|
|
Dari bagian 1 Dian terpucat melihat foto-foto yang diletakkan Romi diatas meja. Itu
foto telanjangnya dan foto-foto adegan ketika ia digagahi beramai-ramai
oleh orang malam itu.
"Nah, Dian sekarang nurut bae.. Tenang bae, aku janji tidak maen kasar." Romi menyeringai sambil mengelus paha Dian.
Dian memang disuruh menjaga rumah itu sendirian bersama kedua
ponakannya yang masih kecil yang sudah tidur. Hujan turun deras membuat
udara malam itu dingin menggigit. Dian diam pasrah ketika Romi
menariknya ke belakang.
"Tenang be Dian, kalau tidak nurut foto kau, kusebarkan di kampung kau. Biar tahu kalau kau biso dipakek."
Romi menarik Dian kedapur, pintu depan belum ditutup. Dian mendesis tak berdaya.
"Tenang bae, Dian. Aku cuma sebentar.."
Romi mulai meraba-raba payudara Dian yang kencang, Dian memang
sudah bersiap tidur hanya mengenakan t shirt dan celana pendek saja.
Puting susu Dian yang runcing tampak menonjol keluar ketika Romi terus
menggerayangi dada Dian. Dian me ng gigil ketika baju kaosnya ditarik
ke atas lepas oleh Romi. Dengan tangannya Romi menarik tangan Dian yang
berusaha menutupi dadanya yang telanjang kemudian mulai menggerayangi
payudara gadis itu dengan mulut dan lidahnya.
Dian hanya dapat tersandar ketembok yang dingin sambil
meringis-ringis ngilu ketika Romi menggigiti putingnya sementara
tangannya dengan leluasa memelorotkan celana pendek Dian hingga jatuh
ke lantai. Romi terbelalak melihat celana dalam sutra Dian yang
berwarna putih dengan motif bunga itu begitu mini dan seksi. Tanpa
menunggu lagi jilatan Romi turun ke perut Dian yang rata, pusarnya,
kemudian lambat laun celana dalam Dian menyusul jatuh ke lantai. Romi
melempar semua busana Dian jauh ke sudut. Dengan sedikit paksaan Romi
membentang paha Dian kemudian menjilati vagina Dian
"Ohkk.."
Dian terdongak merintih ngilu, antara rasa nikmat, marah dan malu
menguasai dirinya ketika kedua tangan Romi mencengkeram pantatnya,
membuka lebar vaginanya kemudian menjilatinya dengan bernafsu. Nafas
Dian terengah-engah tak terkendali mencoba menahan dirinya agar tidak
terangsang.
Romi berdiri kemudian membuka baju dan celananya, hingga pakaian dalamnya, kemudian memegang penisnya yang panjang dan besar.
"Isep Dian, ayo. Kalau tidak ingin dikasari."
Dian terpaksa berlutut dihadapan Romi, kemudian mulai menjilati
batang penis Romi. Dian memejamkan matanya kemudian mulai mengocok Romi
dengan mulut dan lidahnya. Romi menjambak Dian kemudian menggerakan
kepala Dian maju mundur, menyetubuhi mulutnya. Suara berdecak-decak
terdengar jelas disela deras air hujan. Dian berusaha semampunya agar
Romi puas dan berhenti, ia menjilat, mengulum, mengocok sebisanya,
mengingat film-film BF yang pernah dilihatnya. Romi mengerang-erang
nikmat, tubuhnya sampai tersandar ke meja dapur,
"Ahh. Ohh. Diann. Kau memang seksi dan pintar.. Ohh.."
Tiba-tiba Romi menarik tubuh Dian kemudian mendudukkannya di atas
meja pantry. Dian hanya diam sambil terengah-engah ketika Romi
mengangkangkan kedua pahanya kemudian mulai menekan pinggulnya. Dian
meringis ngilu ketika penis Romi yang keras dan besar itu menerobos
vaginanya. Romi mulai menyetubuhi Dian, memperkosanya dengan
bertubi-tubi. Dian hanya mendengus-dengus menahan diri. Kedua tangannya
mencengkeram pinggiran meja dengan kencang. Peluh membasahi tubuh
mereka berdua. Dian memejamkan matanya berharap Romi selesai, sementara
lelaki itu terus menyentak-nyentak, mengeluar masukkan rudalnya ke
dalam tubuh Dian yang padat dan langsing.
Dian terperanjat ketika membuka matanya, Ada lima lelaki bertubuh
besar telanjang bulat di dapur itu! Ternyata Romi membawa
teman-temannya dan mereka menunggu di mobil.
" Apa-apaan ini, Romi!!" Dian berontak melepaskan diri.
Tapi ia tersudut disudut ruangan. Keenam lelaki itu mengepungnya.
"Sudahlah Dian. Kalau kau njerit tidak ada yang denger jugo. Paling
ponakan kau tula. Pintu depan la kami kunci, lampu la kami matike. Kau
pasti dikiro sudah tidur.. He.. He. Nurut bela.., aku janji tidak
kasar, entah kawan-kawan akuni..!"
Romi dan kelima temannya menyeringai bernafsu. Tubuh Dian lemas, ia
tak dapat melakukan apa-apa lagi selain pasrah. Tangannya ditarik
ketengah ruangan, kemudian disuruh berjongkok.
"Ayo! Sedot punyo kami sikok-sikok!"
Enam batang penis disodorkan diwajah Dian. Dan sambil menangis Dian terpaksa mulai meng'karaoke'nya bergantian.
"Ohh.. Hebat nian Romi, betino kauni!!"
"Akhh. Aku.. Nak. Keluarr.."
Srett.. Srrtt..
Kepala Dian dipegangi beramai-ramai sehingga ia terpaksa menelan sperma mereka satu demi satu.
"Kato kau segalo lubang Dian ni biso dipakek?"
"Iyo! Ayo kito juburi rame-rame..!!"
Dian menangis mendengarnya, "Jangann.. Ampun.. Sakit.."
Dengan cepat mereka menarik tubuh Dian dan menengkurapkannya di
lantai. Kelima lelaki itu mengeroyoknya, ada yang memegangi tangannya,
menahan kakinya dan menunggingkan pantatnya, ada yang menahan kepalanya
hingga Dian benar-benar tak dapat bergerak. Salah seorang dari mereka
mengambil botol minyak goreng di dekat kompor.
"Kami baik kok, Dian, biar tidak sakit, kami minyaki dulu."
Yang lain tertawa tawa, Dian dapat merasakan minyak goreng itu
dituangkan dibelahan pantatnya, kemudian terasa jari jemari mereka
mengusap-ngusap pantatnya, membukai lubang anusnya kemudian
menusuk-nusuknya beramai-ramai. Dian menangis dan merintih nyeri ketika
lubang anusnya dibuka paksa oleh jari-jari itu. Setelah dirasa cukup
salah seorang dari mereka mulai berlutut dibelakang Dian tepat
dibelahan pantatnya. Dian hanya dapat melolong dan menangis tak berdaya
ketika dirasakannya batang kemaluan itu melesak masuk ke duburnya.
Dian mulai disodomi dilantai dapur itu. Sebuah penis disodorkan diwajahnya.
"Isep dulu Dian, kalau tidak kami sodomi serempak tigo!!"
Dian terpaksa mulai megulum-ngulum penis lelaki yang berlutut
dihadapannya. Sementara lelaki yang dengan kasar menyodominya terus
menyentak-nyentak. Dian melihat sekilas salah seorang dari mereka
mengambil sebuah terong panjang besar berwarna ungu dari kulkas.
Tiba-tiba dirasakannya sesuatu yang dingin dan keras menerobos
vaginanya.
"Nghh..!!"
Dian hanya mampu melenguh perih karena mulutnya terbungkam. Seorang
lelaki mengeluar masukkan terong itu ke vaginanya sementara duburnya
disodomi.
"Biar tepakek galo lubangnyo!!"
Mereka tertawa-tawa puas. Tiba-tiba lelaki yang sedang menyodominya
mengerang dan menyodok dengan keras. Dian dapat merasakan cairan sperma
yang hangat tumpah di anusnya. Kemudian rekannya segera mengambil alih
posisinya menyodomi Dian. Tiba tiba lelaki yang dari tadi di'karaoke'
oleh Dian berbaring terlentang, dengan isyarat ia me mi nta
teman-temannya menarik Dian ke atas tubuhnya. Kemudian menarik tubuh
Dian hingga penisnya masuk ke vagina gadis itu. Bless.
"Aarhh..!!" Dian mengerang kesakitan, sebelum sebuah penis lagi maenyumbat mulutnya.
Dian kembali diperkosa tiga orang sekaligus. Payudaranya
diremas-remas dengan kasar hingga Dian merasakan sakit bukan hanya dari
dubur dan vaginanya yang dikocok paksa tapi juga dari buah-dadanya yang
dipilin dan diremas dengan kasar. Tiba-tiba kedua tangannya ditarik
kemudian dilumuri minyak sayur. Kemudian dipegangkan pada penis dua
lelaki lain. Dian tertelungkup, dipeluk erat dari bawah, sementara
vaginanya dipompa dengan kasar, seorang lagi menyodominya seperti
binatang, seorang lagi memaksanya menghisap penisnya, menyetubuhi mulut
Dian dengan menjambak rambutnya, sedangkan dua lagi minta dikocok
dengan kedua tangan Dian.
Dan setiap salah seorang mencapai kepuasan, yang lain segera
menggantikan posisinya, hingga pagi menjelang. Matahari mulai muncul
ketika Romi menyentak-nyentak dubur Dian dengan keras dan
"Oohh.."
Ia menyemburkan spermanya dipantat Dian. Dian pingsan. Ia
tertelungkup telanjang bulat diatas lantai. Sperma berlepotan di perut,
punggung dan wajahnya.
Mereka tidak sadar jendela terbuka dengan lampu menyala. Beberapa
pemuda di rumah sebelah menyaksikan semuanya. Bahkan mereka memfoto dan
memfilmkan kejadian itu. Bahkan dengan aneh, Romi membiarkan pintu
dapur terbuka ketika pulang.
Keenam pemuda berandal itu segera bergegas ke rumah Dian. Dian baru
saja sadar. Dubur dan vaginanya perih. Ia tertelungkup di lantai
dapurnya, telanjang. Sperma kering berceceran di sekujur tubuhnya. Ia
tersentak ketika lampu blits menyala. Betapa terkejut Dian melihat enam
pemuda tetangganya berdiri mengelilinginya, sibuk memfoto tubuh
telanjangnya sambil menyeringai.
"Kami liat galo Dian."
Mereka tersenyum mesum sambil menatap tubuh Dian.
"Ternyata kau biso dipeke jugo.."
Dian menangis tak berdaya ketika mereka membopong tubuhnya ke kamar
tidurnya. Tubuhnya masih lemas. Dengan mudah tubuhnya ditelungkupkan
diatas ranjangnya.
"Jangann. Gek ponakan aku bangun.. Jangan.." Dian menangis tak berdaya.
Ia tahu mereka tak segan-segan menyebarkan fotonya. Jika itu terjadi entah bagaimana nasibnya di kampung itu.
"Diem Dian, gek kami jago supayo mereka dak masuk. Sekarang nurut bae.."
Seseorang dari keenam pemuda itu membuka ccelananya. Mengangkat pantat Dian. Kemudian mulai menyodomi anus Dian.
"Uhh uhh! Uhh!" seperti binatang ia mulai menyentak-nyentak dubur gadis itu.
Wajah Dian terbenam diatas kasur, meringis dan menangis tak
berdaya, sementara kelima pemuda lain telah membuka celana
masing-masing sambil mengocok kemaluannya memperhatikan Dian yang
terengah engah tak berdaya. Anusnya perih dan kesat. Hingga tiba-tiba
pemuda itu menekan keras. Dian menggigit seprei menahan sakit. Sperma
pemuda itu muncrat mengisi anus Dian, bertubi tubi.
"Aaahh.. Alangkah enaknyoo."
Ia terkulai lemas. Menarik penisnya dari anus Dian. Begitu pemuda
pertama selesai, yang kedua segera mengganti posisinya. Menyodomi Dian
dengan brutal. Dian hanya bisa melolong tertahan. Tertelungkup sambil
menggigit sepreinya kencang. Keenam pemuda itu menggilir Dian di
pantatnya. Cairan sperma kental mengalir keluar dari duburnya, bahkan
ketika pemuda terakhir mencabut penisnya, Dian tak sadar mengeluarkan
kotorannya. Muncrat bersamaan dengan sperma pemerkosanya.
Mereka berenam tertawa. Dian lemas ketika dilentangkan. Kemudian lelaki yang selesai meyodominya tiba-tiba duduk didada Dian,
"Ayo suruh ngisep taiknyo dewek!" penisnya yang berlumuran kotoran
Dian yang kental kuning dan bau itu disodokkan ke mulut Dian. Sementara
rekannya yang lain memeggangi kepalanya. Dian terbelalak dan meronta
ronta. Lelaki itu menyetubuhi mulutnya. Dan Dian dapat merasakan cairan
asam, pait dan busuk itu memenuhi mulutnya. Dian meringis menahan
muntah. Tapi mereka tak peduli. Dian tergeletak tak berdaya di atas
ranjangnya. Keenam pemuda itu segera keluar. Diluar suasana mulai
ramai.
"Dian, kalau tidak galak diglir sekampung, layani kami berenam!!
Setiap kami ingin!" Ancam mereka. Dan Dian hanya sanggup menangis.
Sejak kejadian malam itu Dian tak menyadari bahwa foto-fotonya sengaja
disebar semua pemuda berandal di kampungnya. Dan Dian tak bisa berbuat
apa-apa selain pasrah.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,428 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,169 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,461 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,076 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,521 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,553 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,407 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,728 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,280 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,413 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,757 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,356 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,543 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,790 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,069 |
|
|
|
|
|
|
|