|
|
Sepulang dari Pak S, majikanku yang pertama,
hampir enam bulan nganggur di desa. Lama-lama aku merasa tak betah.
Selain karena dikejar-kejar untuk segera menikah aku juga tidak
memiliki kesibukan selain membantu ortu di ladang atau masak. Rasanya
tidak ada seorang pun pemuda desaku yang menarik hati. Kalau nikah
dengan mereka, pasti masa depanku tak jauh beda dengan ibuku. Aku tidak
berminat. "Aku harus lebih maju dari mereka!" tekadku.
Maka aku segera cari lowongan kerja di koran. Namun dengan ijazahku
yang hanya SLTP lowongan yang sesuai hanya prt (pembantu rumah tangga).
Setelah pamit dan berbekal tekad menggebu akupun menuju ke alamat salah
satu pemasang iklan yang tinggalnya di kota terdekat dengan desaku.
Rumah itu besar. Kupijit bel di gerbang dan keluarlah wanita 40
tahunan. Yang membuatku agak terkejut, ternyata ia berwajah seperti
bintang film india yang sering kulihat di teve. Ada tanda titik di
dahinya.
"Benar di sini cari PRT, bu?" tanyaku.
"Benar, dik."
"Saya mau melamar, bu," sambungku. Ia mengamatiku sebentar.
"Mari masuk dulu, dik," ajaknya.
"Namamu siapa? Kamu dari mana?" tanyanya. Akupun menjelaskan diriku
apa adanya, kecuali tentu saja pengalamanku dua tahun menjadi prt Pak
S.
"Baik, kamu saya terima, Nul. Dengan gaji 300 ribu sebulan, tapi
kamu harus menjalani masa percobaan sebulan. Kalau tidak ada masalah
akan saya pakai terus. Bagaimana?" katanya. Akupun langsung mengangguk,
soalnya gaji 300 ribu buat seorang prt sangat tinggi menurutku. Dulu
dengan Pak S pun aku hanya digaji 200 ribu, tentu saja di luar "tips
(baik berupa uang maupun barang)" yang kuterima karena pelayanan
seksku.
Kamarku di bagian belakang. Setelah istirahat sejenak, akupun mulai
membantu pekerjaan ibu tadi yang namanya ternyata Kumari, seorang
keturunan India. Menurutnya ia tinggal di situ bersama suami dan 2 anak
laki-lakinya yang buka toko konveksi. Seminggu bekerja di situ, aku
mulai mengenal anggota keluarganya. Suami Bu Kumari bernama Pak Anand,
dan dua anaknya laki-laki Vijay dan Kumar. Kalau melihat mereka sekilas
aku jadi ingat artis Syahrukh Khan. Ganteng dengan tubuh tinggi tegap
atletis dengan bulu-bulu di dadanya. Orang India memang terkenal cantik
dan ganteng. Akupun semakin suka pada keluarga itu karena mereka
ternyata ramah. Bahkan tak jarang aku diajaknya makan malam bersama
semeja.
"Minumlah ini madu India, supaya kamu gak gampang cape," ajak Bu
Kumari pada suatu acara makan malam bersama sambil memberiku segelas
minuman berwarna kuning emas. Aku ragu-ragu menerimanya. Sementara
anggota keluarga lain sudah mengambil segelas masing-masing.
"Ini memang minuman simpanan kami, Nul. Tidak boleh terlalu sering
diminum, malah tidak baik. Dua minggu sekali cukuplah soalnya
pengaruhnya luar biasa.. ha.. ha.. ha..!" Sahut Pak Anand disambut tawa
Vijay dan Kumar.
"Kamu akan rasakan khasiatnya nanti malam, Nul," sambung Vijay
tanpa kuketahui maksudnya. Lagi-lagi disambut tawa mereka sambil
masing-masing mulai minum, kecuali Bu Kumari. Akupun pelan-pelan
mencicipnya. Ada rasa manis dan masamnya. Memang seperti madu, tapi
setelah minum beberapa teguk aku juga merasakan badanku hangat malah
agak panas. Semua menghabiskan minumannya, maka akupun juga berbuat
demikian. Baru setelah itu kami makan malam.
"Tidurlah kalau kau cape, Nul," perintah Bu Kumari setelah kami
selesai cuci piring jam 8 malam. Tidak biasanya aku tidur sepagi itu,
tapi entah kenapa aku merasa mataku berat dan perutku panas. Aku masuk
kamar dan rebahkan diri. Tapi rasa panas di perutku ternyata malah
menjadi-jadi dan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku tak tahan untuk tidak
meremas payudaraku mengurangi rasa panas itu. Kemudian juga
meremas-remas seluruh tubuh sampai seputar bawah pusar dan pahaku.
Ingatanku segera melayang pada remasan-remasan Pak S. Sudah cukup lama
aku tak bersetubuh dengan laki-laki itu, apakah sekarang ini tubuhku
sedang menuntut? Gawat, pikirku, kalau benar itu terjadi. Selama ini
aku hanya melakukan hubungan seks aman dengan Pak S. Belum pernah
dengan pria lain. Belum habis pikiranku berkecamuk mendadak pintu
kamarku terbuka dan masuklah Pak Anand. Buru-buru aku menghentikan
kegiatan tanganku.
"Kamu kelihatan sakit, Nul?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjangku.
"Eng.. eng.. tidak, pak," sahutku pelan. Tapi Pak Anand segera tempelkan telapak tangan di dahiku.
"Benar, Nul, tubuhmu panas sekali. Kamu harus segera diobati. Cepat
telungkup, biar kupijat sebentar untuk menurunkan panasmu. Jelek-jelek
begini aku pintar mijat lo.." perintahnya. Dan, mungkin karena aku
merasa perlakuannya seperti ortu pada anaknya maka aku menurut. Aku
tengkurap dan sebentar kemudian kurasakan pantatku dinaikinya dan
punggungku mulai dipijat-pijatnya. Tidak sebatas punggung, tapi
tangannya juga ke arah pundak, leher, pinggang malah bergeser-geser ke
kiri-kanan hingga kadang menyenggol sisi luar payudaraku. Aku diam
saja, namun setelah aku merasa pantatku juga ditekan-tekan oleh
pantatnya, mulailah aku tak tenang. Pengalaman seksku dengan Pak S
membuatku dapat merasakan manakala pria sedang naik nafsu syahwatnya.
Demikian pula Pak Anand saat itu. Pijatannya tambah berani. Dia mulai
meremasi tetekku dan pantatnya menekanku keras-keras. Aku berontak
namun tak berdaya.
"Pak! Jangan, pak!" seruku sambil berupaya menyingkirkan tubuhnya.
Tapi mana mampu aku melawan tubuh besar kekar itu. Selain itu entah
kenapa aku malah mulai ikut terangsang. Di antara perlakukan Pak Anand
sekilas-sekilas aku juga ingat perlakukan seks Pak S padaku. Uugghh..
aakk.. aakkuu.. malah jadi terangsang. Aku tak berontak lagi ketika
dasterku ditariknya ke atas hingga tinggal beha dan CDku. Aku
ditelentangkannya dengan posisi dia tetap mengangkangiku. Dibukanya
t-shirt yang dipakainya juga piyama tidurnya. Dan.. gila aku melihat
tonjolan besar di balik CD nya dan sejurus kemudian nampaklah si
tongkat penggadanya yang panjang besar sekitar 20 cm dengan diameter 4
cm! Behaku direnggutnya kasar demikian pula CDku. Tubuhku tak melakukan
perlawanan apapun ketika ia menggumuliku habis-habisan. Dan.. bless
langsung aku disodok dan digenjotnya. Aku ingat pengalamanku dengan Pak
S. Ingat bagaimana dia memerawaniku. Persis sama perlakuannya dengan
Pak Anand. Aku tak habis pikir sewaktu pahaku malah menjepit paha Pak
Anand dan.. menyambut gejokannya dengan putaran pinggulku. Syahwatku
ikut terbakar!
Entah berapa lama Pak Anand terus menggenjotku keluar masuk naik
turun sambil mulutnya mengenyut-ngenyut tetekku. Aku hanya bisa
menggeleng-geleng kenikmatan dan kelojotan merasai badai hempasannya
sampai aku tak tahan lagi untuk menahan orgasme. Aku merinding lalu..
Cruut.. suur.. suur.. tubuhku berkejat-kejat menumpahkan mani. Pak
Anand menggasakku lebih keras, tak peduli cairanku memperlicin
jalannya. Mungkin hampir tak terasa karena besar dan panjangnya tetap
mampu memenuhi liang V-ku. Sleebb slebb jlebb jleebb.. bunyi
tusukan-tusukannya. Mungkin sekitar 30 menit telah berlalu ketika aku
orgasme yg kedua kali.. seerr.. seerr.. serr.. klenyer.. kembali aku
terkejat-kejat sampai belasan kali. Sejurus kemudian hentakan Pak Anand
sedemikian keras menekanku. Dalam-dalam gadanya dibenamkan di V-ku lalu
pantatnya berkejut-kejut sampai belasan detik. Lalu diam terbenam. Dia
ejakulasi. Nafas kami tersengal-sengal.
"Kamu hebat, Nul," bisiknya sambil mencium bibirku, "Nanti lagi,
ya," katanya tak kumengerti. Ia bangkit, mengenakan pakaiannya lalu
keluar membiarkanku telentang telanjang di ranjang. Belum habis capeku
digenjot Pak Anand, masuklah Vijay ke kamarku.
"Permainanmu hebat banget, Nul. Aku juga mau dong.." katanya sambil
mulai melepasi pakaiannya sampai bugil. Aku segera menutup tubuhku
dengan selimut, tapi tak berguna karena sesaat kemudian ia sudah
menarik selimutku juga tubuhku ke pelukannya.
"Jangan, Mas Vijay," protesku tak berdaya.
"Tak apa, Nul. Papa bilang kamu sudah tak perawan lagi kan? He he he.."
"Jangan, mas.." tapi suaraku hilang ditelan bibirnya yang melumat
ganas bibirku. Tangannya liar merayapiku sambil mendorongku kembali
terjelepak di ranjang. Ciumannya menjalar menjulur dari bibir semakin
turun. Ke tetekku, putingku, perut, pusar, pubis sampai akhirnya sampai
di V-ku. Menelusup lincah memasuki gua garbaku. Mengobok-obok dalamnya.
Aku kembali teringat permainan Pak S. Namun yang ini lebih gila lagi.
Syahwatku jadi menggelegak mengikuti irama lidah Vijay. Dia memutar
tubuh sampai kami 69, mengangsurkan zakarnya ke mulutku. Gila! Lebih
panjang dan besar dibanding bapaknya. Tanganku tak mampu menggenggamnya
dan mulutku tak mampu menampung seluruhnya. Paling hanya separuh yang
masuk. Maka perlombaan menjilat dan menghisap pun dimulai. Kami saling
memuasi. Rasanya sampai berjam-jam waktu aku merasa harus menumpahkan
maniku dan dijilatinya sampai tandas tuntas. Sementara milik Vijay
masih tegar tegang meski licin oleh ludahku. Kemudian ia memutar
tubuhnya lagi dan menusukkan pentungannya ke memekku yang sudah agak
kering. Preett.. "Iiih sakit, mas..," desisku menggigit bibir dan
memeluk punggungnya karena terasa batangnya masuk begitu dalam sampai
aku kesakitan.
"Sabar, Nul. Sebentar lagi juga nikmat," bisiknya. Kupeluk
punggungnya erat-erat ketika tubuhku terangkat karena sodokannya.
Shlleeb shleeb shleebb.. batang besar itu menumbukku bagaikan alu
menumbuk lesung. Keluar masuk, naik turun, sampai cairan nikmatku
mengalir lagi sehingga rasa sakit pun berkurang. Dan kenikmatanku
bertambah manakala bulu dadanya menggesek-gesek putingku. Pahaku
semakin menganga lebar. Mataku terpejam-pejam menikmati remasan dan
belaian tangan kekarnya di sekujur tubuh.
"Akh.. akhu mau keluar, Nul.." Lalu jreet.. jreet.. jroot.. jrot..
jrut.. pantatnya menyentak-nyentak. Tubuhnya kaku menegang ketika
spermanya menyemprot rahimku sampai basah kuyup. Semprotannya kuat
sekali.
"Akk.. aku bisa hamil, mas," desisku puas karena aku juga orgasme lagi.
"Jangan kuatir, Nul, kami punya obat pencegah hamil," jawabnya
sambil menggulirkan tubuhnya ke sisi. Dan.. belum Vijay turun dari
ranjang, si Kumar sudah ganti menaikiku. Tubuhnya sama atletis dengan
Vijay. Tapi gayanya lebih liar. Begitu Vijay keluar kamar, akupun
diangkatnya supaya menduduki batangnya lalu disuruh menungganginya
kencang-kencang. Tangannya ikut memegangi pinggangku dan melontarkanku
naik turun. Zakarnya juga menyodok ke atas setiap pantatku turun. Gila!
Tubuhku seperti mainan. Tangannya berpindah ke tetekku dan meremasinya
sampai aku mendesis-desis, antara sakit dan nikmat. Hancur rasanya
memekku digempur bapak dan dua anaknya yang batangnya berukuran luar
biasa. Dan.. aku kembali orgasme justru saat tubuhku dilontar ke atas,
sehingga punggungku agak meliuk ke bawah merasakan tersalurnya
syahwatku untuk kesekian kali.
"Sudah, mas, cukup.." pintaku karena kelelahan. Namun Kumar tak menggubris.
"Aku belum cukup, Nul. Kau harus bisa mengeluarkan spermaku baru
aku puas.." Dan lemparannya masih terus berlangsung hingga setengah jam
lagi. Sampai akhirnya dia berhenti lalu tangannya menekan pinggangku
lekat-lekat ke zakarnya, kemudian terasa pantatnya melonjak-lonjak
menyemburkan cairan hangat. Lagi-lagi rahimku disemprot sperma hasil
ejakulasi. Tak terasa sperma bapak dan dua anaknya memenuhi lubang
memekku.
Pintu kamarku terbuka dan masuklah Pak Anand dan Vijay sambil
membawa segelas minuman. Keduanya telanjang. "Minumlah ini, Nul, biar
kamu nggak hamil," Pak Anand menyerahkan gelasnya padaku. Akupun
meminumnya tanpa pikir panjang, karena aku benar-benar takut hamil dan
haus sekali setelah melayani tiga majikan ini berjam-jam. Rasanya
seperti minuman kuning yang tadi kuminum. Badanku jadi hangat lagi
dan.. gairahku bangkit lagi. Aku jadi sadar pasti minuman ini dibubuhi
obat perangsang. Tapi kesadaranku segera hilang ketika merasa tubuhku
ditunggingkan oleh Vijay. Kemudian..
Ya, malam itu secara brutal ketiga orang itu mengerjaiku semalam
suntuk tanpa istirahat sejenakpun. Mereka bergantian menyemprotkan
sperma di rahimku, di perut, wajah, mulut sampai telinga dan rambutku
juga. Aku mandi sperma. Dan entah berapa kali akupun mengalami orgasme
yang selalu mereka telan bergantian. Tak jarang ketiga lubangku mereka
masuki bersama-sama. Lubang mulut, memek dan anusku. Tubuhku jadi ajang
pesta mereka hampir 10 jam lamanya, toh selama itu aku tak merasa
capai. Mungkin gara-gara minuman berkhasiat itu?
Pagi hari Bu Kumari datang dan menyeka tubuhku yang lemas lunglai tak mampu bangun.
"Maaf, Nul. Aku sudah tak mampu melayani suamiku yang hiperseks
sehingga aku mencari orang pengganti," ceritanya. Mataku masih
terkantuk-kantuk karena pengaruh obat perangsang. "Moga-moga kamu betah
disini, dan kami akan bayar berapapun yang kamu minta.." lanjutnya.
"Aa.. apa sudah pernah ada pembantu yang dibeginikan, bu?" tanyaku lirih.
"Sudah, Nul. Tapi kebanyakan hanya bertahan dua hari.. lalu minta
pulang. Aku harap kamu kuat, YNul. Aku akan sediakan obat-obatan
untukmu.. Ini minumlah obat untuk menguatkan dan membersihkan rahimmu,"
dia mengangsurkan sebotol obat yang namanya tak kumengerti karena
berbahasa asing. "Hari ini kamu boleh istirahat seharian," lalu dia
keluar kamar.
Aku pun tertidur lelap. Baru siang hari bangun untuk mandi dan
makan. Bu Kumari melayaniku seperti anaknya sendiri. Kami tak banyak
berbicara. Selesai makan aku kembali ke kamar. Membersihkan ranjang,
mengganti sepreinya yang penuh bercak sperma dan mani. Lalu aku tidur
lagi. Sampai jam makan malam tiba dan aku diundang untuk makan bersama
lagi, dan minum cairan kuning emas itu lagi. Dan..
"Nul, kamu sudah kuat untuk melayani kami lagi nanti malam kan?"
Tanya Pak Anand sambil senyum kepadaku. Aku bingung dan memilih diam.
"Kamu jangan kuatir hamil, Nul. Obat kami sangat mujarab," lanjut Vijay.
"Pokoknya selama di sini, kita mencari kenikmatan bersama Nul," sambung Kumar sambil menyeringai nakal.
Jadilah, akhirnya hampir setiap malam sampai pagi aku melayani
ketiga ayah beranak yang gila seks itu. Untung staminaku, dibantu
obat-obatan pemberian Bu Kumari, cukup kuat untuk menanggung kenikmatan
demi kenikmatan itu. Hingga dua bulan lamanya aku "dikontrak" mereka,
sampai akhirnya mereka mulai bosan dan ingin mencari wanita lain. Aku
diberi banyak uang ketika meninggalkan rumah mereka.
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
398,049 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
282,069 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
268,128 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
210,412 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
209,552 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
185,360 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
167,979 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
130,369 |
| Ranjang Yang Ternoda “Dalam Pelukan Pria Tua” |
M. Hakim |
91,967 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
91,123 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
86,390 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
84,015 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
82,428 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
81,927 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
78,550 |
|
|
|
|
|
|
|