|
|
Jantungku berdetak semakin kencang saat
kurasakan penis Pak Edy menyapu bibir vaginaku, seharusnya aku menjerit
marah tapi tanpa bisa kutahan lagi justru kubuka kakiku lebar-lebar,
entah mengapa, malahan aku ingin membuka mataku melihat ekspresi
kemenangan darinya yang telah berhasil menikmati tubuhku, tapi tetap
saja terasa berat, kelopak mataku seakan lengket, aku menahan napas
saat kejantanannya menembus liang sempit vaginaku, kurasakan nikmat
yang berbeda.
Dia mulai mengocok vaginaku, pelan pelan kejantanannya keluar
masuk, kugigit bibirku untuk menahan desah kenikmatanku, tapi tetap
tidak berhasil, aku mendesah makin keras, mereguk kenikmatan yang
diberikan Pak Edy. Tubuhnya ditelungkupkan di atasku, tanpa dapat
kucegah lagi tanganku memeluknya, dan baru kusadari kalau ternyata dia
masih berpakaian, ketika tanganku meraba pantatnya yang turun naik
mengocokku, ternyata dia tidak melepas celananya, sungguh kurang ajar
dia, pikirku.
Kocokannya makin cepat menghunjam vaginaku, di tengah asyiknya
mengarungi lautan kenikmatan, tiba tiba kurasakan denyutan hebat dari
penisnya dan cairan hangat membasahi liang vaginaku, dia menjerit
nikmat dalam orgasme hingga secara refleks aku ikut menjerit karena
terkejut. Agak kecewa juga mendapati dia begitu cepat mencapai orgasme,
padahal aku menginginkannya lebih lama lagi, dengan kasar dia langsung
mencabut kejantanannya dari vaginaku, sesaat kemudian kudengar bunyi
resliting ditutup, dia turun dari ranjang dan tak lama kemudian
kudengar dia keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Aku merasa terhina dengan perlakuannya itu, tapi apa mau dikata,
tubuhku masih lemas meskipun gairahku masih menggelora. Aku berharap
suamiku datang mengisi kekosonganku ini, tapi mana mungkin, dia tidak
tahu aku dimana, kupaksakan kubuka mataku, tapi pandanganku masih samar
dan kabur. Dengan masih tergolek tak berdaya, akhirnya kuputuskan untuk
istirahat dulu sambil dengan tak sadar tanganku memainkan klitorisku
hingga aku tertidur tanpa ada penyelesaian.
Belum sempat aku tertidur pulas, kurasakan sesuatu kembali menindih
tubuhku, kupaksakan untuk membuka mata, meski samar aku masih bisa
mengenali wajah itu, yang jelas bukan Pak Edy apalagi suamiku, meski
tubuhku masih tidak bertenaga tapi ingatanku masih bisa bekerja meski
tidak sebaik biasanya, wajah itu tak asing lagi bagiku, dia adalah
salah seorang rekan suamiku di kantor, aku tak tahu namanya tapi dia
salah seorang manager di bagian keuangan.
Tentu saja aku ingin berontak tapi tenagaku hilang sama sekali,
apalagi dalam tindihan tubuh yang besar, sungguh aku tiada berdaya,
bahkan berucap pun lidah terasa berat, hanya bibirku yang bergerak
tanpa suara, kecuali hanya desisan. Dengan liarnya dia menciumi pipi
dan leherku, sesekali dilumatnya bibirku, anehnya bukannya perasaan
muak tapi justru perasaan nikmat yang kurasakan, semakin dia meraba
tubuhku semakin nikmat rasanya, aku seperti cacing kepanasan, tak ayal
lagi akupun mulai mendesis tanpa bisa kukontrol lagi desisanku, bahkan
kubalas lumatan di bibirku, aku tak tahu apa yang terjadi dengan
diriku, sungguh memalukan.
Nikmatnya makin tinggi rasanya ketika dia mengulum putingku,
menjilatinya dengan liar, tanpa malu akupun mendesis dalam birahi,
kuremas rambutnya. Dia berusaha melepas gaunku yang sudah tidak karuan
menempel di tubuhku, bukannya marah tapi aku malah mempermudahnya. Kini
tubuhku telah telanjang di hadapannya, hilang sudah keanggunan yang
kupertontonkan di ruangan pesta tadi, aku tergolek tak berdaya di
hadapannya, bahkan kakiku kubuka lebar sambil berharap dia segera
melakukannya.
Kurasakan usapan kepala penisnya di vaginaku, dengan sekali
dorongan keras meluncurlah penis yang terbungkus kondom itu mengisi
liang vaginaku, aku terhenyak kaget akan kekasarannya, tubuhku
menggeliat nikmat, cairan sperma Pak Edy yang masih tertinggal di
vaginaku memudahkan penisnya sliding dengan cepatnya, kasar dan liar
kocokannya sambil tangannya meremas-remas kedua buah dadaku, pinggulku
ikut bergoyang mengimbangi irama permainannya, desahan nikmat keluar
dari mulutku tanpa bisa kutahan lagi. Mataku tetap terpejam selama dia
menyetubuhiku, rasanya masih begitu berat untuk dibuka.
Aku hanya bisa mendesah dalam kenikmatan, dia mengangkat kaki
kananku dan ditumpangkan ke pundaknya, penisnya makin dalam mengisi
liang vaginaku, desahanku semakin lepas tanpa bisa kutahan. Cengkeraman
di buah dadaku makin kuat dan tak lama kemudian kurasakan denyutan kuat
dari spermanya diiringi teriakan orgasme, aku pasrah menikmatinya,
padahal tanpa sadar aku masih menginginkan lebih dari itu. Tanpa
sepatah katapun dia langsung mencabut keluar penisnya dan turun dari
ranjang, kembali aku harus menerima perlakuan yang cukup menghinakan
ini.
Tapi semenit kemudian kurasakan dia naik ranjang lagi, diusapnya
buah dadaku sambil meremas-remas gemas lalu dijilatinya kedua putingku
sebelum akhirnya dia mengulumnya, aku kembali mendesis nikmat. Tanpa
menunggu lebih lama lagi, dia memasukkan penisnya tanpa kondom ke
vaginaku, aku kaget karena penisnya begitu keras padahal dia baru saja
orgasme, sungguh luar biasa, pikirku.
Pelan pelan dia mulai mengocok, terasa nikmat, sepertinya penisnya
lebih besar daripada sebelumnya, kali ini lebih nikmat apalagi dengan
kocokan yang penuh perasaan, tidak kasar seperti tadi. Aku makin
menikmati irama permainannya yang slow but sure, membawa birahiku
dengan cepat terbang tinggi, desahan demi desahan keluar dari bibirku,
kubalas kuluman bibirnya, terasa lembut dan menggairahkan. Dia
memegangi kakiku dan membukanya lebar, dikulumnya jari jari kakiku, aku
menggeliat geli dan nikmat, mendesah tanpa kendali, sungguh nikmat,
kocokannya makin cepat meski dengan irama tetap. Tiba tiba dia
mengocokku cepat sekali lalu dengan cepatnya menarik keluar, kurasakan
cairan hangat menyirami perutku diiringi teriakannya, dia kembali
mengeluarkan sperma di atasku. Seperti sebelumnya, dengan tanpa suara
dia turun dari ranjang, dan kembali aku dibuat heran ketika dia kembali
naik ke ranjang tak lama kemudian, what the hell is this?
Ia mengusap seluruh tubuhku dengan selimut atau handuk, aku tak
tahu, lalu langsung menindihku, melumat bibirku dengan rakus,
sepertinya tubuhnya lebih berat daripada sebelumnya hingga sesak napas
aku dibuatnya. Dengan masih belum juga melepas pakaiannya, padahal aku
sudah bermandikan keringat. Lidahnya menyusuri leherku dan berhenti di
kedua puncak bukit di dada, aku mendesis nikmat untuk kesekian kalinya,
dengan tanpa malu aku mendesah dan menggeliat mengungkapkan ekspresi
kenikmatan yang kudapat.
"Biarlah, toh dia sudah menikmati tubuhku", pikirku.
Maka akupun semakin lepas merintih kenikmatan. Penisnya langsung
melesak ke dalam vaginaku. Lebih kecil kali ini, hanya beberapa kali
kocokan dia sudah menyemburkan spermanya di vaginaku, terasa hangat
membanjir, didiamkannya beberapa saat tanpa gerakan hingga keluar
dengan sendirinya. Dia turun dari ranjang lalu naik lagi dan langsung
memasukkan penisnya.
Aku terkejut, begitu cepat penisnya membesar, kini terasa sesak di
vaginaku, suatu perbedaan yang sangat cepat. Penasaran aku dibuatnya,
kucoba untuk membuka mataku tapi kelopak mataku masih sangat berat
seakan menutup rapat, penis besar itu sliding keluar masuk, ada rasa
nyeri dan nikmat bercampur menjadi satu, kocokannya makin lama makin
nikmat membawaku ke puncak kenikmatan. Tak dapat dihindari lagi akupun
orgasme dalam pelukannya, tubuhku menegang seakan menumpahkan segala
hasrat nan membara sedari tadi, tak lama diapun mengikutiku ke puncak
kenikmatan.
Denyutannya begitu hebat melanda dinding-dinding vaginaku,
dicabutnya keluar untuk menumpahkan tampungan spermanya di kondom ke
dada dan perutku, aku hanya bisa diam pasrah tanpa protes mendapat
perlakuan seperti ini, dia turun dari ranjang dan kali ini tidak naik
lagi. Napasku turun naik mendapatkan percumbuan yang baru terjadi, rasa
kantuk hebat melandaku di kesendirian ini, entah apa yang dilakukannya
di kamar ini, aku tak peduli, aku hanya ingin tidur sejenak sebelum
bergabung kembali dengan suamiku.
Aku masih sempat melayani nafsunya beberapa kali lagi sebelum
akhirnya dia benar benar membiarkanku sendiri terlelap dalam tidurku.
"Nggak usah khawatir, obatnya bisa bertahan sampai pagi kalau
tidak diberikan obat anti-nya", sayup-sayup masih kudengar orang
berkata entah pada siapa dan apa maksudnya, tapi aku keburu benar-benar
terlelap.
Aku terbangun ketika kurasakan percikan air di mukaku, kubuka
mataku yang sudah tidak seberat tadi meski masih juga terasa berat. Pak
Edy duduk di sampingku dengan senyumannya yang menawan seakan tak
pernah terjadi apapun. Dia menutupi tubuh telanjangku dengan handuk.
"Minumlah ini biar segar", dia memberiku secangkir teh hangat yang
aromanya keras menusuk. Benar saja badanku terasa lebih segar setelah
minum, rasa hangat menjalar ke sekujur tubuhku.
"Sana bersihkan tubuhmu, lalu kita turun", katanya sopan, meski tanpa sebutan Ibu lagi, sungguh berbeda dari sebelumnya.
Kubersihkan tubuhku dari sisa-sisa sperma, kusiram dengan air
hangat hingga badanku terasa fresh lagi. Dengan hanya berbalut handuk
aku keluar kamar mandi. Tak kusangka ternyata Pak Edy sudah menungguku
di ranjang dalam keadaan telanjang, aku berdiri bengong mematung
melihatnya.
"Tapi..", aku berusaha mengelak karena vaginaku masih terasa panas. Entah berapa kali aku tadi disetubuhinya.
"Aku ingin melakukannya dengan suasana yang lain, lagian kita masih
punya waktu setengah jam lebih sebelum tengah malam", katanya sambil
menepuk nepuk bantal di sebelahnya.
Akhirnya "terpaksa" aku menuruti keinginan asisten suamiku itu
untuk melampiaskan nafsu birahinya pada istri atasannya. Kami bercinta
dengan penuh nafsu seperti sepasang kekasih yang dimabuk birahi, tak
kusangka dia seorang pemain cinta yang hebat. Kami bercinta dengan
berbagai posisi, hampir kewalahan aku melayaninya, nafsunya sungguh
besar dan pintar mengatur ritme permainan, dia begitu mengerti
liku-liku daerah erotis wanita, aku benar-benar merasa puas dibuatnya.
Kami orgasme bersamaan, dia membanjiri vaginaku tepat ketika kembang api meletus di udara menandai pergantian tahun.
"Happy New Year", ucapnya sambil mengecup kening dan bibirku.
Kami masih telanjang dan saling berpelukan, kubalas dengan mesra kecupan di bibirnya.
"Ayo, kita harus segera bergabung dengan mereka sebelum suamiku
sadar akan ketidak hadiranku", kataku mendorongnya turun dari tubuhku.
Segera kukenakan kembali gaun merahku, tak kutemukan mini panty
yang tadi kukenakan, akhirnya kuputuskan untuk segera berlalu tanpa
panty ke pesta. Kurapikan pakaian, make up dan rambutku untuk bersiap
turun. Tiba tiba Pak Edy memelukku dari belakang.
"Let's do it again quickly", bisiknya.
Aku ingin menolaknya tapi aku juga ingin menikmatinya sekali lagi.
Dia mendudukkanku di meja, disingkapkannya gaunku hingga ke perut,
vaginaku terbuka menantang, dengan hanya membuka resliting celananya
dia melesakkan kembali penisnya ke vaginaku, mengocok dengan cepatnya
sambil meremas buah dadaku, aku mendesis seperti yang kulakukan
sebelumnya, dan kamipun kembali orgasme bersama. Dia menciumku mesra.
Kembali kurapikan penampilanku sebelum kami keluar kamar
sendiri-sendiri, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Entah sudah
berapa lama aku berada di kamar itu.
Suasana ballroom sudah sangat berbeda dari waktu kutinggal tadi.
Susunan kursi sudah berubah semua, hal itu biasa terjadi saat pesta
berlangsung. Kucari-cari suamiku tapi tidak kutemukan. Beberapa pasang
mata melihatku dengan pandangan yang menelanjangiku, tapi aku tetap
percaya diri dengan penampilanku, meski tanpa underwear. Akhirnya
kutemukan suamiku di pojok ruangan, mengenakan topi kerucut tahun baru
dan memegang terompet, dia terlihat begitu bahagia.
"Selamat Tahun Baru, Sayang", ucapnya sambil mengecup bibirku yang kubalas dengan kecupan mesra.
Sepertinya dia masih tidak sadar kalau aku sempat menghilang.
Kulihat Pak Edy menghampiri kami dan mengucapkan hal yang sama, seakan
tak pernah terjadi apapun di antara kami. Akhirnya the party is over,
para panitia berbaris di depan pintu menerima ucapan selamat dari para
undangan, sekalian berpamitan pulang. Kulihat wajah-wajah yang kukenal,
tapi lebih banyak tidak kukenal, di antaranya adalah orang yang tadi
menyetubuhiku "berulang-ulang".
"You have wonderful wife", katanya pada suamiku.
"Thanks Pak Kris", jawab suamiku sambil memelukku tanpa tahu apa maksudnya.
"Selamat Tahun Baru Pak Hendra, Anda beruntung punya istri seperti dia", ucap orang lain lagi yang tidak kukenal.
"Sama sama, terima kasih Pak Dwi", jawab suamiku bangga.
"Happy New Year, istri anda sungguh luar biasa, thank telah
memberiku kesempatan" orang asing lagi yang memujiku, padahal aku
merasa pernah bertemu dengannya.
"Sama-sama, anda bisa saja", balas suamiku.
"Rupanya kamu punya banyak penggemar", bisik suamiku sambil menyalami tamu lainnya yang berpamitan pulang.
"Habis Papa ninggalin aku, jadi kuterima saja ajakan dance setiap
orang, Papa nggak marah kan", jawabku berbohong sambil mencubit
lengannya.
"Nggak apa, asal kamu menikmatinya", jawab suamiku polos.
Akhirnya kami kembali ke kamar pukul 1:30 dini hari, dengan
menyesal aku menolak keinginan suamiku untuk melanjutkan foreplay tadi
sore karena vaginaku masih terasa memar dan nyeri, dan kamipun tertidur
dengan kenangan melepas tahun pergantian tahun yang berbeda.
Belakangan aku diberi tahu Pak Edy kalau yang menyetubuhiku
"berulang-ulang" itu sebenarnya bukanlah satu orang, tapi beberapa
orang, paling tidak 3 orang rekan seclub golf, yang lain dia tidak
mengenalnya. Dia tidak mau menyebutkan jumlah pastinya, apalagi
nama-nama orangnya. Ini membuatku penasaran sampai sekarang. Sungguh
kelewatan kalau aku tidak tahu orang yang telah menikmati tubuhku.
Jangankan namanya, wajahnya saja aku tidak tahu kecuali Pak Edy dan
yang disebut suamiku Pak Kris tadi. Dia tidak pernah membenarkan atau
membantah kecurigaanku bahwa obat yang dia sebut Panadol itu sebenarnya
adalah obat perangsang.
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,428 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,169 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,461 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,076 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,521 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,553 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,407 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,728 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,280 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,413 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,757 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,356 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,543 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,790 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,069 |
|
|
|
|
|
|
|