|
|
Sambungan dari bagian 04 Aku bersyukur dapat selamat dari nafsu Mbah Dipo. Ya, ia memang tidak
sabar dan menyerangku tepat pada waktu penangkal Paku Bumi sedang
bereaksi, ketika perutku sedang melilit sakit. Seandainya ia mau
bersabar sebentar saja, tidak tahulah apa jadinya dengan diriku.
"Jadi sekarang sebaiknya bagaimana, Mbah..?"
"Kukira ia benar-benar akan membalas dendam. Oleh karena itu kau harus berjaga-jaga."
"Mbah akan memberi penangkal lagi?"
"Ya. Tapi tolong, bagaimana pun kasihannya kau pada seseorang,
jangan biarkan ia tahu soal penangkal ini. Rahasiakan hal ini dari
siapapun, bahkan anakmu sendiri. Hanya kita berdua yang tahu masalah
ini. Ingat, bila rahasia ini bocor, taruhannya sekarang adalah nyawamu.
Di dalam dunia perdukunan, bila seseorang sudah berani melawan seorang
dukun, berarti si dukun sudah siap bersabung nyawa dengan orang itu.
Kalau rahasia kekuatan orang itu sudah diketahui oleh si dukun, sama
artinya dengan menyerahkan nyawanya pada si dukun."
"Aku janji tidak akan membuka rahasia lagi, Mbah," jawabku.
"Karena si dukun yang mengincarmu ini tergolong dukun cabul, maka
biarkan penangkal Paku Bumi tetap ada pada dirimu. Dengan pengalaman
yang pernah terjadi, kau tentu sudah lebih tahu bagaimana
menggunakannya, kan?"
"Iya, Mbah."
"Yang kedua, aku akan memberimu penangkal yang lebih kuat dari yang
kemarin. Taruhlah ini di rumahmu di tempat yang tersembunyi. Ia akan
menjaga dari ancaman guna-guna hitam yang masuk ke rumahmu. Siapa pun
yang mengirim guna-gunanya akan mendapat reaksi perlawanan dari
penangkal ini. Hanya orang yang lebih kuat dari penangkal itu sajalah
yang dapat masuk ke rumahmu dengan guna-gunanya. Terimalah ini.."
Kuterima bungkusan kuning dari Mbah Purwo. Agak lebih besar sedikit
dari penangkal berbungkus hijau yang telah dihancurkan Mbah Dipo.
"Apa masih ada yang lain lagi, Mbah?" tanyaku.
"Ehem, ehem," Mbah Purwo mendehem, "Kalau yang ini terserah kau
saja mau menerimanya atau tidak, yakni kemampuan bathin Satu Raga.
Dengan memiliki kemampuan bathin ini nantinya kau bisa memanggilku
kapan saja diperlukan, terutama dalam keadaan kritis yang berkaitan
dengan perdukunan."
"Aku mau, Mbah," jawabku tanpa pikir panjang.
"Syaratnya.., raga kita harus bersatu lebih dulu. Apa kau sanggup, Sur?"
"Eh.. oh.. ap.. apa ini sama seperti waktu memasang Paku Bumi. Mbah?" aku tersipu malu.
"Ya, prosesnya memang harus melalui cara itu, Sur. Namanya juga
Satu Raga.. Silakan kau pikirkan dulu. Kalau kau bersedia, kau harus
menginap di sini karena prosesnya lama.. Maaf, silakan kau berpikir di
ruang dalam, karena pasien yang lain sudah menungguku."
Aku berjalan memasuki bagian dalam rumah Mbah Purwo yang kelihatan
biasa seperti rumah pada umumnya. Tidak kulihat siapapun lagi di rumah
itu. Pasti ia hidup sendiri. Aku duduk tercenung di atas kursi bambu di
halaman belakang.
"Ah, kenapa lagi-lagi aku dituntut melakukan perbuatan itu?" pikirku.
Kalau dulu aku melakukannya dengan Pak Kosim dan ketiga pemuda
dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh guna-guna. Maka sekarang aku
dituntut melakukannya dengan sadar tanpa paksaan. Apa ini bukan akal
bulus Mbah Purwo saja untuk melakukannya yang kedua kali dengan diriku?
Tapi.. penangkal yang dia berikan dulu sudah terbukti berhasil
menyelamatkanku. Masak dia mau menipu?
Sekarang yang perlu kupertimbangkan adalah untung-ruginya kalau
memiliki kemampuan Satu Raga. Kemampuan ini memang tidak ada gunanya
kalau situasinya aman-aman saja. Namun sekarang sudah jelas posisiku
dalam keadaan terancam pembalasan Mbah Dipo. Ia tentu akan menggunakan
kekuatan yang lebih hebat lagi. Kemarin ia telah membuatku hampir mati
beku dan mengelabuiku menggunakan raga Pak Kosim, sehingga aku hampir
pula dinodainya. Sekarang pasti akalnya lebih licin lagi. Jiwaku
terancam hebat. Ya kalau penangkal berbungkus kuning itu mampu
mengalahkannya. Kalau tidak mampu?
Dengan kesaktiannya, kukira Mbah Dipo pasti dapat menemukan
penangkal itu di mana pun kusembunyikan, lalu menghancurkannya. Kalau
itu yang terjadi, habislah aku. Ia pun kukira pasti telah menyiapkan
cara untuk menghadapi penangkal Paku Bumi yang kumiliki. Aku pun tidak
dapat menduga kapan ia akan datang. Agaknya aku memang memerlukan
penolong yang siap membantuku setiap saat.
"Mari kita makan siang, Sur," suara Mbah Purwo mengejutkan lamunanku yang entah sudah berapa lama.
Tidak terasa matahari telah di atas ubun-ubun.
"Pasienku sudah habis, dan biasanya kalau sudah lewat jam satu
siang begini tidak bakal ada yang datang lagi. Sebaiknya kita makan
sekarang, kemudian kau tidur beristirahat untuk menyiapkan diri
menerima Satu Raga yang prosesnya berlangsung semalaman. Kita mulai
nanti setelah makan malam."
Seusai makan, Mbah Purwo memasuki kamar prakteknya. Katanya ia
hendak menyiapkan perlengkapan untuk nanti malam. Sementara aku
dipersilahkan tidur di kamar di dalam rumahnya. Kurebahkan tubuhku yang
penat. Bau harum melati yang bertaburan di atas tilam menyegarkan
penciumanku. Rupanya Mbah Purwo paling suka aroma bunga melati,
sehingga di setiap tempat tidurnya bertaburan bunga ini. Di halaman
rumahnya pun tadi kulihat banyak tanaman ini sedang berbunga lebat.
Aroma khas melati ini membuatku dengan cepat terlelap. Biarlah apa yang
terjadi nanti terjadilah. Aku perlu menenangkan kondisi fisikku yang
cukup lelah, karena tadi pagi harus menyelesaikan cukup banyak cucian
sebelum berangkat ke rumah Mbah Purwo. Sementara itu psikisku yang
terus didera kejadian-kejadian aneh rasanya juga lelah sekali.
Sambil berbaring, kupejamkan mata. Anganku melayang pada Basuki dan
Nina. Sedang apa mereka sekarang? Semoga kedua anakku itu selalu
bahagia dalam lindunganNya. Hanya mereka berdua sekarang yang
menjadikan hidupku lebih bersemangat. Andai tidak ada mereka, entahlah.
Mungkin aku tidak akan bersusah-susah mencari Mbah Purwo guna
mempertahankan hidup. Akan kubiarkan segala yang menimpa diriku. Akan
kubiarkan diriku menjadi korban guna-guna. Toh hidup lebih lama juga
tidak menjamin kehidupanku lebih baik.
Yah, kadang memang aku mengeluh pada Allah. Kenapa hidup keluarga
kami yang mulai tertata baik mendadak harus kehilangan tiang penyangga
utamanya. Suamiku meninggal. Sehingga porak-poranda lah seluruh yang
sudah mulai tertata baik itu. Padahal, menurut pikiran manusia,
keluarga kami tidak mengharap yang aneh-aneh atau muluk-muluk. Kami
selalu berusaha mencukupkan diri dengan apa yang kami miliki.
Punya sedikit tidak mengeluh. (Kadang-kadang) Punya berlebih, kami
pun tidak menjadi sombong. Sementara banyak orang yang hidupnya sudah
berkecukupan masih terus memburu harta-benda tidak berkesudahan. Dan
sepertinya mereka terus mendapat kelimpahan. Sedangkan kami justru
tertimpa kesedihan? Kenapa ini terjadi, Tuhan? Inikah memang yang Kau
gariskan? Pertanyaan itu tidak terjawab sampai mataku terlelap. Dan aku
yakin, misteri Allah ini tidak akan pernah terjawab oleh siapapun
sepanjang masa..
"Kita makan dulu, Sur," ajak Mbah Purwo setelah maghrib lewat.
Seperti tadi siang, selama makan aku pun tidak banyak bicara.
Bagaimana pun tetap ada rasa jengah dalam diriku mengingat apa yang
akan kami lakukan setelah ini. Mbah Purwo yang coba mengajakku ngobrol
pun tidak mampu mencairkan suasana hatiku.
"Rupanya kau belum bersikap sungguh-sungguh untuk menerima Satu Raga, Sur? Sikapmu masih takut-takut dan malu-malu.."
"Ak.. aku sudah siap, Mbah."
"Kau jangan menipu mata tuaku ini, Sur. Kalau kau masih terus bersikap begitu, maka akan menghambat proses Satu Raga ini."
"Maaf, Mbah. Aku memang masih merasa malu dan ragu, soalnya.."
Belum selesai aku bicara Mbah Purwo sudah memutus.
"Dalam proses Satu Raga, kita tidak boleh ragu-ragu. Kita harus
konsentrasi penuh dan hanya membayangkan wajah mitra kita di dalam
pikiran. Kalau pikiran kita tidak konsentrasi, percuma saja kita
melakukan proses Satu Raga ini. Tidak ada gunanya."
"Iii.. iya, Mbah. Saya akan coba berkonsentrasi.."
"Tidak mungkin, Sur," tegur Mbah Purwo arif. "Sekarang begini saja.. Apa kau membawa foto suamimu? Coba kupinjam.."
Aku mengingatnya sebentar. Kemudian beranjak ke kamar mengambil dompetku. Di situ selalu kuselipkan foto keluarga kami.
"Ini fotonya, Mbah. Tapi foto keluarga."
"Ini pun cukup. Mari kita ke kamar praktekku dan memulai proses Satu Raga."
Kami duduk bersila, berhadap-hadapan. Mbah Purwo mengamati foto
keluargaku beberapa saat. Dengan jari telunjuk dan jari tengah, di kiri
kanan ditutupnya gambarku dan kedua anakku sehingga yang tampak tinggal
gambar suamiku. Dipandangnya gambar itu tajam-tajam. Lalu sambil
memejamkan mata, dibawanya gambar itu ke keningnya, ditempelkannya, dan
dibawanya turun melewati wajahnya.
"Pandanglah mataku, Sur!" suara Mbah Purwo berubah garang memerintahku.
Kuturuti permintaannya. Kupandang mata laki-laki yang duduk di
depanku itu. Aku terkejut sekali karena ternyata aku saat itu tengah
memandang Mas Widodo, suamiku! Suamiku hidup lagi!?
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sur?" tanya Mas Wid.
"Eh.. Oh.. Baik-baik saja, Mas," sahutku kikuk.
"Lalu Basuki dan Nina sekarang di mana?"
"Mereka bekerja di Tangerang, Mas."
"Aku rindu sama kamu, Sur.."
Mas Widodo mendekatiku. Dijembanya aku untuk berdiri. Sebentar
kemudian aku dipeluknya. Dan.. diciumnya.. Aku ingin meronta, namun
nalarku pelan-pelan berubah total jadi ingin menerimanya. Air mataku
mengucur haru menerima kehadiran suamiku kembali. Kubalas pelukannya
dengan kerinduan yang amat sangat.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Mas," desahku sambil mempererat pelukan.
"Tidak, Sur."
Masih dalam suasana rindu itu kurasakan tubuhku dipondongnya. Kami
memasuki bilik kecil berlampu merah. Aroma cendana dan melati membuat
kami lebih asyik-masyuk. Oh.. betapa rindunya aku akan belaian dan
dekapan Mas Wid. Lama sekali kami tidak bermesraan seperti ini. Aku
tidak tahan lagi. Kubuka bajunya.. Aih, sekarang Mas Wid memelihara
bulu dada! Tubuhnya juga tampak lebih kekar berotot, tidak seperti
dulu, agak kerempeng. Kukecup dada berbulu itu. Syuur.. terasa di
sekujur tubuhku. Terlebih ketika tangan kekarnya memelukku ketat dan
mulai nakal menggelitiku.
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,868 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,528 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,420 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,269 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,323 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,742 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,119 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,480 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,399 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,231 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,224 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,894 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,618 |
|
|
|
|
|
|
|