|
|
Sambungan dari bagian 01 Kamar mandi di lantai bawah agak terlalu besar untuk dijadikan hanya
kamar mandi. Itu sebabnya para penghuni rumah itu meletakkan mesin cuci
disitu, dan menjadikannya ruang cuci, sekaligus kamar mandi darurat.
"Ehh, Pak Jim genit amat sihh..!" desah Vin ketika bapak kost itu menggelitik pinggangnya.
"Hihihi." Pak Jim terkekeh, "Abis kamu sih, masa nyuci baju aja mesti pakai kemeja ketat gitu."
Vin sedang membungkuk di depan mesin cuci yang berisi baju-bajunya.
Tangannya yang masih dipenuhi busa deterjen itu membalas Pak Jim,
menggelitik pinggang pria setengah baya itu.
"Eits..!" seru Pak Jim sambil berkelit, namun kaos singletnya tetap terkena busa deterjen, "Yah, jadi basah nih."
"Hihihihi..!" Vin tertawa nakal, "Nggak apa-apa kan, Pak..! Biar keliatan transparan..!"
"Saya balas lho..!" seru Pak Jim sambil mencipratkan air dari mesin
cuci ke arah Vin, membuat kemeja putih ketat yang dikenakan gadis itu
jadi basah di bagian depannya.
"Iiih..! Dingin dong, Pak..!" seru Vin manja.
"Kalau dingin, peluk saya doong..!" seru Pak Jim sambil tetap
menciprat-cipratkan air ke kemeja Vin hingga apa yang di dalamnya kini
tampak dari luar.
"Iya deh..!" Vin menubruk pria itu sambil memeluk erat-erat hingga
keduanya jatuh berguling-guling di lantai porselin yang dingin.
Keduanya basah kuyup dan tertawa-tawa.
"Eh, pintunya dikunci dulu ya, Pak..!" kata Vin yang tentu saja membuat Pak Jim mengangguk keras-keras.
Vin berdiri untuk mengunci pintu, namun Pak Jim merengkuh
pinggangnya dari belakang. Pria setengah baya bertubuh tambun itu
mendekap erat Vin dari belakang dan menciumi tengkuk wanita muda itu.
Tangannya pun tidak segan-segan meremas-remas pinggang Vin yang kini
tertutup kemeja basah.
"Ehh, sebentar doong.. uhh.. kan pintunya mesti saya kunci dulu..!" ujar Vin sambil menggelinjang memberontak.
"Iya deh, sana..!" Pak Jim melepaskannya.
Vin berlari menuju pintu, mengambil anak kunci, menutup pintu, dan mengunci dari luar.
"Naah, sudah saya kunci ya pak..!" seru Vin sambil tertawa-tawa dari luar kamar mandi.
"Eh, curang kamu yah..!" seru Pak Jim dengan nada tidak terima dan menyumpah-nyumpah.
"Buka pintunya..! Ada yang perlu saya omongin nih..! Penting..!" teriak Pak Jim dari dalam kamar mandi.
"Hihihi, tentang apa nih, Pak..?" jawab Vin sambil tertawa-tawa, "Kok kedengarannya serius..? Hahahaha.."
"Aku tidak ingin bercanda..!" jawab Pak Jim.
Suasana mendadak hening. Pintu segera terbuka kembali, dan pria
setengah baya itu tersenyum menatap apa yang dilihatnya di depan mata.
Pintu tertutup dan kembali terkunci dengan sendirinya di belakang tubuh
Vin yang kini tidak tertutupi selembar benang pun.
"Naah, kalau gini kan lebih enak ngomong-ngomongnya." bisik Pak Jim di telinga Vin.
******** Kamar tidur besar berukuran 8 x 4 meter, hitamnya cat pada dinding
dan langit-langit, memberikan kesan suram dan gelap pada kamar yang
sebenarnya terang-benderang.
"Ooh, gitu toh maunya.." ujar Santi setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Leo.
"Iya, apa kira-kira kamu bisa bantu..?" tanya Leo sambil berdiri
dari sofa, mengamati tubuh Santi yang tergeletak di tengah ranjang.
"Hm.. Mungkin bisa.. mungkin juga enggak." jawab Santi menatap mata Leo tajam-tajam.
"Oke, ntar setelah selesai beres-beres turun yah..?" jawab Leo lagi, "Kita mungkin udah ditunggu sama Pak Jim."
Leo lalu melangkahkan kakinya ke pintu, namun langkahnya terhenti
ketika bahunya terasa ditarik oleh jari-jari wanita. Pemuda itu
membalikkan badan dan mendapati Santi masih setengah terbaring di
tengah ranjang yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Mata wanita itu
melirik ke arah pintu, anak kunci berputar, dan pintu terkunci.
"Jangan keluar dulu, dong." ujar Santi datar.
Wanita itu bangkit berdiri dan menarik lingerie hitamnya ke atas, dan melemparnya ke lantai, membiarkan Leo bisa melihat apa-apa yang ingin dilihatnya sejak tadi.
Secara refleks, Leo menarik kaosnya sendiri ke atas hingga
terlepas, memamerkan otot-otot dadanya yang lumayan terlatih, dan
melangkah mendekat. Santi kembali membaringkan tubuhnya di tengah
ranjang, kedua tangannya merentang ke samping, kepalanya yang tak
berbantal tampakmenengadah ke atas, memejamkan mata seolah menyerahkan
segalanya.
"Biasanya tidak semudah ini." bisik Leo dalam hati.
"Kali ini kamu beruntung." ujar Santi menjawab suara hati Leo, "Aku sedang capek dan ingin istirahat."
"Lantas..?" tanya Leo, masih di dalam hati.
"Terserah kamu mau melakukan yang bagaimana." jawab Santi, sambil tetap dalam posisi semula.
Leo membungkuk, mengambil cambuk panjang tergulung rapih yang tadi
dilemparkan oleh Santi, ia juga memungut borgol keemasan dari lantai.
Diperlihatkannya kedua benda itu pada Santi, seolah meminta
persetujuan, namun Santi tetap tidak bergerak.
******** Lantai kamar mandi terasa dingin mengalasi punggung telanjang Vin.
Wajah wanita muda itu mengekspresikan rasa nikmat tiada tara, bibirnya
yang indah ternganga mendesahkan rintihan-rintihan memelas, kedua
matanya setengah terbuka dan bola matanya agak terputar ke atas,
menampakkan putihnya saja. Kedua buah dadanya yang kenyal sedang berada
dalam kepalan tangan Pak Jim yang meremas-remas gemas. Pinggang gadis
itu sedikit terangkat karena lutut-lututnya mengait leher pria setengah
baya itu. Tubuh mereka bergoyang-goyang kencang mengikuti
tusukan-tusukan cepat batang kejantanan yang kaku pada liang kewanitaan
yang lembab basah.
"J-jadi.. kamu sudah tahu r-rencana hari Jumat b-besokggh..?" seru
Pak Jim sambil terus menggoyangkan badan menusuk-nusukkan kejantanannya
pada tubuh mulus Vin.
Sambil tetap meringis-ringis keenakan, wanita itu menganggukkan
kepalanya. Gesekan-gesekan batang kokoh itu terasa begitu nikmatnya
hingga mulut wanita itu tak mampu menyuarakan apa-apa selain erangan
memelas.
"K-kamu bisa p-pastikann t-t-tidak ada.. p-pengacau kann..?" seru
Pak Jim lagi, sambil mempercepat goyangannya dan menjepit dua puting
kecil di dada Vin dengan ibu jari dan telunjuknya.
Vin makin liar merintih-rintih keras, gerakan badannya makin tak
terkendali, menggeliat-geliat, kepalanya terbuang ke kiri dan kanan.
Rambutnya yang basah oleh lantai kamar mandi terlihat begitu seksi
menutupi sedikit dahinya.
"B-b-bisa nggakkgh..?" tanya Pak Jim lagi, meyakinkan.
"Uhh.. S-saya b-b-bisaahh.." rintih Vin sambil kedua tangannya
memegangi punggung tangan Pak Jim yang meremas-remas buah dadanya yang
ranum, "Oughh.. P-P-Pakk.. S-s-sayaa.. aaghhkk.."
Bertepatan dengan rintihan panjang Vin, Pak Jim juga melolong
panjang dan menyemprotkan isi kejantanannya ke dalam tubuh Vin, lalu
keduanya mengejang sesaat. Dari luar ruangan terdengar suara seperti
lolongan anjing yang menyayat kuping.
******** Dinginnya AC di kamar tidur itu tak lagi terasa oleh Santi. Wanita
itu sedang terpejam-pejam menikmati perlakuan Leo padanya. Kedua tangan
dan kakinya merentang ke sudut-sudut ranjang, terikat rapih oleh cambuk
dan borgol milik Leo, membuatnya tak begitu leluasa menggeliatkanbadan
ketika rangsangan datang, ia hanya mampu mengerang dan memiringkan
leher jenjangnya.
"Uhh.. Leoo.. pleasee..!" rintih Santi dengan kening berkerut dan gigi menggeretak tak sabar.
"Sabar dong, Non.." jawab Leo santai, terdengar menjengkelkan, "Aku masih menikmati ini semua."
Tangan pria itu memegang sebuah gelas sloki kosong, yang
digerakkannya menelusuri tubuh telanjang Santi. Dinginnya kaki gelas
yang merambati tubuhnya membuat Santi tergelinjang-gelinjang menahan
geli, namun kaki dan tangannya yang terikat menghalangi geraknya. Entah
sudah berapa kali kaki gelas itu merambati leher jenjangnya,
menggelitik paha bagian dalamnya, atau berputar-putar di atas kedua
puting susunya yang telah mengejang kaku. Butir-butir keringat dingin
mulai menghiasi kulit halus wanita bertubuh tinggi itu. Akhirnya, kaki
gelas itu menuruni perutnya yang ramping, merambati rambut-rambut halus
di selangkangannya, lalu turun lagi.. turun lagi.. lalu berhenti tepat
di atas sebentuk bibir lunak yang melintang di tengah pangkal pahanya.
"Ngg.. don't stop there.. pleasee.." terdengar kembali rintihan memelas dari bibir tipis Santi.
"Hmm.. tadinya sih mau terus turun, tapi aku tertarik dengan dua
benda ini." jawab Leo sambil meletakkan gelas sloki itu di ranjang,
membasahi jemarinya dengan keringat di pinggang Santi, lalu jemari
kekar itu menjentik-jentikkan puting-puting susu Santi, membuat wajah
pemiliknya kian memelas.
Kedua alis wanita itu seperti mengumpul di keningnya, matanya
terpejam rapat, giginya terkatup meskipun bibirnya ternganga. Kepalanya
terbuang ke kiri kanan berusaha mati-matian menahan rangsangan rasa
geli yang terasa begitu menyiksa karena tak mampu ditahan itu.
"Soo beautiful." ujar Leo sambil tersenyum menatap ekspresi
'korban'-nya yang seperti perpaduan dari ekspresi kesakitan dan
terangsang berat.
Sesekali kuku tajam Leo menusuk puting-puting kecil itu. Rasa
sakit yang sesekali muncul di tengah kenikmatan membuat wajah Santi
kian merangsang, nafasnya tersentak-sentak, dan rintihannya
tertahan-tahan. Leo menatap dengan nanar, pemandangan inilah yang
dinanti-nantikannya sejak dulu.
Leo melepaskan kedua tonjolan kecil yang telah membengkak itu,
memberi Santi kesempatan menarik nafas. Dada wanita itu naik turun
mengikuti nafasnya yang terengah-engah agak lega ketika Leo
menghentikan rangsangan mautnya. Namun wanita itu segera
terjingkat-jingkat ketika Leo menyentuh-nyentuh bibir kewanitaannya
dengan kaki gelas sloki tadi. Tubuh langsing yang terikat erat itu
mengejang-ngejang menahan rangsangan yang semakin meledak-ledak.
Wajahnya meringis menahan siksaan itu, jeritan-jeritan keras terdengar
terpatah-patah tertahan. Kaki gelas sloki kecil itu bergerak
melingkar-lingkar, menggesek, mengait-ngait bibir kewanitaan Santi,
membuat tubuh pemiliknya mengejang-ngejang.
Wanita itu tak lagi merasakan kenikmatan, melainkan rasa gatal yang
amat geli yang membuatnya ingin segera mengatupkan kedua pahanya, namun
ikatan di kakinya terlalu kuat. Perasaan dalam otaknya bercampur aduk,
stress, gelisah, sekaligus amat sangat terangsang.
"Ohh.. Leoo.. pleasee.. stopp..!" tanpa henti-hentinya bibir wanita itu menjerit-jerit histeris.
Kadang-kadang giginya menggeretak keras, kadang-kadang matanya
seperti memandang tajam dengan dua alisnya terangkat ke atas,
kadang-kadang bola matanya berputar ke atas hinggahanya putihnya yang
terlihat. Sekujur tubuh tinggi itu kini berkilat-kilat dibasahi
keringat yang mengucur deras. Di selangkangan dan pangkal pahanya,
bukan hanya keringat yang membasahi, cairan pelumas mengalir seperti
membanjir dari liang kewanitaan yang bibirnya telah mengembang
berdenyut-denyut oleh gesekan gelas itu.
Sambil tersenyum, Leo mengambil sedikit lelehan cairan kewanitaan
Santi dengan jari dan menjilatnya. Lama kelamaan, pria itu mulai
terangsang, celana hitamnya tak lagi mampu menyembunyikan tonjolan
besar dari baliknya. Jeritan-jeritan Santi semakin tak terkontrol,
berbagai sumpah serapah mengalir keluar dari bibir tipisnya di
sela-sela erangan menyayat.
Tak ingin memperpanjang waktu, Leo melucuti pakaiannya sendiri. Ia
berdiri mengamati tubuh korbannya yang terikat erat dengan kaki dan
tangan merentang ke sudut-sudut ranjang. Tubuh indah dan ramping itu
terbujur tegang, sesekali mengejang-ngejang seperti sekarat. Wajahyang
tadinya begitu cantik kini tampak memperlihatkan ekspresi frustrasi
yang amat sangat. Bibirnya komat-kamit menggumamkan sesuatu yang tak
jelas terdengar.
"Baik, permainan diakhiri." ujar Leo sambil merentangkan kedua tangannya ke udara.
Borgol dan cambuk yang mengikat tangan dan kaki Santi terlepas.
Diluar dugaan Leo, Santi segera melompat dari ranjang dan menerjang
tubuh pria itu hingga jatuh telentang di lantai. Seketika itu juga,
wanita yang tampak kesetanan itu duduk di atas pinggul Leo, melesakkan
tonggak kejantanan yang kaku itu pada liang berlumpur yang dari tadi
menunggu. Lalu dengan cepat dan terburu-buru, tubuh lencir yang
dibasahi keringat itu bergerak naik turun sambil menjepit kejantanan
Leo dengan otot-otot kewanitaannya. Tidak hanya itu, kedua telapak
tangan wanita itu menutupi wajah Leo hingga ia tak dapat melihat apa
yang terjadi, hanya merasakan otot kejantanannya seperti sedang
diperas-peras olehsesuatu yang lunak, kenyal, namun licin dan hangat.
Terdengar juga oleh pria itu rintih dan erangan tertahan yang berangsur
terdengar seperti lolongan panjang.
Beberapa menit kemudian, Leo merasakan gerakan-gerakan cepat wanita
itu terhenti tiba-tiba. Pada saat yang sama, ia menyemprotkan seluruh
isi kejantanannya keluar. Membuatnya lemas sesaat. Ketika ia membuka
mata, dadanya terasa perih. Garis-garis luka ringan menggores dadanya,
mengalirkan sedikit darah. Ia memandang berkeliling, didapatinya Santi
sudah berdiri di dekat pintu kamar dengan mengenakan kaos ketat putih
dan celana pendek hitam tersenyum kepadanya.
"Ayo, mungkin kita sudah ditunggu Pak Jim." seru Santi dengan datar, seolah tidak terjadi apa-apa.
Bersambung ke bagian 03
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,821 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,510 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,496 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,411 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,262 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,302 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,729 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,113 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,283 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,476 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,393 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,225 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,220 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,886 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,613 |
|
|
|
|
|
|
|