|
|
Pengelola sumbercerita.com yang terhormat, Saya
ingin berpartisipasi mengirimkan cerita tentang hubungan kelamin antara
wanita dengan hewan. Besar harapan saya, cerita ini dapat dimuat pada
situs anda. Cerita ini sebenarnya sudah dimuat pada situs saya sendiri.
Jika Anda ingin mengeceknya, silakan kunjungi http://www.angelfire.com/id/kluBHis>http://www.angelfire.com/id/kluBHis
Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih.
Kehidupan bersama Beni memang membosankan, secara seksual maksudnya.
Beni sebenarnya seorang yang baik dan bertanggung jawab. Semua
kebutuhan rumah tangga telah dipenuhi olehnya sehingga aku tak perlu
bekerja. Kenyataannya, itu justru menjadi bagian dari masalahku.
Sebagai seorang wanita berusia 22 tahun tanpa anak, yang menikah dengan
seorang pria pekerja yang konservatif berusia 35 tahun, membuatku
mempunyai sangat banyak waktu untuk berkhayal macam-macam. Aku juga
mempunyai sangat banyak waktu untuk bermasturbasi.
Jika mau berusaha, mungkin aku bisa saja mencari seorang kekasih
gelap. Aku memiliki wajah dan tubuh yang lebih dari cukup untuk kupakai
guna menarik lelaki mana pun yang kumau, tapi aku tak pernah
melakukannya. Alasan utama untuk tidak melakukan hal semacam itu adalah
karena pendidikan moral yang sangat ketat yang kuterima sejak kecil.
Aku menjalani masa kecilku dalam sebuah keluarga **** (edited) yang
taat di pedalaman Jawa Tengah. Walaupun ibuku orang Belanda, namun
beliau sangatlah puritan.
Keadaan di tempat tinggalku sekarang tidak lebih baik, tapi paling
tidak tak ada seorang pun yang mengenalku di sini. Kami tinggal di
daerah yang asalnya direncanakan sebagai kota baru di luar kota
Jakarta. Krisis moneter menyebabkan pembangunan kota baru ini terhenti
total. Perusahaan pengembangnya pun telah bangkrut, padahal
pembangunannya belum mencapai 15% dari rencana semula. Rumah mungil
kami terletak di lingkungan yang terpencil dekat sebuah pabrik. Hanya
sedikit orang di sini yang berhubungan dengan tetangganya. Kebanyakan
tetangga kami bekerja di pabrik itu, sedangkan suamiku bekerja di
Jakarta. Mereka tak bersosialisasi dengan orang luar seperti kami. Rumah-rumah di sini terpisah cukup jauh satu sama
lainnya. Hanya ada satu rumah yang terletak tepat di seberang rumah
kami. Rumah itu pun sudah lama kosong.
Ketika rumah itu akhirnya ditempati oleh sepasang suami isteri, aku
merasa kegirangan. Kuputuskan untuk melakukan usaha supaya dapat
bertemu mereka. Mereka adalah pasangan tua. Usia mereka sekitar 50-an,
tapi aku selalu dapat bergaul dengan orang-orang yang lebih tua.
Nampaknya mereka baik dan ramah. Mungkin mereka ingin menghabiskan masa
pensiunnya di tempat yang terpencil ini. Kupikir mereka bisa menjadi
sahabat yang baik.
Setelah suamiku berangkat ke kantor, aku berdandan dan mengenakan
gaun satu potong yang berukuran mini. Udara di sini memang panas.
Setelah mengumpulkan segenap keberanian, kuambil sekeranjang
buah-buahan yang telah kusiapkan dan menuju rumah mereka. Bawaanku
lumayan berat sehingga aku harus memegangnya dengan kedua tanganku.
Ketika si suami membukakan pintu, kuucapkan salam dan kuperkenalkan
diriku. Lelaki itu memintaku menunggu sebentar lalu menutup pintu
persis di depanku. Aku berdiri tertegun mendapatkan sambutan seperti
itu dan merasa sedikit tersinggung.
Aku menunggu beberapa menit. Baru saja aku hendak beranjak pergi,
ketika pintu kembali terbuka dan mereka berdua berdiri di sana
mempersilakanku untuk masuk. Aku tersenyum sambil melangkah masuk,
berharap seseorang mengambil keranjang buah dari tanganku. Tiba-tiba
aku merasakan sesuatu masuk ke dalam rokku dari arah belakang. Sesuatu
yang basah menyentuh paha bagian dalamku, dekat selangkangan. Ketika
jilatan hangat dari lidah yang basah menjalari selangkanganku, barulah
aku sadar kalau mereka memiliki seekor anjing. Anjing yang besar.
Anjing yang besar dan cabul. Aku tak habis pikir, mengapa mereka tak
menempatkan hewan yang nakal seperti itu di luar sebelum mengundang
seorang wanita masuk ke dalam rumah mereka.
Aku berusaha untuk tidak gelagapan dengan harapan si istri melihat
apa yang terjadi dan menolongku. Sayangnya ia tampaknya malah sibuk
mengagumi buah-buahan yang kubawa. Akhirnya aku menggeserkan sedikit
badanku sehingga seharusnya ia dapat melihat di mana anjing miliknya
meletakkan kepalanya. Akan tetapi ternyata ia bersikap seolah-olah
tidak melihatnya, dan kenyataan itu benar-benar menggangguku. Sementara
itu, tanganku mulai terasa pegal dan lututku terasa lemas.
Si anjing pindah ke hadapanku dan mulai mengendus-endus ke dalam
rokku lagi. Kali ini ia menempelkan moncongnya ke klitorisku yang
terasa membara dan menjilatinya dengan lebih keras lagi. Kali ini aku
benar-benar yakin, pasangan ini mengetahui tingkah laku anjingnya,
karena mereka justru memberi ruang bagi si anjing untuk mengakses
diriku. Selama tanganku memegang keranjang, aku tak dapat berbuat
apa-apa dan sepenuhnya berada di dalam kendali anjing mereka, dan
mereka sengaja membiarkan itu terjadi. Kenyataan itu serasa menyiramkan
aliran listrik yang menggetarkan seluruh urat syarafku. Mereka
membiarkanku menyesuaikan diri dengan jilatan-jilatan cabul anjing
mereka dengan mengajakku ngobrol sekedar berbasa-basi, dan aku pun
melayaninya.
Beberapa menit berlalu sudah. Ketika mereka melihat bahwa aku tidak
menunjukkan tanda-tanda akan kabur ke arah pintu, si istri mengambil
keranjang buah itu dari tanganku. Tinggallah aku berdiri di hadapan
mereka dengan kepala anjing mereka bergerak-gerak dengan kencangnya di
dalam rokku. Saat itu juga aku menginginkan keranjang buah itu kembali
karena aku tak tahu apa yang harus kuperbuat dengan kedua tanganku.
Aku harus melakukan sesuatu, maka kudorong kepala anjing yang
sedang birahi itu. Sedikit menunjukkan penolakan rasanya merupakan
tindakan yang tepat dalam situasi seperti itu. Usaha itu sia-sia. Aku
tahu wajahku sudah seperti udang rebus, namun pertolongan dari pasangan
itu tak kunjung datang. Aku bahkan bisa melihat mata mereka terfokus
pada selangkanganku dengan seringai gembira ketika ujung rokku
terlempar ke atas pada setiap sentakan kepala anjing mereka.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Perlahan, aku berhenti melawan.
Lidah anjing itu membuatku gila. Sentakan-sentakan dari daging lembut
panjang yang basah dan hangat itu membawaku ke puncak kenikmatan. Aku
tak ingin jilatan-jilatan yang nikmat itu berhenti. Sandra dan Parulian
**** (edited), pasangan suami istri itu terus mengajakku ngobrol
seolah-olah tak ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi. Aku pun tetap
melayani mereka. Situasi ini menambah rangsangan pada diriku. Mereka
memainkan semacam permainan denganku dan aku mulai menyukai permainan
ini.
Setelah puas ngobrol, Sandra mendekatiku dan menawariku untuk
duduk. Dia memeluk pundakku dan membimbingku ke sofa. Aku melangkah
dengan hati-hati supaya tak mengganggu aktifitas anjing mereka. Ketika
aku terduduk, anjing itu segera membuatku terkejut. Anjing labrador
hitam yang besar itu mencengkeram paha kananku yang terbuka dan mulai
memompa kemaluannya seolah-olah sedang bersetubuh dengan seekor betina.
Aku dapat merasakan kontolnya yang panjang dan tebal bergerak
menggesek-gesek kaki mulusku yang telanjang. Sandra dan Parulian duduk
mengapitku sementara anjing mereka terus mengunci kakiku dan
memompanya.
Kepala anjing itu berada tepat di atas payudara kananku, air
liurnya menetes ke atas dadaku yang terbuka. Sekilas aku menengok ke
bawah dan melihat batang kelamin yang besar dan merah menyala
bergesekan dengan kaki bagian dalamku. Batang kelaminnya terasa begitu
panas, licin dan keras.
Parulian menepuk-nepuk kepala anjing itu. Dia sebenarnya
mengarahkan kepala anjingnya sehingga lidahnya terus-menerus meneteskan
air liur tepat di antara belahan dadaku. Posisi wajahku berada sangat
dekat dengan mulut anjing itu. Aku dapat merasakan hembusan nafas
anjingnya menerpa wajahku. Air liurnya pun kadang terpercik ke wajahku.
Kejadian ini benar-benar porno dan cabul, tapi sekaligus juga
merangsang birahiku. Aku berusaha keras menahan keinginan untuk
mengisap lidah anjing itu yang tergantung-gantung. Akhirnya anjing itu
menyemprotkan air maninya dalam jumlah yang besar ke sekujur kaki
kananku.
Anjing itu menjilati wajahku sementara otot-otot mulutku mengendur.
Lidahnya menyusup masuk ke dalam mulutku, membuatku terkejut. Ia
berulang-ulang menjilati bagian dalam mulutku, sesuatu yang tak pernah
dilakukan oleh seekor anjing pun terhadapku. Aku membiarkannya
melakukan apa pun yang diinginkannya. Dengan sadar kubiarkan mulutku
tetap terbuka untuk meneruskan french kiss yang tak lazim ini.
Sandra berkata, "Menyenangkan ya, Sayang? Bruno kini memiliki
seorang teman wanita." Bruno, anjing itu, lalu melepaskan kakiku yang
basah kuyup karena air maninya. Suami istri itu terus mengajakku
ngobrol sementara air mani anjing mereka bergerak turun menelusuri
kakiku yang terekspos sampai ke selangkangan. Aku berusaha tetap
bersikap normal walaupun mata mereka hampir-hampir tak lepas menatap
kakiku. Aku tak merasa perlu untuk merapikan rokku yang berantakan.
"Kami sangat menghargaimu karena mau melayani anjing kami yang
berperilaku buruk. Kebanyakan wanita tak mau melakukan hal itu. Kami
khususnya menghargaimu karena mengizinkan Bruno untuk melepaskan
birahinya pada kakimu yang indah. Bukankah kaki Maria indah, Sayang?"
kata Sandra.
"Sangat indah. Aku yakin Bruno sangat terpuaskan dengannya", jawab Parulian.
Mereka menolongku berdiri dan membimbingku ke pintu. Masih dengan
penampilan yang berantakan dan birahi yang bergejolak, aku melangkah
melewati pintu. Saat itu Sandra berkata, "Kembalilah kapan saja ada
waktu. Aku yakin Bruno akan senang menemuimu lagi."
Setelah itu pintu pun tertutup dan sayup-sayup dapat kudengar tawa
senang mereka di baliknya. Aku menyeberangi jalan dengan setengah
berlari. Aku benar-benar merasa shock. Setibanya di rumah aku
bermasturbasi sambil mandi di pancuran, lalu di atas tempat tidur
setelah mandi, ketika memasak makan malam dan dua kali lagi sebelum
akhirnya aku beristirahat. Kejadian pagi itu benar-benar membangkitkan
fantasi yang luar biasa bagi diriku.
Dua hari kemudian, aku kembali ke rumah pasangan tersebut. Ketika
melihatku, mereka tahu persis maksud kedatanganku. Aku yakin mereka
tahu. Mereka tak perlu lagi penjelasan. Parulian mempersilakanku untuk
masuk sementara Sandra pergi ke belakang untuk memanggil anjing mereka.
Hal yang sama kembali terulang, hanya kali ini aku jauh lebih siap. Aku
tak mengenakan pakaian dalam sama sekali di balik gaun satu potong
ketat dan mini yang kupakai. Aku telah kehilangan rasa malu yang
menghambatku. Pasangan suami istri tetanggaku tersebut tampak kaget dan
senang mengetahui hal ini. Apalagi ketika Bruno mengalami orgasme dan
semprotan air maninya sampai ke liang senggamaku dan membasahinya.
Setelah itu, aku semakin berani. Kami meneruskan acara dengan
berdiri dan berjalan mengelilingi seisi rumah. Sementara Bruno dengan
setia mengikutiku. Kepalanya senantiasa menyusup ke dalam rokku yang
sangat pendek. Kami semua bersikap seolah mengabaikan anjing itu.
Dengan gaun satu potong yang sangat ketat menempel di badan, sodokan
moncong Bruno yang terus-menerus dari depan maupun belakang
mengakibatkan terdorongnya rokku sampai ke pinggul. Aku tak pernah
merapikannya kembali dan terus membiarkan Bruno menelanjangi dan
menjilati selangkanganku.
Sekali-sekali mereka memberikan komentar seperti, "Aku tak dapat
mengatakan betapa senangnya kami menemukan seorang wanita yang mau
melayani anjing kami", atau yang sejenisnya. Aku membiarkan mereka tahu
kalau aku menikmati pernyataan-pernyataan yang kasar dan cabul itu.
Sandra kemudian berkata, "Ya begitu. Apa lidah si Bruno masuk ke dalam memekmu, Maria?"
"Ya, langsung ke dalam rahimku, kurasa", jawabku.
Ia tersenyum dan berkata, "Kau benar-benar manis mau melakukan itu
untuknya. Aku tak tahu ada wanita sepertimu di sini. Kami tadinya sudah
siap-siap untuk menyewa seorang wanita profesional, tapi di mana kau
bisa temukan wanita yang mau menyewakan tubuhnya sendiri sebagai betina
untuk memuaskan birahi seekor anjing piaraan?"
Aku menyukainya. Aku mengatakan padanya bahwa aku dengan senang
hati mau bertindak sebagai betina untuk anjing jantan mereka dengan
gratis.
Sandra berkata, "Maria, kupikir Bruno lebih senang jika kau
melakukan pelayanan ini dengan bugil. Seekor betina tidak mengenakan
pakaian, bukan?" Aku pun melucuti pakaianku. Sejak itu, mereka
menyebutku sebagai betina, atau betina si Bruno.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Parjo dan Anjing Dobermanku |
vanny.sexy@yahoo.com |
42,062 |
| Maniak Hewan 01 |
m_dl40@hotmail.com |
35,799 |
| Pondok Terpencil |
Wika Erlangga |
32,388 |
| Kamar 64 |
Kissmeplz@plasa.com |
29,496 |
| Aku Korban Birahi Anjingku 03 |
bidakara@tupac.com |
28,193 |
| Aku Korban Birahi Anjingku 02 |
bidakara@tupac.com |
26,786 |
| Aku Dipuaskan Hewan Asuhanku |
deknas@yahoo.com |
26,751 |
| Nikmatnya Vagina Si Betina |
anis_bonkah@telkom.net |
25,160 |
| Sensasiku |
deknas@yahoo.com |
23,017 |
| Aku Korban Birahi Anjingku 01 |
bidakara@tupac.com |
20,262 |
| Maniak Hewan 02 |
m_dl40@hotmail.com |
18,026 |
| Aku Korban Pleki |
diva_clt@yahoo.com |
16,959 |
| Kencan Dengan Bruno |
dewi_l@yahoo.com |
16,424 |
| Tak Ada Perempuan, Kambing Dan Ayam Pun Jadi |
pasamoan_sophia@yahoo.com |
16,174 |
| Polly, Pengganti Kekasihku |
florence_kim@hotmail.com |
16,151 |
|
|
|
|
|
|
|