|
|
Sambungan dari bagian 04 Pria itu langsung kejang-kejang ketika darahnya kuhisap. Urat-uratnya
tampak mengeras membiru di permukaan kulitnya ketika cairan merah nan
kental itu membanjiri kerongkonganku. Alangkah nikmatnya bagiku setelah
cukup lama menahan rasa dahaga ini. Ketika tetesan darahnya yang
terakhir memenuhi mulutku segera kulepaskan pagutan mulut ini dari
lehernya dan meninggalkan tubuh kaku yang pucat pasi itu masih berdiri
tegak namun tidak bernyawa lagi!
Aku kemudian memalingkan wajahku mencari sasaran utamaku tadi. Pria
angkuh berjiwa binatang yang sudah menghancurkan hidup Dara. Kini
saatnya Papa Jim menyambut kematian pikirku. Kudekati tubuh gembrotnya
yang terduduk kaku di depan sofa tempat Dara terkulai namun kudapati
Papa Jim sudah kaku dengan wajah pucat dan mulut menganga. Rupanya dia
mati ketakutan. Dibunuh oleh rasa takut dan kengerian yang amat sangat
melihat 'tontonan' yang baru saja kuberikan padanya.
Sepertinya malaikat maut pun tidak sabar untuk mencabut nyawanya
hingga mendahuluiku melakukan itu. Biarlah pikirku, lagipula darahnya
pasti terlalu amis dam memuakkanku. Aku tidak ingin lambung ini
dikotori darah najis manusia congkak itu. Deru napasku mulai teratur
dan air liurku sudah berhenti menetes pertanda dahaga ini sudah
terpuaskan. Perlahan kubiarkan metabolisme tubuhku kembali seperti
semula hingga taring-taring ini kembali tertarik ke dalam gusiku.
Sesaat kemudian aku telah kembali ke wujud normalku, namun kembali
rasa cemas menghantuiku melihat Dara yang masih tergolek tidak berdaya
sambil terus mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku curiga dia tidak
hanya disuntik heroin melainkan zat beracun lain yang memang ditujukan
untuk membunuhnya. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain meletakkan
tubuh gadis malang itu di pangkuanku sambil mengusap-usap rambutnya.
"Maafkan aku, apabila aku tidak sanggup menyelamatkanmu."
Tanpa terasa air mataku membasahi pipi ini. Aku kembali penuh penyesalan dan rasa bersalah.
Kematian pria-pria bangsat itu tetap saja tidak mengembalikan hidup
Dara yang sesaat lagi akan berakhir di pelukanku. Ternyata yang
kulakukan sebenarnya tidak lebih dari pemuasan keinginanku saja. Aku
tidak lebih dari seorang Bachae yang mencari kesenangan seksual dan
kepuasan akan darah. Aku menyesali diri sendiri seakan tubuhku
menipuku. Segala usaha yang kulakukan sia-sia. Malahan dapat saja Dara
lebih baik apabila aku tidak campur tangan sejak awal.
Pikiranku kalut dan aku merasa tidak berarti. Ternyata keabadian
tidak dapat mengganti satu nyawa dari gadis tidak berdaya ini. Tubuh
Dara semakin dingin, nyaris sedingin angin malam yang bertiup lewat
jendela-jendela rumah besar itu. Amat dingin walaupun ternyata tidak
sedingin hatiku.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu dalam udara malam yang penuh
misteri itu. Sesuatu yang bergerak bersama angin malam, sesuatu yang
tidak terlihat bagai pekatnya malam. Sesuatu yang terselubung kegelapan
malam namun bukanlah malam itu. Sesuatu yang kehadirannya begitu terasa
hingga memenuhi relung hatiku yang hampa. Seketika angin kencang
berdesir di seluruh ruangan ketika kurasakan kehadiran pribadi itu!
"Ruffus?" aku berkata gamang, entah memanggil atau bertanya karena segalanya kembali seperti dejavu.
"Ruffus Valerius!" aku tersentak karena baru aku sadar akan kehadirannya.
"Kau.. kau ada sejak tadi, bahkan mengikutiku sejak tadi!" aku berpaling mencari sosoknya namun tidak kutemukan.
"Betul matahariku, aku ada di sini," suara itu membawa kehangatan
buatku dan seperti biasa pria bertubuh jangkung bermata biru dengan
rambut perak itu sudah berdiri di hadapanku.
Aku tidak dapat berbicara, lidahku kelu dan hanya dapat membiarkan
tatapannya yang penuh kasih dan kehangatan itu seolah membelaiku tanpa
sentuhan.
"Mea Solis, aku mengerti semuanya," dia meletakkan tangannya mengusap pundakku.
Dia tahu apa yang kurasakan! Pembimbing dan pelindungku sang
Nosferatian itu menyaksikan semuanya sejak awal dan dia mengerti
semuanya!
"Ruffus kau kembali lagi," kata-kataku masih mengambang.
Sorot matanya terlihat amat bijak ketika dia menjawab perkataanku,
"Famitha, aku memang belum pulang sejak terakhir kita bertemu."
Ucapannya itu menjawab pertanyaanku di hari-hari terakhir ini.
Ruffus ternyata belum pulang sejak saat itu. Karenanya pantas aku tetap
merasakan kehadirannya dan aku senantiasa merasa diamati. Hanya aku
tidak dapat memastikan keadaannya hingga saat ini.
"Aku harap kamu tidak merasa terganggu dengan kehadiranku selama ini."
"Tidak.. tidak, aku sebenarnya merasakannya tapi.. bagaimana dengan
gadis malang ini? Kau pasti akan menganggap aku gila karena mencampuri
urusan kaum manusia, apalagi menolong gadis ini.. aku pikir.."
Ruffus menyela ucapanku dengan berkata lembut, "Jangan menyesal
mea solis, kamu cuma melakukan apa yang sudah dilakukan semua Bachae
sebelum kamu di sepanjang masa di seluruh dunia."
Ucapannya belum kumengerti.
"Maksudmu..?"
Entah kenapa kehadiran Ruffus membuat kekhawatiranku tentang nasib
Dara menghilang. Aku percaya betul pembimbingku ini dapat membantuku
menyelamatkannya. Hanya cara yang dikemukakan olehnya sama sekali tidak
terbayang olehku sebelumnya.
"Sudah waktunya, Famitha," ucapannya yang singkat itu mendadak
menggetarkan seluruh panca indraku, bahkan buku romaku bardiri karena
apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang selama ini sulit
kutemukan jawabnya.
"Maksud kamu.. hmm bagaimana mungkin?" aku masih coba mengelak
namun tatapan Ruffus bagai pedang bermata dua menembus ke relung hatiku
yang paling dalam.
"Bachuss telah menyiapkan semuanya anakku, dia memiliki mata yang
menembus ke segala masa dan padamu telah disiapkannya malam ini. Inilah
saatnya kamu melakukan kewajibanmu, tugasmu yang paling suci sebagai
seorang Lestatian dan juga sebagai bagian dari anak-anak Bachuss di
seluruh dunia dan di segala masa."
Selanjutnya Ruffus menatapku menantikan jawaban. Sebuah tirai gelap
yang ratusan tahun menaungiku bagai terkuak oleh pernyataan itu.
Rupanya inilah saatnya aku meneruskan pewaris kegelapan nan abadi pada
manusia fana. Inilah saat yang dimaksud di kala segala sesuatunya
disiapkan oleh Bachuss sendiri bagi anak-anaknya untuk melestarikan
keturuanan mahluk abadi. Sebuah tugas suci yang hanya dapat dilakukan
olehku di bawah pengawasan pembimbingku sang Nosferatian.
Keadaan telah menuntunku ke waktu dan tempat seperti ini. Drama
yang kumainkan ternyata membawaku pada jawaban yang kucari selama
berabad-abad. Kini nasib seorang gadis berada di tanganku. Tidak kuasa
aku mengembalikannya kepada terangnya hari, sebab oleh karena diriku
dan sifat kemanusiaan dalamku aku membuatnya seperti ini. Langsung
maupun tidak langsung Dara telah dituntun oleh takdir untuk menemuiku,
meminta perlindungan dariku. Bahkan sebenarnya saat inilah yang dinanti
olehnya, satu dari sedikit manusia fana yang terpilih untuk menjalani
keabadian. Terpilih untuk minum langsung dari cawan perjamuan yang
abadi. Karena Bachuss adalah bapa dari para penuai anggur dan anggur
yang ditawarkannya adalah keabadian. Kesucian dalam pengasingan dan
dahaga yang kekal.
Aku bangkit sambil menggendong tubuh lunglai nan lemah mengikuti
langkah panjang Ruffus menuju ke pintu keluar di mana sinar rembulan
yang bersinar penuh menyambut dengan penuh kehangatan dan salam
persaudaraan. Penghuni-penghuni malam yang abadi. Aku melayang bersama
Ruffus hingga ke atap rumah mewah yang pemiliknya baru saja menemukan
maut, lalu meletakkan tubuh sekarat milik Dara di atas bubungan rumah
yang luas dan besar. Sejenak kubiarkan tubuh lemah itu dibalut dan
dibelai sinar rembulan nan lembut.
"Segalanya telah disiapkan bagimu anakku, marilah kita mulai.. Cruor Sacramentum."
Aku pun segera menghirup udara malam sebanyak-banyaknya sekalian
dengan segala kesunyian, kesepian, kerinduan dan kejahatan yang
terkandung di dalamnya. Bulan bersinar penuh ketika sekali lagi
taring-taring runcing ini menembus kulit lembut di bagian pembuluh nadi
manusia fana yang tidak berdaya. Kali ini kulakukan dengan perasaan
yang berbeda karena hangatnya kasih Bachuss memenuhi tiap relung
keabadianku dan taringku melakukan tugas sucinya menghirup dara tidak
berdosa dari anak manusia yang polos dan menyerahkan dirinya pada
keabadian sebagai pemuja Bachuss.
Ruffus segera memulai sakramen suci kaum Bachae bersamaan dengan
mengalirnya darah segar dari tubuh Dara menghangatkan dan mengisi
diriku dengan kehidupan baru.
"Kini saatnya anakku, untuk menerima perjanjian bersama Bachuss,
bapa dari para penuai anggur yang setia di mana kamu akan menemukan
kesegaran jiwa dalam keabadian tubuh dan penderitaan yang suci. Karena
Bachuss adalah pokok anggur yang sejati, maka barang siapa diberikan
kehormatan untuk minum dari pokok anggurnya, berarti minum dari Bachuss
itu sendiri dan barang siapa minum darinya maka dia akan dahaga untuk
selama-lamanya, kuat di dalam segala sesuatunya bersama rembulan yang
memberikan kemudaan dan kekuatan kekal selamanya."
Sesaat kemudian kuberikan hadiah terbesar dan suci yang dapat
kuberikan pada manusia fana. Sesuatu yang paling berharga yang dimiliki
kaum Bachae (vampire). Itu adalah kelahiran kembali dalam keabadian
tubuh dan kekekalan rasa dahaga akan pokok anggur abadi yang juga
mengalir dalam darah setiap manusia fana. Air mataku mengalir penuh
kebahagiaan dan sejuta kelegaan ketika Dara perlahan bangkit dari
kematiannya dan pertama kali menghirup udara keabadian di bawah sinar
rembulan.
Matanya terbuka dan menatapku penuh kasih. Bibirnya tersenyum dan mulutnya terbuka lalu berkata, "Aku haus."
Aku dan Ruffus saling menggenggam tangan erat sambil mendengungkan doa suci kaum Bachae.
"Occulta in nocte lassa lacrima veniet.. Spectans intactus sed mox
intabescam dolore nocente.. Possem purgari perustus sensemque
extrahere.. Ad me amoris umbra ambulat.."
Ruffus kemudian menyanyikannya sekali lagi dengan irama khas kaum
Nosferatian ketika aku menggandeng Dara meluncur turun dari bubungan
rumah itu. Doa itu seolah memberikan sayap-sayap baru bagi Dara.
Menumbuhkan kekuatannya untuk mengarungi kehidupan abadi sebagai
seorang Bacchae. Bagiku, doa itu pertanda babak baru hidupku sudah
dimulai. Aku bukan lagi seorang Lestatian yang kesepian karena kini aku
memiliki belahan hati yang abadi.
Sebentar lagi Dara harus segera pergi untuk mendapatkan bimbingan
dari Ruffus. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menikmati saat-saat
bersamanya pertama kali dengan mengajarinya cara hidup yang utama dan
paling mendasar bagi kaum Lestatian, yaitu memuaskan dahaga dan hasrat.
Semuanya terjadi dalam suatu drama di malam panjang, suatu akhir dari
pencarianku dan juga awal dari babak baru dalam hidupku. Semuanya
terjadi di bawah langit yang haus darah.. Supter Cruentus Divum. TAMAT
| Title | Author | Views |
| Panti Pijat Plus |
Adik Hakim |
44,859 |
| Berawal dari Mengintip |
Joko Susilo |
41,521 |
| Pijat Gairah |
duamilk@yahoo.com |
41,509 |
| Maaf Bu..., Maaf! 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
40,419 |
| Maaf Bu..., Maaf! 02 |
mh_asnawi@hotmail.com |
36,265 |
| Gara-gara Ditilang Polwan 01 |
SonKen@Lovemail.com |
29,314 |
| Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh |
abdurohmany@yahoo.com |
28,733 |
| Tetanggaku |
Agus Sumitro |
28,116 |
| Terapi Nikmat |
M. Hakim |
26,289 |
| Misteri Sebuah Lubang |
penis_besar2001@yahoo.com |
24,478 |
| Aku Malu Kalau Dibegitukan - 1 |
lick_tickle@yahoo.com |
24,396 |
| Pengalaman Pertamaku dengan Nina |
a.pujakesuma@gmail.com |
24,228 |
| Pemijat Submissive |
ilba_w@yahoo.com |
23,224 |
| Ilmu Pelet Tingkat Tinggi - 1 |
rudiono_2004@yahoo.com |
21,890 |
| Pengalamanku Di KKN |
Putra Hakim |
21,615 |
|
|
|
|
|
|
|