|
|
Dari bagian 1 3rd PHASE: MY DISCLOSURE Her true story tentang petualangannya dengan pacarnya dulu telah
menjadi materi utama fantasiku. Hal itu telah mengembalikan gairah
hubunganku dengan istri tercinta, bahkan pada saat-saat tertentu
geloranya lebih dahsyat dari kenikmatan masa pengantin baru. Tetapi
seperti sudah kuceritakan pada bagian terdahulu, aku sungguh tidak
nyaman dengan the hidden fantasy. Isteriku sama sekali tidak tahu bahwa
gairahku terpacu oleh fantasi "Miring" itu.
Karena tak sanggup lagi membiarkan rahasia menggerogoti rasa
nyamanku, kuputuskan untuk membuang rahasia itu. Aku tahu benar
risikonya. Bagaimana kalau isteriku tercinta tidak bisa mengerti? Atau
ia menganggapku gila? Segala kemungkinan buruk bisa terjadi.
Akhirnya, dari sekian banyak alternatif cara yg mungkin kujalankan,
aku memilih yang kuanggap terbaik, yaitu mengusir fantasi itu dari
otakku. Dengan tidak berfantasi, pada saat bercumbu "performance"-ku
menurun ke tingkat "biasa-biasa saja". Itulah inti strategiku. Aku
berharap isteriku kemudian menanyakan gejala penurunan kualitas
bercumbu itu, atau lebih jauh lagi mempermasalahkannya. Dan
kujalankanlah strategi itu.
* Kesempatan pertama: Indah belum cukup menyadarinya, ia masih melakukannya dengan semangat membara seperti biasa.
* Kesempatan kedua: sesudah kami selesai Indah bertanya singkat "Bapak capek ya?". Itu saja, dan ia terlelap di pelukanku.
* Kesempatan ketiga: nampaknya ia mulai menyadari penurunan
gairahku. Ia kemudian berusaha membantuku dengan melakukan hal-hal yang
bersifat extra ordinary. Aku tidak tega, dan terpaksa mengimbanginya.
* Kesempatan keempat: ia berkata singkat tetapi serius "Ada yang nggak bener sama Bapak. Ada apa sebenarnya Pak?"
Itu adalah pertanyaan yang kutunggu. Sebab pertanyaan itu tidak
mungkin untuk tidak dijawab. Dengan dada yang berdebar-debar dipenuhi
ketidakpastian, dimulailah the disclosure process: "Ibu betul. Memang
ada sesuatu yang nggak bener sama Bapak. Tetapi yang nggak bener itu
kemarin-kemarin. Sekarang ini justru Bapak sedang berusaha untuk bener
Tetapi pada saat pengin bener, kok malah begini ya?" Aku berlagak
bodoh.
Pembaca pasti bisa membayangkan bahwa pada tahap itu isteriku
menjadi bingung. Kebingungan yang menuntut jawaban. Situasi itu memang
sengaja kuciptakan. Separuh rencanaku sudah berjalan.
Dan kulanjutkan: "Yang membuat Bapak bergairah menggebu-gebu
selama ini adalah sesuatu yang nggak bener sakit gila! Apakah Bapak
udah nggak waras ya Bu?"
Indah: "Kenapa Bapak ngerasa nggak waras?"
(Tentu saja dialog kami cukup panjang dan tidak semudah ini. Yang kukutip di sini hanyalah bagian-bagian penting saja).
Aku: "Maafkan Bapak, gairah hebat yang telah kita nikmati itu tidak
muncul begitu saja. Itu didorong oleh sebuah fantasi. Fantasi itulah
yang gila itu sakit. Maaf Bapak membayangkan Ibu bercumbu sama orang
lain. Itu kan nggak waras?!"
Disclosure took its place. Aku hanya bisa menunggu reaksinya.
Setelah aku mengucapkan kalimat itu, kami diam selama lebih dari lima
menit. And that is the moment of truth.
Akhirnya kata-kata Indah memecah kebisuan kami: "Pak Ibu kira Bapak
berlebihan kalau merasa nggak waras. Bukankah the fantasy has no
limit?!"
Itu adalah kata-kata yang melegakan-menghentikan keringat
dinginku. Selanjutnya aku bisa menceritakan semuanya dengan terbuka.
Bahkan aku mengaku bahwa fantasi favoritku adalah percumbuannya dengan
Sigap. Isteriku menunjukkan pengertian yang tulus. Toh itu hanya
fantasi, begitu justifikasinya.
Mission accomplished. Tujuan disclosure itu semata-mata untuk
"Membuang ganjalan" dan memperoleh admittance, bukan untuk mendapatkan
support. Aku tidak berani sejauh itu.
Hari-hari berikutnya diwarnai dengan kembalinya gairah birahi yang
bagaikan ombak menggulung-gulung tak henti-henti. Setiap bercumbu,
nafsu seakan tak ada habisnya, datang lagi, dan datang lagi. Hanya
keterbatasan stamina yang bisa menghentikannya.
Tetapi saya harap para pembaca pria yang punya problem serupa tidak
menganggap catatanku di atas sebagai sebuah contoh, atau bahkan
'manual' untuk ditiru diterapkan siasatnya. Anda bukan saya, dan isteri
Anda bukan Indah. Situasinya bisa jadi sangat berbeda, hasilnya pun
bisa sangat berbeda. Singkatnya, PLEASE DON'T TRY THIS AT HOME.
4th PHASE: HER DISCLOSURE Kami menikmati suasana itu dengan nyaman. Aku bisa berfantasi tanpa
ganjalan, toh isteriku tahu perannya yang luar biasa. Ia pun tahu
siapakah aktor-aktor yang bermain di dalam drama angan-anganku. Setelah
sekitar lima sampai enam bulan (aku tidak ingat betul) berkubang di
kancah asmara yang menggelora itu, Indah justru mulai mengambil
inisiatif untuk meningkatkan permainan. Sebenarnya aku tidak
benar-benar menginginkan permainan lebih jauh. Aku sudah cukup
terpuaskan oleh disclosed fantasy itu. Tetapi aku tak bisa mencegah.
Akulah yang telah menyeretnya ke dalam pusaran 'arus liar' seperti itu.
Pada suatu saat, dimana kami mau memulai percumbuan, tiba-tiba
Indah membuka percakapan: "Pak.. Ibu cuma pengin negesin. Apakah bener
sih, semakin cemburu semakin bergairah?"
"Ya, kurang lebih begitulah", jawabku singkat.
"Yang paling membuat cemburu Bapak betul Sigap?" Indah memang
memanggil Sigap hanya dengan namanya tanpa embel-embel apapun, karena
mereka sebaya (malah Indah sebulan lebih tua).
"Ya, kurang lebih begitulah", jawabku lagi.
"Waktu masih menyimpan rahasia fantasi itu Bapak ngerasa ada ganjalan?"
"Ya, tapi sekarang Bapak udah lega and we've been enjoying great love".
"Ibu tahu, Bapak udah lega, tetapi sekarang Ibu yang punya ganjalan".
"Kenapa sweet heart?"
"Maaf, Ibu belum menceritakan semua pengalaman sama dia.. "
Isteriku menjelaskan juga, bahwa selain soal keterganjalan, ia
ingin fantasiku lebih hebat lagi. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali
menyetujui keinginannya untuk membuka tabir selebar-lebarnya. Aku
bahkan memberinya hints bagaimana caranya membuka rahasia ungkapan
cintanya dengan Sigap. Aku minta ia untuk tidak sekedar bercerita
secara umum tentang sejauh apa sexual contacts-nya dengan Sigap.
Misalnya, 'aku pernah begini atau begitu' atau 'Sigap pernah berbuat
ini dan itu kepadaku'. Kuminta Indah menceritakan peristiwa demi
peristiwa secara nyata. Ia pun menceritakan pengalamannya bersama Sigap
satu per satu secara terinci, bahkan ia bumbui dengan ekspresi
kenikmatan seksual.
Masing-masing cerita ia sampaikan kepadaku menjelang dan pada saat
kami bercinta (menjadi semacam pillow talks). Banyak sekali yang ia
kisahkan kepadaku. Tidak semuanya 'seru', tetapi semuanya mempunyai
nilai yang tinggi sebagai stimulan birahiku karena cerita-cerita itu
nyata. Cerita-cerita tertentu yang kusenangi, sering kuminta 'diputar
ulang'. Berikut ini aku akan menceritakan salah satu 'Cerita Indah'
kepada pembaca.
Tetapi sekali lagi, ingin kutegaskan bahwa aku tidak punya maksud
untuk memutarkan film biru untuk pembaca. Ini sekedar sebagai bagian
pelengkap catatanku. Atau mungkin justru Anda lebih tertarik dengan
bagian ini? It's up to you. Aku memilih cerita yang 'rated'.
Beberapa minggu pertama setelah kepindahan ke Yogyakarta, bukanlah
saat yang menyenangkan untuk Indah. Irama hidup baru sebagai mahasiswi
yang jauh dari orang-tuanya di kota lain membuatnya sedikit tertekan.
(Maaf, aku sengaja tidak menyampaikan kota asal Indah. Ini untuk
melindunginya). Perlindungan dan kasih-sayang keluarga tak lagi menjadi
miliknya sehari-hari. Itulah awal semakin dekatnya ia dengan Sigap. Ia
membutuhkan pelindung. Dan beruntunglah Indah karena Sigap bersedia
selalu di dekatnya; membantu hal-hal yang diperlukan, termasuk
antar-jemput kuliah dengan motor bila Sigap tidak sibuk dengan
kuliahnya sendiri.
Kedekatan itulah yang telah membawa mereka kepada kontak seksual
yang lebih jauh. Selain tentu saja peluang yang menjadi sangat terbuka
karena Indah mempunyai daerah teritorial yang sangat pribadi meskipun
hanya seluas kamar kosnya. Pada saat peristiwa di bawah ini tejadi,
sebelumnya Sigap sudah pernah bermain-main sampai ke daerah payudara
Indah. Belum pernah lebih ke bawah lagi.
Suatu sore, seperti biasanya Sigap menjemput Indah sepulang kuliah.
Waktu itu hujan, tetapi karena tidak terlalu deras, mereka tidak
berhenti untuk berteduh. Sigap malah tancap gas sekencang mungkin ke
tempat kos Indah. Sesampainya di kamar Indah, mereka sadar bahwa
pakaian mereka basah, meskipun tidak kuyup.
Indah: "Yah pakaianmu basah Gap. Udah, mandi aja sekalian, pakai
celana pendek sama kaos Indah dulu. Biar kugosok dulu pakaianmu, buat
pulang nanti".
Sigap pun masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Indah,
sementara Indah memilih celana pendek yang berkolor dan kaos yang
ukurannya besar. Sejenak kemudian Sigap membuka pintu kamar mandi dari
dalam dan melongokkan separuh badannya keluar sambil memberikan
pakaiannya yang basah dan meminta pakaian kering dari Indah. Ternyata
pakaian basah yang diberikan keluar tidak hanya dua potong, tetapi tiga
potong: baju lengan panjang, celana jeans, dan celana dalam. Waktu itu
Indah tidak berpikir macam-macam, ia hanya merasa lucu membayangkan
Sigap yang bakal 'no underwear'. Dan ia pun sibuk menggosok ketiga
potong pakaian kekasihnya.
Setelah Sigap keluar dengan 'pakaian santai'-nya (t-shirt plus
celana pendek berkolor longgar tanpa celana dalam), Indah pun segera
menyerbu kamar mandi. Dan ia keluar kamar mandi dengan pakaian
rumahnya, daster katun warna terang (seperti kegemarannya sampai
sekarang). Ia tidak mengenakan bra, "toh tidak ada yang perlu
dilindungi karena sepasang payudaranya sudah beberapa kali 'dimainkan'
Sigap" begitulah pikirnya. Saat itu, Sigap sudah tiduran di dipan
sambil baca majalah. Indah tidak menyapanya, tetapi langsung menyiapkan
kopi hangat dan baru memanggil Sigap setelah kopinya siap. Dan mulailah
acara minum kopi secangkir berdua; saling memegangkan cangkir, dan
saling menyuapkan biskuit. Mereka melakukannya sambil duduk di lantai
yang dialasi karpet, berdampingan bersandarkan dipan.
Sebelum kopi benar-benar habis, cangkirnya mereka singkirkan
jauh-jauh. Sigap merangkulkan tangannya ke pundak Indah yang duduk di
sebelah kiri, mengelus pundak Indah dan membelai rambutnya yang masih
agak basah. Indah menyamankan posisi dengan menyandarkan kepalanya ke
dada kiri Sigap. Tangan kiri Indah tak mau tinggal diam, mulai mengelus
dada Sigap, sekali-sekali naik ke leher, sekali-sekali turun ke perut
sampai sebatas pusar. Sigap segera menarik dagu Indah ke atas, sehingga
muka mereka berhadapan. Mereka pun saling berciuman dengan mesra.
Semakin lama semakin dalam pertukaran mulut mereka, dan Sigap mulai
membelai leher Indah, lalu perlahan-lahan turun memberikan belaian
lembut kepada kedua belah payudara Indah dari luar pakaian. Tetapi
karena tipis dan lemasnya daster Indah, tentu saja semua lekuk dan
tonjolannya bisa dinikmati dengan hampir sempurna oleh jari-jarinya.
Birahi semakin menghanyutkan dan mengontrol tingkah laku sepasang
kekasih itu. Indah seakan ingin lebih rapat lagi, ia pun memasukkan
tangannya ke balik kaos kekasihnya untuk membelai dada dan perutnya
secara langsung. Sementara Sigap menarik kaki kanan Indah untuk
ditumpangkan di atas kakinya, sehingga kedua paha Indah terbuka
posisinya. Telapak tangan kanan Sigap menjadi sangat leluasa menelusuri
betis dan paha Indah. Gerakan tangan itu lama-kelamaan terpusat ke paha
dalam, demikian seterusnya hingga elusannya lebih banyak dilakukan di
daerah pangkal paha. Indah sudah tidak peduli lagi dengan dasternya
yang tersingkap sampai memperlihatkan celana dalam tipisnya yang
berwarna putih. Bahkan Indah membiarkan jari-jari Sigap yang mulai
mengelus renda-renda celana dalamnya, sambil sekali-sekali memberikan
tekanan lebih kuat.
Deraan nafsu yang menguat mendorong Indah untuk melucuti kaos
kekasihnya sehingga ia tinggal bercelana kolor tanpa celana dalam.
Indah pun pasrah ketika sang kekasih menarik dasternya ke atas dan
dilepas menyisakan sepotong celana dalam putih tipis sehingga
memperlihatkan belahan kewanitaanya dan bayangan bulu halus di atasnya.
Ciuman Sigap sudah beralih ke leher dan akhirnya terpusat di payudara
Indah. Sementara Sigap memainkan lidah dan menghisap puting Indah,
bergantian kiri-kanan, tangan kiri Indah tak segan-segan lagi mengelus
kemaluan Sigap. Semula dari luar, sejenak kemudian tangan halusnya
sudah menyusup ke dalam celana pendek dari samping, dan memegang batang
kemaluan Sigap yang sudah tegak mengeras dan basah kepalanya. Bahkan
setelah dielus dan digenggam, semakin banyak lendir yang keluar dan
Indah meratakannya sampai ke bagian pangkal. Pada kejadian itu, Indah
sudah cukup terampil 'menangani' kelelakian karena Sigap telah
memberitahukan cara 'yang enak'.
Pada saat yang bersamaan dengan itu, tentu saja jari-jari Sigap
memperlihatkan kenakalannya, menyusup ke celana dalam Indah untuk
memberikan belaian pada kewanitaan Indah yang juga sudah sangat basah.
(Menurut pengakuan Indah, pada saat itu Sigap belum pandai memainkan
jari-jarinya di bagian-bagian sensitif kemaluan wanita, termasuk
klitoris. Tetapi bagaimanapun Indah sangat menikmatinya, karena
sentuhan-sentuhan semacam itu masih merupakan hal baru baginya). Salah
satu hal yang disukai Indah adalah kebiasaan Sigap membasahi
jari-jarinya dengan lendir kemaluan Indah sebanyak-banyaknya dan
mengusapkan ke batang kejantanannya. Hal itu bisa menambah sensasi
percumbuan mereka, meskipun belum sampai ke tahap intercorse. Itu
pulalah yang dilakukan Sigap di sore hari yang masih ditingkahi gerimis
itu.
Sejenak kemudian mereka sudah saling melucuti selembar pakaian
terakhir mereka. Mereka pun sudah telanjang bulat, kembali saling
melumat bibir seraya Sigap membaringkan Indah di karpet. Sigap meraih
bantal dari tempat tidur dan mengalasi kepala Indah dengan penuh kasih
sayang. Dan berlanjutlah pagutan mulut serta saling belai sepasang
merpati yang sedang dikuasai asmara itu.
Pembaca sekalian, maaf aku hentikan dulu catatanku sampai di sini
meskipun Cerita Indah tersebut belum berakhir. Akankah kulanjutkan? Itu
tergantung dari respons pembaca seperti yang sudah banyak masuk ke
emailku terhadap bagian 1 yang telah kuposting. Lebih dari sekedar
cerita porno di atas, ada bagian lain yang sebenarnya kuanggap lebih
relevan untuk diungkapkan, yaitu kelanjutan kehidupan seksual kami
setelah fase ini.
Salam untuk yang telah mengirim email dan menunggu catatan ini.
E N D
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,855 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,520 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,416 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,265 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,310 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,731 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,115 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,478 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,396 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,228 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,223 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,889 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,615 |
|
|
|
|
|
|
|