu apakah itu karena
hubungan seks denganku atau dengan pacarnya yang adalah pedagang yang
berjualan di dekat rumahku.) Aku menyesali (sekali lagi, penyesalan
datangnya selalu belakangan) atas perbuatanku melakukan hubungan
seksual. Tapi sungguh, selama aku berhubungan badan dengannya aku tidak
pernah merasakan kepuasan yang sesungguhnya, karena aku tidak merasakan
apa-apa selain sensasi basah, licin dan lembut pada penisku ketika
memasuki lubang vaginanya.
Hubungan seksualku diluar nikah juga pernah kulakukan dengan dua
orang pacarku, lama sekali setelah peristiwa itu terjadi. Aku
berpacaran dengan 9 orang wanita, dari semuanya, hanya dua pacarku yang
pertama saja yang tidak pernah melakukan kontak seksual, dalam arti
ciuman berat (French kissing) sampai dengan hubungan seksual. Dan aku
pernah berhubungan seksual dengan salah seorang pacarku yang masih
perawan. Hal inilah yang ingin kuceritakan, karena berbeda dengan
cerita-cerita yang pernah kubaca ataupun buku ilmiah yang kubaca.
Dinda (bukan nama sebenarnya) adalah pacarku yang pertama yang
pernah berhubungan seksual denganku. Saat itu aku dan dia adalah
mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Aku berpacaran
dengannya setelah sekian lama aku tidak berpacaran lagi. Dengan pacarku
terdahulu, sebelum dengan Dinda, aku mengalami pengalaman seksualku
yang menarik. Walaupun aku tidak pernah berhubungan badan dengannya,
dengan dialah aku pertama kali meremas mesra payudara, mengulum puting
susu, sambil berciuman mesra. Bahkan dia pacar pertamaku yang pernah
mengulum penisku. Aku baru dapat merasakan nikmatnya melakukan kontak
seksual dengan orang yang kusayangi. Aku juga menyadari bahwa penisku
secara spontan akan berdiri tegak ketika bermesraan dengan pacarku.
Sangat jauh sekali perasaan berhubungan seksual dengan pembantu yang
tanpa perasaan sayang, cinta dll.
Kembali ke Dinda, aku dan Dinda telah berpacaran sekitar 4 bulan
ketika pertama kali aku berhubungan seksual dengan orang yang kusukai.
Dinda adalah wanita yang cepat sekali terangsang nafsu seksualnya.
Biasanya kalau sudah berdua di tempat kost, dia mulai minta dipeluk,
menciumku, dan biasanya kita akhiri dengan petting (dia membuka seluruh
pakaian dan hanya menyisakan celana dalam) dan kami melakukan kontak
seksual seperti layaknya orang berhubungan seksual. Sampai suatu saat,
aku ingin sekali merasakan kembali rasanya penis berada dalam vagina.
Saat itu dia masih perawan, karena pengakuannya dia belum pernah
melakukan hubungan seksual. Dengan pacarnya terdahulu, dia mengaku
hanya pernah mengulum penis pacarnya dan pernah sampai bugil dan
menempelkan alat kelamin, tapi dia bersumpah bahwa tidak sampai
memasukkan penis pacarnya ke vaginanya. Bahkan dia menambahkan bahwa
penis pacarnya sangat kecil, jauh lebih kecil dari penisku (padahal
penisku tidak bisa dibilang besar, karena tidak lebih dari 6 - 7
inchi).
Aku tidak begitu ingat persis kejadian detailnya, tapi saat itu
kami akan memasuki petting, dan aku meminta agar boleh membuka celana
dalamnya. Dia hanya mengatakan 'apa harus?', aku tidak menjawab, aku
hanya mengatakan bahwa aku tidak akan memasukkan penisku, hanya
memainkannya di luar dan menggesekkannya di bibir vaginanya (sebelumnya
aku pernah memasukkan jari tanganku ke dalam lubang vaginanya ketika
bermesraan).
Saat sedang menggesek-gesekan penisku, aku merasakan bahwa
vaginanya sangat basah dan licin, timbul niatku untuk merasakan
hubungan seksual. Saat itu penisku masih belum terlalu besar, dan
perlahan aku mulai menyelipkan penisku di lubangnya. Dan
kumain-mainkan, dengan bantuan tanganku kumasukkan penisku yang masih
belum ereksi ke liang vaginanya. Setelah berada di lubangnya, perlahan
aku mulai mencumbunya, aku menjadi sangat terangsang dan aku merasakan
penisku mengeras dan merasakan hal yang sama ketika aku berhubungan
seksual dengan pembantuku, basah, licin, lembut. Nafas Dinda mulai
memburu dan mulai memejamkan mata dan menegadahkan kepalanya. Melihat
hal ini aku tambah bernafsu, dan hanya beberapa kali aku menggoyangkan
pinggulku, aku cepat-cepat menarik penisku dan ejakulasi di luar
vaginanya.
Tidak seperti biasanya Dinda meneteskan air matanya. Ketika aku
tanyakan, dia mengatakan bahwa aku sudah memerawaninya, karena dia
merasakan bahwa penisku sudah masuk ke vaginanya. Tidak ada darah
keluar dari lubang vaginanya maupun di penisku. Tidak ada rasa penisku
menembus sesuatu, tidak ada rasa sakit dirasakan oleh Dinda. Dinda
sudah mengalami orgasme saat aku mencabut penisku. Tidak ada sensasi
bahwa aku menyobek selaput daranya. Aku hanya merasakan basah, licin,
lembut dan hangat. Sejak saat itu kami melakukan hubungan seksual jika
ada kesempatan, baik di tempat kostku ataupun di tempat kostnya. Aku
masih tidak merasakan sensasi yang luar biasa pada penisku saat
berhubungan badan dengan Dinda, hampir sama dengan saat aku berhubungan
seksual dengan pembantuku, tapi ada rasa nikmat karena bercumbu mesra.
Dinda adalah wanita pertama yang pernah kurangsang dengan mulutku
(cunnilingus), atau seks oral. Aku pertama kali melakukan seks oral
terhadap wanita, dan perbuatan ini sangat menyenangkan bagiku.
Aku dan Dinda akhirnya putus hubungan karena aku merasa ada yang
tidak cocok dengan dirinya, selain aku juga kecewa karena ketika
hubungan seksual, Dinda seperti boneka dildo, hanya diam, menutup mata
dan nafas tersengal. Tidak ada goyangan pinggul ataupun 'perlawanan'
lain yang kuharapkan. Bahkan hampir tidak ada erangan atau desahan
Dinda pada saat kami berhubungan seksual. Pernah aku meminta dia untuk
di atas tapi dia selalu menolak. Kami akhirnya memutuskan hubungan
walaupun aku menyesal karena telah 'memerawani' wanita lain dan tidak
menikahinya. Oleh karena itu aku memang tidak pernah mensyaratkan
keperawanan kepada calon isteriku sejak aku telah melakukan hubungan
seksual dengan pembantuku.
Aku tidak pernah mau berhubungan seksual ataupun kontak seksual
dengan orang yang tidak kusukai atau kusayangi, selain aku tidak
senang, penisku juga sulit untuk ereksi jika hanya berdekatan dengan
wanita, bahkan melihat wanita telanjang. Hal ini pernah terjadi pada
perempuan nakal yang pernah mengajaku 'check in' di hotel dan mencoba
untuk berhubungan seksual dengannya. Dia sudah telanjang, demikian juga
aku, tapi kami tidak jadi melakukan hubungan seksual, aku hanya
merangsang payudaranya dan memainkan vaginanya dengan tanganku tanpa
melakukan cumbuan. Aku hanya mengatakan bahwa aku lelah dan hanya ingin
memainkan vaginanya (Padahal dia manis, putih dan body-nya lumayan,
lagipula aku tidak perlu membayarnya, hotelpun dibayar urunan).
Hubungan seksual diluar nikah lain kualami dengan pacarku yang
lain, Rita. Sebetulnya dia bukan pacarku, tapi pacar temanku. Dia
memang akrab denganku karena pacarnya adalah sahabatku di tempat kost.
Suatu hari dia bercerita kepadaku bahwa dia baru saja putus dan sedang
galau. Rita seorang gadis manis yang sudah bekerja sejak dia lulus D1.
Dia gadis yang pandai, manis, putih dan seksi serta imut. Aku
sebetulnya sudah tertarik dengan dia sejak dia masih berpacaran dengan
temanku, Tommy. Sejak putus dia sering 'curhat' kepadaku dan mulai
dekat denganku. Akupun tertarik dengannya, dan aku minta ijin kepada
temanku untuk berpacaran dengannya. Saat itu Tommy sudah punya
gandengan yang lebih 'seksi' dari Rita, hal itulah yang menyebabkan
Tommy memutuskan Rita, setelah Rita memergoki Tommy sedang bermesraan
di kamar kostnya.
Akhirnya kamipun berpacaran. Walaupun kami berbeda kota, tapi Rita
rajin berkunjung ke tempatku dan menginap di tempat kostku saat akhir
pekan (tempat kostku memang agak bebas. That's why I choose this one!).
Berdasarkan ceritanya, dia mengatakan bahwa ketika sedang galau, dia
pernah mabuk berat dan 'diperawani' oleh teman kerjanya yang juga mabuk
berat. Dia tidak menyesalinya saat itu karena dia ingin balas dendam
dengan Tommy. Aku masih menjaga perasaannya, jadi aku tidak pernah
berhubungan badan dengannya walau kami tidur bersama. Saat itulah aku
menceritakan kebiasaanku membuka celana sendiri, dan aku tidak mau ia
kaget karena pada saat bangun melihatku tidak mengenakan apa-apa di
tubuh bawahku. Dia hanya terbengong-bengong saat aku menceritakan
kebiasaanku itu. Beberapa malam kami lewati dengan hanya berpelukan
atau sekedar mencium bibir ala kadarnya. Rita seorang wanita yang enak
diajak berdiskusi dan mengobrol. Hari-hari kami lewati dengan
mengobrol, bercanda, diskusi tentang segala hal termasuk seks.
Setelah sekian lama berhubungan, akhirnya hubungan kami berlanjut
dengan melakukan kontak-kontak seksual. Berbeda dengan Dinda, Rita
begitu menggelora dan responnya luar biasa ketika petting. Dia selalu
menggerak-gerakkan pinggulnya ketika kelamin kami bersentuhan tanpa
dibatasi apapun. Namun aku belum mau memasukkan penisku, karena aku
tidak ingin dia hamil atau teringat akan trauma yang pernah ia alami.
Namun suatu saat, kami begitu bergairah (sayangnya kami tidak tahu apa
yang menyebabkan kami berdua begitu bergairah), dia memintaku
memasukkan penisku ke vaginanya yang sudah basah sekali. Semula aku
menolak, tapi dia terus merengek dan memaksaku untuk memasukkan penisku
ke vaginanya, malah dia sendiri membuka kakinya lebar-lebar supaya
penisku masuk. Karena tidak tahan dan dia terus memaksa, akhirnya aku
memasukkan penisku ke vaginanya.
Sensasi itu terasa lagi, basah, licin, hangat dan lembut. Namun
pada saat penisku masuk, Rita merintih kesakitan, sambil menggigit
bibirnya sendiri dan terus melirih saat aku bergoyang. Aku tidak tega
melihatnya, namun waktu aku tanya dia hanya mengatakan dengan nada
lirih bahwa dia merasa sakit, tapi dia tidak ingin hubungan seksual
berhenti. Seperti biasa, hubungan seksual terjadi begitu singkat, dan
akupun cepat ejakulasi. Hal ini agak mengganggu diriku karena kalau
melakukan hubungan seksual, aku cepat sekali ejakulasi tapi jika
petting, aku mampu mempertahankan ereksi sampai lama sekali.
Rita selalu menghiburku kalau aku kecewa karena selalu ejakulasi
cepat sekali. Tapi satu hal yang aku dapatkan bahwa Rita selalu merasa
sakit ketika aku melakukan penetrasi. Apabila aku melakukan penetrasi,
Rita selalu berubah menjadi 'boneka dildo' yang merintih. Perbedaan
lain dengan Dinda adalah Rita sudah aku bekali dengan ilmu 'Keggel'.
Jadi walaupun dia diam, tapi otot-otot vaginanya meremas-remas penisku
di dalam vaginanya. Inilah sensasi luar biasa yang pernah kualami
selama melakukan hubungan seksual. Hal lain yang aku dapati dari Rita,
adalah bahwa Rita mengaku tidak pernah merasakan orgasme sekalipun
dalam seumur hidupnya. Dia merasa bahwa tidak pernah melakukan
masturbasi, dan walaupun petting denganku sampai satu jam, dia tidak
pernah merasakan suatu 'puncak kenikmatan' seksual (karena itulah aku
mengajarkannya masturbasi dengan shower ataupun dengan tangan dan senam
'Keggel').
Dari Rita aku mendapat pengalaman yang sangat berharga yaitu bahwa
dia merasa hubungan seksual dengan posisi wanita di atas lebih
menyenangkan bagi wanita, karena itulah satu-satunya posisi di mana dia
tidak menjadi 'boneka dildo', dia menggerakkan pinggulnya, dan hal ini
menyenangkan diriku karena penisku merasa lebih nikmat karena seperti
diremas-remas. Hubungan kami akhirnya putus karena kami masih
berpendirian dengan prinsip dan pegangan hidup masing-masing, dan kami
menyadari bahwa kami berasal dari keluarga yang jauh berbeda di mana
masing-masing keluarga sulit untuk menerima pandangan hidup keluarga
masing-masing. Setelah dengan Rita, aku berpacaran dengan pacarku yang
terakhir yang akhirnya sampai saat ini menjadi isteriku yang tercinta.
Bersambung ke bagian 03
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Seorang Istri 01 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
66,346 |
| Masturbasi Dan Anal Seks |
alvin_sakura@yahoo.com |
60,689 |
| Pijat Clitoris - 1 |
deknas@yahoo.com |
39,231 |
| Rangsangan dan Orgasme |
katon_sh@yahoo.com |
33,885 |
| Tentang Ereksi dan Ukuran Penis |
tedi_brawijaya@yahoo.com |
33,619 |
| Teknik Membuat Wanita Multi Orgasme |
Cerita Erotis |
29,607 |
| Pengalaman Seorang Istri 03 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
27,810 |
| G-Spot (Zone 'X' Wanita) |
Artikel Sex |
26,697 |
| Pengalaman Seorang Istri 02 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
25,215 |
| Pengakuan Wanita |
Artikel Sex |
24,371 |
| Panduan Mainan Nikmat |
Artikel Sex |
19,756 |
| 10 Mitos vs Fakta Tentang Seks - 1 |
apineraka666@yahoo.com |
17,616 |
| Bangkitnya Gairah dan Kenikmatan |
Artikel Sex |
15,105 |
| Panduan Permainan Belakang |
Artikel Sex |
14,016 |
| Posisi Enam Sembilan |
roxane@operamail.com |
12,555 |
|
|
|
|
|
|
|