|
|
Dari Bagian 1 Setiap ada kesempatan, sejak saat itu aku selalu berpesta pora dengan
baju-baju kotor penghuni kos Dudi, aku benar-benar ketagihan dengan bau
memek Mbak-Mbak itu, bau khas ketiak masing-masing, bau apek keringat
baju dalam setelah seharian kerja. Untuk anak seusiaku yang baru tumbuh
pesat gelora nafsu sexnya, mungkin aku merasa beruntung karena dengan
bayanganku sudah bisa membaui, menjilati, menciumi seluruh tubuh bahkan
sampai ke liang-liang vagina gadis-gadis cantik itu.
Tidak jarang karena kesempatan di rumah Dudi terbatas, maka aku
membawa pulang sepotong dua potong celana dalam dari keranjang baju
kotor itu ke rumah, kugantikan celana dalamku dengan celana dalam
wanita 'pinjamanku', rasanya lebih nyaman dan menggairahkan hidupku
saat kupakai.
Sebelum aku membawa pulang salah satu celana dalam Mbak-Mbak cantik
calon 'korbanku', terlebih dahulu aku harus mengetahui jadwal mencuci
mereka, sehingga bila jadwal mencuci mereka Minggu, maka aku dengan
bebas 'meminjam celana dalam itu' sebelum hari Minggu. Tetapi meskipun
jarang sekali, ada juga yang tiba-tiba mengubah jadwal mencucinya
sehingga aku kelimpungan juga saat akan mengembalikan celana dalam itu,
waktu kuambil dari keranjangnya masih terlihat bertumpuk baju kotor
lainnya, saat kukembalikan terlihat kosong. Aduh! Pasti dia
mencari-cari dong! Aku takut kalau dia merasa kehilangan lantas
mengamankan keranjang baju kotornya dengan mengunci di dalam kamar,
sial bener kan?
Untunglah mereka kelihatannya tidak terlalu peduli, apalagi kalau
koleksi celana dalamnya mirip-mirip gitu, aku bisa mengembalikan di
jadwal mencuci minggu depannya. Tapi aku tetap harus hati-hati kan?
Yang paling mengasyikan adalah bila ada salah satu penghuni kos yang
akan pindah keluar, maka bisa dipastikan celana dalam kotornya akan
kusikat untuk kenang-kenangan, so informasi dari Dudi sangat membantuku
mengetahui siapa saja yang akan pindah kos.
Setelah koleksiku ada belasan dan aku sudah hampir lulus SMP,
kebiasaanku mengoleksi celana dalam kuhilangkan, takut ketahuan ibuku,
apalagi Ibuku saat aku semakin dewasa semakin rajin menggeledah
kamarku, ah malas kalo tiap hari perasaan ini menjadi was-was terus,
lagipula celana dalam Mbak Lina, Mbak Dian, dan lainnya sudah berkurang
kekuatan 'magis'nya untuk meletupkan birahiku. Apa mungkin bau spermaku
yang mendominasi ya? Aku lebih suka 'pinjam' saja, meskipun kisah
selanjutnya di bawah ini kadang menjadikanku harus merasa jadi seperti
'pencuri'.
*****
Saat ini, aku sudah duduk di bangku kuliah, kenangan saat remaja
itu kambuh lagi, tentu dengan pengetahuan dan fantasi yang jauh lebih
lengkap, sekarang bila aku mendapatkan celana dalam kotor, tak akan
kucoba untuk memakainya (jarang, habis celana dalam sekarang
mungil-mungil takut sobek, sedang badanku sekarang 3 kali lipat lebih
besar daripada yang dulu, begitu juga kontolku, haha).
Kugenggam erat dan kulipat sedemikian rupa hingga seluruh celana
dalam itu tertutup rapat dalam genggaman tanganku, aku merasa
menguasainya dengan sempurna, semakin lembut bahan pembuatnya semakin
kecil pula remasan yang bisa dilakukan. Setelah itu kuhirup seluruh
aroma keringat mulai dari karet-karet berenda yang melingkar di antara
lekuk pinggang wanita sampai pada lipatan paha yang biasanya basah oleh
keringat itu, kemudian baru kuciumi seluruh permukaan bagian bawah
celana dalam itu yang biasanya sedikit menyisakan lendir tipis
menyegarkan, dan terakhir kujilati dengan rakus bagian selangkangan
dengan sesekali menghirup udara sedalam mungkin untuk menangkap aroma
kewanitaan yang ditinggalkan oleh si empunya celana dalam itu.
Kukocok dengan perlahan kontolku yang semakin mengeras dan
kuusap-usapkan pada seluruh bagian celana dalam itu sambil merasakan
kelembutannya. Sementara bila aku ada kesempatan untuk mendapatkan
lebih dari satu celana dalam, maka yang satunya kusarungkan di kepalaku
dengan bagian memek di dekat hidung, agar aroma yang mendebarkan itu
memberikan rasa horny yang luar biasa, sesaat bila kocokanku semakin
cepat maka kulepas celana dalam di kepalaku dan kunikmati lendir-lendir
lezat yang ada di sekitar penutup memek itu dengan hirupan-hirupan
'maut'.
Saat pikiranku mulai memasuki zona nikmat, maka yang ada di benakku
adalah jeritan pemilik celana dalam itu yang begitu terengah-engahnya
melawan rasa nikmat saat lidahku mulai menjalari seluruh vaginanya
meninggalkan ludah yang berceceran membasahi rambut-rambut kemaluannya,
sehingga tampak segar menggairahkan. Kusedot dengan irama indah itilnya
yang mulai mencuat dengan kelembutan yang perkasa.
*****
"Oh oh Tanto, benamkan seluruh wajahmu ke dalam selangkanganku!"
teriak Shinta si pemilik celana dalam warna kuning motif kupu-kupu itu
dengan memelas.
"Hirup dan jilat semua lendir yang keluar dari memekku ini tanpa
tersisa sayangku, ahk ahk", ceracaunya menahan orgasme yang
menyerangnya bertubi-tubi.
Sementara Ika pemilik celana dalam mungil warna hijau, dengan motif komik bocah bandel 'Shin Chan' mulai menyemangatiku..
"Sayang, ah betapa nikmat kontolmu mengaduk-aduk memekku yang
mungil ini, ssh terus honey.. Ssh jangan berhenti cintaku.. Ohh oh".
Badan Ika terguncang-guncang keras naik ke atas dan ke bawah. Ika
dengan postur tubuhnya yang mungil membuat seakan memeknya tertancap
sesak di kontolku yang begitu besar, sehingga badannya terombang-ambing
mengikuti irama sodokan kontolku yang menyerang memeknya tak
henti-henti, lantas aku menyuruhnya untuk merangkul erat pinggangku
sambil mengulum dan menjilati puting susuku agar mulutnya yang juga
mungil itu sedikit teredam mengaduh nikmat. Kecupan liar Ika membuat
dadaku seolah ditato warna merah tua bergambar bibir mungil. Setelah
berpacu dalam nafsu beberapa lama, maka aku mulai merasakan desakan
nikmat dari kontolku..
"Aah, manisku aku mau keluar nih!" teriakku histeris.
"Akh, kita juga sayang!" teriak mereka parau, mungkin otak yang
mengatur suara mereka sepertinya konslet tak terkontrol karena
keenakan.
Mereka mencaci, mencakar, menggigit dengan binal saat mencapai puncak kenikmatan..
"Setan kamu, sayangku, oh habiskan cepat! Minum kencingku juga
lendirku, ahk oh oh akh!", umpat Shinta sambil menjambak rambut dan
membenam-benamkan dengan kasar kepalaku ke dalam selangkangannya yang
terbuka lebar penuh bulu itu.
"Aduh! Aduh! Sakit tau nggak! Kontol Kakak brengsek tapi enak!"
Kepala Ika dengan wajah imut menggemaskan tengadah ke atas sambil
meringis sakit karena kontolku yang besar itu menghunjam tanpa ampun
mengisi seluruh liang vaginanya yang masih perawan sampai
sedalam-dalamnya sambil menyemburkan semprotan-semprotan peju hangat
yang memenuhi rahimnya, rasa nikmat amat sangat saat orgasme
mengalahkan nyeri koyaknya keperawanan Ika.
Aku menekan sekuat tenaga pantatku supaya hunjaman kontolku
benar-benar sempurna mentok ke dalam vagina Ika yang sudah kepayahan
sambil terus menahan pundak Ika agar badannya tidak terangkat ke atas
seiring dengan hujaman terakhir kontolku yang menyemburkan sperma
penghabisan.
Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya erangan kami dan napas
yang masih tersengal-sengal, bau keringat, peju, pipis, memek berbaur
menjadi satu.
*****
Ahh, nikmatnya! Surut sudah fantasiku, kontolku melemas bahagia,
samar celana dalam Ika yang baru lulus bangku SMP itu tergolek seolah
tak berdaya di dekat selangkanganku dengan lelehan cairan putih kental
spermaku membasahi seluruh bagian bawah celana dalam itu. Sementara
celana dalam kotor Shinta yang berpantat padat lagi indah itu, masih
terjejal di mulutku.
Aku mencuri celana dalam wanita itu dari dalam tas mereka, saat
Shinta adik tingkatku yang menjadi kakak pembina pramuka dengan salah
satu binaannya bernama Ika, menitipkan tas mereka di mobilku karena
Shinta harus mencari penjemput Ika yang terlambat datang. Mereka baru
saja menyelesaikan acara perkemahan selama 3 hari di samping kampusku.
Pada saat mengambil dari dalam tasnya, sebenarnya aku hanya ingin
menciumi celana dalam kotor Shinta dan Ika, yang aku yakin aromanya
pasti sungguh kuat menggairahkan, karena dengan jadwal perkemahan yang
padat pastilah mereka enggan menganti celana dalam dan bra, belum lagi
resapan keringat aktif mereka, ahh kebayang nggak sih? Mmh.. Sungguh
sedap.
ALAMAK! Sungguh kaget aku, saat Shinta dan Ika tiba-tiba mengambil
tasnya yang datang dari arah belakang, aku pikir mereka masih lama
mencari penjemput Ika, untung branya masih urung aku ambil juga, apa
jadinya saat kutarik bra itu lantas tas itu tiba-tiba diambil oleh
pemiliknya, idih malu amit!
Akhirnya celana dalam yang telanjur aku ambil dan kusembunyikan di
kantong belakang kursi mobil kubawa pulang, so meledaklah fantasiku
seperti cerita di atas saat aku berada di dalam kamarku. Aku hanya
berharap mereka tidak merasa kehilangan satu benda keramat mereka.
Shinta dan Ika yang kutahu adalah anak orang kaya, so mereka pasti
punya pembantu dong, jadinya saat pakaian kotor itu dibongkar dari tas
mereka, tanpa sempat mereka lihat lagi, perkiraanku langsung diusung
oleh pembantunya, nah karena tidak mencuci sendiri, mudah-mudahan
mereka tidak tahu kalau ada yang hilang, apalagi cuma sebuah celana
dalam. Ah bodo ah! Aku sudah jadi maling, maling celana dalam wanita.
Dan setiap saat bila ada kesempatan maka aku bisa jadi "calon" pencuri
lagi bila gagal mengembalikan 'daleman' wanita yang (sedianya) hanya
aku pinjam.
Sebelum aku mengenal dunia internet, aku merasa menjadi orang
'antik' dengan kebiasaanku, tetapi ternyata di internet celana dalam
kotor saja diperdagangkan bebas, ada komunitasnya lagi, sehingga aku
sekarang tidak 'terlalu' merasa lain sendiri, ternyata banyak juga
pelaku seks menyimpang seperti yang kualami dan dialami juga oleh orang
lain, bahkan lebih parah.
Bolehkah saya mengusulkan kepada para pembaca untuk membuat
komunitas kaum fetish? Hanya untuk sekedar bertukar cerita atau bahkan
mungkin bisa saling bertukar koleksi, rasanya nyaman bila aku bisa
berdiskusi dengan sesama penyuka 'daleman' bekas pakai baik yang kelas
ringan maupun kelas berat.
Ketertutupan 'penyuka daleman' (fetish) ini di negara kita memang
menghambat komunikasi antar kaum fetish, sebagai awalan saya akan
membuat milis bagi kaum fetish yang terbuka juga untuk umum yang ingin
lebih memahami tentang kita, biar masyarakat lebih paham akan
penyimpangan kita dan tidak menjadikan itu sebagai suatu keresahan
tetapi justru kemakluman, di situ kita bisa bicara apa saja mulai dari
kisah kita sendiri sampai dengan informasi apa dan siapa saja, Mbak,
adik atau tante yang bersedia menjual celana dalam bekas pakainya atau
apa saja yang diburu penikmat fantasi seksual ini.
Kalau mau gabung milis kirim saja email kosong ke celdambekas-subscribe@yahoogroups.com dan setelah terima balasan, reply lagi dengan email kosong ke alamat tersebut.
Daripada nyolong lantas digebuki seperti di berita koran, eh
ternyata celana dalam doang yang dicolong! Nggak keren amat! ;-D Ah..
Jangan sampai deh.. E N D
| Title | Author | Views |
| Nikmatnya Mengintip |
Prostitusi |
108,807 |
| Nikmatnya Ngocok Bareng |
M. Hakim |
61,761 |
| Sum, Pembantuku yang Lugu 01 |
budi_hertanto@yahoo.com |
48,249 |
| Pengalaman Pertama Bermasturbasi |
Jayus |
46,814 |
| Kenikmatan Jepitan 'Susu' Lydia |
Otong |
44,520 |
| sex solo masturbasi |
Joko Susilo |
41,518 |
| Sum, Pembantuku yang Lugu 02 |
budi_hertanto@yahoo.com |
39,739 |
| Aku Menjadi Obyek Masturbasi |
Rintang Bramantya |
35,784 |
| Vita: Masturbasi Pertamaku |
Wika Erlangga |
35,403 |
| Aku, Celana Dalam dan Bra |
Herman AB |
34,256 |
| Pengalamanku Beronani |
Kuntilanak |
29,969 |
| Mandi Nikmat |
Kuntilanak |
29,563 |
| Self Service |
vagina2000id@yahoo.com |
29,291 |
| Pijatan Mbak Tun |
David Sebua |
28,138 |
| Celahku Onaniku |
Joko Susilo |
26,076 |
|
|
|
|
|
|
|