|
|
Aku adalah seorang preman.
Pembaca, mungkin anda kaget mendengarkan pengakuanku ini. Tapi, itulah
kenyataannya. Kalau pengertian "preman" adalah orang bebas (freeman)
maka aku memang benar-benar bebas, tidak terikat jam kerja kantor,
tidak perlu takut dibentak-bentak bos dan hal-hal menyebalkan lainnya.
Kenapa? ha..anda pasti sudah bisa memperkirakan. Sebabnya adalah karena
aku adalah seorang pengangguran. Salah satu dari ribuan pengangguran di
ibu kota tercinta kita.
Ini bermula setelah aku lulus SLTA di kampungku dua tahun yang
lalu, aku berkelana ke Jakarta dengan segudang harapan untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik.Tetapi, seperti sudah menjadi
cerita klasik di Jakarta, semua angan-anganku itu terempas habis.
Setelah berpuluh-puluh kantor kudatangi dan kuajukan lamaran, ternyata
tidak ada satupun yang menanggapi. Ijazah SMA yang begitu dibanggakan
di kampungku, di Jakarta ternyata tidak ada harganya sama sekali.
Setelah lelah dan hampir putus asa, akhirnya aku mendapat pekerjaan
juga. Bukan pekerjaan kantor, tetapi menjadi supir tembak mobil
angkutan kota (angkot) di salah satu jalur di Jakarta selatan. Supir
sebenarnya adalah temanku satu kampung di Pulau kami, dan karena
kebaikan hatinya ia mau membagi kesempatan mengemudi angkotnya dan
berbagi pendapatan denganku. Lumayanlah, dapat juga sedikit uang untuk
menyambung hidup di Jakarta.
Tetapi bagaimanapun, hidup ini tetap berat. Trayek angkot yang
kupegang ini bukanlah trayek gemuk, sehingga kesempatanku untuk menjadi
supir tembakpun tidak terlalu banyak. Akhirnya aku lebih sering
nongkrong di terminal di mana angkot trayekku bersarang, duduk
mencangkung sambil memikirkan nasibku yang kuanggap super sial ini. Dan
Rudi, si pengemudi angkot temanku itu juga sering duduk mencangkung
menemaniku karena begitu sepinya penumpang.
Pada waktu duduk mencangkung berdua seperti itu, tidak jarang
pembicaraan kami melantur ke mana-mana. Bagaimanapun kami masih muda
(25 tahun) sehingga pembicaraan mengenai seks bukan hal yang aneh.
Apalagi dengan suasana yang menekan seperti ini, obrolan jorok
merupakan cara yang paling bagus untuk melupakan kesumpekan. Berbagai
topik mengenai seks sudah kami bicarakan, tetapi semuanya yah..cuman
omong doang. Kami tidak pernah bisa merealisasikannya. Kami belum punya
pacar, karena kami takut kalau pacaran pasti perlu dukungan duit yang
cukup. Ke pelacuran, sama saja. Dari mana kita dapat duit untuk
membayar perempuan macam begitu. Serba susah. Untuk makanpun sudah
susah, apalagi untuk hal-hal lain.
Jadi, di sinilah kami. Duduk mencangkung sambil merokok (itu
satu-satunya kenikmatan yang mati-matian kami usahakan untuk
mendapatkannya). Di depan kami berlalu lalang ratusan calon penumpang,
semuanya sibuk dengan pikiran dan permasalahannya sendiri. Tidak jarang
kami melihat calon penumpang yang cantik, dengan tubuh bahenol
melintas. Biasanya kalau sudah lewat yang macam itu pembicaraan kami
pasti mulai berkembang ke arah yang serba jorok. Mulai saling terka
apakah cewek itu masih perawan atau tidak, berapa ukuran branya, sampai
kira-kira posisi bersetubuh yang paling enak dilakukan bersamanya.
Setiap hari berbicara seperti itu, pikiran kami semakin pusing
saja. Keinginan untuk berhubungan dengan perempuan, benar-benar
mendesak untuk dipenuhi. Tapi apa daya? benci betul aku dengan segala
ketidak berdayaanku ini. Sampai akhirnya, si Rudi temanku mengeluarkan
ideenya yang gila untuk memenuhi impian kami berdua mengenai perempuan.
Ideenya benar-benar gila sehingga aku terhenyak mendengarnya.
"Sin, kita perkosa cewek saja ya" katanya tiba-tiba, di tengah
acara nongkrong kita (o ya, namaku Tosin. Aku lupa memperkenalkan diri
sejak tadi).
Aku menengoknya dengan pandangan kaget:"elu ngaco ah" kataku:" cari
perkara saja. Kalau mau bergurau cari cara yang lain saja deh." Tapi si
Rudi menggeleng. Tidak seperti biasanya, ia kelihatannya serius
sekali:" bener Sin, aku nggak bergurau. Kita cari cara memerkosa yang
paling aman, pokoknya kita puas dan risikonya sekecil mungkin."
Lalu ia mulai menceritakan rencananya. Setiap hari, kira-kira pukul
22.00 malam angkotnya selalu dinaiki seorang gadis yang "tubuhnya
aduhai sekalii.." (ini menurut kalimatnya si Rudi lho). Dia rupanya
mahasiswi atau siswi kursus apalah tidak jelas, tetapi ia selalu pulang
malam sendirian dengan angkot si Rudi. Ia selalu berhenti di perempatan
di tengah perjalanan angkot kami, sehingga Rudi juga tidak tahu di mana
rumahnya. Kelihatannya ia meneruskan perjalanan dengan menumpang angkot
lain lagi yang menuju rumahnya.
"Jadi, serba rahasia" kata si rudi, mulai bersemangat:' maksudku,
kita bekap dia di depan lapangan bola, lalu kita mainin di bedengnya si
Meeng. Kalau sudah selesai kita tutup matanya, kita putar-putar dan
kita buang di tengah jalan." Si meeng adalah kuli bangunan teman kami,
yang tinggal di bedeng di pinggir lapangan bola. Sekarang bedengnya
memang lagi kosong karena Meeng lagi pulang kampung.
Enak aja, pikirku:"emangnya dia tidak mengenal dan mengingat kamu?
kan dia tiap hari naik angkotmu, pasti dia lihat dan kenal kamu.
Selesai kita makan dia pasti lari lapor ke polisi " Rudi menggaruk-
garuk kepalanya. Benar juga, mungkin begitu pikirnya. Akhirnya dia
kehilangan semangat untuk meneruskan membahas rencananya.
Tetapi semua keadaan berubah seminggu kemudian. Di hari senin yang
naas, angkot kita menabrak sebuah mobil Honda civic hitam sehingga
bumper belakang mobil itu penyok ke dalam. Itu benar-benar kesalahan si
Rudi, sehingga dia tidak bisa mengelak lagi ketika si pemilik mobil
meminta pertanggung jawabannya untuk memperbaiki mobilnya di bengkel.
Saat kami di bengkel dan pemilik bengkel mengkalkulasi biaya
perbaikannya, wajah Rudi pucat seketika. Satu juta rupiah!! aduh mak,
dari mana kita mendapat duit sebanyak itu. Tetapi Rudi tidak bisa
menolak. KTP dan SIM-nya ditahan oleh pemilik mobil dan baru akan
diberikan ketika mobilnya sudah selesai direparasi dan Rudi membereskan
pembayarannya.
Akhirnya, dengan segala daya upaya si Rudi dapat meminjam uang
sebesar satu juta untuk membayar perbaikan itu. Itupun dengan setengah
mengemis (atau juga setengah mengancam) pada beberapa orang yang
dikenalnya. Ia memasukkan uang yang sangat berharga itu pada amplop dan
dengan hati-hati menyelipkan di kantong celananya.
Sore itu, kami nongkrong di tempat biasanya. Rudi mencangkung di
sebelahku, matanya merah dan wajahnya kucel. Pasti pikirannya penuh
dengan masalah bagaimana ia harus mengembalikan hutang yang (menurut
ukuran kami) segunung itu. Berkali kali ia menghela napas, menyedot
rokok dengan keras dan menggaruk-garuk kepalanya. Aku tidak berani
memberi komentar sama sekali, takut kalau salah ngomong dia akan
semakin ruwet pikirannya.
Akhirnya setelah hampir satu jam saling berdiam diri, Rudi berdeham
dan berkata serak:" Sin, aku mau pulang saja ke kampung. Nggak kuat aku
di Jakarta" lalu ia menceritakan rencananya dengan cepat. Dia mau lari
saja besok langsung ke Pulau kami, tidak bilang pada siapa-siapa.
Tentunya setelah masalah pembayaran ke bengkel beres dan dia telah
mendapatkan lagi SIM dan KTPnya. Masalah bayar utang, sebodo amat. Dia
akan membayarnya kapan-kapan saja dari kampung kalau sudah punya duit.
Tapi dia ingin membalas dendam pada kota yang kejam ini, "kota ini
sudah menodai kita, Sin" katanya", sebelum aku pergi, aku mau menodai
salah satu warganya. Biar tahu rasa." Lalu dengan nada emosi ia
mengutarakan rencananya untuk memperkosa si cewek bahenol penumpang
angkotnya, seperti rencananya dahulu. Toh tidak perlu takut lagi
dikenal, karena dia akan lari pulang besok. Masalah aku? terserah saja.
Kalau aku mau ikut hayo..kalau nggak, ya terserah. Begitulah katanya.
Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, aku sepakat untuk ikut.
Aku memutuskan untuk ikut pulang saja ke kampung, percuma hidup di
Jakarta. Aku toh tidak punya gantungan apa-apa di jakarta ini, jadi
bebas saja. Jadi, kalau bisa merasakan tubuh gadis Jakarta sebelum
angkat kaki, apa salahnya..
Nah, begitulah awal mulanya. Setelah sepakat bulat, malam harinya
aku ikut Rudi nongkrong di angkotnya (biasanya aku tidak pernah ikut
narik malam hari). Pukul sembilan tiga puluh malam, terminal sudah sepi
dan udara sangat dingin karena hujan rintik-rintik. Hampir tidak ada
penumpang yang datang, hanya beberapa pedagang rokok yang duduk
meringkuk di bedengnya. Aku hampir putus asa menungu kehadiran
bidadarinya si Rudi, sampai akhirnya..
"Itu dia.." bisik Rudi bersemangat. Aku menengok ke arah yang
ditunjuknya, dan aku terbelalak. Di bawah terang lampu mercury aku
melihat seorang gadis berjalan santai, memakai celana jeans selutut dan
kaos putih, ditutupi jaket parasut hijau. Rambutnya sebahu, wajahnya
cakep betul (sepertinya indo). Tapi yang paling membelalakkanku adalah
tubuhnya. Untuk ukuran gadis Indonesia, dia sangat tinggi (mungkin
hampir 172 cm). Tubuhnya sangat atletis, bahkan agak cenderung
kekar.Aku hampir pasti dia seorang atlit. Cara berjalannya juga seperti
berderap, cepat dan tegas. Mulutnya bergerak-gerak terus, sepertinya
sedang mengunyah permen karet.
Dengan cepat ia naik ke angkotku, memilih duduk di depan di sebelah
si Rudi. Tepat sekali seperti rencana, pikirku. Aku duduk di belakang,
dan karena antara bagian depan dan belakang angkot ini tidak ada kaca
pembatas maka aku dapat melihat calon korban kami dengan lebih jelas
lagi.
Memang dia cantik betul, tetapi..ada sesuatu yang menggelisahkanku.
Entah apa. Tetapi aku punya perasaan bahwa sesuatu yang tidak beres
akan terjadi.
"Selamat malam No..on.." kata Rudi dengan gaya disopan-sopankan.
Sok yakin kalau si cewek ini mengenalnya. Aku duduk meringkuk di bangku
belakang, tepat di belakang Rudi. Aku memakai topi yang kusungkupkan ke
wajahku. Bagaimanapun juga, aku masih kuatir kalau korbanku ini
mengenaliku nanti. Di balik jaketku aku menyimpan sebilah belati.
"Selamat malam" sahut si cewek. Aduh mak, suaranya juga agak berat,
hampir seperti suaranya penyanyi January Christy itu lho. Tetapi malah
suaranya itu semakin menambah keseksiannya. Aku merasa nafsuku mulai
naik. Yah, maklumlah, dua tahun di Jakarta tidak pernah berhubungan
dengan cewek, hanya berani mengkhayal dan onani tiap hari..
Si Rudi segera menstarter angkotnya dan mobil tua itu mulai
bergerak maju. ini berbeda dengan biasanya (Rudi biasanya paling anti
menjalankan angkotnya sebelum penumpang penuh). Mobil kami bergerak ke
luar terminal, berbelok ke kiri dan melaju di jalan raya. Rupanya si
cewek merasakan juga perubahan ini:"lho, kok masih kosong sudah jalan,
bang?" katanya,. Suaranya yang berat dan seksi tersebut cukup ramah
terdengar. Nafsuku semakin naik.
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,429 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,170 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,464 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,076 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,522 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,554 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,408 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,728 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,280 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,413 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,757 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,356 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,543 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,791 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,069 |
|
|
|
|
|
|
|