|
|
Sambungan dari bagian 01 "Maaf rumahnya gelap, Mbak." ucap pemuda yang membimbingku sambil
menyalakan korek apinya dan membuka pintu rumah yang kelihatannya tidak
terkunci.
Aku mengikutinya masuk diikuti kedua teman si pemuda yang segera
menutup pintu dan ikut menyalakan korek apinya. Pengap sekali rumah
ini. Di dalamnya nampak banyak sarang laba-laba dan hanya ada satu
dipan dengan tikar tua di atasnya.
"Saya memang jarang tinggal di sini, mbak. Jadi rumahnya kurang
terurus. Paling ke sini cuma untuk istirahat tidur saja seminggu
sekali," jelas si pemuda sambil membersihkan dipan dan tikar dari
sarang laba-laba.
"Silakan istirahat di sini, Mbak." dia mempersilakanku.
Aku duduk di tempat yang sudah dibersihkannya. Sedangkan temannya
sibuk memasang lilin yang entah dari mana dapatnya, sehingga tidak
harus memegangi korek apinya terus.
"Mbak sakit ya..?" tanya pemuda itu setelah duduk di samping kiriku.
Samar-samar kulihat tato bunga mawar kecil di lengan kanannya yang berotot.
"Tt.. tidak," sahutku.
Dari tadi rasanya berat sekali mulut ini untuk bicara. Lalu aku menunduk lagi.
"Kalau tidak, kenapa kami temukan tidur seperti orang pingsan di bawah pohon..?"
"Saya tidak tahu, Mas," jawabku masih dalam keadaan serba bingung dengan peristiwa yang kualami.
Untuk menceritakan pengalamanku dengan Pak Kosim aku juga malu.
"Wajah Mbak juga kelihatan pucat sekali. Lebih baik tiduran saja di sini.."
Lalu kurasakan tangannya merangkul pundakku, dan setengah menarikku
untuk berbaring di dipan yang telah dibersihkannya. Aku yang menerima
maksud baik itu menurutinya. Kubaringkan tubuhku.
"Kepalanya dipijit ya, Mbak, biar pusingnya hilang," ucapnya lagi sambil merapatkan duduknya kepadaku.
Sebentar kemudian kurasakan pelipisku dipijatnya. Mula-mula aku
jengah juga dipijat seperti itu oleh seorang pria, namun lama-lama
kubiarkan juga. Kepalaku memang terasa agak berat setelah mengalami
peristiwa aneh tadi. Wajah kami berhadap-hadapan. Beruntung suasananya
cukup gelap untuk menyembunyikan rona merah wajahku. Kupejamkan mataku
untuk mengurangi rasa jengah itu. Kunikmati pijatannya. Sejenak
kemudian kurasakan tangannya turun memijati pundakku dan.. kurasakan
hembusan nafas di wajahku. Kubuka mataku dan kulihat wajah pemuda itu
dekat sekali di atasku.
"Mbak.." bisiknya pelan, lalu kurasakan desahan nafas itu semakin
dekat dan semakin dekat hingga.. menerpa bibirku yang segera diciumnya.
Sementara tubuhku pun kurasakan sudah ditindihnya. Aku tidak
sempat mengelak. Apalagi ia juga memegang kepalaku dengan tangan
kekarnya, sehingga untuk menggeleng pun aku tidak bisa. Mau tidak mau
ciuman itu harus kurasakan, juga ketika lidahnya membeliti lidahku dan
menelusuri langit-langit mulutku.
Aku ingin memberontak, tapi rasanya tidak berdaya. Malahan aku
ingat pengalamanku dengan Pak Kosim yang masih membekas, dan sedikit
demi sedikit birahiku kembali meletup. Ada pertentangan antara
keinginan menolak dan memenuhi gairah birahiku. Dan ternyata yang
belakangan ini yang menang, apalagi setelah kemudian juga kurasakan
belaian tangan-tangan kedua teman si pemuda di daerah sensitifku.
Dengan cepat aku terangsang.
Aku tidak ingat lagi kapan mereka membuatku seperti bayi yang baru
lahir. Yang pasti, peristiwa seperti dengan Pak Kosim terulang lagi.
Bedanya, kali ini aku melayani tiga pemuda bertubuh kekar. Entah berapa
kali mereka menggilirku. Memuaskan syahwatnya di atas tubuhku selama
berjam-jam. Anehnya aku tidak merasa lelah. Mungkin pengaruh minuman
yang diberikan Pak Kosim masih bekerja, baik sebagai perangsang maupun
obat kuat. Aku seperti orang ketagihan dipuasi terus menerus, tidak
perduli sudah berkali-kali orgasme.
Terang sinar matahari yang panas menerobos dari lubang-lubang atap
menyilaukan dan membangunkanku dari tidur. Kudapati tubuhku masih
tergolek telanjang di dipan beralas tikar. Pakaianku berserakan. Cepat
aku sadar dan berusaha bangkit meraihnya, namun tubuhku kembali ambruk
ke dipan. Lututku gemetaran. Luluh lantak rasanya badanku, bergerak
sedikit saja terasa sakit semua. Terpaksa aku merambat perlahan
menuruni dipan, lalu memunguti pakaian.
Dengan berpegangan dinding, kucoba berjalan keluar tertatih-tatih.
Terasa agak nyeri di selangkanganku. Pasti gara-gara dirajam oleh
ketiga pemuda yang sudah tidak terlihat lagi bayangannya itu. Ternyata
aku telah tertipu oleh para pemuda yang nampaknya alim dan kukira
pemilik rumah itu. Dengan cara yang amat halus, aku telah menjadi
korban mereka. Gara-gara obat perangsang Pak Kosim pula aku tidak
menolak untuk melayani nafsu mereka, oh..
Dengan berpegangan pagar atau pepohonan, aku berjalan pelan menuju
ke rumah. Kuusahakan tidak ada orang yang melihatku. Sengaja aku lewat
jalan yang semalam kulalui untuk melihat potongan-potongan kayu yang
kupasang. Ternyata memang masih ada. Berarti semalam aku tidak bermimpi
ketika berjalan menuju ke rumah Pak Kosim. Segera kusimpulkan, pasti
aku telah diguna-guna oleh pria itu. Baru setelah agak dekat ke rumah,
kukuat-kuatkan untuk berjalan biasa meski harus menahan sakit.
Sampai di rumah, segera aku masuk ke kamar dan langsung menjatuhkan
tubuh lunglai ini ke ranjang. Aku menangis sedih teringat apa yang
telah terjadi. Tanpa kuasa menolak aku telah terjerumus ke lembah
perzinahan. Pertama, aku melayani Pak Kosim hingga dua kali. Kedua,
menjadi korban kebiadaban tiga pemuda yang telah memanfaatkan kondisiku
yang tidak wajar waktu itu. Baru setelah matahari berada di puncaknya,
kupaksakan untuk membersihkan diri. Mandi dan mencuci segala noda yang
menempel.
Dalam kesendirian sekarang ini, kurasakan hidup terasa jadi berat
sekali. Suami tempatku bersandar tiada lagi. Anak-anak pun jauh di
rantau. Tinggallah aku sendiri, di usia menjelang 40 tahun ini harus
memutuskan segala sesuatunya sendiri. Meski tubuhku sudah sehat
kembali, dua hari aku tidak keluar rumah. Aku masih tergoncang oleh
peristiwa durjana yang kualami. Beberapa tetangga dan pelanggan
cucianku sampai berdatangan. Aku hanya memberi alasan sedang tidak
sehat. Mereka pun maklum kalau kemudian selama seminggu itu aku tidak
mencucikan pakaiannya.
Tiga hari berikutnya, kuputuskan untuk berupaya melawan guna-guna
Pak Kosim. Pagi-pagi sekali sebelum jalanan ramai, aku sudah pergi ke
desa Sumbersari, sekitar 25 km dari kotaku. Aku pernah dengar di sana
ada seorang dukun atau semacam paranormal yang dapat mengobati bermacam
penyakit dan membantu orang-orang yang kena teluh atau guna-guna.
Dengan berganti kendaraan dua kali ditambah sekali naik ojek, sampailah
aku ke rumah dukun yang bernama Mbah Purwo itu. Rupanya memang dia
sudah terkenal sampai tukang ojek pun tahu rumahnya.
"Saya sudah biasa mengantar orang ke sini, Mbak," kata si tukang ojek.
"Lalu pulangnya nanti bagaimana, Mas?" tanyaku.
"Kita janjian saja, Mbak. Nanti saya jemput ke sini sekitar tiga jam lagi bagaimana..?"
"Baiklah kalau begitu. Sekarang jam 8 pagi, berarti nanti jam 11 Masnya ke sini ya," pintaku sambil melihat jam tangan.
"Ya, Mbak. Sekarang saya mau kembali dulu ke pangkalan."
Masuk ke rumah dukun itu ternyata saya harus menunggu, karena
sedang ada pasien di dalam. Pagi benar ia datang? Beruntung tidak
sampai satu jam mereka telah selesai. Kulihat seorang pemuda keluar
dari ruang praktek Mbah Purwo. Jalannya nampak tergesa-gesa tanpa
menoleh kiri-kanan. Mungkin takut kedatangannya diketahui orang lain.
Pada umumnya memang orang-orang yang datang ke tempat semacam itu tidak
mau diketahui orang lain. Persis seperti orang yang datang ke tempat
judi atau pelacuran saja, pikirku. Kenapa harus malu kalau memang kita
tidak berbuat yang memalukan? Mungkin pemuda tadi telah berbuat hal
yang memalukan?
Kumasuki ruang praktek Mbah Purwo. Nampak agak remang-remang karena lampunya yang dipasang hanya balon sekitar 15 watt.
"Selamat pagi, Mbah," sapaku pada pria yang ternyata usianya masih separuh baya itu.
Aku geli karena seumur ini sudah dipanggil "Mbah" yang berarti kakek tua.
"Pagi, mbak. Ada yang bisa saya bantu..?"
Setelah memperkenalkan diri saya berkata, "Iya, Mbah. Saya mengalami peristiwa aneh. Bahkan sampai dua kali."
"Peristiwa apa itu, Mbak Surti?"
"Begini, Mbah.." lalu kuceritakan semua yang kualami dengan Pak
Kosim. Tentu saja aku tidak menceritakan pengalamanku yang amat
memalukan dengan ketiga pemuda berandal itu.
"Jadi Mbak menduga Pak Kosim memakai guna-guna untuk menguasai, Mbak, begitu?"
"Iya, Mbah. Kalau tidak, mana bisa saya sampai begitu menurut."
"Ng.. baiklah. Coba saya lihat telapak tangan kiri Mbak Surti.."
Kusodorkan telapak kiriku pada Mbah Purwo yang kemudian memegang
dan mengamatinya. Kemudian ia memejamkan mata dan beberapa kali membuat
tanda silang dengan jarinya di telapakku.
Setelah beberapa menit, barulah ia membuka matanya.
"Aduuhh.. karena kejadiannya sudah tiga hari, saya tidak mampu
melacaknya hanya melalui tangan yang sudah seringkali dicuci," ungkap
Mbah Purwo, kemudian melanjutkan, "Maaf, Mbak, kalau tidak keberatan
saya akan melacaknya melalui bagian tubuh Mbak yang kemungkinan besar
masih meninggalkan bekas keringat atau cairan tubuh Pak Kosim.."
"Bagian tubuh yang mana, Mbah?" tanyaku.
"Sekali lagi maaf, Mbak. Kemungkinan yang pertama ada di bibir,
dada atau bagian tubuh lain yang pernah dicium, sehingga air ludah atau
keringat Pak Kosim menempel di situ. Yang kedua adalah bagian kemaluan
yang menerima siraman air maninya. Sudah tentu yang kedua
berkemungkinan lebih besar karena bagian itu terletak di dalam sehingga
tidak mudah hilang walau sudah mandi beberapa kali."
Mendengar ini aku tercenung sejenak, berpikir untung-ruginya bila memenuhi permintaan itu.
"Apa tidak ada cara lain, Mbah?" aku coba mengelak.
"Ada sih ada Mbak, tapi ini berarti Mbak harus pulang dan berusaha
mendapat pakaian yang baru dikenakan Pak Kosim dan masih dilekati
keringatnya. Dan pakaian itu tidak boleh dicuci. Saya harus mendapatkan
pakaian itu hari ini juga sebelum daya magis yang mempengaruhi Mbak
hilang seluruhnya."
Sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan pakaian itu, karena aku
biasa mencucikan pakaian keluarga Pak Kosim. Tapi sekarang aku
terbentur soal waktu. Rasanya tidak mungkin mendapatkannya hari ini
langsung aku harus kembali ke sini lagi. Bisa-bisa aku nanti harus
menginap. Akhirnya, setelah kupikir-pikir kupilih cara pertama, yakni
mengambil bekas cairan tubuh yang masih menempel di tubuhku. Toh ini
sama seperti kalau aku diperiksa dokter, pikirku.
"Silakan buka pakaian di kamar itu, Mbak," instruksi Mbah Purwo
sambil menunjuk ke sebuah bilik kecil tertutup berukuran sekitar 1,5
kali 2 meter di sudut kamar prakteknya yang cukup luas.
Kumasuki bilik kecil itu yang penerangannya hanya lampu merah lima
watt. Segera setelah pintu kututup, kucium bau dupa harum dan seperti
cendana yang menyengat. Bau tadi berpadu dengan bau bunga melati yang
bertebaran di atas dipan berkasur tipis di ruang itu. Mula-mula seram
juga dengan suasana itu, tapi kemudian bau itu terasa semakin harum di
hidungku. Semakin menyegarkan dadaku yang menghirupnya. Kubuka gaunku,
seperti bila sedang memeriksakan diri ke dokter kandungan. Lalu
kubaringkan tubuhku telentang di atas kasur.Bermenit-menit kutunggu
Mbah Purwo, tapi belum juga datang, sampai mataku terasa mengantuk lalu
kupejamkan. Kuhirup bau-bauan harum di ruang itu sepuasnya. Betapa
nikmat kalau aku dapat terus beristirahat dalam suasana tenang dan
harum seperti ini.
"Maaf, Mbak.." entah kapan masuknya, mendadak saja kudengar suara Mbah Purwo di sampingku.
Mata segera kubuka dan kulihat pria itu bertelanjang dada. Dadanya
nampak berbulu lebat dan kekar. Besarnya hampir dua kali tubuhku. Dia
memakai kalung dengan liontin berbentuk patung kepala ular.
"Tolong mulutnya dibuka!" perintahnya.
Kubuka mulutku lalu sebentar kemudian jari telunjuk kanannya
dimasukkan. Jari yang besar panjang itu kemudian merayapi langit-langit
mulutku. Kadang berhenti sejenak dan menekan-nekan di suatu tempat.
Lalu bergerak lagi hingga beberapa menit. Karena capai membuka mulut,
maka aku mengatupkan bibir sedikit. Yang penting toh jarinya masih bisa
bergerak, pikirku. Mbah Purwo diam saja, dan jadilah aku seperti orang
yang sedang mengulum jarinya. Kututup mataku kembali karena agak jengah
dengan situasi ini. Diputarnya jari itu beberapa kali di sepanjang
langit-langit, pipi hingga bagian bawah mulutku. Akhirnya berhenti dan
ditempelkan ke lidahku.
"Hisap, Mbak. Hisap yang kuat!" perintahnya lagi dengan suara terdengar keras.
Dengan canggung-canggung aku menurutinya. Pertama kuhisap sedikit,
lalu kulepaskan sambil menelan ludah. Terasa manis jari tangannya.
"Lagi, mbak. Yang lebih kuat!" suara keras itu terdengar lagi.
Maka bagai tersugesti aku sekarang menghisapnya lebih kuat.
Herannya, rasa manis pada jari itu seperti tidak berkurang. Aku seperti
sedang mengulum kembang gula yang tidak habis-habis sari manisnya,
kuhisap dan kutelan rasa manis itu berlama-lama.
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,868 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,528 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,420 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,269 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,324 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,743 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,119 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,480 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,399 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,231 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,224 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,894 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,618 |
|
|
|
|
|
|
|