|
|
Sambungan dari bagian 02 Dara adalah gadis manis yang polos di balik dandanan dan make up tebal
di wajahnya. Dia bertubuh langsing dan sangat menarik, ditambah usianya
yang belum lagi dua puluh tahun. Malang sekali nasib gadis ini pikirku.
Dalam kemudaannya dia telah direnggut oleh kebiadaban dan mahkotanya
telah dihargai begitu rendah di luar keinginannya. Dalam hati aku
sebenarnya terkejut dapat berpikir seperti itu. Mungkin Ruffus benar,
aku sebagai kaum Lestatian terbiasa hidup dalam dunia manusia fana.
Saking terbiasanya aku mulai berpikir dan bertindak seperti mereka.
Aku dan Dara diperintahkan untuk menunggu di ruang utama rumah itu
yang sangat mewah dengan perabotan antik berharga mahal. Sebuah lampu
kristal besar menambah keangkuhan ruangan itu seperti menggambarkan
karakter pemiliknya. Dingin dan kosong terasa dalam hati. Entah apa
yang sedang dirasakan Dara saat itu, namun ekspresi wajahnya kembali
tegang dan penuh ketakutan ketika terdengar langkah-langkah seorang
pria menuruni tangga tepat di depan kami. Tangan lembut milik Dara
menggenggam tanganku makin erat ketika tuan rumah, sang 'boss' muncul
dari atas tangga. Darahku berdesir ketika pertama kali menatap
wajahnya. Ingin segera kusudahi drama ini agar aku dapat terbebas dari
kecongkakan yang memuakkan ini.
Pria itu berusia di awal tiga puluh dan berwajah cukup tampan.
Tubuhnya yang tinggi dibalut kemeja sutra dan pada jari dan lehernya
melingkar cincin dan kalung emas yang mencolok. Pria ini terlihat amat
pesolek dengan wajah dingin dan sadis. Pria itu berhenti selangkah di
depanku, pandangannya seolah menelanjangiku ditambah seringai culas di
wajahnya. Dia kemudian berjalan mengelilingiku memuaskan matanya dengan
menjelajahi seluruh tubuhku. Kurasakan sepasang taringku mulai tumbuh
dalam mulut ini dirangsang oleh kemarahan, akan tetapi masih dapat
kukendalikan hingga kembali normal.
Puas denganku, pria itu melemparkan pandangannya ke arah Dara yang
berdiri merapat kepadaku seperti seorang gadis kecil yang minta
perlindungan. Pria itu menatapnya penuh hina dengan senyum sinis yang
menistakan.
"Hmm, jadi kau sudah punya majikan baru sekarang," suaranya dingin menghardik Dara.
"Bisa kulihat bagaimana kau merasa dekat dengannya, bahkan bau kalian sama.. sama-sama bau pelacur!"
Mataku melotot ke arahnya penuh kegeraman, dia merasakan itu akan
tetapi tidak dihiraukannya. Pria seperti dia terbiasa merasa memiliki
semua wanita yang dikehendakinya.
"Hai, siapapun anda.. anda tidak punya hak apapun atas diri gadis
ini. Dia sekarang bekerja untukku dan untuk itu segala sesuatu tentang
dirinya adalah tanggung jawabku!" suaraku rupanya memancing amarahnya.
Segera dia menghampiriku dan menatapku penuh intimidasi sambil tangannya menyentuh daguku dengan kasar.
"Perempuan, siapa kamu hingga merasa bisa seenaknya mengambil sesuatu yang menjadi milikku?"
Dia mangangkat daguku penuh pelecehan, namun Famitha sang pemangsa masih ingin memainkan drama ini.
"Lepaskan tangan kotormu itu dari wajahku atau kau akan merasakan
akibatnya!" ucapanku yang ditanggapinya dengan senyum penuh ejekan.
Tangannya dilepaskan dari daguku lalu barkata, "Aha, perempuan ini rupanya punya nyali juga."
"Jarang sekali perempuan berani menantangku seperti ini, sebutkan siapa namamu?"
"Namaku Famitha dan saya tidak peduli siapa anda, saya tidak bisa
menerima perlakuan ini. Apabila anda menggunakan kekerasan, saya juga
bisa melakukannya pada anda!"
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalaku. Sebuah rencana yang
menarik buatku untuk memainkan drama ini. Menarik sekali buat seorang
pemangsa seperti diriku berada dalam konflik manusia-manusia fana yang
sedang dipenuhi hawa nafsu.
"Wah! Perempuan jalang ini mengancamku. Aha kalau begitu maafkan
kelancanganku ini. Namaku Jimmy, orang mengenalku sebagai Papa Jim. Aku
adalah pengusaha, dan gadis itu adalah salah satu asset perusahaanku.
Ehm sebelum diambil alih olehmu," nada suaranya berubah.
Sepertinya dia juga sudah mulai menikmati drama ini. Jelas sekali
dia menyembunyikan minat sesungguhnya. Sesuatu yang sudah diantisipasi
olehku.
"Sepertinya aku mengerti maksudmu. Aku tahu kalau kau juga
seprofesi denganku, dan oleh karena itu anggap saja suatu kehormatan
apabila aku punya sebuah penawaran padamu malam ini."
"Hmm.. aku lebih senang begitu. Aku juga seorang pengusaha dan
karena itu aku selalu terbuka untuk segala macam penawaran," aku
tersenyum menebar pesona dan keanggunanku di hadapannya.
Pria berjulukan Papa Jim itu membalas senyumanku lalu berkata
lembut, "Bagus kalau begitu, sekarang mari ikut aku. Kita bicarakan itu
di ruang kerjaku supaya lebih nyaman."
Aku melepaskan genggaman tangan Dara sambil berkata, "Kamu tunggu
saja di sini dan jangan takut karena aku tidak akan jauh darimu."
Ucapanku itu rupanya tidak dapat menenangkannya, karena Dara terlihat masih ketakutan.
Dia mendekatiku lalu berbisik dengan suara gemetar, "Ja.. jangan
percaya padanya, Di.. dia terlalu licik dan dia pasti punya rencana
jahat padamu juga.. aku.."
"Percaya padaku," sahutku menyela.
Dara tidak sanggup meneruskan lagi ucapannya karena pesonaku menyelimuti pandangannya hingga dia menuruti keinginanku.
Kutinggalkan dia masih duduk di atas sofa kulit itu penuh kecemasan
dikelilingi tiga orang anak buah Papa Jim. Dara khawatir sesuatu yang
buruk terjadi padaku, namun sebenarnya apa yang dapat menyakitiku?
Sebagai mahluk abadi aku tidak memiliki pemangsa, sebaliknya aku merasa
dapat menemukan semua kebutuhanku malam ini sekaligus.
Kebencianku pada pria-pria di sini semakin membangkitkan seleraku
untuk segera menguras habis darah mereka. Akan tetapi sebelum itu aku
memiliki rencana lain untuk memuaskan gairah seksualku yang bangkit
seiring rasa dahagaku. Begitu aku selesai dengan mereka semua, maka
Dara juga akan bebas dari ketakutan.
Menolong gadis malang itu adalah alasan utamaku ke sini. Aku pun
mengikuti langkah pria gemuk itu menuju sebuah ruangan lain diikuti
tatapan penuh hasrat dari tiga orang anak buahnya yang sudah terbius
oleh pesona Famitha sang dewi malam. Aku mengikuti Raymond memasuki
ruang kerjanya yang cukup luas dengan interior klasik yang terkesan
amat mewah.
Ruangan itu didominasi warna emas dengan furniture yang semuanya hand-made.
Aku kemudian duduk berhadapan dengannya dipisahkan meja kerja yang
besar berbentuk oval yang amat artistik. Sayang sekali pemandangan pria
gendut di seberang meja itu jauh dari kesan artistik dan klasik dari
meja itu. Jaket pendek berbahan sifon yang kukenakan sengaja kulepas di
hadapannya sebelum aku duduk. Kini tubuhku lebih terbuka dengan halter
neck warna ungu yang membalut tubuhku hingga siluet payudaraku tercetak
indah di permukaannya.
Pria gembrot yang biasa dipanggil Papa Jim itu menatapku dengan
dingin namun penuh hasrat. Dia kemudian menyalakan rokok yang kemudian
dihisapnya melalui filter panjangnya. Tatap matanya kini tertuju pada
bagian dadaku yang menyembul membentuk pemandangan yang cukup membuat
jakunnya turun naik beberapa kali.
"Nah Raymond, aku kemari bukan untuk kau jadikan tontonan kan?
sudah saatnya kita bicarakan penawaranmu tadi," suaraku membuyarkan
fantasy bejat yang sempat menggumpal di benaknya.
"Ehm, panggil aku Papa Jim," jawabnya menjengkelkan.
Aku berusaha tampil dengan feminitas manusia-ku walaupun rasa haus ini kian merongrong kerongkonganku yang makin terasa kering.
"Baiklah Papa Jim, waktuku terbatas jadi segera kita bicarakan
penawaranmu atau aku segera membawa Dara pergi dari sini," jawabku
sedikit ketus.
Pria gendut di depanku tersenyum culas lalu berkata sambil menyembulkan asap rokoknya.
"Aku heran, kenapa kamu tertarik mempekerjakan seorang pecandu seperti Dara?"
"Tentunya aku melihat potensi dalam dirinya yang bisa kukembangkan hingga mendatangkan keuntungan buatku."
"Ah potensi! Itulah persamaan kita berdua. Hanya saja kau melihat
potensi dalam dirinya sedangkan aku hanya melihat potensi pasar saja."
"Sifat feminim yang sensitif itu tidak akan membuatmu berhasil
dalam bisnis ini Famitha. Maafkan kelancanganku bila aku justru
berpendapat bahwa wanita secantik kamu lebih bisa mendapat keuntungan
apabila menjadi asset bisnis dibanding pemilik bisnis seperti ini."
Iblis dalam bathinku meronta mendengar ucapan itu. Ingin rasanya
aku menarik keluar lidahnya hingga putus, namun kupendam jati diriku
sebenarnya dan membiarkan sisi feminim-ku yang bereaksi. Pipiku memerah
sebagai respon dari rasa marahku padanya. Kubiarkan sentimen
kewanitaanku jelas terbaca olehnya hingga dia merasa superior dan
berkuasa atas diriku.
"Ah Famitha, kau masih terlalu polos dalam bisnis ini. Sekali lagi
maafkan kata-kataku tadi. Hmm.. sudahlah kini kita langsung ke pokok
pembicaraan," Raymond kembali menghisap rokoknya lalu dihembuskan ke
arahku sambil melanjutkan.
"Aku sebenarnya sudah tidak memerlukan gadis itu, tapi
bagaimanapun dia adalah assetku, jadi kau tidak bisa mengambilnya
begitu saja."
"Sebutkan harganya, berapapun aku sanggup bayar," jawabku.
Raymond menggeleng sambil tersenyum mengejek, "Heh, aku tidak perlu
uangmu. Bisnisku jauh lebih besar dari bisnis eceran macam kamu dan
asset-assetku berjumlah banyak. Simpan saja uangmu untuk membiayai
rehabilitasi barang inferior yang sudah aus itu."
Kini makin jelas karakter pria rakus di depanku itu. Arogan, licik,
penuh hawa nafsu dan gemar mempermainkan perasaan. Suatu kombinasi yang
menjijikkan sekaligus merangsang hasratku untuk memangsanya. Aku
berusaha menahan diri. Aku masih ingin memainkan peran fana ini lebih
lama lagi. Nasibnya jelas berada di tanganku dan akan lebih
menyenangkan mempermainkannya lebih dahulu.
"Jangan terus mempermainkan aku Papa Jim, Sebut saja keinginanmu
dan akan kupenuhi asal Dara bisa keluar dari bisnis busukmu ini!"
"Heh.. kau memang tidak punya pilihan lain kecuali memenuhi tawaranku apabila masih ingin membawanya."
"Cukup! Apa yang kau inginkan dariku?"
Raymond sedikit memajukan posisi duduknya dan mendekatkan wajahnya ke arahku, kemudian berkata datar, "Tubuhmu."
Seketika hasratku berpesta karena permainanku mulai mencapai bagian yang menyenangkan.
"Aku juga." jawabku dalam hati karena libidoku meningkat seiring rasa haus darahku.
Aku sengaja berdiam diri dan memberi kesan terkejut.
"Kau memang licik Papa Jim, selain rakus kau juga gemar menaklukan setiap wanita yang kau inginkan."
"Hahaha, kau mulai mengerti kan hukum dari bisnis ini. Yang
memiliki banyak, mendapatkan banyak. Yang menang mendapatkan semua,
yang kalah mendapatkan nista," ucapnya penuh kemenangan.
"Kalau kau pikir dengan membawa Dara daripadaku kau sudah menang,
maka aku akan memberikan kemenangan itu padamu, setelah aku mengambil
semuanya dari padamu, kau akan keluar dari sini dengannya sebagai dua
orang pelacur yang sudah tidak terpakai lagi."
Ucapan itu begitu tajam dan menyakiti perasaanku sebagai seorang
wanita. Kini baru aku paham dualisme yang kuhadapi sebagai seorang
Lestatian. Berinteraksi dengan manusia berarti merasakan sisa-sisa
sifat natural manusia yang berada dalam diriku. Sisi luarku merasa
terhina dan amat dinista oleh ucapan itu sementara naluriku sebagai
pemangsa justru ter-stimulasi dengan ucapannya itu.
"Bagaimana?" ucapnya sambil mengetukkan jarinya di atas meja.
Aku pun segera bangkit diikuti pandangan Raymond yang penuh tanda
tanya. Kelenjar-kelenjar hormon di tubuh mati ini bekerja secara
abnormal membuat rangsangan sendiri bagi tubuhku hingga gelombang
kenikmatan merayap di seluruh permukaan kulitku. Wajahku penuh ekspresi
sensual hingga tatapan penuh selidik itu berubah menjadi pandangan
penuh nafsu dan minat. Raymond menatap seperti ingin menelanku
bulat-bulat hingga desah napasnya mulai memburu ketika aku, Famitha
sang pemangsa merentangkan sayap pesona dan seksualitas di hadapannya.
"Baiklah Papa Jim, nikmati apa yang bisa kau nikmati dariku."
Senyuman culas itu kembali menghiasi wajah bulatnya yang
menjengkelkan. Aku pun tersenyum karena bagiku itu adalah wajah orang
mati. Tubuhku adalah khayalan semua lelaki dan napasku adalah hasrat
dan nafsu para penyembah libido. Aku adalah ratu dan Raymond adalah
budakku.
Tubuh semampai ini, lekuk kewanitaan ini, kaki yang jenjang, jemari
yang lentik, payudara yang indah serta senyum di wajah bidadari ini
adalah rantai dan pasung yang membelenggunya. Libido yang disembah
lelaki busuk ini sudah memerintahkannya untuk takluk padaku. Sedangkan
liang kewanitaanku menyebar aroma yang membius dan memancarkan gairah
yang didambakan olehnya.
Bagai seekor kucing liar aku menaiki meja oval di depanku. Sepasang
hak sepatuku bagai cakar tajam mencengkeram kuat di atasnya. Aku
berjongkok hingga celana panjang ketat yang kukenakan menampilkan
cetakan daerah pubisku di bagian selangkangan. Papa Jim menganga bagai
seekor primata dari balik kerangkeng hawa nafsunya sendiri. Kudorong
tubuh gembrot itu hingga tersandar di kursinya. Masih sempat dia
tersenyum bak raja iblis dari singgasana neraka.
Jemari lentikku menari dengan lincah melepaskan kancing bajunya
satu demi satu. Sangat cepat namun halus tanpa merusak kemeja mahalnya.
Masih dalam posisi berjongkok di atas meja, kuulurkan kedua tanganku ke
depan hingga tubuhku bertumpu pada sandaran kursinya, singgasana raja
iblis itu. Pembuluh nadi di lehernya tenggelam oleh lapisan lemak yang
membuatnya seperti seekor orangutan gemuk. Kujilati lehernya hingga dia
kegelian, kujilati ke bagian dada hingga aroma parfum mahalnya
tenggelam oleh peluh kenikmatan yang mengucur kian deras.
"Haah, nikmatnya," dia berkata pada dirinya sendiri.
Dia pasti puas dilayani oleh sang hawa birahi Famitha yang penuh
pesona. Kukecup puting kasar yang ditumbuhi bulu-bulu dada itu. Pria
berlemak ini dadanya lebih mirip payudara kendor daripada dada bidang
yang maskulin. Kuhisap hingga dia merintih bagai seekor kambing yang
sedang disembelih. Kering dan buruk! Aku kini dalam posisi merangkak
mirip seekor rusa yang sedang minum di tepi sungai ketika kulepaskan
ikat pinggangngya.
Tubuhku merangkak kian rendah ketika kubuka retsleting dan celana
dalamnya. Kejantanan Papa Jim menyeruak dari balik celana dalam seolah
tersenyum tepat di depan wajahku. Aroma laki-laki tercium kuat di
hidungku dan liurku tidak tertahan memenuhi mulut mungil ini ketika
penis yang tidak lebih besar dari sosis itu mencapai ereksi
maksimalnya. Bibirku yang basah segera membungkusnya, mengulum dengan
penuh selera hingga mulutku terasa penuh olehnya.
Aku merangkak di atas bagai seekor rusa, namun aku minum dari
sungai hawa nafsu. Dapat kudengar suara deras alirannya ketika mulutku
semakin kuat menghimpit dan menghisap kemaluan Papa Jim. Suara air yang
deras itu berasal dari deru napas pria gendut yang terdengar seru bak
kuda pacuan. Perut buncitnya memang cukup menghalangiku, namun tidak
dapat menghalangi syahwat Papa Jim yang telah mencapai puncaknya.
Rambutku dicengkeram kuat olehnya ketika lidahku berhasil membawanya ke
surga.
"Ahh.. ahh..!" seru 'raja iblis' itu ketika lidah liar milikku berhasil membuatnya menjebol pintu surga.
Seketika mulutku dipenuhi cairan putih yang kental dari penis yang
kini telah lunglai sehabis melakukan tugasnya. Aku pun kembali
berjongkok seperti seekor burung nazar yang habis melahap bangkai.
Kulepaskan senyuman dari bibir yang masih penuh lelehan sperma,
kemudian menciumnya penuh hasrat. Lidah Papa Jim dengan rakus menjulur
menjelajah ke dalam mulutku. Lidahku dikulumnya dengan rakus dan
setelah puas dia mendorongku hingga terduduk di atas meja oval itu.
"Luar biasa, heh lumayan juga untuk seorang pelacur baru, hehehe.." dia tertawa seperti kambing, kering dan buruk.
Mulutnya masih megap-megap karena napasnya masih memburu. Kini dia
tersenyum penuh kemenangan. Aku menyeringai dan menatapnya jijik karena
di bibir dan kumisnya kini dipenuhi lelehan spermanya sendiri setelah
menciumku. Papa Jim masih tersenyum menatapku sambil membersihkan
sisa-sisa spermanya sendiri di sekitar mulutnya.
Bersambung ke bagian 04
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,858 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,521 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,419 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,265 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,314 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,733 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,116 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,478 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,396 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,228 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,224 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,890 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,615 |
|
|
|
|
|
|
|