|
|
Bripda Handayani, 20 tahun, adalah seorang
anggota Bintara Polwan yang baru dilantik beberapa bulan yang lalu.
Handayani atau sering dipanggil Yani itu memiliki wajah yang cukup
cantik, berkulit putih dengan bibir yang merah merekah, tubuhnya
kelihatan agak berisi dan sekal. Orang-orang di sekitarnya pun menilai
wajahnya mirip dengan artis Desy Ratnasari.
Banyak orang menyayangkan dirinya yang lebih memilih profesi
sebagai seorang polisi wanita daripada menjadi artis atau seorang foto
model. Maklumlah, dengan penampilannya yang cantik itu Handayani
memiliki modal yang cukup untuk berprofesi sebagai seorang foto model
atau artis sinetron.
Tinggi badannya 168 cm dan ukuran bra 36B, membuat penampilannya
makin menggairahkan, apalagi ketika ia mengenakan baju seragam dinas
Polwan dengan baju dan rok seragam coklatnya yang berukuran ketat
sampai-sampai garis celana dalamnya pun terlihat jelas menembus dan
menghias kedua buah pantatnya yang sekal. Karena ukuran roknya yang
ketat, sehingga saat ia berjalan goyangan pantatnya terlihat aduhai.
Semua pria yang berpikiran nakal pastilah ingin mencicipi tubuhnya.
Pada suatu malam sehabis lembur, sekitar jam 10 malam ia berjalan
sendirian meninggalkan kantor untuk pulang menuju ke mess yang
kebetulan hanya berjarak sekitar 600 meter dari Markas Polda tempatnya
berdinas. Dia merasakan badannya amat lelah akibat seharian kerja
ditambah lembur tadi, sekujur tubuhnya pun terasa lengket-lengket
karena keringat yang juga membasahi seragam dinas yang dikenakannya.
Dengan berjalan agak lambat, kini tibalah Handayani pada sebuah
jalan pintas menuju ke mess yang kini tinggal berjarak 100 meter itu,
namun jalan tersebut agak sunyi dan gelap. Tiba-tiba tanpa disadarinya,
sebuah mobil Kijang berkaca gelap memotong jalan dan berhenti di
depannya. Belum lagi hilang rasa kagetnya, sekonyong-konyong keluar
seorang pemuda berbadan kekar dari pintu belakang dan langsung menyeret
Bripda Handayani yang tidak sempat memberikan perlawanan itu masuk ke
dalam mobil tersebut, dan mobil itu kemudian langsung tancap gas
dalam-dalam meninggalkan lokasi.
Di dalam mobil tersebut ada empat orang pria. Bripda Handayani
diancam untuk tidak berteriak dan bertindak macam-macam, sementara
mobil terus melaju dengan cepat. Handayani yang masih
terbengong-bengong pun didudukkan di bagian tengah, diapit 2 orang
pria. Sementara mobil melaju, mereka berusaha meremas-remas pahanya.
Tangan kedua lelaki tersebut mulai bergantian mengusap-usap kedua paha
mulus Handayani.
Naluri polisi Handayani kini bangkit dan berontak. Namun belum lagi
berbuat banyak, tiba-tiba lelaki yang duduk di belakangnya memukul
kepala Handayani beberapa kali hingga akhirnya Handayani pun mengakhiri
perlawanannya dan pingsan.
Kedua tangan Bripda Handayani diikat ke belakang dengan tali
tambang hingga dadanya yang montok dan masih dilapisi seragam Polwan
itu mencuat ke depan. Sementara itu selama dalam perjalanan kedua orang
pria yang mengapitnya itu memanfaatkan kesempatan dengan bernafsu
menyingkap rok seragamnya Handayani sampai sepinggang. Setelah itu
kedua belah kakinya dibentangkan lebar-labar ke kiri dan kanan sampai
akhirnya tangan-tangan nakal kedua lelaki tersebut dengan leluasa
menyeruak ke dalam celana dalam Handayani, kemudian dengan bernafsu
mengusap-ngusap kemaluan Bripda Handayani.
Akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah besar yang sudah lama
tidak ditempati di suatu daerah sepi. Mobil langsung masuk ke dalam dan
garasi langsung ditutup rapat-rapat. Kemudian Handayani yang masih
pingsan itu langsung digotong oleh dua orang yang tadi mengapitnya
masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah tersebut kelihatan sekali tidak
terawat dan kosong, namun di tengah-tengahnya terdapat satu sofa besar
yang telah lusuh.
Ternyata di sana sudah menunggu kurang lebih sekitar lima orang
pria lagi, jadi total di sana ada sekitar sembilan orang lelaki. Mereka
semua berperangai sangar, badan mereka rata-rata dipenuhi oleh tatto
dan lusuh tidak terawat, sepertinya mereka jarang mandi.
Bripda Handayani kemudian didudukkan di sebuah kursi sofa panjang di antara mereka.
"Waw betapa cantiknya Polwan ini." guman beberapa lelaki yang
menyambut kedatangan rombongan penculik itu sambil memandangi tubuh
lunglai Handayani.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berujar memerintah, "Jon.., ambilin air..!"
Seseorang bernama Joni segera keluar ruangan dan tidak lama kemudian masuk dengan seember air.
"Ini Frans..," ujar Joni.
Frans yang berbadan tegap dan berambut gondrong itu berdiri dan menyiramkan air pelan-pelan ke wajah Bripda Handayani.
Beberapa saat kemudian, ketika sadar Polwan cantik itu terlihat
sangat terkejut melihat suasana di depannya, "Kamu.." katanya seraya
menggerakkan tubuhnya, dan dia sadar kalau tangannya terikat erat.
Kali ini Frans tersenyum, senyum kemenangan.
"Mau apa kamu..!" Bripda Handayani bertanya setengah menghardik kepada Frans.
"Jangan macam-macam ya, saya anggota polisi..!" lanjutnya lagi.
Frans hanya tersenyum, "Silakan saja teriak, nggak bakal ada yang dengar kok. Ini rumah jauh dari mana-mana." kata Frans.
"Asal tau aja, begitu urusan gue di Polda waktu itu beres, elo udah jadi incaran gue nomer satu." sambungnya.
Sadar akan posisinya yang terjepit, keputusasaan pun mulai terlihat
di wajah Polwan itu, wajahnya yang cantik sudah mulai terlihat memelas
memohon iba. Namun kebencian di hati Frans masih belum padam,
terlebih-lebih dia masih ingat ketika Bripda Handayani membekuknya saat
dia beraksi melakukan pencopetan di dalam sebuah pasar. Namun karena
bukti yang kurang, saat diproses di Polda Frans pun akhirnya
dibebaskan. Hal inilah yang membuat Frans mendendam dan bertindak nekat
seperti ini.
Memang di kalangan dunia kriminal nama Frans cukup terkenal. Pria
yang berusia 40-an tahun itu sering keluar masuk penjara lantaran
berbagai tindak kriminal yang telah dibuatnya. Tindakannya seperti
mencopet di pasar, merampok pengusaha, membunuh sesama penjahat.
Kejahatan terakhir yang belum semat terlacak oleh polisi yang dia
lakukan beberapa hari yang lalu adalah merampok dan memperkosa
korbannya, yaitu seorang ibu muda yang berusia sekitar 25 tahun, istri
dari seorang pengusaha muda yang kaya raya. Ibu itu sendirian di
rumahnya yang besar dan mewah karena ditinggal suaminya untuk urusan
bisnis di Singapura.
"Ampun Mas, maafkan aku, aku waktu itu terpaksa bersikap begitu." katanya seolah membela diri.
"Ha.. ha.. ha.." Frans tertawa lepas dan serentak lelaki yang
lainnya pun ikut tertawa sambil mengejek Bripda Handayani yang duduk
terkulai lemas.
"Hei Polwan goblok, gue ini kepala preman sini tau! Elo nangkep
gue sama aja bunuh diri!" ujar Frans sambil mengelus-elus dagunya.
"Sekarang elo musti bayar mahal atas tindakan elo itu, dan gue mau kasih elo pelajaran supaya elo tau siapa gue." sambungnya.
Bripda Handayani pun tertunduk lemas seolah dia menyesali tindakan
yang telah diambilnya dulu, airmatanya pun mulai berlinang membasahi
wajahnya yang cantik itu.
Tiba-tiba, "BUKK.." sebuah pukulan telak menghantam pipi kanannya,
membuat tubuh Handayani terlontar ke belakang seraya menjerit. Seorang
lelaki berkepala botak telah menghajar pipinya, dan "BUKK" sekali lagi
sebuah pukulan dari si botak menghantam perut Handayani dan membuat
badannya meringkuk menahan rasa sakit di perutnya.
"Aduh.., ampun Bang.. ampunn..," ujar Handayani dengan suara melemah dan memelas.
Frans sambil melepaskan baju yang dikenakannya berjalan mendekati
Handayani, badannya yang hitam dan kekar itu semakin terlihat seram
dengan banyaknya tatto yang menghiasi sekujur badannya.
"Udah Yon, sekarang gue mau action." ujar Frans sambil mendorong Yonas si kepala Botak yang menghajar Handayani tadi.
Tidak perduli dengan pembelaan diri Handayani, Frans dengan
kasarnya menyingkapkan rok seragam Polwan Handayani ke atas hingga
kedua paha mulus Handayani terlihat jelas, juga celana dalam putihnya.
Handayani menatap Frans dengan ketakutan, "Jangan, jangan Mas.."
ucapnya memelas seakan tahu hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya.
Kemudian, dengan kasar ditariknya celana dalam Handayani sehingga
bagian bawah tubuh Handayani telanjang. Kini terlihat gundukan kemaluan
Handayani yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tidak begitu lebat,
sementara itu Handayani menangis terisak-isak.
Para lelaki yang berada di sekitar Frans itu pun pada terdiam
melongo melihat indahnya kemaluan Polwan itu. Untuk sementara ini
mereka hanya dapat melihat ketua mereka mengerjai sang Polwan itu untuk
melampiaskan dendamnya. Kini Frans memposisikan kepalanya tepat di
hadapan selangkangan Handayani yang nampak mengeliat-geliat ketakutan.
Tanpa membuang waktu, direntangkannya kedua kaki Handayani hingga
selangkangannya agak sedikit terbuka, dan setelah itu dilumatnya
kemaluan Handayani dengan bibir Frans.
Dengan rakus bibir dan lidah Frans mengulum, menjilat-jilat lubang
vagina Handayani. Badan Handayani pun menggeliat-geliat kerenanya,
matanya terpejam, keringat mulai banjir membasahi baju seragam
Polwannya, dan rintihan-rintihannya pun mulai keluar dari bibirnya
akibat ganasnya serangan bibir Frans di kemaluannya, "Iihh.. iihh..
hhmmh.."
Tidak tahan melihat itu, Joni dan seorang yang bernama Fredi yang
berdiri di samping langsung meremas-meremas payudara Handayani yang
masih terbungkus seragam itu. Bripda Handayani sesekali nampak berusaha
meronta, namun hal itu semakin meningkatkan nafsu Frans. Jari-jari
Frans juga meraba secara liar daerah liang kemaluan yang telah banjir
oleh cairan kewanitaannya dan air liur Frans. Jari telunjuknya mengorek
dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencoba
menusuk-nusuk.
"Aakkh.. Ooughh.." Bripda Handayani semakin keras mengerang-ngerang.
Setelah puas dengan selangkangan Handayani, kini Frans bergeser ke
atas ke arah wajah Handayani. Dan kini giliran bibir merah Handayani
yang dilumat oleh bibir Frans. Sama ketika melumat kemaluan Handayani,
kini bibir Handayani pun dilumat dengan rakusnya, dicium, dikulum dan
memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Handayani.
"Hmmph.. mmph.. hhmmp.." Handayani hanya dapat memejamkan mata dan
mendesah-desah karena mulutnya terus diserbu oleh bibir Frans.
Bunyi decakan dan kecupan semakin keras terdengar, air liur mereka
pun meleleh menetes-netes. Sesekali Frans menjilat-jilat dan
menghisap-hisap leher jenjang Handayani.
"It's showtime..!" teriak Frans yang disambut oleh kegembiraan teman-temannya.
Kini Frans yang telah puas berciuman berdiri di hadapan Bripda
Handayani yang napasnya terengah-engah akibat gempuran Frans tadi,
matanya masih terpejam dan kepalanya menoleh ke kiri seolah membuang
wajah dari pandangan Frans. Frans pun membuka celana jeans lusuhnya
hingga akhirnya telanjang bulat. Kemaluannya yang berukuran besar telah
berdiri tegak mengacung siap menelan mangsa.
Kini Frans meluruskan posisi tubuh Handayani dan merentangkan
kembali kedua kakinya hingga selangkangannya terkuak sedikit kemudian
mengangkat kedua kaki itu serta menekuk hingga bagian paha kedua kaki
itu menempel di dada Handayani. Hingga kemaluan Handayani yang berwarna
kemerahan itu kini menganga seolah siap menerima serangan. Tangis
Handayani semakin keras, badannya terasa gemetaran, dia tahu akan
apa-apa yang segera terjadi pada dirinya.
Frans pun mulai menindih tubuh Handayani, tangan kanannya menahan
kaki Handayani, sementara tangan kirinya memegangi batang kemaluannya
membimbing mengarahkan ke lubang vagina Handayani yang telah menganga.
"Ouuhh.. aah.. ampuunn.. Mass..!" rintih Handayani.
Badan Handayani menegang keras saat dirasakan olehnya sebuah benda
keras dan tumpul berusaha melesak masuk ke dalam lubang vaginanya.
"Aaakkh..!" Handayani mejerit keras, matanya mendelik, badannya
mengejang keras saat Frans dengan kasarnya menghujamkan batang
kemaluannya ke dalam lubang vagina Handayani dan melesakkan secara
perlahan ke dalam lubang vagina Handayani yang masih kencang dan rapat
itu.
Keringat pun kembali membasahi seragam Polwan yang masih
dikenakannya itu. Badannya semakin menegang dan mengejan keras disertai
lolongan ketika kemaluan Frans berhasil menembus selaput dara yang
menjadi kehormatan para gadis itu.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
398,050 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
282,074 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
268,128 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
210,424 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
209,554 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
185,361 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
167,983 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
130,374 |
| Ranjang Yang Ternoda “Dalam Pelukan Pria Tua” |
M. Hakim |
91,977 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
91,126 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
86,390 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
82,428 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
81,927 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
78,550 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
74,177 |
|
|
|
|
|
|
|