|
|
Sambungan dari bagian 01 Setelah 10 menit berlalu, kuangkat kepala Esther dan otomatis batang
kemaluanku tercabut dari keganasan permainan mulut dan bibirnya.
Kulihat batang kemaluanku basah oleh air liur Esther.
"Ada apa Mas? nggak enak ya?" tanyanya khawatir.
Aku tersenyum, "Nggak.. enak kok, tapi pengen gantian aja," jawabku singkat.
Esther masih keheranan dengan sikapku, lalu dia kusuruh merebahkan tubuhnya di sofa merah di ruanganku itu.
"Mau ngapain Mas.." tanya Esther belum hilang keheranannya, tapi dia mau menuruti kehendakku dengan merebahkan tubuhnya di sofa.
Aku cuma tersenyum lalu, "Coba deh ya?" jawabku.
Aku mulai mengecup lututnya yang terjuntai ke lantai, sementara rok
mininya kutarik ke atas, hingga terpampanglah selangkangan Esther yang
polos dan sangat menggairahkan itu. Perlahan kutelusuri paha kanannya
dari lutut bagian luar kemudian masuk ke arah belakang lututnya terus
merangkak naik. Lantas paha yang satunya pun tidak luput dari kecupan
bibir dan jilatan lidahku, perlahan naik ke arah bukit kemaluannya
disertai erangan dan rintihannya yang terputus-putus.
Seperti tersadar akan apa yang akan kulakukan, dia berujar, "Mas,
ehh.. Mas.. jangan!" sambil kedua telapak tangannya menutupi
selangkangannya dan kedua pahanya dirapatkan.
"Kenapa Sayang..?" tanyaku.
Dia bangkit, "Jangan Mas.. soalnya kan.." dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa.." aku menunggu jawabannya.
"Soalnya.. Soalnya punyaku bau.." jawabnya malu-malu.
"Masa sih? Mana sini aku cobain, bau apa nggak!" kataku sambil berusaha merebahkan tubuhnya kembali di sofa.
Kembali Esther menuruti kehendakku merebahkan tubuhnya di sofa,
tapi selangkangannya masih tertutup rapat dan tangannya masih
menelungkupi bagian kemaluannya. Kembali lidah dan bibirku menelusuri
bagian atas pahanya, sampai akhirnya bibirku menyentuh tangannya yang
tetap tidak mau minggir itu.
"Mas.. ouhh Mas.. jangan Mas.. punyaku bau Sayang.. jangan dong..
ouh sshh.. aku malu.." katanya sambil terus diiringi rintihannya.
"Hmm.." Aku cuma bergumam sambil terus menciumi tangannya.
Perlahan namun pasti, akhirnya kedua telapak tangan Esther mau juga
minggir dan berganti mengelus-elus pipiku. Sementara kedua pahanya
masih tertutup rapat seolah belum mau memberi kesempatan pada lidahku
untuk mencicipi lubang surga yang dimiliki Esther ini. Kusapu terus
dengan lidahku daerah lipatan pubis Esther yang ditumbuhi bulu-bulu
tercukur rapi itu. Mulai tercium aroma kemaluan wanita yang khas yang
biasanya merebak jika wanita semacam Esther ini didera nafsu birahi
yang hebat. Aku sangat yakin lubang kemaluan Esther ini pasti paling
tidak sudah mengeluarkan beberapa tetes cairan pelumas.
Entah sadar atau tidak atau memang Esther sudah amat
menginginkannya, dengan sedikit tenaga dari tanganku akhirnya perlahan
terbuka juga kedua pahanya yang sudah 10 menit tertutup rapat. Dan
semakin menyeruaklah bau harum yang khas yang dikeluarkan dan
ditebarkan oleh cairan yang keluar dari lubang itu.
Kedua paha Esther belum terbuka maksimal, jadi bentuk kemaluannya
masih terlihat garis lurus dengan bibir labia mayora di lubang
kemaluannya masih menutupi misteri yang ada di situ. Sedikit demi
sedikit kuresapi kebasahan yang melekat di bibir kemaluan Esther. Oh
Tuhan, akhirnya aku bisa menikmati kemaluan Esther yang sudah sekian
lama kuimpikan. Semakin lebar tanpa sadar Esther membuka pahanya,
perlahan semakin terkuaklah bibir luar kemaluan Esther memperlihatkan
lubang yang mulai menganga yang di atas pucuk kemaluan itu ada secuil
daging kecil bertengger dengan indahnya seolah bergetar tak sabar
menunggu keliaran dari lidah dan mulutku.
Dan, "Ouhh.. Mas.. God! Yahh..! esstthh.." dari mulut Esther pecah
rintihan keras begitu lidahku menjelajahi bagian dalam lubang
kemaluannya, terus kusentil klitoris yang sedari tadi mengharapkannya.
Setiap milimeter apa yang ada di liang kemaluan Esther tidak ada yang
terlewati, kujilat dan terus kujilati.
Sekarang jemari di tangan Esther hanya bisa mengelus rambutku.
Esther tambah kelonjotan saat lidahku menerobos masuk ke dalam lubang
kemaluannya dan menjilati tonjolan-tonjolan daging yang ada di dalam
sana. Lalu kembali lidahku menjilati bibir bagian dalam kemaluannya
terus ke atas sampai menyentuh klitorisnya. Ada 5 menit aku memainkan
klitorisnya. Sementara erangan Esther makin keras dan tubuhnya semakin
bergetar hebat. Aku pun mengimbanginya dengan mulai menggigit-gigit
kecil bibir kemaluannya dengan bibir dan gigiku. "Mass.. kamu hebat
Sayang.. ouuhh yess.. Godd.. terus.. ouuff.. Mas Pram.. sshh.. yaahh..
teruss Sayang.."
Kembali ke arah daging kecil itilnya, bibirku mulai
menghisap klitoris Esther di dalam mulutku, sambil diemut-emut seperti
layaknya ngemut permen. Klitoris yang ada di dalam mulutku itu kuemut
dengan lembut sementara lidahku memainkannya di dalam. "Yahh.. teruss..
hisap itilku.. Ouuff ssh.. yang kuat Mass.. terus.. yahh begitu..
oouuhh Mas.. Mas Pramm.. aku belum pernah seenak ini Mass.. Aduuhh..
pintar banget sih Mass.. Godd.." rintihan Esther seperti memberi
semangat buatku untuk terus menjilati dan menghisap itilnya lebih kuat.
Tubuh Esther berkelonjotan ke sana ke mari, sementara jari-jarinya
menjambak rambutku, dan di sela-sela lidahku yang makin ganas dan liar
menghisap dan mengemut klitorisnya, tiba-tiba, "Sruutt.. srutt..
gleekk.. sruutt.. sruutt.." entah dari mana datangnya tiba-tiba mulutku
dibanjiri cairan yang begitu banyaknya sampai aku kewalahan untuk
menghindarinya karena Esther sekarang bukan lagi menarik-narik
rambutku, tapi malah berusaha membenamkan wajahku di lubang kemaluannya
dengan menekan kuat kepalaku pada selangkangannya, sementara kedua
pahanya menjepit kuat kepalaku. "Teruss.. Sayang.. aduhh.. yahh.. dikit
lagi.. oouuhh Godd.. esshh.. sedikit lagi Mass.. aduuhh nikmat sekali..
esstt.. ouuff.."
"Sreett.. srr.. seerrtt.. glekk serr.. gllekk.." mau tidak mau
cairan yang disemburkan dari lubang kemaluan Esther itu kutelan, karena
memang kepalaku oleh Esther dibenamkan di liang kemaluannya serta
dijepit dengan kuat oleh kedua pahanya. Entah sudah berapa kali Esther
menyemburkan cairan kenikmatan yang keluar membanjir masuk ke dalam
mulutku. Dan entah berapa kali aku menelannya. Karena setiap kuhisap
klitorisnya, saat itu pula cairan itu menyembur kuat masuk ke dalam
mulutku terus masuk ke dalam kerongkonganku yang berarti otomatis
tertelan olehku.
Tapi entah kenapa aku begitu menyukai rasa cairan yang dikeluarkan
oleh lubang kemaluan Esther ini, jadi aku malah tambah bernafsu untuk
menghisap habis cairan yang terus membanjiri di dalam mulutku. Aroma
cairan yang keluar dari kemaluan Esther ini sungguh beda dari wanita
yang pernah kucicipi.
Rasa dan aromanya begitu harum, gurih dan rasanya tidak ada rasa dan
aroma cairan di dunia ini yang seenak dan segurih yang dimiliki Esther
ini. Mungkin setelah sekitar 10 kali semburan, cairan itu tidak terlalu
kuat lagi menyembur, hanya berupa tetesan saja.
Sementara itu Esther pun sedang menikmati multi orgasmenya yang
panjang dengan rintihan dan erangan yang tidak putus-putusnya. Sampai 3
menit kemudian, dia pun mengendorkan jepitan pahanya di kepalaku dan
melepaskan cengkeraman tangannya juga di kepalaku. Aku yang tadi sulit
bernafas, sekarang bisa mengambil nafas lega, dan kupandangi lubang
kemaluan Esther yang terlihat merah dan sangat basah, di situ masih
terlihat tetesan cairan yang tadi begitu derasnya menyerbu mulutku.
Kulihat juga sofa di bawah selangkangan Esther basah ternoda oleh sisa
cairan yang masih terus menetes. Kupikir ketimbang mengotori sofaku,
kutampung sisa cairan yang masih menetes itu dengan kembali menjilati
lubang kemaluan Esther. Kontan Esther merengek, "Mass.. udah Sayang..
aduuhh.. Gelii.. oouuhh.. ouuff.. sstt.. Geli Sayang.. udah dong.. aduh
enak Mas.. aduhh.. aku nafsu lagi nih.."
Kemudian dia menarik tubuhku dan langsung mencium bibirku dengan
ganasnya, padahal di mulutku masih banyak sisa cairannya sendiri. Aku
pun berusaha menolaknya, seperti mengetahui pikiranku, Esther
menimpali, "Hmm.. enak juga cairanku ya Mas? Gurih ya?" dia terlihat
mengecapkan mulutnya seperti mencicipi masakan yang luar biasa
lezatnya. Aku pun menjawab, "Esther, betul-betul deh cairan kamu ini
bener-bener luar biasa enaknya. Kayaknya nggak ada deh di dunia ini
yang bisa menandingi kelezatan dan kegurihan yang dikeluarkan kemaluan
kamu.." aku setengah merayu. Dia cuma memelukku manja, namun beberapa
saat kemudian kulihat dari kedua mata Esther keluar air, (air mata?)
"Aduuh Mas Pram, aku belum pernah mengalami sensasi yang barusan kamu
berikan padaku, aku nggak mau pisah Mas.. jangan tinggalkan aku ya?
Pleasee.. kawini aku, Mas.." dia berkata sambil sesunggukan berurai air
mata, dan tangannya menyeka mulutku dengan tissue dari kebasahan yang
tadi membanjiri mulutku.
Kulihat jam sudah pukul 9:30 malam, "Ayo sayang kita pulang,
kasihan Rian menunggu kamu di rumah." bisikku.Lalu kami pun merapikan
pakaian dan pulang menuju rumah Ester. Sejak saat itu Esther menjadi Sephiaku
dan kami pun sering mengulangi kejadian tersebut hingga akhirnya kami
berpisah karena Esther telah dinikahi oleh orang lain. Begitulah nasib
manusia, jodoh benar-benar berada di Tangan yang Kuasa. TAMAT
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,848 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,517 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,507 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,416 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,263 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,305 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,730 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,114 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,286 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,476 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,396 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,225 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,223 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,888 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,614 |
|
|
|
|
|
|
|