|
|
Sambungan dari bagian 02 Setelah tiga hari berlalu tibalah saatnya aku harus berlimau. Dugaanku
rupanya meleset. Aku menerima kabar dari suamiku bahwa dia baru akan
pulang dua hari lagi. Jadi berarti baru besoknya suamiku kembali.
Ketika menjelang senja Pak Zein datang ke rumahku. Kemudian dia mulai
mempersiapkan ramuannya dalam kamarku sendirian. Selanjutnya dia
memanggilku masuk dan memberikanku sehelai kain putih untuk dipakai
sebagai petilasan ketika aku mandi. Kulihat kain putih itu sangat tipis
sekali sehingga apabila terkena air sudah pasti akan mencetak bentuk
tubuhku yang basah dengan jelas. Akan tetapi apa mau dikata akhirnya
aku lebih takut kepada akibat bersenggama dengan jin daripada mandi
bertelanjang di depan Pak Zein.
Pak Zein memandikanku dalam kamar mandi yang memang berada dalam
kamar tidurku, berduaan saja. Sambil mengucapkan matera Pak Zein
menyirami tubuhku yang hanya terbungkus oleh sehelai kain putih yang
tipis dengan air limau bercampur bunga rampai sampai basah kuyub
sehingga apa yang kukhawatirkan benar saja terjadi. Kain putih yang
membalut tubuhku itu begitu basah langsung melekat di tubuhku sehingga
bayangan siluet tubuhku yang telanjang tercetak nyata di balik kain
putih yang basah. Buah dadaku yang subur beserta puting susunya
tercetak dengan jelas sekali di balik kain putih itu sehingga praktis
seluruh bayangan tubuhku yang bertelanjang bulat samar-samar terlihat
secara utuh.
Selesai aku dimandikan, aku tidak boleh mengeringkan badan. Sambil
menunggu badanku kering Pak Zein menuliskan sesuatu dengan telunjuknya
di tubuhku. Mula-mula di keningku kemudian di kedua belah pipi dan
bahuku. Selanjutnya dia memintaku menurunkan sedikit kemben yang
kukenakan untuk menulis di antara kedua belahan buah dadaku. Pada saat
dia menulis di buah dadaku dengan telunjuknya maka tidak dapat
dihindari telunjuknya itu telah menyentuh puting susuku. Hal itu
membuatku agak bergelinjang. Aku merasakan puting susuku tiba-tiba
menjadi tegang. Itulah salah satu kelemahanku bahwa sekali puting
susuku tersentuh maka aku akan merasakan birahi di seluruh tubuhku.
Selanjutnya dia katakan bahwa dia harus membuat tulisan di daerah
pusatku dan juga di kedua belah pangkal pahaku. Oleh karena itu aku
terpaksa membuka bagian depan kembenku itu sehingga praktis seluruh
bagian depan tubuhku yang bertelanjang kini terhampar jelas di
hadapannya.
Pada saat dia menulis di pangkal pahaku yang letaknya berdekatan
sekali dengan alat kewanitaanku, aku agak bergelinjang kembali.
Kudapati juga Pak Zein nafasnya agak memburu, namun kelihatannya dia
tetap menahan gejolak yang mungkin dialaminya. Hal itu lumrah saja
mengingat umurnya yang relatif masih muda, maka adalah sangat normal
apabila dia juga menjadi terangsang melihat tubuhku yang telanjang.
Apalagi tubuhku itu boleh dikatakan bentuknya sangat mengiurkan
pandangan setiap laki-laki karena masih padat dan berisi. Akhirnya dia
memintaku membalikkan badan untuk menulis di punggungku yang diakhiri
pada daerah pantatku.
Selesai menulis di seluruh tubuhku Pak Zein memintaku melepaskan
kain putih petilasan yang masih kupakai, katanya akan dia bawa untuk
dibuang jauh-jauh. Dengan agak malu-malu kulepaskan kain petilasan itu
sehingga kini aku benar-benar bertelanjang bulat di hadapan Pak Zein.
"Eh.. eh.. sebaiknya Ibu sekarang bertelungkup di tempat tidur..
karena sebelum saya memasang penangkal itu, saya harus membersihkan
tubuh ibu dari sisa-sisa air mani dari lelaki yang pernah meniduri
Ibu", katanya agak tersendat-sendat karena kelihatannya dia mulai agak
tergugup .
Aku pun segera menelungkupkan diri di tempat tidur dalam keadaan
yang masih tanpa busana sama sekali. Pak Zein kemudian duduk di sisi
tempat tidur mulai meraba seluruh punggungku dengan cara
mengusap-usapkannya dengan halus mulai dari atas sampai ke daerah
belahan pantatku. Ketika tangan Pak Zein sampai ke bagian daerah itu
secara terus terang aku merasakan kembali gairah birahiku. Tidak berapa
lama dia mengusap-usap pantatku tiba-tiba dia memberikan sesuatu
kepadaku.
"Bu.. lihat ini.. ada serpihan dari air mani yang ada di tubuh
Ibu", katanya sambil memberikan sebuah benda kecil sebesar pasir
berwarna putih seperti mutiara. "Mungkin masih banyak lagi yang
tersebar di seluruh badan Ibu", katanya selanjutnya. Betul saja dari
daerah pantatku dia mendapatkan beberapa butir lagi barang seperti itu.
Ada yang berbentuk seperti kristal dan ada juga yang seperti mutiara
seperti yang diberikan kepadaku tadi.
Selesai mengurut bagian tubuh belakangku, dia memintaku membalikkan
badan. Begitu aku telah telentang segera saja aku memejamkan mata. Aku
tidak kuasa menahan malu bertelentang dalam keadaan bertelanjang bulat
di hadapan laki-laki lain (selain suamiku) dalam jarak yang sedemikian
dekat dan hanya berduaan saja dalam kamar. Oleh karena itu aku hanya
merasakan saja sentuhan-sentuhan Pak Zein ketika mengobatiku. Kurasakan
seluruh buah dadaku berkali-kali diusap dengan lembut yang
kadang-kadang diselingi dengan remasan-remasan halus. Agak lama juga
dia meremas-remas buah dadaku sehingga perasaam birahiku semakin
muncul.
Setelah beberapa lama mengusap buah dadaku kemudian dia menemukan lagi beberapa butir sisa air mani berbentuk kristal.
"Maaf Bu.. ini ada lagi sisa-sisanya di sini", katanya sambil
memberikan butiran itu di tanganku. "Tapi rupanya sudah begitu membeku
di daging Ibu.. saya khawatir tidak akan dapat bersih seluruhnya",
katanya lagi dengan nada suara yang agak bergetar.
"Jadi kalau begitu bagaimana? Apa yang harus saya perbuat?" kataku sedikit ketakutan.
"Saya harus lebih kuat lagi menariknya. Dengan tenaga tangan ini
masih kurang kekuatannya.. tapi biar saya coba lagi ya Bu.. dan maaf
sekali lagi tarikan saya sekarang mungkin agak kencang", katanya sambil
terus meraba lagi buah dadaku tapi kali ini dengan remasan yang kuat.
Agak lama Pak Zein meremas-remas buah dadaku sehingga aku merasa sangat
kejang sekali dan nafasku mulai memburu. Liang kewanitaanku juga terasa
mulai basah oleh cairan birahi sehingga secara tidak sadar aku telah
melenguh-lenguh kecil.
"Betul-betul sudah sangat membeku Bu", katanya dengan nafas yang juga terengah-engah.
"Saya kira saya harus lakukan dengan cara lain agar dapat mencair sedikit dan baru saya akan tarik lagi", katanya selanjutnya.
"silakan saja Pak.." jawabku dengan suara yang sangat lemah.
Dengan tidak ayal lagi tiba-tiba Pak Zein menghisap buah dadaku
dengan sekuat-kuatnya. Puting susuku dipermainkannya dengan lidahnya
dan giginya menempel erat di bagian permukaan daging dadaku yang kenyal
lembut itu sehingga aku tercampak dalam suatu arus birahi yang dahsyat.
Selesai menghisap buah dadaku dia mulai lagi meremas-remas buah dadaku
dan tidak berapa lama kemudian sambil terengah-engah hebat dia
tunjukkan kembali beberapa butiran seperti mutiara yang katanya telah
dapat diambilnya melalui penyedotan di puting susuku.
Selesai mengerjakan bagian buah dadaku, dia kini beralih ke bagian
perutku di sekitar pusat, dengan halus dia mengusap-usap perutku
diiringi dengan sesekali mencucupi pusatku dengan halus.
"Di bagian sini tidak ada Bu.." katanya, "Jadi tubuh Ibu kini
sudah bersih. Sekarang saya akan pasang penangkal di badan Ibu agar
terjauh dari maksud jahat para jin atau pun mahkluk halus lainnya.
Selain itu penangkal ini juga bersifat penawar dan pengasihan."
"Penawar dan pengasihan..? Apa artinya itu Pak", aku bertanya agak heran.
"Betul Bu, kalau penawar itu sifatnya menetralisir semua pengaruh
buruk di badan Ibu. Artinya setelah Ibu memakai itu, maka Ibu juga
tidak perlu khawatir lagi ada pengaruh buruk di badan Ibu. Maaf ya Bu..
namanya juga manusia bisa saja khilaf, apakah kemarin atau nanti. Jadi
misalnya kalau Ibu nanti sewaktu-waktu berhubungan badan lagi dengan
laki-laki lain, maka tidak ada lagi pengaruh buruk yang melekat di
badan Ibu, apakah itu dari jin maupun lainnya. Kalau pengasihan.., ya
itu untuk diri Ibu agar dicintai dan digandrungi oleh semua orang,
terutama laki-laki. Laki-laki mana saja yang memandang Ibu, dia akan
teringat selalu, seperti kata pepatah, wajah Ibu akan selalu
terbayang-bayang, siang terkenang-kenang dan malam termimpi-mimpi. Dia
akan merasa jatuh cinta kepada Ibu serta tunduk dan patuh mengikuti apa
kemauan Ibu. Apalagi kalau laki-laki itu sudah pernah mencoba.. ya.. ya
itunya Ibu, maka dia tidak akan pernah melupakannya lagi kenikmatan dari itunya Ibu. Dia akan terus lengket kepelet dengan Ibu", katanya lagi.
"Lha bagaimana nanti dengan suami saya?" aku bertanya. "Itu tidak
apa-apa Bu, malahan suami Ibu juga akan lebih cinta dan sangat sayang
kepada Ibu. Walaupun Ibu berbuat apa saja, misalnya Ibu mau bersebadan
dengan laki-laki manapun dan di depan matanya sekalipun, dia tidak akan
pernah marah, malahan akan bertambah sayang dan takut kalau kehilangan
Ibu."
Akhirnya dia mulai memasang penangkal dan pengasih itu di alat
kewanitaanku. Mula-mula dia membacakan mantera di mulut liang
kewanitaanku, kemudian jari tengahnya ditusukkan ke dalam liang
kewanitaanku. Awalnya hanya pada klitorisku saja kemudian semakin lama
semakin dalam. Aku kembali menjadi bergelinjang ketika jari tengahnya
memutar-mutar di daerah klitorisku karena merasakan kenikkmatan arus
birahiku yang mulai muncul. Namun ketika jarinya mulai masuk lebih
dalam lagi ke liang kemaluanku, aku agak tersentak kesakitan.
"Eh maaf.. sekali lagi maaf Bu.." katanya, "Sekarang sudah
terpasang, tapi rupanya masih belum sempurna kedudukannya, jadi..",
tiba-tiba dia berhenti berkata-kata.
"Jadi apa Pak?" kataku dengan agak terengah-engah.
"Perlu didorong lagi sedikit biar lebih dalam lagi kedudukannya,
tapi jari tangan ini rasanya kurang panjang, jadi.. jadi.. eh, maaf
Bu..", katanya lagi dengan nada suara yang tidak begitu jelas karena
nafasnya pun kini sudah mulai terengah-engah. Aku pun maklum apa yang
dia maksudkan itu karena aku pun merasakan birahiku semakin memuncak.
Dengan demikian kurenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sehingga
lubang kemaluanku kini menganga.
"Jadi.. jadi.. silakan teruskan saja Pak sampai sempurna.." kataku
dengan suara yang juga hampir tidak kedengaran. Pak Zein tanpa ayal
lagi segera saja menyodorkan alat kejantanannya yang rupanya memang
sudah dikeluarkannya semenjak aku memejamkan mata tadi langsung
mendekati arah liang senggamaku.
"Eh.. maaf Bu.. sekali lagi maaf Bu", katanya berkali-kali sambil
memasukkan alat kejantanannya ke liang senggamaku yang telah licin
dengan cairan birahi sehingga segera saja terhisap dengan mudah
menerobos ke dalamnya. Aku segera menjepit alat kejantanannya itu
erat-erat dengan seluruh kekuatan ototku kemudian menggoyang-goyangkan
pinggulku dengan teratur sehingga Pak Zein menjadi mengerang-erang
kenikmatan.
Memang agak lama juga dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku akan
tetapi akhirnya dia tidak tahan juga. Kurasakan alat kejantanannya
semakin mengembang dengan keras dan aku pun segera menggoyang-goyangkan
pinggulku lebih kuat lagi sehingga akhirnya dia kelihatan tersentak
sejenak kemudian aku rasakan curahan sperma yang hangat secara
bertubi-tubi membanjiri rahimku.
"Eh.. maaf Bu.. maaf Bu", katanya lagi berkali-kali sambil terus
menggenjot tubuhku kuat-kuat mengimbangi goyangan pinggulku yang
semakin liar sampai akhirnya dia tergelusur lemas di atas tubuhku. Aku
tidak berkomentar apa-apa, hanya saja dalam hatiku aku berkata, anggap
saja ini semua sebagai percobaan akan kemanjuran "penangkal" dan "pengasihan"
yang telah dipasangkan di tubuhku tadi. Tetapi yang penting dari
kesemuanya ini aku berpikir bahwa antara jin dan manusia memang tidak
berbeda, keduanya memang sama-sama suka berzinah.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,823 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,510 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,496 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,411 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,262 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,302 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,729 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,113 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,283 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,476 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,393 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,225 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,220 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,887 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,613 |
|
|
|
|
|
|
|