|
|
Kisah berikut ini adalah sebuah kejadian nyata
dan merupakan pengalaman yang tak mungkin dapat kulupakan seumur
hidupku. Memang nama-nama tokoh dan tempat di alam kisah ini sengaja
kusamarkan, tapi urutan kejadiannya bukanlah khayalan atau hasil rekaan
imajinasiku semata. Ceritanya mengenai hubungan affair-ku dengan seorang wanita bersuami sekitar tahun 1995 yang lalu dan berlangsung selama 3,5 tahun.
Ketika itu usiaku 25 tahun dan aku bekerja pada sebuah perusahaan asing
yang beroperasi di luar Jakarta selama 24 jam sehari, sehingga ada
bagian tertentu di kantor pusat yang bertugas dalam 3 shift untuk
memonitor kegiatan operasi di lapangan dan aku adalah salah satu
pegawainya.
Pada suatu hari ketika sedang tugas malam, aku menerima telepon
kesasar sampai 3 kali dari seorang wanita. Akhirnya karena jengkel,
timbul keinginanku untuk iseng-iseng menggodanya serta mengajak
berkenalan yang ternyata ditanggapinya dengan antusias sampai tidak
terasa kami mengobrol selama 1,5 jam di telepon.
Wanita itu memperkenalkan namanya sebagai Lisna (aku memanggilnya
Mbak Lis), berusia 34 tahun dan telah bersuami serta mempunyai tiga
orang anak. Suaminya seorang pejabat di sebuah instansi pemerintah
berusia 48 tahun yang menikahi Mbak Lis ketika dia berusia 18 tahun dan
baru lulus SLTA. Anak pertamanya perempuan berusia 15 tahun.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi merasa jenuh dan sepi bila
sedang tugas malam karena Mbak Lis sering meneleponku walau hanya
sekadar untuk mengobrol saja. Menurut pengakuannya, Mbak Lis merasa
kesepian karena sering ditinggal suaminya bertugas ke luar kota dan dia
mengetahui suaminya punya simpanan di luar.
Sebagai orang dewasa, pembicaraan kami juga sering menyerempet hal-hal yang agak miring.
Kalau sudah begitu, biasanya nada bicara Mbak Lis berubah menjadi
sedikit berbisik berat seperti orang bangun tidur sementara aku enjoy
dengan kesendirianku di ruang kantor yang dingin ber-AC.
Tak terasa tiga bulan sudah kami bertelepon ria tanpa pernah
bertemu muka dan selama itu selalu dia yang meneleponku ke kantor
ataupun ke rumah karena aku tidak pernah diberi nomor teleponnya
(katanya dia takut ketahuan suaminya).
Suatu siang Mbak Lis menelepon ke rumahku dan mengajakku nonton
film, mulanya aku ragu karena merasa belum siap untuk bertemu. Aku
berdalih bahwa badanku masih letih karena habis tugas malam, tetapi
Mbak Lis tetap memaksa dan meminta bertemu sorenya supaya aku bisa
istirahat dulu. Aku lalu menyanggupinya karena tidak mau mengecewakan
dia.
Jam 14:30 sehabis mandi, Mbak Lis meneleponku lagi dan kami janjian
untuk bertemu di sebuah bioskop dengan tidak lupa memberitahukan ciri
masing-masing. Sesampainya di bioskop aku sempat dibuat kesal karena
tidak kujumpai wanita dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan Mbak Lis,
wah jangan-jangan dia mau ngerjain aku nih.
Setelah hampir 1 jam menunggu, tiba-tiba aku merasakan sebuah
tepukan ringan di punggungku. Dan ketika aku berbalik, tampak Mbak Lis
sudah berdiri di belakangku dengan senyumnya yang membuatku terpana.
"Bayu ya?" sapanya sambil mengulurkan tangan.
"Ya, mm.. Mbak Lis..?" aku balas bertanya agak tergagap sambil menyambut tangannya. Ah, betapa halus dan lembutnya tangan itu.
"Maaf ya terlambat, soalnya macet sih.." katanya kemudian.
"Nggak apa-apa kok Mbak, saya juga belum terlalu lama menunggu",
jawabku berbohong sambil mataku tak lepas menatapnya. Rasa kesalku
segera hilang setelah melihat Mbak Lis yang tampak anggun itu.
Sosok tubuh Mbak Lis sedang-sedang saja, tingginya 158 cm, berat
sekitar 45 kg, kulitnya kuning halus dan rambut hitam bergelombang
sebahu. Wajahnya ayu memancarkan kelembutan seorang ibu dan kalau
berbicara ramah sekali dengan selalu diiringi senyum yang tak pernah
lepas dari bibir mungilnya yang tipis. Dia tampak begitu anggun (dan
seksi) dengan setelan blus ketat sutra hijau muda berlengan pendek dan
celana panjang katun hijau lumut yang menampakkan bulu-bulu halus di
tangannya dan lekuk tubuhnya yang sintal. Aku rasanya seperti
kehilangan kata-kata untuk berbicara, sampai akhirnya Mbak Lis yang
memulai lagi.
"Kita makan dulu yuk, kamu pasti belum makan. Kebetulan di dekat
sini ada restoran ayam bakar yang enak lho", ajaknya sambil menggandeng
tanganku.
Kami makan dengan santai sambil berbincang-bincang disertai gurauan
yang kadang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Kulihat Mbak Lis
sudah bisa berbicara lebih lepas sehingga suasana kakupun
berangsur-angsur hilang.
Sehabis makan kami kembali ke gedung bioskop dan setelah membeli
tiket kami menyempatkan waktu untuk melihat gambar-gambar film yang ada
di lobby bioskop sambil tetap bergandengan tangan. Tapi kali ini Mbak
Lis lebih merapatkan tubuhnya ke tubuhku dengan cara memeluk lenganku
bahkan terkadang dia bersikap lebih berani dengan memeluk pinggangku,
secara refleks aku pun membalas dengan merangkul bahunya atau memeluk
pinggulnya.
Sentuhan bagian depan tubuh Mbak Lis membuat naluri kejantananku
tergugah, apalagi ketika kulihat kancing paling atas blus yang
dikenakannya sudah terbuka (aku tidak tahu kapan dia membukanya).
Tampak belahan sepasang bukit yang mulus mengintip dari balik BH-nya
membuat darahku berdesir dan tatapan mataku seakan tak mau lepas
darinya.
Ketika pengumuman tanda dimulainya jam pertunjukan terdengar, kami
pun memasuki gedung bioskop untuk mencari tempat duduk yang sesuai
dengan nomor kursi yang tertera di tiket (sengaja aku memilih tempat
duduk di deret paling belakang). Mbak Lis duduk di sebelah kananku
sambil tangan kirinya menggenggam dan sesekali meremas tangan kananku.
Tak lama kemudian lampu bioskop dipadamkan dan film dimulai, kami
nonton dalam keadaan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kira-kira
10 menit berlalu, Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku dan tangan
kanannya menarik tanganku ke wajahnya. Diusapkannya jari-jariku ke
pipinya, ke telinganya lalu ke bibirnya sambil memberikan kecupan
ringan di setiap jari-jariku. Ketika aku sedang menatap wajahnya yang
tertunduk menciumi jari-jariku, Mbak Lis menengadah dan balas
menatapku. Mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat,
kemudian kuberanikan tanganku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya
yang tipis. Mbak Lis diam saja, tidak menolak dan juga tidak membalas
ciumanku, bibirnya masih terkatup rapat. Aku jadi penasaran dan semakin
nekat, kukecup lagi bibirnya dengan sekali-kali mengulumnya.
Akhirnya Mbak Lis bereaksi juga, bibirnya terkuak sedikit dan dia
membalas ciumanku, lama sekali kami berciuman sampai kemudian Mbak Lis
menghentikannya sambil mendesahkan namaku serta meremas dan menarik
kembali tanganku ke bibirnya. Tapi kali ini Mbak Lis tidak hanya
menciumi jari-jariku, dia juga mulai memasukkan jariku ke dalam
mulutnya dan mengulumnya dengan disertai jilatan-jilatan halus dan
gigitan nakal.
"Mbak jadi gemas, Bay", bisiknya.
"Mbak yang bikin gemas", bisikku sambil mengecup daun telinganya.
Mbak Lis menggelinjang kegelian, membuatku semakin bergairah menciumi
daerah sensitif di sekitar telinga dan lehernya itu.
"Aaahh Bayu.." Mbak Lis mendesah lagi.
"Kamu bandel.."
"Tapi suka kan..?" kataku sambil merengkuh wajahnya dan mendaratkan
ciuman di bibirnya. Kali ini Mbak Lis membalas ciumanku dengan
bergairah sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku, sehingga lidah
kami saling berpagutan. Tangan Mbak Lis mulai meremas dadaku. Aku pun
tak mau kalah, kuusapkan tangan kiriku pada daerah-daerah sensitif di
telinganya, lehernya dan terus turun sampai ke dadanya lalu menyusup ke
dalam blusnya.
"Hmm.." terdengar Mbak Lis menggumam dalam kuluman bibirku.
"Ouuhh.. uuhh.." desahnya sambil tangannya mencengkeram leher
bajuku ketika kuremas dadanya dan kuraba puting susunya dari balik BH.
"Masukin tangannya, sayang.." kata Mbak Lis sambil membuka satu
lagi kancing blusnya. Kusingkap BH-nya dan kurogoh dadanya yang kenyal,
sementara tangan kanan Mbak Lis mulai merambat turun ke perutku dan
turun terus sampai ke selangkanganku. Diremas-remasnya batang
kemaluanku yang sudah tegang dari luar celana sambil mengerang dan
mendesah sementara bibir kami terus berciuman dan mengulum lidah.
Kupilin puting susu Mbak Lis dengan jari-jariku sambil meremas dadanya.
Ooh.. ingin sekali rasanya aku menciumi dada itu serta menghisap dan
menjilati putingnya. Tangan Mbak Lis pun makin bergairah mengusap dan
meremas selangkanganku.
"Buka dong Bay.." desah Mbak Lis sambil berusaha untuk membuka
zipper celanaku. Kulepaskan pelukanku untuk membantunya membuka kait
ikat pinggangku, lalu dengan sigap Mbak Lis memasukkan tangannya ke
dalam celanaku dan melanjutkan meremas batang kemaluanku yang masih
tertutup celana dalam. Sesekali tangannya merogoh lebih dalam untuk
meremas biji-biji kemaluanku. Uuhh.. nikmatnya.
Mbak Lis lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, disingkapnya celana
dalamku ke bawah sehingga batang kemaluanku kini terbebas dan mengacung
seutuhnya seakan memperlihatkan kesiagaannya.
Kurasakan kehangatan tangan Mbak Lis ketika mencengkeram batang
kemaluanku, meremasnya dan mengusap-usapkan ibu jarinya pada kepala
batang kemaluanku, membuatku mendesis menahan rasa geli yang
mengalirkan nikmat di sekujur tubuhku.
"Hmm.." kudengar Mbak Lis beberapa kali menggumam sambil
memperhatikan dan mengurut batang kemaluanku yang berkedut-kedut dalam
genggamannya. Kurasakan kepala Mbak Lis yang pelan-pelan bergerak turun
untuk menghampiri batang kemaluanku, rupanya Mbak Lis sudah tidak dapat
menahan keinginannya untuk memenuhi ajakan batang kemaluanku yang tegak
menantangnya. "Jangan Mbak.." bisikku sambil menahan gerakan turun
kepala Mbak Lis karena kusadari situasi di dalam bioskop tidak
memungkinkan kami untuk lebih dari sekedar melakukan pekerjaan tangan. Mbak Lis lalu menengadahkan wajahnya menatapku.
"Bayu.. please.." Mbak Lis mendesah meminta persetujuanku dengan tatapan mata sayu sambil tangannya terus mengurut kejantananku.
"Jangan Mbak.. dikocok saja.." balasku sambil menaikkan kaki ke
sandaran kursi di depanku yang kebetulan kosong untuk memudahkan Mbak
Lis meng-eksploitasi batang kemaluanku. Kurengkuh wajah Mbak Lis dengan tangan kiriku dan
kucium bibirnya yang merekah di hadapanku sementara tangan kananku
memeluk bahunya. Kami berciuman lama sekali dengan saling memilin lidah
di dalam mulut. Kurasakan tangan Mbak Lis semakin intens meremas dan
mengocok batang kemaluanku, sementara mulutnya sesekali menggumam dalam
pagutanku ketika dirasakannya tanganku mengelus daerah sensitif di
belakang telinganya.
Tangan kiriku kini sibuk membuka kancing blus yang dikenakan Mbak
Lis dan menyusup ke dalamnya, meremas dadanya yang kenyal serta
mempermainkan puting susunya dengan jari-jariku. Mbak Lis merubah
posisi duduknya dengan bersandar di dadaku dan memindahkan kendali atas batang kemaluanku ke tangan kirinya. Didekapkannya kedua tanganku
di dadanya sehingga aku lebih leluasa meremas kedua dadanya yang kini
telah terbuka karena BH-nya telah kusingkapkan ke atas serta memilin
kedua puting susunya yang telah mengeras.
"Aaahh.. oouuhh.." Mbak Lis medesah dan kemudian kulihat tangan
kanannya bergerak ke bawah menggosok-gosok selangkangannya dan tangan
kirinya semakin keras mencengkeram batang kemaluanku sambil mengusap
kepala kejantananku dengan ibu jarinya. Kurasakan aliran darah di
selangkanganku bertambah cepat dan deras, menimbulkan sensasi
kenikmatan yang tak terbayangkan.
"Mbak nggak tahan, Bayu.." desahnya sambil menarik satu tanganku
ke mulutnya dan kemudian menjilati dan mengulum jariku dengan penuh
nafsu.
Akhirnya puncak sensasi itu datang juga ketika kurasakan kawah di selangkanganku menggelegar ingin memuntahkan laharnya.
Kutarik tanganku dari dada Mbak Lis dan kucengkeram tangannya yang
sedang mengocok batang kemaluanku. Serasa tak sabar, kubantu Mbak Lis
mengocok batang kemaluanku lebih kencang. Dan akhirnya.. "Ooouuhh.."
aku mendesah tertahan ketika kurasakan batang kemaluanku mengejang
kemudian berkedut-kedut memuntahkan cairan kenikmatan yang menyemprot
berkali-kali membasahi tangan kami.
"Ooouuhh.. enak sekali Mbak.." kataku sambil melepaskan nafas
panjang ketika kurasakan puncak kenikmatanku mereda, batang kemaluanku
telah berhenti memuntahkan cairannya dan tinggal menyisakan lelehannya
yang kemudian diratakan oleh Mbak Lis dengan jari telunjuk ke seluruh
permukaan kepala batang kemaluanku.
Tanpa mengucapkan kata-kata, Mbak Lis sejenak beralih dari
pelukanku untuk mengambil tissue dari dalam tasnya. Kemudian sambil
kembali bersandar di lenganku, dengan telaten disekanya batang
kemaluanku mulai dari kepala sampai ke batang dan pangkalnya. Ah, sejuk
sekali kurasakan usapannya. Lalu dilanjutkannya menyeka tanganku dan
tangannya sendiri yang terkena semprotan spermaku dengan lembar tissue
lainnya.
Mbak Lis lalu mengecup bibirku dengan mesra, tidak kurasakan birahi
di kecupannya yang begitu lembut. Seakan telah terlupakan terpaan hawa
nafsu yang baru kami alami bersama. Aku kagum padanya, begitu cepat
Mbak Lis menetralisir emosinya. Kami lama terdiam sambil berpelukan
setelah sama-sama merapikan pakaian yang acak-acakan.
Ketika film berakhir dan lampu bioskop telah dinyalakan, kami
saling berpandangan seakan tidak percaya dengan apa yang baru
dilakukan. Segera kami berdiri dan bersiap untuk meninggalkan gedung
bioskop, sampai kemudian Mbak Lis menahanku dan memandang geli ke
arahku.
"Kamu seperti ngompol.." katanya sambil tertawa kecil dan menunjuk
celanaku. Dengan penasaran aku menunduk dan ketika menyadari apa yang
ditunjuk oleh Mbak Lis, aku pun tersenyum kecut menahan geli dan malu.
Ternyata semburan spermaku begitu kuat sehingga ada yang kesasar keluar
dan meninggalkan noda basah di celanaku.
"Mbak sih.. sudah ah, nggak usah dibahas", kataku sambil mencubit pinggang Mbak Lis dan mendorongnya perlahan keluar bioskop.
"Mbak antar kamu pulang ya?" kata Mbak Lis sesampainya kami di luar bioskop.
"Nggak usah Mbak, saya mau langsung ke kantor saja", balasku.
"Kalau begitu Mbak antar kamu ke kantor boleh kan, please.." desak
Mbak Lis. Aku tak dapat menolak dan hanya mengangguk, Mbak Lis lalu
menyerahkan kunci mobil dan memintaku untuk mengemudikan mobilnya.
Di dalam mobil kami tidak banyak berbicara, seakan terlarut dalam
perasaan masing-masing. Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku
sambil memeluk dan mengelus-elus lenganku. Tak terasa kami telah
memasuki halaman gedung kantorku. Sebelum aku meninggalkan mobil, Mbak
Lis kembali mencium mesra bibirku.
"Maaf Bayu, jangan kapok ya?" kata Mbak Lis sambil mengelus pipiku.
"Apanya yang kapok?" balasku sambil mengedipkan mata dan perlahan-lahan keluar dari mobil.
"Kamu bandel.." kata Mbak Lis mencubit lenganku.
"Nanti malam Mbak temanin ya?" Mbak Lis menyambung sambil menarik bajuku dan kami pun kembali berciuman di jendela mobil.
Itulah kisah perkenalanku dengan Mbak Lis yang juga merupakan awal dari affair-ku dengannya yang kemudian berlangsung lebih seru dan lebih panas.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,863 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,524 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,420 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,267 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,318 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,735 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,116 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,478 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,396 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,228 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,224 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,892 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,615 |
|
|
|
|
|
|
|