|
|
Mustahil untuk memastikan
banyaknya masalah seksual yang bisa merusak suatu, karena sampai
sekarang, orang malu mencari bantuan. Wanita yang mengalami hambatan
nafsu seksual tidak dapat terangsang secara seksual, meskipun
dirangsang oleh pasangannya atau dengan fantasi. Karena itu, dia tidak
dapat mengadakan hubungan seks dengan layak.
Pada wanita, ditemukan empat masalah seksual.
Pertama, Hambatan nafsu seksual. Wanita yang mengalami hambatan
nafsu seksual tidak menginginkan atan menikmati seks. Tetapi dia
mengijinkan pasangannya untuk bersenggama dengannya, sebagai suatu
kewajiban. Wanita yang lain mungkin sangat cemas dengan gagasan
bersenggama sehingga menolak atau membuat alasan untuk menghindarinya.
Kedua, Hubungan seks menyakitkan sehingga manghambat atau
menyebabkan kekecewaan mendalam yang tidak akan pernah dapat dinikmati.
Masalah ini disebut dyspareunia, yang berarti senggama yang
menyakitkan. Apabila wanita merasa sangat sakit ketika
penetrasi/pemasukkan kemaluan pria ke dalam vagina, dan menolak dengan
menegangkan otot-otot sekeliling saluran masuk ke vagina, maka kondisi
ini di sebut vaginismus.
Ketiga, Meskipun mempunyai nafsu seksual normal, setidaknya dia
mempunyai fantasi atau mimpi seks namun dalam kenyataan dia gagal atau
tidak bisa terangsang oleh pasangannya selama perangsangan seksual.
Karena itu, vagina tidak mengalami pembasahan, dan jaringan lembut pada
jalan masuk ke vagina tidak berkembang. Pada saat senggama berlangsung,
dia sedikit saja atau tidak merasakan kenikmatan erotis sama sekali,
meskipun mungkin dapat menikmati bentuk rangsangan yang lain dari
pasangannya. Masalah ini disebut libido menurun Keempat, Wanita itu tidak dapat mencapai orgasme. Dengan kata lain dia mengalami disfungsi orgastik.
Istilah ini perlu diterjemahkan secara hati-hati. Berapa ahli terapi
seks percaya, semua wanita yang gagal mencapai orgasme selama senggama
mengalami disfungsi orgastik. Wanita tidak disebut mengalami disfungsi orgastik apabila dia biasanya mengalami orgasme selama percumbuan, baik dengan
masturbasi, ketika pasangannya memasukkan kemaluan ke dalam vagina,
atau ketika dirangsang sebelum atau sesudah pasangannya mencapai
orgasme. Wanita yang melakukan masturbasi sendiri hingga mencapai
orgasme tidak disebut mengalami disfungsi orgastik, meskipun ketika bersama pasangannya dia tidak mencapai orgasme. Wanita itu tidak sakit atau frigid.
Yang disebut mengalami disfungsi orgastik adalah wanita
yang tidak pernah sama sekali mencapai orgasme dengan rangsangan
apapun. Jadi penting untuk diingat, banyak wanita mencapai kenikmatan
dan kehangatan emosional dari kedekatan dan keintiman senggama,
meskipun tidak mencapai orgasme. Berbagai artikel majalah yang
menekankan kebutuhan untuk menjadi wanita yang sesungguhnya dengan
mencapai orgasme, terlalu berlebihan. Yang seharusnya ditekankan adalan
wanita yang mencapai kedekatan emosional dan kebahagiaan selama
senggama akan mencapai kenikmatan yang lebih besar jika mereka dibantu
oleh pasangannya untuk mencapai orgasme.
Jika anda mengalami orgasme, dengan metode apapun berarti anda
normal. Jika anda tidak mencapai orgasme selama senggama tapi
mencapainya ketika pasangan merangsang anda atau dengan masturbasi,
andapun normal. Orgasme yang dicapai selama senggama tidak lebih baik
atau lebih normal daripada yang dicapai dengan cara lain. Tetapi jika
anda tidak mencapai orgasme dengan pasangan atau malu untuk mencapai
orgasme dengan masturbasi dan anda takut melakukan, anda dapat dibantu.
Wanita dengan satu atau lebih masalah seksual di atas sering disebut frigid. Istilah ini seharusnya ditinggalkan. Istilah frigid menyatakan bahwa wanita itu yang karena kondisi bawaan tertentu, tidak
pernah dapat memberikan respon seks secara penuh, tidak benar. Dengan
konselor atau bantuan seorang pasangan, wanita umumnya dapat terangsang
dan hampir semua mencapai orgasme. Ada perbedaan kecepatan perubahan,
wanita yang tidak dapat terangsang secara seksual lebih sulit dibantu
ketimbang wanita yang terangsang tetapi gagal mencapai orgasme.
Penyakit, obat-obatan dan alkoholisme dapat menyebabkan masalah
seksual pada beberapa wanita. Tetapi hampir separuh dari wanita
mengalami kegagalan orgasme seksual disebabkan oleh masalah psiko-seksual,
yang biasanya dapat disembuhkan dengan bantuan pasangan mereka atau
mungkin oleh bantuan seorang konselor. Ada beberapa alasan mengapa
sejumlah wanita mengalami masalah seksual, dan dalam berbeda masalahnya
pun berbeda.
Sebab-sebab karena pengaruh psiko-seksual Hubungan yang buruk Jika sepasang kekasih merasakan permusuhan terhadap pasangannya dan
tidak dapat membicarakan masalahnya secara terbuka, maka dapat terjadi
ketidak harmonisan perkawinan, dengan berkurangnya keinginan dan
rangsangan seksual. Sebab lain disfungsi seksual adalah, jika pasangan ini tidak dapat menyampaikan secara terbuka
tentang kebutuhan dan keinginan seksual mereka. Sebagai contoh, hanya
wanita bersangkutan yang dapat memberitahu pasangan, apa yang dapat
membuat gairah seksnya bangkit, pria (atau wanita) tidak dapat
mengetahui secara naluriah dan setiap wanita mempunyai respon seks
berbeda.
Tanpa komunikasi yang baik, masalah seksual dapat menjadi besar.
Jika pria tidak memahami kebutuhan seks wanita, dan menggunakan teknik
yang buruk untuk membantu terangsang, maka hasilnya adalah antagonisme dan menurunnya seksualitas bersama. Tergantung baik buruknya hubungan
tersebut, wanita mungkin akan menghambat respon seksnya sendiri, atau
menerima rangsangan seks dari pria meskipun dia kurang menikmati.
Ketidaktahuan Didikan yang salah di masa anak-anak oleh orang tua yang keras dan
bersifat menghambat secara seksual, membuat seorang gadis percaya
terhadap standart ganda seksualitas, menerima tuntutan dari orang tua
secara pasif, dan tidak mempunyai harapan akan kenikmatan seksual.
Akibatnya nafsu seks berkurang dan menambah keyakinan bahwa seks adalah
kewajiban yang harus dibayarkan kepada seorang pria agresif yang
penuntut. Jadi, bukan kenikmatan yang dinikmati bersama.
Banyak wanita yang percaya dengan mitos seksual sebagai berikut:
- Wanita seharusnya siap menerima seks dari suami, baik dia menginginkan atau tidak.
- Orgasme yang bersamaan penting untuk kepuasan seksual yang sesengguhnya.
- Pria
mengetahui bagaimana merangsang seorang wanita, dan jika wanita
tersebut gagal terangsang, maka ini adalah kesalahan wanita itu sendiri.
Perasaan bersalah dan malu Beberapa orang tua mengajarkan anak gadisnya untuk mempercayai seks
adalah kegiatan yang memalukan, di mana seseorang berbuat sekehendak
hatinya. Dalam keluarga seperti ini, seks tidak pernah dibicarakan
terbuka, dan informasi (lebih tepatnya, informasi yang salah) diperoleh
dari teman-teman seusianya secara bisik-bisik. Jika orang tua
menganggap bagian tubuh manusia kecuali wajah, tangan dan kaki yang
terbuka, tidak patut dibicarakan dan menghukum anaknya yang berusaha
mencari tahu tentang hal itu, atau tidak menjawab dengan masuk akal
keingintahuan alamiah dari anak tentang seks dan reproduksi manusia,
maka anak itu akan menganggap seks adalah soal yang memalukan dan harus
diabaikan. Ini dapat mempengaruhi sikap terhadap anak di kemudian hari.
Sikap sebaliknya, dapat pula menimbulkan rasa malu. Gadis-gadis
modern dan banyak membaca buku seks serta membicarakan secara terbuka
dapat mengalami kekurangan nafsu seksual. Dalam masyarakat modern,
keberhasilan dipuji. Jika berhasil dalam kehidupan seksual yang berarti
tercapainya orgasme pada setiap episode senggama, maka keberhasilan
akan meninggalkan kaum wanita. Hal ini bukan karena kaum wanita kurang
nafsu seks dan kemampuan mencapai orgasme selama bertahun-tahun.
Seorang wanita yang gagal mencapai keberhasilan seksual dengan orgasme
menjadi malu, sebab merasa dirinya tidak mampu. Rasa malu ini semakin
mengurangi nafsu seksual dan dijadikan pedoman bagi kegagalan
berikutnya.
Ia menjadi cemas dengan kemampuannya menanggapi seks, oleh orang amerika disebut performance anxiety.
Untuk menghindari bertambahnya kecemasan, dia menekan nafsu seksualnya
(dengan kata lain libidonya berkurang) atau menghambat respon seksnya
(dengan kata lain gagal mencapai orgasme).
Selama senggama, wanita dapat meningkatkan kesadaran seksual dengan
memusatkan pikiran pada hal-hal yang dapat membangkitkan gairah. Tetapi
jika dia selalu berpikir betapa memalukan tindakan itu, dan pernah
tidak mampu mencapai orgasme, maka nafsu seksnya semakin berkurang
justru karena kecemasan yang terlalu berlebihan. Perasaan kurang mampu
dapat pula diperbesar oleh bacaan-bacaan dan film. Buku dan film-film
itu menggambarkan langit akan penuh dengan bintang-bintang gemerlapan
dan musik berdenging di telinga ketika seorang wanita mencapai orgasme.
Akibatnya para gadis mengharapkan pengalaman yang sama ketika suatu
saat mencapai orgasme, rasa nikmat menyelimuti seluruh tubuhnya. Tetapi
tidak sesuai dengan kenyataannya, tidak ada bintang-bintang gemerlapan
atau musik berdenging. Ia merasa telah gagal, dan konflik pun muncul
dalam pikirannya. Konflik yang disebabkan keyakinan yang salah secara
bawah sadar mengurangi nafsu seksualnya, sehingga dia sengaja
menghidari rasa sakit dan malu karena kegelian.
Rasa kegagalan seksual bertambah dengan pengetahuan bahwa dia dapat
mencapai orgasme bila pasangannya memberi rangsangan erotik atau dia
bermasturbasi. banyak wanita dibesarkan dengan keyakinan masturbasi
atau perangsangan adalah hal yang memalukan. Mitos ini juga dipercaya
oleh banyak pria. Yang benar, orgasme adalah orgasme, bagaimana pun
yang di hasilkannya.
Kesehatan yang buruk dan kelesuan Beberapa masalah seksual disebabkan oleh penyakit fisik atau mental, termasuk depresi. Walaupun kesehatan yang buruk jarang menjadi penyebab disfungsi seksual dibanding penyebab-penyebab yang lain. Ketika berusaha memecahkan
masalah seksual, konselor mula-mula memastikan tidak ada penyakit fisik
atau mental, dan menanyakan apakah dia pernah minum obat yang dapat
mengurangi kepekaan seks.
Faktor penyebab yang cukup sering ditemukan adalah kelesuan.
Kelesuan dihubungkan dengan berkurangnya nafsu dan kemampuan seks pada
banyak orang. Di masyarakat kita, wanita bisa menjadi lebih lemah dari
pria karena mengalami banyak tekanan fisik dan emosional. Selain
kewajiban membesarkan anak-anak dan menjaga rumah, di saat yang sama
dia sering harus bekerja di kantor, menghadapi tuntutan bertetangga dan
bersosialisasi. Akibatnya, dia menjadi sangat lelah untuk menanggapi
seks.
Apa yang harus dilakukan? Jika wanita mengalami dyspareunia mungkin ada sebuah penyebab lokal. Konselor akan memastikan apakah dia tidak menderita candidosis atau endometriosis yang membuat senggama terasa menyakitkan. Pada kebanyakan kasus dyspaureunia, dan dalam semua kasus vaginismus,
sumber masalah adalah psikologis yang bisa diperburuk oleh pasangan
yang tidak pengertian. Banyak wanita yang masih percaya bahwa senggama
itu menyakitkan atau tidak mungkin, karena vagina mereka berukuran
terlalu kecil dan kemaluan pria terlalu besar. Pria dapat memperkuat
keyakinan ini jika gagal merangsang wanita, sehingga ketika berusaha
memasukkan kemaluan ke dalam vagina, vagina belum cukup basah.
Banyak wanita yang tidak mengetahui anatomi alat kelamin mereka. Tidak tahu di mana letak clitoris, atau bagaimana labia mengelilingi vagina. Tidak pernah melihat bentuk vulva di cermin sehingga tidak mengetahui seperti apa bentuknya. Keyakinan
dan kegagalan ini menghasilkan rasa takut bahwa senggama akan
menyakitkan dan merusak dirinya. Tetapi dengan pemahaman dan bantuan
pasangan, setiap wanita yang mengalami vaginismus dapat disembuhkan.
Solusi masalah berkurangnya nafsu seks (libido rendah) dan kagagalan
orgasme (disfungsi orgastik) jauh lebih rumit. Jika pasangan tidak
mempunyai hubungan emosional yang cukup, mereka tidak dapat berhubungan
secara seksual. Jika wanita tidak yakin tentang hubungannya dan merasa
terganggu dengan keinginan seks, serta mempunyai pasangan yang
mengalami hambatan seksual dan emosi yang tertutup, sulit mencapai
komunikasi seksual dengan pasangannya. Akibatnya, pasangan tidak dapat
memahami bahwa dia mempunyai masalah yang tidak dapat di bicarakan.
Pria biasanya mengetahui jika dirinya terangsang secara seksual dan
tahu cara mencapai orgasme, yang seringkali dicapai dengan cepat.
Tetapi mereka sering lupa membantu pasangan mencapai kenikmatan seksual
yang sama. Mereka mengabaikan kenyataan bahwa wanita mungkin memerlukan
waktu lebih lama untuk mencapai tahap kebangkitan gairah seks, sehingga
menjadi tanggung jawabnya sebelum wanita itu siap. Karena hambatan
dalam menyampaikan kebutuhan seksual ini, wanita tidak dapat meminta
pria untuk membantu mencapai orgasme dengan merangsangnya, dan pria itu
sendiri terlalu acuh tak acuh untuk mengambil inisiatif.
Hasil penelitian menyebutkan, dalam penyelesaian masalah seksual
biasanya dibutuhkan keterlibatan kedua belah pihak. Masalah seksual
seorang wanita hanya dapat dipecahkan juka pasangannya siap membantu
dengan tulus dan cinta.
Dengan kerjasama dari pasangan dan dengan bantuan seorang konselor
penyembuhan menjadu mungkin. Mula-mula konselor memastikan bahwa wanita
itu tidak mempunyai penyakit yang dapat mengurangi nafsu seksnya.
Langkah selanjutnya adalah menemukan apa yang dapat membuat wanita itu
sulit mengalami rangsangan seksual, sehingga dia menjadi sadar diri
secara seksual, dan pasangan dapat mengetahui kebutuhan seksnya.
Konselor berusaha membantu pasangan tersebut mencapai suasana yang
santai dan merangsang, di mana mereka dapat belajar memberikan
kenikmatan pada pasangannya. Dalam lingkungan seperti ini, tanpa
tekanan untuk melakukan hubungan kelamin, nafsu seks wanita biasanya
menjadi bangkit kembali. Pada mulanya tidak terlalu kentara, tetapi
dengan berjalannya waktu, kenikmatan meningkat. Hanya pada saat
benar-benar terangsang, barulah pasangan itu berusaha untuk senggama.
Beberapa wanita sangat ingin memberikan kenikmatan seksual kepada
pasangannya meskipun mereka sendiri tidak terangsang, baik selama
percumbuan atau selama senggama. Jika wanita itu merasa senang dan
pasangannya juga puas, janganlah merasa kurang feminin dibandingkan
wanita yang dapat menanggapi rangsangan seksual secara penuh.
Masalah kegagalan mencapai orgasme dapat diatasi dengan teknik
percumbuan serupa, tetapi dapat melalui tahap-tahap belajar yang lebih
cepat. Seringkali pria harus mempelajari teknik rangsangan agar wanita
bisa mencapai orgasme. Yang penting pihak wanita memberitahu apa yang
dapat membuatnya puas secara seksual. Jadi, tidak hanya membiarkan pria
melakukan apa yang dirasa dapat memberi kepuasan kepada wanita. Di sini
pihak wanita menjadi pengarah dan mempunyai wewenang terhadap sebagian
besar tindakan yang dapat merangsangnya.
Masalah disfungsi orgastik diatasi dengan lebih mudah oleh
sebagian wanita dengan masturbasi. Mereka menggunakan fantasi sebagai
rangsangan erotis, bukan dirangsang secara erotis oleh pasangannya.
jika metode ini gagal membantu wanita mencapai klimaks, konselor
menyarankan pemakaian vibrator, dengan metode apapun, untuk memcapai
orgasme secara teratur. Dibantu pasangan yang simpatik, lembut dan
kooperatif, umumnya wanita yang gagal mencapai orgasme dan kebanyakan
mereka yang tidak terangsang secara seksual, menemukan respon seksnya
meningkat dan mencapai orgasme secara teratur.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Seorang Istri 01 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
66,328 |
| Masturbasi Dan Anal Seks |
alvin_sakura@yahoo.com |
60,671 |
| Pijat Clitoris - 1 |
deknas@yahoo.com |
39,222 |
| Rangsangan dan Orgasme |
katon_sh@yahoo.com |
33,881 |
| Tentang Ereksi dan Ukuran Penis |
tedi_brawijaya@yahoo.com |
33,616 |
| Teknik Membuat Wanita Multi Orgasme |
Cerita Erotis |
29,605 |
| Pengalaman Seorang Istri 03 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
27,810 |
| G-Spot (Zone 'X' Wanita) |
Artikel Sex |
26,692 |
| Pengalaman Seorang Istri 02 |
tumbuhlagi@yahoo.com |
25,215 |
| Pengakuan Wanita |
Artikel Sex |
24,368 |
| Panduan Mainan Nikmat |
Artikel Sex |
19,753 |
| 10 Mitos vs Fakta Tentang Seks - 1 |
apineraka666@yahoo.com |
17,615 |
| Bangkitnya Gairah dan Kenikmatan |
Artikel Sex |
15,103 |
| Panduan Permainan Belakang |
Artikel Sex |
14,015 |
| Posisi Enam Sembilan |
roxane@operamail.com |
12,554 |
|
|
|
|
|
|
|