|
|
Karena benar-benar capai, saya ingin pijat,
maka saya pergi ke PPT dekat kantor rekanan saya bagian selatan
Jakarta, maklum di rumah tidak ada yang bisa pijat. Tempatnya cukup
lumayan depan rumah makan Texas, jadi habis pijat (segar plus capai
hilang) bisa langsung makan, khan enak tuh, sebelumnya aku belum pernah
ke tempat ini jadi niatku adalah benar-benar pijat, dengan nama Spesial
Masturbasi (SM) kuberi istilah begitu karena (setelah beberapa kali)
kebanyakan mereka akan menawarkan jasa seperti itu, tak lebih,
sebenarnya inisial tersebut memang benar. Yang jadi persoalan adalah
cara (teknik) mereka memang benar-benar profesional.
Banyaknya nama-nama WP (wanita pemijat bukan word perfect) tertulis
di kepingan plastik, bagian sisi kiri adalah yang tersedia seperti
Doxx, Soxx, Ixx, Axx, Wxx, Mxx, Sxx, Sxx, Nxx, Ixx, Sxx, dan
teman-temannya, yang sudah dipesan (cobalah ingat daftar ini - sebab
ini biasanya yang terbaik), sedangkan paling kanan sedang tugas, tetapi
jangan salah terkadang resepsionis mengatur WP yang terlalu banyak tugas namanya diletakkan di tengah/dianggap dipesan biar WP lainnya merata tugasnya.
Biaya yang tertera di bandrol resepsionis VIP 1,5 jam $75, dengan kamar
tertutup tirai ganda dengan dinding tembok (bukan kain/triplek). AC
split sendiri, sebuah kursi dan nakash serta tempat sampah (cek apakah
ada kondom, bila ada artinya tempat ini menyediakan order khusus).
Cermin kecil, jam dinding, gantungan pakaian, tentunya tempat tidur
(kalau sudah selesai pijat coba periksa di bawah sprei pasti ada
perlaknya. Kalau ngompol biar nggak menetes ke kasur pegasnya (coba angkat perlaknya pasti di
daerah pas kemaluan agak lembab kadang diberi pemutih untuk
menghilangkan noda bekas ompol, kalau perlu angkat kasur
pegasnya kadang-kadang menemukan bekas pakai kondom plus isinya).
Sedangkan kamar biasa 1,5 jam $65 (1 jam $50) kamar ditutup kain, AC
cassette dipakai bersama, tanpa kursi, lainnya sama dengan di atas.
Melihat situasi di atas, sepertinya tidak ada pijat khusus seperti
Monggomas, Kartika, dan lain-lain di daerah Kota.
Saya pesan Mbak Sxx ke Mbak Axx (resepsionisnya), kemudian saya
dipersilakan ke kamar VIP 304, berarti saya naik ke lantai 3, dengan
kondisi kamar seperti di atas.
Setelah masuk, tidak lama kemudian masuk Mbak Sxx (38D, tangan dan
betis sedang, agak pendek 150 cm, sekitar 30 tahun, wajah sunda), saya
melepaskan semua pakaian kecuali CD.
"Selamat siang Pak", sapa Mbak Sxx.
"Siang", jawabku.
"Mau minum apa Pak?", tanyanya.
"Teh plus krem panas tanpa gula!" kemudian dia pergi ke pesawat
telepon di luar ruangan, dan kembali ke kamar lagi. Saat aku akan naik
ke tempat tidur..
"Pakai krem nggak Pak?" tanya Mbak Sxx.
"Pakai!" jawabku singkat.
"Kalau gitu sekalian dilepas aja CD-nya nanti kena krem", kata Mbak Sxx.
Karena sudah telanjur tidur telungkup dengan kaki rapat, "Tolong
dong lepasin!", seruku. Kan malu belum kenal udah mau lihat rudal
mengkeret aja, jadi sambil tidur, CD-ku diplorotin sama dia, tentunya
dengan melebarkan sedikit kakiku.
"Mbak AC-nya boleh nggak dimatiin aja, soalnya saya nggak kuat
dingin?" Ini trikku karena dia pasti kepanasan, bayangin saja dia jalan
sana-sini, mijat, pakai baju komplit, paling tidak blazer akan di
lepas, dan tinggal kaos tanpa lengan (bahkan Mbak Soxx, kaos tanpa
lengannya di angkat hingga bawah bra 42FF-nya). Jangan lupa letakkan
rudal pada posisi yang aman, bila sewaktu-waktu berubah ukuran, tidak
sakit.
Mulailah pijat tanpa krem ke seluruh tubuhku, dimulai dari telapak
kaki, betis, paha, pantat, pinggang, punggung. Karena letak kedua
kakiku agak rapat, saat dia memijat bagian telapak kaki, otomatis
kakiku tertarik dengan sendirinya masing-masing terbawa ke tepi tempat
tidur sehingga posisi kakiku terbuka lebar (akhirnya aku tahu maksud
posisi ini untuk dapat memijat bagian dalam pahaku, menyenggol biji
sedikit).
Saat memijat punggung dia naik ke tempat tidur dengan menduduki
pantatku, dan paha bagian dalamnya menyentuh pinggangku, terasa dingin
dan halus. Hasil sensor pantatku mengatakan bahwa dia menggunakan
celana ketat hingga pangkal paha. Saat tangannya mendorong dari
pinggang ke pundak, otomatis posisinya agak menunduk, terasa ada dua
hal yang membuat sensor probe-ku over range. Pertama, itu payudara 38D
menyentuh punggung, walau masih dibungkus bra dan kaos ada rasa kenyal
gimana gitu. Kedua, Saat diduduki pasti daerah lobang pantat dia kan
yang nempel di pantatku, nah saat dia menunduk otomatis daging vagina
yang tembem seperti tutup bagasi VW Kodok-ku menyentuh pantatku dan ada
rasa seperti kedutan, mungkin karena dia tekan pundakku sehingga
tumpuannya ada di tutup bagasi itu.
Hingga akhirnya memijat bagian lipatan paha dalam yang kadang-kadang
ujung jarinya menyentuh rambut di sekitar biji (kalau aku bilang sih
bukan pijat tapi sentuhan atau lebih halus lagi. Padahal belum pakai
krem, kalau dia sebelum melakukan ini dia bilang Punten, maka lain kali kalau ke sini lagi, aku langsung order banyakin Puntennya saja, sayang dia nggak bilang). Untuk ukuran pria normal, digituin sih
ya pasti kemaluanku bangun, ibarat dongkrak mobil, otomatis pantat
keangkat, karena volume kemaluan terisi penuh, untung sudah pada
posisi, coba kalau lagi ketekuk, pasti tuh pantat lebih tinggi lagi
ngangkatnya.
Lama nggak ngobrol, hanya mendengarkan musik sayup-sayup, dan
nampaknya dia sudah menguasai keadaan-aman terkendali (lihat pantatku
kadang naik dan merasakan pangkal kemaluanku keras saat pijat dekat
biji tadi), keluarlah pertanyaan standar PPT.
"Ke sini sama teman Pak?" tanya Mbak Sxx.
"Nggak" jawabku.
"Sudah pernah ke sini?"
"Sudah.." agak berbohong, biar aku tahu servicenya nanti seperti
apa, soalnya sesama WP mereka juga bersaing baik wajah, teknik, dan
lain-lain.
"Dengan siapa Pak?"
"Wah aku lupa namanya, nggak ngingetin sih!" jawabku. Kalau kamu
jawab nama WP-nya nanti dia akan tanya diservice apa aja, bayar berapa
dan lain-lain.
"Berarti sering dong Pak",
"Nggak juga, asalnya dari mana Mbak?" tanyaku.
"Bandung", pembicaraan terhenti.
Dia mulai memijat dengan krem yang cukup banyak (ini pijat apa
lulur krem) semuanya dari arah bawah ke atas (mungkin maksudnya ke arah
jantung, agar peredaran darah lancar, nah bisa bayangkan peredaran
darah lancar, kemaluan jadi keras, apa nggak tinggal muncrat saja) tapi
teknik pijatnya cukup baik (menurutku) pada daerah tanpa titik rangsang
dia akan tekan, tapi bila di daerah titik rangsang berubah tekanannya
(bukan pijat tapi sentuhan) bayangkan aku dibikin
tegang-nggak-tegang-nggak dan seterusnya, disinilah seninya seks, kalau
cuma masukin - muncrat - tidur ngorok nggak ada seni, hanya kewajiban
memenuhi kebutuhan.
Urutan pijat dengan krem dilakukan sama seperti tanpa krem, hanya
saat dia mulai ke daerah pantat, dia ada di sisi kiriku dekat pinggang,
dengan usapan dari paha luar ditarik ke atas masuk antara biji dan paha
dalam mengitari lubang anus (yang terkadang sengaja disentuh) dengan
kedua tangan secara bergantian, otomatis pantatku naik lagi, pindah ke
betis, terus kembali ke pantat lagi (dalam hatiku harus sabar nih,
bayangin coba kamu dirangsang terus dicuekin, dirangsang turus di
cuekin dan seterusnya), pantas memang lobang pantat itu enak kok kalau
dielus-elus, nggak pria atau wanita sama saja, apalagi di masukin.
Kemudian dia pindah ke sisi kanan, kembali aku di rangsang terus di
cuekin (memijat di tempat lain tanpa menghiraukan rudal yang sudah
tanggung), di rangsang terus di cuekin dan seterusnya).
Setelah tahu bahwa kemaluanku keras (dengan menyentuh pangkal
kemaluanku dia tahu kalau aku sudah ereksi) berarti aman terkendali,
sebab kalau nggak bangun berarti dia harus bersusah payah untuk
membangunkan agar dapat tip khusus. Dia pindah memijatnya ke pundak
terus ke pinggang terus tangan (benar-benar dibuat kesal nih
kemaluanku). Untuk pinggang dia tidak menduduki pantatku lagi, karena
banyak krem, takut bajunya kotor (sebelumnya aku protes kok nggak
seperti tadi mijatnya?).
Setelah itu dia kembali lagi ke pantat dan melakukan pijatan seperti tadi lagi, terpaksa aku protes keras.
"Teteh! (kakak; bahasa Sunda) tolong dong jangan dibikin pusing nih!" kataku.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanyanya.
"Itu mijatnya bikin pusing nih",
"Ya udah Bapak diam saja, ikutin saja yah!"
"Ya sudah",
"Tetapi nanti tip-nya spesial ya Pak!" tuh kan benar.
Disinilah triknya saat kita lagi butuh banget, dia memberikan
penawarannya, memang hampir semua WP berusaha mati-matian secara
singkat dan seksama membuat kita tegang dan bikin pusing, yang akhirnya
kalau sudah nggak kuat akan mengeluarkan work-order.
"Berapa spesialnya?" kataku lagi.
"Biasanya $100",
"Ya sudah", tanpa merinci lagi work-order seperti apa yang akan dia
lakukan (soalnya aku belum tahu) lebih gila lagi aku belum tahu apakah
di dompet ada $175 ($75 kamar $100 tip) dan seingatku cash only.
Disinilah kelakuan para pria, di otak kepalanya yang lebih besar bisa
dikalahkan dengan isi kepala bawahnya yang cenderung lebih kecil tapi
bisa bikin kepala bagian atas tips buat para wanita.
Mulailah dia meraba dengan menambah krem tadi dengan baby oil
(mungkin, soalnya rasanya lebih cair) di bagian pantat, terus meraba
dengan ketajaman kukunya dia menyisir (bahasa kasarnya digaruk, tapi
lembuut banget) rambut sekitar biji ke arah anus. Wah, volume darah di
kemaluanku semakin penuh dan pantat ke angkat sebatas kemaluan, biar
nggak ketindihan badanku. Tahu kalau ada celah kiri antara kemaluanku
dengan pangkal paha tangannya masuk dan mengelus secara perlahan bagian
paha, yah naik lagi pantatku, diulangi lagi celah kanan, yah naik lagi
pantatku, pijat lagi sekitar lubang anus, yah naik lagi pantatku,
hingga posisi badanku tertumpu pada lutut kaki dan siku tangan dan muka
menancap di bantal. Sensasinya, jangan anggap enteng. Kucoba
mengeluarkan kepalaku dari bantal dan melirik ke belakang, wah ternyata
dia duduk dengan posisi mengangkang spt huruf M, kan benar pakai celana
pendek ketat sebatas paha, tapi kelihatan mblendug-nya persis seperti
tutup bagasi VW-ku. Aku mencoba meraih tutup bagasi itu, tapi kuurungkan, karena ini pertama kali aku ketemu dia.
Akhirnya dapat juga yang dia cari, memijat kemaluanku secara perlahan
sekali lagi perlahan, seperti menimang rudal nuklir takut meledak,
dengan sangat pelan tangannya ditarik sehingga hanya bagian ujung
jari-jari ke arah anus seolah-olah takut kemaluanku jatuh, tangan
berputar sesuai dengan bongkahan pantat, jari tangan kiri ke arah kiri
dan jari tangan kanan ke arah kanan, saat ini kalau kemaluanku tidak
sehat pasti jatuh (ereksi 60%-80%), tetapi yang terjadi antara kemaluan
dengan badan seperti garis yang tidak bersinggungan kata geometri,
keras sekali, (setelah tegang, aku bilang sama Teteh bahwa apakah tamu
Teteh pijat seperti itu apa tegang semua, atau bila orang impoten
apakah bisa ereksi, soalnya di atas kepalaku sudah banyak bintang
kecil-kecil alias pusing).
Akhirnya aku berkata, "Teteh, aku sudah nggak tahan keluarin aja!"
Tangan kanannya menggenggam kemaluanku dengan lembut (tanpa tekanan
dan banyak baby oil-nya) memutar kepala kemaluan dengan jari-jarinya,
genggam batang, maju mundur, sementara tangan kiri menusuk anus, kadang
meraba rambut di sekitar anus, begitu berulang-ulang, hingga sperma
akan keluar. Kira-kira dalam perjalanan di tengah batang kemaluan, eh
dipijat sekuatnya kemaluanku, otomatis aku bergetar (over vibration),
tak berapa lama dilepas, ya muncrat cairan dari kemaluanku dengan
tekanan yang kuat dan nyaris mengenai daguku. Setelah tekanan cairanku
turun, otomatis badanku ambruk seperti hidrolik saja atau mesin yang
shut-down.
Si Teteh membersihkan tangannya yang belepotan baby oil plus krem
plus cairanku dengan kain sprei, dan melanjutkan memijat. Aduh enak lho
rasanya, setelah ejakulasi dipijatin, rasanya seperti habis lari
dikejar anjing terus selamat lompat pagar.
"Pak sekarang bagian depannya" tanya Teteh. Aku membalikkan
badanku, terlihat kemaluanku mengkerut kembali seperti semula, dan
Teteh mulai memijat, seperti urutan saat aku telungkup.
"Pak perutnya di urut nggak?" tanya Teteh. Aku menggangguk saja,
sepertinya capai banget, dia tersenyum saja melihat aku kelenger.
"Kenapa ketawa?" tanyaku.
"Nggak, itu keluarnya banyak banget dan itunya keras banget",
"Kamu bisa saja nyanjung, entar, kutambah nih tip-nya", candaku.
"Pak ini mau dikeluarin lagi?" tanpa sadar saat urut, rupanya
perutku ditarik dari bawah ke atas (mungkin karena gravitasi, perutku
buncit jadi turun sehingga perlu ditarik ke atas) tapi saat ditarik,
ujung jari menyentuh kemaluanku. Ya, tegang lagi. Aku tidak menjawab,
hanya mengangguk sambil memberikan senyum (yang paling manis dari yang
kupunya).
Cuma karena posisi telentang jadi mengurutnya (bukan sortir)
digenggam dari bawah ke arah atas sambil diputar dengan telapak tangan
menyentuh ujung kemaluan, karena tadi sudah keluar. Jadi sekarang agak
lama, tapi dengan keahliannya, tangan kanan mengurut kemaluan, tangan
kiri meraba biji hingga menyisir rambut sekitar anus, dan akhirnya
keluar juga cairanku.
"Pak permisi keluar dulu, cuci tangan", aku mengangguk saja.
Gila 1 jam 20 menit, aku segera pakai kimono dan menuju kamar
mandi, dan pakai baju, karena masih ada waktu aku sempatkan mengobrol.
"Teteh liburnya hari apa?" tanyaku.
"Hari Jumat, kenapa tanya libur segala, mau ke sini lagi?"
"Nggak kalau ada temanku mau ke sini kan jadi tahu."
"Bapak orangnya baik deh",
"Oh iya uang tip-nya belum yah, pantes kamu nyanjung terus",
candaku sambil memberikan $100-ku sambil kulihat masih ada selembar
lagi berarti selamatlah aku nanti diresepsionis, artinya kan nggak
dikejar pengaman PPT.
"Benar Pak, biasanya tamu suka meraba-raba, pegang sana sini,
akunya yah belum tahu aja. Semua pria itu bajingan. Kata bokap tetangga
temanku nasehatin anak perawannya, kucing itu kalau diberi ikan kadang
pura-pura ngambil dikit, tapi kalau nggak ada orang (ada kesempatan)
yang diambil ayam seekor, dasar perempuan kaya bola, jauh dikejar,
dekat ditendang."
"Ya sudah, nih uang tip-nya, makasih ya Teteh", sambil kucium tangannya.
Sekilas kulihat bulu tangannya merinding.
"Kenapa merinding?"
"Nggak, Bapak memperlakukan WP koq kayak gitu sih",
"Kamu manusia kan, saya juga gitu, dan saya benar-benar puas",
"Pak ke sini lagi yah!"
"Nggak janji yah!"
Tahu nggak, aku melakukan itu semua, ya memberikan preview yang
baik agar kalau ke sini lagi dapat yang lebih, pakai ilmu kucing dong.
"Ya udah, terima kasih Teh", dibukanya kain penutup pintu, langsung aku pergi ke resepsionis.
"Makasih Mbak Ajxx", sapaku.
"Sama-sama Pak", jawabnya.
Tiba-tiba.., "Lho, elu Bud", tanya suara dari belakangku.
"Eh, iya Fexx, kok kamu di sini?"
"Iya gue lagi nunggu Sxx yang lagi kerja, abis pijat sama siapa lu",
"Eh.. sama Sxx"
"Wah lu pasti pijat anus yah?" ucapnya (agak keras, sehingga pengunjung di ruang tunggu pun terdengar).
"Nggak, apaan tuh?" pura-pura bodoh, gila nih anak bikin aku malu aja.
"Ya udah sana, lu kelihatan lemes bin lapar", katanya.
"Nah kamu nunggu siapa?"
"Lu berakin gue tahu".
Oh ternyata dia nungguin Sxx yang kerja denganku, aku ngeloyor
sambil senyum, mudah-mudahan jari tangan si Teteh nggak dicuci biar dia
pijat dengan kerak di sekitar anusku. Langsung saja aku ngeloyor menuju
Texas, makan hati/lever 5 buah plus teh manis panas, untuk
mengembalikan tenagaku yang hilang diserap Teteh Sxx.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,511 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,496 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,412 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,263 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,302 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,729 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,113 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,283 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,476 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,393 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,225 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,220 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,887 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,613 |
| Sexualitasku Sebagai Wanita Lajang |
t4ri@hush.com |
20,439 |
|
|
|
|
|
|
|