|
|
Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan
pasangan suami-istri muda yang baru tinggal di samping rumahku itu.
Suaminya yang bernama Bram, berusia sekitar 32 tahun, merupakan seorang
pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum. Sedang
istrinya, seorang wanita 23 tahun, bertubuh sintal yang memiliki
sepasang mata membola cantik, raut wajah khas wanita Jawa. Tak beda
jauh dengan suaminya, dia juga terlihat kaku dan tertutup. Tapi watak
itu, agaknya lebih disebabkan oleh sikap pendiam dan pemalunya.
Sehari-harinya, dia selalu mengenakan pakaian kebaya. Latar belakang
kehidupan pedesaan wanita berambut ikal panjang ini, terlihat masih
cukup kental, Jakarta tak membuatnya berubah. Aku hanya sempat bicara
dan bertemu lebih dekat dengan pasangan ini, dihari pertama mereka
pindah. Saat mengangkat barang-barangnya, aku kebetulan baru pulang
dari jogging dan lewat di depan pintu pagar halaman rumah yang mereka
kontrak. Setelah itu, aku tak pernah lagi kontak dengan keduanya. Aku
juga tak merasa perlu untuk mengurusi mereka.
Perasaan dan pikiranku mulai berubah, khususnya terhadap si Istri
yang bernama Maryati, ketika suatu pagi bangun dari tidur aku duduk di
balik jendela. Dari arah sana, secara kebetulan, juga melalui jendela
kamarnya, aku menyaksikan si Istri sedang melayani suaminya dengan
sangat telaten dan penuh kasih. Mulai menemani makan, mengenakan
pakaian, memasang kaos kaki, sepatu, membetulkan letak baju, sampai
ketika mencium suaminya yang sedang bersiap-siap untuk turun kerja,
semua itu kusaksikan dengan jelas. Aku punya kesimpulan wanita lumayan
cantik itu sangat mencintai pasangan hidupnya yang berwajah dingin
tersebut.
Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku.
Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar
tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah
misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual
dengan lelaki lain? Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan
dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan
secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks
dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan,
menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia
justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih
ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan
itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka
berhayal tentang penyimpangan seksual. Sekaligus juga akhirnya
melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa
dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Maryati! Wuah! Tapi itulah
memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku.
Sesuatu yang membuatmu mulai hari itu, secara diam-diam melakukan
pengamatan dan penelitian intensif terhadap pasangan suami istri muda
tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan dan
bercengkrama. Kapan saja si Suami bepergian ke luar kota lebih dari
satu malam, karena tugas perusahaannya sebuah distributor peralatan
elektronik yang cukup besar. Dengan kata lain, kapan Maryati, wanita
dengan sepasang buah dada dan pinggul yang montok sintal itu tidur
sendirian di rumahnya.
Untuk diketahui, pasangan ini tidak punya pembantu. Saat itulah
yang bakal kupilih untuk momentum memperkosanya. Menikmati bangun dan
lekuk-lekuk tubuhnya yang memancing gairah, sambil menguji daya tahan
kesetiaannya sebagai istri yang bisa kukategorikan lumayan setia. Sebab
setiap suaminya bepergian atau sedang keluar, wanita ini hanya mengunci
diri di dalam rumahnya. Selama ini bahkan dia tak pernah kulihat meski
hanya untuk duduk-duduk di terasnya yang besar. Itu ciri Ibu Rumah
Tangga yang konservatif dan kukuh memegang tradisi sopan-santun budaya
wanita timur yang sangat menghormati suami. Meski mungkin mereka sadar,
seorang suami, yang terkesan sesetia apapun, jika punya peluang dan
kesempatan untuk bermain gila, mudah terjebak ke sana. Aku tahu
suaminya, si Bram selalu bepergian keluar kota satu atau dua malam,
setiap hari Rabu. Apakah benar-benar untuk keperluan kantornya, atau
bisa jadi menyambangi wanita simpanannya yang lain. Dan itu bukan
urusanku. Yang penting, pada Rabu malam itulah aku akan melaksanakan
aksi biadabku yang mendebarkan.
Semua tahapan tindakan yang akan kulakukan terhadap wanita yang di
mataku semakin menggairahkan itu, kususun dengan cermat. Aku akan
menyelinap ke rumahnya hanya dengan mengenakan celana training minus
celana dalam, serta baju kaos ketat yang mengukir bentuk tubuh
bidangku. Buat Anda ketahui, aku pria macho dengan penampilan menarik
yang gampang memaksa wanita yang berpapasan denganku biasanya melirik.
Momen yang kupilih, adalah pada saat Maryati akan tidur. Karena
berdasarka hasil pengamatanku, hanya pada saat itu, dia tidak
berkebaya, cuma mengenakan daster tipis yang (mungkin) tanpa kutang.
Aku tak terlalu pasti soal ini, karena cuma bisa menyaksikannya
sekelebat saja lewat cara mengintip dari balik kaca jendelanya dua hari
lalu. Kalau Maryati cuma berdaster, berarti aku tak perlu disibukkan
untuk melepaskan stagen, baju, kutang serta kain yang membalut tubuhnya
kalau lagi berkebaya. Sedang mengapa aku cuma mengenakan training spack
tanpa celana dalam, tahu sendirilah.
Aku menyelinap masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur yang
terbuka petang itu. Saat Maryati pergi mengambil jemuran di kebun
belakangnya, aku cepat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan
barang-barag elektronik yang terdapat di sudut ruangan dapurnya. Dari
sana, dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri, wanita
itu kuamati sebelum dia masuk ke kamar tidurnya. Dengan mengenakan
daster tipis dan ternyata benar tanpa kutang kecuali celana dalam di
baliknya. Si Istri Setia itu memeriksa kunci-kunci jendela dan pintu
rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara acara televisi cukup
nyaring. Nah, pada saat dia akan masuk ke kamar tidurnya itulah, aku
segera memasuki tahapan berikut dari strategi memperkosa wanita
bertubuh sintal ini. Dia kusergap dari belakang, sebelah tanganku
menutup mulutnya, sedang tangan yang lain secara kuat mengunci kedua
tangannya. Maryati terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar
karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta
dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan
ulah para bajingan, aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan
tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga
mengutarakan permintaan maaf.
"Maafkan saya Mbak. Saya tidak tahan untuk tidak memeluk Mbak.
Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbak. Dan saya bersumpah hanya
melakukan ini sekali. Sekali saja," bisikku membujuk dengan nafas
memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa. Maryati tetap tidak
peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat kakiku menutup
pintu kamarnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding. "Kalau Mbak ribut,
akan ketahuaan orang. Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib.
Semua ini tidak akan diketahui orang lain. Saya bersumpah
merahasiakannya sampai mati, karena saya tidak mau diketahui orang lain
sebagai pemerkosa," bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan
tubuhnya.
Tahapan selanjutnya, adalah menciumi bagian leher belakang dan
telinga wanita beraroma tubuh harum merangsang itu. Sedang senjataku
yang keras, tegang, perkasa dan penuh urat-urat besar, kutekankan
secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat
Maryati semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan
dan meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan
pria kekar yang sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.
Aksi menciumi dan menekan pantat Maryati terus kulakukan sampai
lebih kurang sepuluh menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik,
dengan gerakan secepat kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya
segera kutarik sampai sobek ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa
yang akan kulakukan, belahan pantatnya segera kubuka dan lubang anusnya
kujilati secara buas. Maryati terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit
kemudian menyelinap masuk diantara selangkangannya dari belakang dan
meraba serta meremas bagian luar kemaluannya, tapi membiarkan bagian
dalamnya tak terjamah. Strategiku mengingatkan belum waktunya sampai ke
sana. Aksi menjilat dan meremas serta mengusap-usap ini kulakukan
selama beberapa menit. Maryati terus berusaha melepaskan diri sambil
memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia
berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal. Aku memang
sudah jadi binatang bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa
celana, telanjang sebagian.
"Akan kulaporkan ke suamiku," ancamnya kemudian dengan nafas
terengah-engah. Aku tak menyahut sambil bangkit berdiri serta menciumi
pundaknya. Lalu menempelkan batang perkasaku yang besar, tegang dan
panas diantara belahan pantatnya. Menekan dan memutar-mutarnya dengan
kuat di sana. Sedang kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas
dan memainkan puting buah dada besar serta montok wanita yang terus
berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.
"Tolong Mas Dartam, lepaskan aku. Kasihani aku," ratapnya. Aku
segera menciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk
membujuk, sekaligus memprovokasi. "Kita akan sama-sama mendapat
kepuasan Mbak. Tidak ada yang rugi, karena juga tidak akan ada yang
tahu. Suamimu sedang keluar kota. Mungkin juga dia sedang bergulat
dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti dirimu,"
bujukku mesra. "Kau bajingan terkutuk," pekiknya dengan marah. Sebagai
jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu (ciri yang sangat
kusenangi) kali ini kupeluk kuat-kuat, lalu kuseret ke atas ranjang dan
menjatuhnya di sana. Kemudian kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke
atas. Selanjutnya, ketiak yang berbulu halus dan basah oleh keringat
milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke
sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot
putingnya yang terasa mengeras tegang.
"Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan aku." Wanita itu
menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri.
Tetapi aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi
sasaranku adalah perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot
turun lebih ke bawah lalu berputar-putar di bukit kemaluannya yang
ternyata menggunung tinggi, mirip roti. Sementara tanganku meremas dan
mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih dan mulusnya yang
menjepit rapat, berusaha kubuka. Maryati dengan kalap berusaha bangun
dan mendorong kepalaku. Kakinya menendang-nendang kasar. Aku cepat
menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul yang liar itu secara telak
membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika itu terjadi. Kalau
aku semaput, wanita ini pasti lolos.
Setelah berjuang cukup keras, kedua paha Maryati akhirnya berhasil
kukuakkan. Kemudian dengan keahlian melakukan cunnilingus yang kumiliki
dari hasil belajar, berteori dan berpraktek selama ini, lubang dan
bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan bibirku. Tanpa
sadar Maryati terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku
menempel kuat di klitorisnya yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai
sapuan dan dorongan lidah ke bagian-bagian sangat sensitif di dalam
liang senggamanya, sambil tanganku terus mengusap, meremas dan
memijit-mijit kedua buah dadanya. Maryati menggeliat, terguncang dan
tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu.
Kepalanya digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak,
atau apa. Sambil melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan
permukaan perut Si Istri Setia ini. Dari sana aku bisa mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya, terhadap
gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang
senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan gelombang di bagian atas
perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Maryati akan merasa
lebih terangsang dan nikmat.
Gelombang rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Maryati
secara fisik dan emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta
kepalanya bergerak semakin resah. Tak ada suara yang keluar, karena
wanita ini menutup bahkan menggigit bibirnya. Geliat tubuhnya bukan
lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin) gambaran dari seseorang
yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang kali kurasakan
kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah. Ternyata benar
analisa otak kotorku beberapa pekan lalu. Bahwa sesetia apapun seorang
Istri, ada saat di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan
seksual yang dilakukan dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung,
intensif serta tersembunyi oleh seorang pria ganteng yang ahli dalam
masalah seks. Maryati telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga
ketidakberdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi
rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari
pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif dan ahli
di seluruh bagian sensitif tubuhnya.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,503 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,215 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,573 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,104 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,572 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,459 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,740 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,306 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,420 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,763 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,371 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,546 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,797 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,099 |
| Vita... Reuni SMA - 1 |
askepecun@yahoo.com |
66,872 |
|
|
|
|
|
|
|