|
|
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada
sumbercerita.com, dengan dimuatnya beberapa cerita saya, pelan tapi pasti
saya menerima banyak e-mail dari wanita baik yang hanya ingin
berkenalan, kirim cerita yang lain sampai minta dilayani. Dan tidak
sedikit dari mereka tercapai keinginannya. Tetapi beberapa yang lain
justru tidak dapat dilacak keberadaannya karena e-mail yang diberikan
eror, padahal diantara mereka ada yang ingin sekali berkenalan dan
berlanjut ke permainan ranjang, berhubung e-mail yang mereka berikan
salah hingga kini kehilangan kontak. Semoga saat ini mereka membaca,
seperti Mbak Heny 36 tahun, Cornelia di Bali, Yuni, Nela, tolong
berikan e-mail yang bener dong.
Mungkin cerita ini jauh dari seks yang menggairahkan, tetapi buatku
ini adalah pengalaman yang baru. Tante Ana adalah seorang ibu rumah
tangga berumur 35 tahun, untuk seusianya masih dapat dikatakan cantik
walaupun tidak seksi. Kulitnya kuning langsat (rajin luluran katanya),
ukuran fisik tinggi 165 cm, payudara 34 cup B, berat 58 kg, rambut
hitam pendek, beranak dua, yang terbesar 8 tahun.
Saya mengenal Tante Ana dari e-mail yang dikirim setelah membaca
kisahku di sumbercerita.com. Disitu ia ingin berkenalan, setelah saya
beritahu no HP saya, maka diaturlah pertemuan yang singkat di hari
Kamis. Sengaja saya mengambil hari kerja, supaya tidak mengganggu rumah
tangga Tante Ana.
Kami bertemu di restoran yang terkenal dengan menu steak-nya, dari
pertemuan tersebut sepertinya Tante Ana kaget juga, dengan terus terang
dia berkata bahwa tampangku sangat tidak meyakinkan dan jauh dari
tampan. Body-ku pun juga tidak seatletis yang dibayangkannya. Tapi aku
senang dengan keterbukaannya. Dan memang bukan di"sana"lah kelebihanku.
Akhirnya suasana mencair seiring waktu.
Kami ngobrol panjang lebar dan ditutup dengan sebuah pujian yang kupikir jujur keluar dari mulutnya.
"OK Sakti, Tante sekarang tahu kenapa banyak cewek yang mau sama
kamu, cara kamu memperlakukan wanita sangat gentle, cara kamu berbicara
supel dan mudah bergaul, dan yang terpenting kamu punya brain, sehingga
wawasan kamu luas. Aku suka gaya kamu bersikap dan berbicara walaupun
awalnya sulit. Maklumlah namanya juga baru kenal. Oh ya, ini no HP
Tante.."
Akhirnya dia mengerti juga dimana kelebihanku. Ini juga diakui wanita-wanita yang pernah bercinta denganku.
Selang seminggu tepatnya hari Selasa, kutelepon Tante Ana.
"Siang Tante, sedang apa nih, sibuk ya?" sapaku basa basi.
"Ah nggak kok Sakti, eh di mana kamu sekarang?"
"Di kantor, Tante"
"Kok Tante nggak pernah kirim e-mail lagi sih, atau sudah lupa ya?"
"Oh ya sorry, Tante nggak sempet ke warnet, sibuk ngurus Tomy
kenaikan kelas nih, besok deh Tante buka e-mail, emang Sakti kirim
e-mail ya, apa sih isinya, sekalian aja ngomong sekarang?"
"Ah nggak kok, cuma kangen aja, boleh kan?" ceplas-ceplos kuucapkan, terkesan kurang ajar memang, tapi buat apa ditutupi.
"Kangen apa kangen.." Tante Ana mulai nakal menggodaku.
"Kalau kangen kok beraninya cuma telepon."
"Abis Tante juga sih yang nggak mulai, kalau ditawarin yang lain masak iya Sakti nolak, gimana?"
"Emang lagi kosong ya, ha.. ha.." Tante Ana menggoda.
"Gini aja deh.. sorry Tante belum terpikir ke "arah" sana untuk
saat ini, tapi jujur saja Tante termasuk orang yang open mind dan bukan
sesuatu yang tidak mungkin untuh hal itu.. Sakti tahu maksud Tante kan?
Dengan berani ketemu Sakti saja itu sudah kemajuan buat Tante, dan
butuh keberanian lho, artinya kemungkinan ke "arah" itu masih terbuka
kok.. kita tunggu saja kapan Tante siap, OK."
Tiba-tiba pada hari Kamis Tante Ana bell ke HP-ku, "Sakti, sedang
ngapain? Bisa ketemu nggak hari ini? Tante ada yang mau dibicarakan
nih."
"Saya selalu ada waktu untuk Tante." gombalku, "Kapan, dimana, Tante yang tentuin deh."
"Di restoran kita dulu, jam dua sore ini bagaimana.." balas Tante Ana.
Beberapa jam kemudian..
"Maaf aku terlambat Tante, habis nggak punya mobil sih, jadi pakai
angkutan umum, ini aja bajuku sampai basah oleh keringat, bagaimana
Tante, tumben kok buru-buru ingin ketemu?"
"Begini Sakti, sekali lagi aduh.. Tante malu mau ngomongnya,
sebenarnya sampai saat ini Tante belum siap untuk selingkuh, tapi
memang libido Tante sebenarnya berlebih, cuma takut untuk mencoba
dengan orang lain."
"Suami Tante bagaimana?"
"Sebenarnya nggak masalah dengan seks suami, kita selalu enjoy
saja, dan orgasme setiap main dengan suami, demikian juga suami.. Cuma
ya itu tadi.. mungkin ini gila, karena dorongan seks Tante yang besar..
seperti ada perasaan yang luar biasa untuk mencoba dengan orang lain,
karena Tante nggak tahu harus bagaimana, jadi selama ini ya hanya
baca-baca cerita porno saja sampai ketemu kamu, begini saja.. untuk
permulaan karena Tante takut sekali, kita cukup petting saja bagaimana?
sorry lho aku sudah nggak tahan nih untuk mencoba.. gila ya.. ha.ha?"
"OK," jawabku singkat, tetapi aku masih tidak mengerti maksudnya.
Pokoknya tempat dan waktu sudah diatur, hari Rabu jam 4 sore kami
janjian di sebuah hotel, setelah ketemu Tante Ana sudah menyiapkan
laptop dan beberapa keping VCD porno.
Pertama Tante Ana minta ijin untuk membersihkan badan dulu,
sementara aku menikmati tayangan VCD porno tersebut, beberapa
diantaranya aku sudah hapal ceritanya karena pernah kutonton, apalagi
bintangnya pasaran.
Tiba-tiba Tante Ana keluar hanya dengan handuk dibelit saja.
"Lho kok belum dibuka bajunya, Sakti?"
"Ah Tante saja dong yang bukain." Aku coba memulai merangsang daya keinginannya.
Pelan-pelan Tante Ana meraih kepalaku dan mula-mula sambil memejamkan mata dia bilang, "Sakti coba kiss Tante dong."
Dan pelan-pelan kubelai rambutnya sambil mengarahkan bibirnya ke
bibirku, terasa hangat saat bibir kami bersentuhan. Inisiatif datang
dari Tante Ana, dia coba memainkan lidahnya di rongga mulutku, aku juga
mencoba mengimbangi. Sambil tannganku melepas handuk yang melilitnya.
Tante Ana sekarang sudah dalam kondisi polos, rambut kemaluannya tipis,
menandakan rajin dicukur, bibir vaginanya rapat dan kecil.
Kami berciuman cukup lama, kadang-kadang saling menggigit ringan,
aku dan Tante berlomba untuk saling memainkan lidah kami. Dalam hal
berciuman, Tante Ana cukup hot juga, dan aku kadang-kadang kehabisan
napas karena tidak dibiarkan melepaskan lidahnya. Hangat dan sensual.
Aku merengkuh payudaranya sebelah kiri, dan terasa sudah mengeras.
Aku baru sadar kalau puting Tante Ana sangat seksi, bahkan terseksi
yang pernah kulihat. Aku sempat heran, untuk seusia Tante, puting
payudaranya masih kencang dan berwarna merah, tidak hitam atau coklat
tua. Betul, Tante Ana mengakui kalau dia jarang bermain di sekitar
puting. Dan dia ingin sekali dimainkan dengan mulutku. Tapi ciuman kami
belum berakhir, maka tanganku dengan aktif meraba dan membelai puting
Tante Ana, refleks Tante Ana mulai mendesah, "Aaakkhh.. terus Sayang..
ucchh, nikmat Sayang, uh.. uh.. uh.." nafasnya tersengal-sengal.
Bibirku terlepas dari bibir Tante Ana, tampak sekali bibirnya basah
dan memerah, ciumanku berlanjut ke lehernya.. lembut sekali, terdengar
desahan yang tertahan tanda nafsunya mulai tidak dapat dikendalikan.
Sementara aku baru mulai pemanasan.
Tante Ana mulai berani dan nakal dengan melepas pakaianku satu
persatu hingga polos, "burung"ku sudah tegang karena bersentuhan dengan
bulu-bulu di bibir vaginanya. Tangan Tante Ana meraih batang
kemaluanku. Tangannya yang mungil terasa penuh menggenggam batang
kemaluanku. Padahal ukuran burungku biasa saja. Tetapi cukup buat Tante
Ana.
Jemarinya mengelus kepala penisku yang besar dan mulus. Memang
kepala penisku berdiameter besar. Ternyata Tante Ana sudah pandai
memainkan kemaluanku. Dengan gerakan yang teratur, ia dengan
bersemangat mengocok batang kemaluanku.
Sementara itu ciumanku sudah mendarat di puncak payudaranya. Nikmat
sekali.. payudaranya sudah mengeras dengan puting yang juga mengeras
dan merekah. Pertama kugigit kecil putingnya sebelah kanan. Sementara
puting sebelah kiri kupilin-pilin dengan jariku.
Tante Ana bergetar dan bibir vaginanya sudah mulai basah. Aku
meneruskan dengan mulai menghisap keras payudaranya dan Tante Ana
menjerit, "Sayang.. aku mau klimaks niihh.. oohh.. aku nggak kuat
Sayang.. oohh.. akuu kliimmaaks Sayaagg ukkhh.."
Aku tidak berhenti, penisku yang sudah tegak kuarahkan ke bibir
vaginanya yang sudah basah, tetapi sejenak Tante Ana berhenti dan
memohon untuk tidak dimasukkan. Maka perlahan kubimbing Tante Ana ke
ranjang dan kuarahkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana.
Kugesek-gesekkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana, terasa
licin, dan kupercepat gesekan kemaluanku, kadang-kadang kutekan supaya
menyentuh klitorisnya. "Ukkhh.. terus Sayang.. terus sayang.. ookkhh..
aauucchh.. aku mau dapat lagi nih, aduh sayang please jangan dimasukin
ya.." Aku mencoba menghormatinya, maka secara perlahan gesekan
kemaluanku, tetapi menambah tekanan ke bibir vaginanya, pantatnya
kuganjal dengan bantal supaya agak terbuka dan memudahkan gerakanku.
Sebenarnya aku cukup terganggu dengan suasana ini, tapi aku mencoba
untuk tidak melanggar. Maka dengan gerakan yang pelan dan keras gesekan
antara kemaluanku dan bibir vaginanya akhirnya membangkitkan nafsuku,
memuncak dan menuju ke klimaks.
Aku menyuruh Tante Ana di atas, dengan begitu ia bisa dengan mudah
mengatur seberapa penetrasi yang dibutuhkan untuk memuaskannya. Tante
Ana dengan gerakan yang sudah tidak teratur menggesek-gesekkan bibir
vaginanya yang sudah basah dan licin dengan cepat. Dan untuk yang
ketiga kalinya Tante Ana berteriak tanda orgasme, sedang aku terus
mengatur napas untuk memacu pikiran supaya permainan ini segera tuntas.
Tiba-tiba Tante Ana berhenti dan membalikkan arah. Posisi 69 yang
diharapkan, tentu saja aku harus menerimanya. Bau anyir vaginanya yang
sudah basah sesaat membuatku terhenti, tetapi penisku yang dilumatnya
masuk semua ke rongga mulut membuatku berani menjilat bibir vaginanya.
Aku menyedot sisa cairan vagina yang ada dan kuusap dengan lidahku
menelusuri setiap dinding vagina serta memainkan dengan ujung lidah di
sekitar klitorisnya.
Sementara itu penisku terus dikulum seperti sedang menikmati ice
cream. Aku sempat heran dengan hisapannya yang kuat, penisku siap
meledak memuncratkan air mani, sementara desahan Tante Ana menambah
nafsuku, sementara klitorisnya hangat dan basah terus kuusap dengan
lidah. Gerakan mulut Tante Ana semakin tidak karuan, dan jilatan
lidahku semakin penuh ke seluruh bagian bibir luar dan dalam vaginanya.
Tiba-tiba tante Ana berkata lirih, "Sayang keluarin di mulut Tante
ya, semuanya ya Sayang.."Dengan mantap dan nafsu yang sudah tidak
tertahan kugesek kencang penisku di mulut Tante Ana, sepertinya Tante
Ana mengerti, dan lidahnya membantu mengusap penisku menambah semangat.
Saat yang ditunggu tiba, air maniku tumpah di rongga mulut Tante
Ana, dan dengan sigap disedotnya air maniku, ditelan lalu sisa-sisanya
tidak dibiarkan keluar dari mulut dan batang kemaluanku. Seluruhnya
dibersihkan dengan lidahnya dan ditelan seperti menelan ice cream.
Sebuah pemandangan yang sensual. Dan aku berhenti memainkan lidahku di
klitorisnya, karena aku pun harus mendesah menahan klimaks.
Sejak permainan itu, kami rutin melakukan petting, karena Tante Ana
masih takut untuk lebih dari itu. Sampai saat ini Tante Ana masih rajin
berkirim e-mail, dan biasanya isinya jorok-jorok yang mengundang kami
untuk janjian di sebuah hotel atau kadang-kadang kami main di mobil
Tante Ana.
Kadang untuk mengobati rasa penasaranku, Tante Ana menyewa gadis
panggilan yang seksi dan cantik untuk meneruskan keinginanku. Tetapi
Tante Ana tidak ikut dan tidak berada dalam satu ruangan. Sehingga
sehabis petting dengan Tante Ana, aku melanjutkan dengan bercinta
dengan cewek yang disewa Tante Ana.
Demikianlah petualanganku yang menarik, hingga saat ini aku belum
merasakan nikmatnya memasukkan penisku ke lubang vagina Tante Ana.
Demikian juga Tante Ana belum merasakan nikmatnya permainan penisku di
lubang vaginanya.
Pembaca tentu penasaran? Sama, sampai saat ini pun aku masih
penasaran dengan Tante Ana, sementara itu, aku sudah berpetualang
dengan wanita-wanita yang mengirimkan e-mailnya, Tante Ana masih tetap
seperti yang dulu.
Cerita ini kupersembahkan buat Tante Heny, Cornelia, Yuni, dan
semua yang ingin berkenalan dengan mengirimkan e-mailnya. Buat Tante
Ana, kalau membaca kisah ini semoga suatu saat berubah pikiran dan
mengijinkan aku untuk memasukkan penisku ke vagina Tante Ana.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,850 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,517 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,508 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,416 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,263 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,305 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,730 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,114 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,287 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,476 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,396 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,225 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,223 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,888 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,614 |
|
|
|
|
|
|
|