|
|
Sambungan dari bagian 05 Sebentar kemudian gaun yang kukenakan sudah terbang entah kemana. Aku
tidak perduli. Juga ketika secarik kain terakhir penutup aurat bagian
bawahku ikut merosot turun dan lepas. Bahkan aku tidak mau kalah.
Kulucuti juga apa saja yang melekat di tubuhnya. Kami bagaikan dua bayi
yang baru lahir. Kutarik dia hingga kami roboh bergulingan di atas
tilam wangi melati itu. Ingin kupuasi dahagaku selama ini. Kubenamkan
wajahnya di dadaku dalam-dalam. Kurasakan hisapan-hisapan yang
membuatku melayang-layang tinggi ke awan.
Beberapa bulan tidak bertemu, ternyata sekarang Mas Wid begitu
perkasa. Tidak biasanya ia mencumbuku seperti ini. Menghisap kuat-kuat.
Menggigit-gigit. Menelusuriku dengan lidahnya. Membangkitkan ledakan di
bagian sensitifku. Membuatku menggelinjang. Meronta. Mas Wid begitu
liar, ganas dan dahsyat. Aku kewalahan menghadapi ulahnya yang tidak
seperti biasa.
"Hisap, Sur!" perintahnya sambil memasukkan jari telunjuk ke mulutku.
Terasa manis. Aku jadi ketagihan. Menghisap dan menghisapnya terus.
Nikmat sekali! Apalagi bersamaan dengan itu kurasakan remasan-remasan
di dadaku, kemudian disusul belaian di bawah pusarku. Aku semakin tidak
tahan. Pantatku terangkat. Birahiku juga.
"Pandang mataku, Sur," kembali perintah itu kudengar.
Sambil tetap menghisap jari itu, kubuka mata memandang wajah yang
berada tepat di atasku. Dan.. wajah Mas Wid pelan-pelan sirna, beralih
rupa jadi Mbah Purwo. Laki-laki itu dengan tubuh telanjang tengah
mengangkangiku.
"Ouh.. Mbah.. kenapa kita begini?" samar kesadaranku mulai pulih.
Namun segera saja aku tersentak karena bibirku telah tersumbat
bibirnya. Tubuhku pun didesaknya. Dilumatnya. Dihisap. Lidahnya
membeliti lidahku. Aku kembali melayang-layang. Kecupan-kecupan di
sekujur wajah, leher, dada, payudara, perut, pusar dan terus turun
semakin memupus bayangan Mas Wid. Dalam sekejap aku telah melupakannya.
Walau sekarang kusadari Mbah Purwo yang tengah menggelutiku, aku
tidak perduli. Yang penting birahiku yang menuntut kepuasan terpenuhi!
"Augh!" tiba-tiba rasa sakit melilit menyerang bawah pusarku.
Kulipat kaki secara refleks. Bersamaan dengan itu Mbah Purwo
kurasakan menghentikan kegiatannya. Berbaring menopang kepala dengan
tangan kiri sambil tangan kanannya membelai-belaiku.
"Tahan sebentar saja, Sur. Paku Bumi sedang bereaksi. Setelah dia selesai, kita akan segera menuju nirwana.."
Dipegangnya tangan kananku, dituntunnya menuju ke bawah pusarnya. Sementara itu aku terus bergelut dengan rasa sakit.
Gila! Tanganku tidak cukup besar untuk menggenggamnya. Dadaku ikut
berdesir.. seperti tengah dibelai benda antik itu. Lima menit menahan
sakit rasanya bertahun-tahun. Aku sudah tidak sabar lagi..
"Cepat Mbah, sekarang.." pintaku setelah rasa sakit itu mereda sambil menarik tubuh Mbah Purwo supaya menelungkupiku.
"Aku bukan suamimu, Sur," dia tidak bergeming namun terus membelai-belaiku.
"Aku sudah tahu, Mbah."
"Kau sungguh-sungguh sudah sadar dan rela melayaniku, Sur?" tanyanya lagi sambil terus membangkitkan birahiku.
"Iya, Mbah," jawabku tegas seraya tetap meremas-remas.
Sejenak kemudian tubuhnya sudah kembali di atasku. Aku mendesis membayangkan kenikmatan tiada tara.
"Sekarang proses Satu Raga baru akan kita mulai, Sur. Hisaplah dadaku," perintahnya.
Mbah Purwo menyodorkan dada kanannya ke bibirku. Terasa manis.
Kemudian beralih dada kiri. Aku semakin ketagihan dengan rasa manis
itu. Kuperkuat hisapanku. Kuperkuat pula pelukanku.
Samar kudengar suara bergeremang. Mungkin dia sedang merapal
manteranya. Aku tidak perduli. Hisapanku semakin liar kemana-mana
karena ternyata seluruh tubuhnya terasa manis. Manis dan manis yang
membuatku kian berani dan gila. Kudorong tubuhnya hingga jatuh
telentang. Kini ganti aku yang berada di atasnya. Kunikmati kemanisan
itu di sekujur tubuhnya. Di dadanya, di ketiaknya, di pinggangnya, di
perutnya, di pusarnya dan di.. Oh, sungguh madu yang sangat harum itu
terasa di lidahku yang terus menghisap dan menghisap. Dia nampak
menggelinjang. Aku senang.
Terus kupermainkan hingga puluhan menit. Dan.., ia menggelinjang
semakin hebat sampai kemudian lahar manis itu pun menggelegaklah.
Menyembur keras menerpaku, memenuhi mulutku.
"Telanlah, Sur.. Telan..!" parau suaranya memintaku.
Tanpa disuruh pun aku memang sedang menikmati madu manis yang terus
mengucur bagai tidak ada habisnya itu. Tidak kusisakan setetes pun
sampai nafasku habis. Yang kuherankan, "tiang" itu tetap tegak tegar
menantang dengan kebesaran dan kharismanya. Membuatku
terlongong-longong memandangi benda ajaib itu.
"Itu yang pertama, Sur. Kita masih harus melakukannya beberapa kali
lagi supaya kemampuan Satu Raga ini menjadi sempurna. Sekarang kau
berbaringlah."
Bagai tidak kenal lelah, sedetik kemudian tubuh kekar dengan dada
berbulu itu telah membuatku megap-megap. Terlebih setelah benda ajaib
itu menghantamku bertubi-tubi. Ugh.., lagi-lagi aksi Paku Bumi
kunikmati. Rasanya kali ini bahkan melebihi. Aku ikut terangkat setiap
ia bergerak ke atas. Dan terhempas keras setiap ia menghunjamku
dalam-dalam. Aku terbeliak-beliak menahan sesuatu yang hendak keluar.
"Tahanlah, Sur.." pesannya sambil terengah-engah.
Tubuhku mengikuti irama gerakan tubuhnya. Naik-turun, naik-turun.
Mengangkat-menghunjam, menggocoh-menggoyang, mendesak-memutar.. Aku
tersengal-sengal. Tidak mampu lagi mengimbangi keliarannya. Kedua
kakiku yang semula menggamit pinggangnya pun telah lunglai. Terkapar ke
kiri-kanan.
"Ak.., aku tak tahan lagi.."
Mata kupejamkan. Bibir kugigit. Kupeluk erat tubuh berkeringat di
atasku. Mengejan keras, lalu.., "Srr.." tubuhku terlonjak beberapa
kali.
Aku telah kalah dalam pertempuran ini.
Tetapi goyangan di atas tubuhku masih terus kurasakan. Tidak kenal
lelah. Tidak kenal henti. Semangatku yang sudah terkapar layu sedikit
demi sedikit ikut terpacu kembali. Birahiku bangkit lagi. Kesakitan
berubah jadi kenikmatan. Aku mau mereguknya sekali lagi! Tubuh di
atasku terus berpacu. Aku kembali mengikuti iramanya. Kadang kubalas
dengan gerakan erotis. Ikut bergoyang. Kuputar. Kutahan. Hampir satu
jam kami berpacu. Dan.., sepertinya aku hampir tidak tahan lagi.
"Akk.., aku mau keluar lagi.." desisku di tengah kenikmatan tiada tara.
Seraya tetap bergerak, Mbah Purwo mengubah posisinya hingga duduk.
Kaki kiri-kananku dinaikkannya di atas pahanya. Kemudian dipeluknya aku
dalam sikap duduk berhadapan. Aku menduduki pahanya. Aku
terlonjak-lonjak bagai orang naik kuda. Kupeluk erat punggungnya.
Kucoba bertahan lebih lama, namun.. pertahananku bobol lagi. Tubuhku
gemetaran, tulang-tulang seperti dilolosi. Pelukanku pun melemah,
melemah dan akhirnya lunglai.. dalam pelukan si kuda jantan yang masih
terus memacuku dalam posisi duduk berhadapan. Dua kali aku
ditaklukkannya, sementara dia masih tegar. Kekuatan apa yang
dimilikinya?
Dikembalikannya posisiku rebah telentang. Dibentangkannya kedua
kakiku lebar-lebar. Ditindihnya lagi. Dihunjamnya. Dihantamnya
bertubi-tubi. Ugh.. apa birahiku akan bangkit lagi untuk
mengimbanginya? Nampaknya ia memang sedang berusaha merangsangku lagi.
Dan benar apa katanya dulu bahwa aku termasuk wanita yang mudah
bergairah. Disenggol sedikit saja di daerah sensitif, bangkitlah
nafsuku. Ya, meski sudah dua kali dipukul knock-out, pelan-pelan aku
terbangunkan lagi. Kubalas pelukannya. Kubalas kecupannya. Kubalas
gairahnya. Goyangannya. Keperkasaannya yang entah sampai kapan..,
karena agaknya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk yang
ketiga kalinya.
"Aku lelah sekali, Mbah.."
"Bertahanlah sampai yang kelima kali, Sur. Ini salah satu syarat
yang harus kita penuhi, yakni aku harus bisa memuaskanmu lima kali
berturut-turut tapi aku sendiri tidak boleh kalah. Kalah sekali saja
maka prosesnya harus diulang dari awal lagi."
"Hahh!" aku tercengang. Tidak habis mengerti dengan syarat gila ini.
"Beruntung aku sudah memiliki Paku Bumi, sehingga syarat itu bisa
kulakukan. Baru nanti pada yang kelima kalinya kita akan mencapainya
bersama-sama.. Ugh.. ugh.. ugh.."
Guncangan di atasku terus berlangsung gencar. Keringat kami
membanjir membasahi tilam yang sudah berantakan namun harum wangi
cendana dan melati tetap tercium. Sudah kepalang tanggung, pikirku. Dua
kali lagi tidak jadi soal. Maka aku kini diam saja untuk menyimpan
tenaga. Kubiarkan proses keempat berlangsung tanpa responsku. Tubuhku
yang sudah luluh lantak rasanya kubiarkan terkapar dinikmatinya. Dan
tidak lama, kembali aku harus membeliak karena puncak itu datang lagi.
Dari keadaan diam aku tersentak-sentak beberapa kali. Rasanya keluar
habis seluruh cairan di dalam tubuhku.
"Sss.. sekarang yang terakhir, Sur. Kkk..kita harus mencapainya
bersama-sama. Aaa.. aku sudah hampir tak tahan lagi.." dengus Mbah
Purwo di sela-sela guncangannya.
Sementara aku perlahan mulai membangkitkan semangat lagi.
Kubenamkan wajahnya di dadaku. Kudekap erat. Kunikmati hisapan kuda
liar ini yang dengan cepat mengundang birahiku kembali. Auuwww..! Aku
terpaksa membuka paha lebih lebar merasakan gempuran di situ semakin
dahsyat. Kepala meriam yang membesar itu terasa kian sesak
mendesak-desak, memborbardirku. Aku kewalahan.
"Ayo, Sur, sekarang.. egh.. egh.." pacunya semakin cepat.
Kedua tangannya bertumpu di sisi kiri-kanan lenganku. Keringat
menetes dari dagunya. Membasahi dadaku. Segera kutarik kepalanya ke
bawah. Kusambut bibirnya. Lidah kami saling belit. Saling hisap.
Bersamaan dengan itu, kupergencar goyangan pantatku. Kuangkat. Kuputar.
Kugetarkan. Kuhentakkan. Akhirnya.. akhirnya.. tubuh di atasku mulai
gemetaran.
"Sss.. sekarang, Sur. Keluarkan.."
"Iii.. iya, Mbah," sahutku sambil ikut menggigil merasakan desakan lahar dari dalam tidak tertahankan lagi.
Getaran Mbah Purwo semakin hebat.
"Uugghh.." sambil memekik panjang, mendadak pantatnya bergenjut-genjut belasan kali.
Bersamaan dengan itu, aku pun tidak dapat bertahan lagi. Tubuhku
menggigil keras. Dan.., "Surr.. surr.." kami merasakan kenikmatan
bersama-sama.
Aku yang kelima kalinya, sedang dia yang pertama. Satu syarat lagi telah kami lalui.
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,868 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,528 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,420 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,269 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,324 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,743 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,119 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,480 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,399 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,231 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,224 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,894 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,618 |
|
|
|
|
|
|
|