|
|
Sambungan dari bagian 03 "Bagimana? Puas?" tanyaku padanya.
Sebenarnya aku sudah tahu apa jawabnya kerena pandangan mata itu masih
penuh gairah dan hasrat. Organ tubuhnya memang sudah lebih dulu lemah,
tapi nafsu besarnya belum surut. Papa Jim menggerakan jari telunjuknya
menandakan bahwa dia belum selesai denganku.
"Hmm, tidak secepat itu pelacur, aku masih ingin menyaksikan tubuh
indahmu ditunggangi seperti seekor kuda binal oleh salah satu anak
buahku."
Papa Jim mengaktifkan interkom yang terletak di mejanya lalu memberi instruksi singkat, "Ron, cepat masuk kemari!"
Sesaat kemudian pria yang dipanggil 'Ron' itu melangkah masuk
dengan gagah. Wajahnya menatapku penuh selera seperti melihat hidangan
malamnya yang tergolek di atas meja.
"Ayo, sekarang kau boleh makan dari meja majikanmu," perintah Papa Jim segera ditanggapinya.
Dalam waktu singkat tubuh tinggi kekar itu sudah menurunkan
celananya hingga siluet penis yang cukup besar tercetak di atas
permukaan celana dalamnya. Aku kembali dilanda ekstasi akan birahi
ketika suara sungai hawa nafsu terdengar lagi menderu di telingaku.
Gelombang dan arus derasnya juga terbias di wajah pria muda yang
sebentar lagi bakal menikmati tubuhku. Aku memandangnya penuh hasrat
sambil tersenyum karena aku kini sedang menatap satu lagi wajah orang
mati.
Tubuhku ditariknya turun dari atas meja, kemudian dia memutar
tubuhku membelakanginya. Sentuhan lidahnya tiba-tiba kurasakan
menjilati tengkuk dan leherku hingga diriku kembali dibakar gairah. Aku
tidak sempat menikmati perasaan geli di leherku cukup lama, karena
mendadak tubuhku didorongnya hingga nyaris terhempas di atas permukaan
meja. Kedua tanganku menopang tubuh yang sempat menempel di permukaan
meja itu. Dengan gerakan yang cepat, pria di belakangku menurunkan
celana dan G-string yang kukenakan hingga dinginnya AC dapat kurasakan
di kulit bagian bawah pinggangku. Aku memejamkan mata menantikan
kejantanan pria itu memasuki liang kenikmatanku yang mulai menebar
aroma cinta dan nafsu.
"Perbuatlah sesukamu Ron, buat perempuan jalang ini menjerit!" kata
Papa Jim dengan suaranya yang mulai serak sambil coba untuk
membangkitkan kembali penisnya yang masih lemas.
Betul, perbuatlah sesukamu manusia malang, sebab akan ada saatnya
bagianku melakukan itu padamu, demikian suara bethinku dalam kehausan
yang kian merongrong.
Sepuluh menit berikutnya, aku sudah berada di awang-awang,
terhanyut dalam arus deras sungai hawa nafsu ketika kejantanan yang
kokoh milik pria bernama Ron itu menembus bibir vaginaku hingga
memenuhi dinding dalamnya. Sepuluh menit dalam perjalanan penuh liku
dan gairah, berkelok-kelok mengikuti alur sungai yang senantiasa
membuat tubuhku mengejang tiap kali dorongan lelaki itu menciptakan
gelombang kenikmatan yang menghantam hingga kepalaku. Dia benar-benar
menunggangiku, aku dan dia bagai sepasang anjing liar yang sedang
kawin.
Di sampingku Papa Jim beberapa kali mengerang sendiri menikmati
pertunjukan hawa nafsu sambil onani. Sepasang tanganku yang menahan
tubuh di atas meja meninggalkan bekas cakaran di permukaan kayu
mahalnya. Aku bagai kucing liar yang meraung-raung sambil tetap
menyodorkan pusat kewanitaanku untuk berkali-kali diguncangkan oleh
kekuatan maskulin yang dahsyat dari batang kejantanan kokoh yang
bersarang di dalamnya. Permainan gairah yang penuh hasrat itu akhirnya
berakhir ketika sungai hawa nafsu mencapai muaranya.
Saat itu dapat kurasakan seluruh kenikmatan dan kejahatan dalam
ruangan itu seakan bersatu dan terkumpul di ujung penis yang sedang
menghujam tubuhku dalam usahanya yang paling akhir. Dunia menjadi samar
dan ribuan peri tempak bernyanyi mengelilingiku ketika cairan sperma
lelaki yang jadi budak nafsukku menyembur bersatu dengan lelehan
kenikmatan yang membanjiri liang vagina yang sudah berumur ratusan
tahun milikku ini. Orgasme menyerbu dan menyelubungi setiap sel dari
mahluk malam seperti diriku.
"Uuuhh..!" aku menjerit, entah melenguh atau bahkan melolong bak
serigala lapar disahuti oleh erangan jantan seekor kuda pacu yang telah
mencapai finish.
Dua orang pria dibius ejakulasi sementara seorang bachae tenggelam
dalam orgasme di muara sungai yang bernama hawa nafsu. Kenikmatan itu
begitu nikmat menjalar bagai sengatan listrik mulai dari kedalaman
kemaluanku hingga keujung-ujung jari, bahkan menusuk ke dalam otakku.
Tubuhku rebah menelungkup di atas meja dan selama beberapa saat
anak buah Papa Jim yang bernama Ron itu menindihku dari belakang,
kelelahan setelah membanjiri vaginaku dengan spermanya. Kurasakan
penisnya masih bercokol menyumbat kemaluanku hingga ukurannya kembali
mengecil sebelum dicabutnya. Napasku masih memburu berpacu dengan desah
napas dua orang lelaki yang baru saja mencapai puncak kenikmatan
bersamaan denganku. Sempat kurasakan lidah pria itu menjilati butiran
keringat di belakang leherku sebelum dia kembali menegakkan badannya
dan menarik keluar pilar kejantanannya dari dalam liang senggamaku yang
sudah basah hingga cairan spermanya terasa keluar mengalir hingga
pahaku.
Kubalikkan tubuh ini, lalu sambil bersandar di meja kubersihkan
sisa-sisa sperma itu dengan tissue, lalu mengenakan pakaianku lagi.
Kali ini tatapanku beradu dengan sorot mata Papa Jim yang tampak
memandangku hina dan congkak. Senyum culas tersungging dari mulutnya
melihat wanita yang berhasil ditaklukkannya dengan cara nista.
"Nah pelacur, kini kau boleh pergi bersama barang dagangan
barumu.. hehehe itu pun kalau masih bisa dipakai mengingat anak buahku
yang lain sudah menyuntikkan morfin dosis tinggi padanya ketika kamu
tadi sedang dibuat menggelepar keenakan oleh si Ron!"
Tiba-tiba benakku dibayangi sesuatu yang menakutkan, Dara!
Ketika aku tadi memuaskan nafsu sex-ku dengan pria bernama Ron itu,
rupanya Papa Jim licik dan melakukan sesuatu yang buruk pada gadis yang
seharusnya kulindungi. Segera aku melangkah dengan tergesa meninggalkan
Papa Jim yang membiarkanku keluar ruangan sambil memperdengarkan suara
tawanya yang menjijikan itu. Serigala dalam bathin ini kembali
menggeliat. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Dara terbujur
lunglai di atas sofa dengan mulut mulai berbusa. Tubuhnya terlihat
kejang-kejang dan wajah polosnya itu tampak pucat. Sebuah suntikan yang
sudah kosong isinya terlihat berada dalam genggaman seorang anak buah
Papa Jim yang berdiri di sampingnya.
"Dara..!" aku berseru sambil berlari menghampirinya.
Entah kenapa ada suatu naluri dalam diriku yang merasa begitu
bersalah karena meninggalkannya. Perasaan itu amat asing buatku dan
membuatku terkejut sendiri akan 'kemanusiaan' yang sekejap melandaku.
Kupeluk dan kuletakan dia di atas pangkuanku sambil berusaha
menyadarkannya.
"Dara, Dara..! Ja.. jangan takut, aku ada di sini.. Dara, kau dengar aku khan, kamu harus dengar aku.. kita pergi dari sini!"
Kurasakan denyut nadinya melemah dan napasnya mulai tercekik. Aku
bingung akan semuanya, aku heran akan drama yang tadinya kumainkan
dengan penuh kesenangan berubah manjadi rasa cemas dan takut
kehilangan. Rasa bersalah timbul karena aku begitu bernafsu menikmati
segala kenikmatan yang bisa kudapatkan.
Kupejamkan mataku berusaha mengumpulkan kesadaranku karena sesaat
aku menjadi gamang dan diriku seperti terpecah antara kemanusiaan dan
keberadaanku sebagai seorang Bachae. Aku sudah biasa jatuh cinta pada
manusia fana dan perasaan itu amat menyenangkan. Akan tetapi yang
kurasakan sekarang adalah sesuatu yang sukar digambarkan. Sesuatu yang
sepertinya mustahil ada dalam diri seorang Bachae, mahluk abadi seperti
diriku, yaitu perasaan takut kehilangan dan perasaan bertanggung jawab
atas nasib yang dialami gadis fana yang terbujur meregang nyawa di
pangkuanku.
"Hahaha! Jangan kamu pikir semudah itu bisa mengambil apa yang
menjadi hak milikku, aku Papa Jim tidak pernah kehilangan sesuatu
apapun dan tidak akan pernah membiarakan siapapun melakukan itu. Tidak
oleh seorang pelacur murah seperti kau!" suara Papa Jim mengagetkanku
akan keberadaannya.
Kini dia didampingi ketiga anak buahnya berdiri di depanku.
"Dara adalah seorang pelacur yang lumayan laku, sayangnya dia tidak
tahu berterima kasih. Apalagi dia dipengaruhi oleh kekasihnya yang kini
sudah menjadi bangkai,"
Pria congkak itu membetulkan celananya lalu melanjutkan, "Dara
bagiku cuma barang yang bisa saja diganti dengan yang baru. Tapi kamu
adalah perempuan bodoh yang sudah terlalu banyak tahu! Sayang sekali
kamu harus bernasib sama karena aku tidak ingin semuanya terbongkar.
Bersiaplah untuk jadi makanan cacing!" ujar Papa Jim sambil menggerakan
tangannya memberi kode pada ketiga anak buahnya.
Tiga orang pria berbadan gempal itu melangkah ke arahku, yang
berjalan paling depan adalah pria bernama Ron yang baru saja menikmati
tubuh indahku. Sebuah kawat berbentuk jerat berada di tangannya dan aku
pun segera tahu apa yang akan mereka perbuat padaku. Manusia-manusia
bodoh itu hendak membunuhku? Bagaimana mungkin mereka dapat membunuh
seorang wanita yang sudah mati ratusan tahun yang lalu? Serta merta
jantungku yang memang sudah tidak berdenyut itu membara seiring rasa
nyeri di seluruh tubuhku ketika jaringan otot ini bermutasi ke
fungsinya yang sebenarnya mengaktifkan kelenjar-kelenjar iblis yang
membuat gusi mulutku mendorong taring-taring tajam ini kembali muncul
menyeruak dari balik bibir indahku.
Aku pun tersenyum dingin membiarkan air liurku menetes deras karena
rasa haus akan darah segar yang tiba-tiba kurasakan. Aku tersenyum
memandang empat wajah orang mati di depanku! Aku adalah pengantin sang
rembulan dengan maut di tanganku. Aku telah memberikan kenikmatan dan
kini akan mengambil bagianku. Empat pasang mata terbelalak dalam
kengerian ketika kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku tidak lagi
menggoda mereka. Mereka pasti berharap tidak pernah bertemu denganku
atau mungkin berdoa supaya yang mereka lihat hanya mimpi.
Pria bernama Ron itu menjerit bagai binatang sembelihan ketika
darahnya menyembur bagai air mancur saat pembuluh lehernya tercabik
cakar bengis dari jari-jari lentik ini. Dia pasti menyesal telah
menyetubuhiku bagai binatang liar tadi karena aku baru saja
merobek-robek lehernya bagai binatang liar. Tubuh kekarnya roboh bagai
benang basah bermandikan darah, membuat tiga orang pria lainnya sadar
akan nasib mereka.
Aku mendesis bagai ular menyemburkan liur bercampur darah ke wajah
Papa Jim yang pucat pasi. Dia ingin lari namun lututnya terkunci pada
engsel-engselnya. Kudekatkan taringku ke wajahnya hingga tercium bau
pesing dari balik celananya. Pria pongah itu terkencing-kencing ketika
nyawanya jadi mainanku. Kubiarkan dia hidup sedikit lebih lama dalam
ketakutan dan kualihkan pandanganku pada dua orang anak buahnya yang
lain. Dua orang pria bebadan kekar tampak berusaha lari ke arah
belakang meninggalkan majikannya sendirian. Tubuh mereka tampak berat
menyeret ketakukan hingga dengan mudah kumelayang ringan menyusul
langkah mereka.
"Hissh.. hisshh..!" bagai ular betina kupamerkan taringku di depan mereka berdua.
Seorang rupanya kalap dan mengayunkan tinjunya padaku.
"Setaan kauu..!" teriaknya sambil meninju sekuat tenaga.
Tanganku yang langsing bergerak cepat menangkap kepalan tangannya hingga tinjunya terhenti di udara.
"Kraak!" terdengar gemertak tulang ketika kuremas kepalan besar lelaki itu hingga remuk.
"Betul manusia malang, aku memang setan dan kau adalah makanan cacing!"
Lelaki itu mengaduh kesakitan berusaha melepaskan tangannya.
"Itu belum seberapa sakit," jawabku serta merta mendaratkan gigitanku ke lehernya.
Demikian kuatnya taringku tertancap di kulitnya lalu dengan sekali cabik kurasakan jakun pria itu sudah dalam mulutku.
"Arrgghh..!" darah menyembur menciprati wajah cantik milikku.
"Phuaaih..!" kuludahi wajah pria itu dengan darah dan jakunnya sendiri.
Satu lagi yang menemui ajalnya. Kutinggalkan tubuh pria itu
berkelojotan ketika nyawanya putus dan kini kuarahkan langkahku ke pria
yang satu lagi.
Pria itu yang memegang jarum suntik! Pria itu yang membuat Dara
sekarat! Dia terpojok di sudut ruangan dan matanya membelalak
ketakutan.
"Ja.. ja.. jangan bunuh sa.. saya..!" dia meminta pengampunan sambil bersujud seperti menyembahku.
"A.. aku cuma di.. ss.. suruh! Am.. am.. ampuuni sa.. saya!" pintanya.
Dia tidak dapat melakukan itu padaku, seharusnya dia melakukan itu
pada malaikat pencabut nyawa yang terasa berdiri dekat dengannya.
Kumelangkah maju sambil menggeram. Ketukan hak sepatuku menandakan
detik-detik kematiannya dan dapat kulihat malaikat maut itu tersenyum
padaku, manis sekali.
"Berhenti memohon padaku manusia bodoh! Aku bukan ingin membunuhmu
tapi aku cuma haus.. haus akan darahmu! Lebih baik kau mohon pada
malaikat mautmu supaya apabila aku selesai meminum darahmu kamu masih
hidup.. hihihi..!" tawaku terhenti sendiri ketika taring-taring ini
menembus pembuluh nadi di lehernya.
Bersambung ke bagian 05
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,859 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,521 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,419 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,265 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,314 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,733 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,116 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,478 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,396 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,228 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,224 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,890 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,615 |
|
|
|
|
|
|
|