|
|
Dari bagian 2 Hari menjelang malam, ketika Dian pulang terburu buru melewati gang
sempit itu. Tiba-tiba lengannya dicekal. Tono, salah seorang yang
memegang fotonya menarik Dian ke balik pagar seng kumuh.
"Jangan Kak. Dak galak aku." Dian menangis ketika melihat Tono sudah memelorotkan celananya.
"Terserah, kalau dak galak kusebar ke foto kau, biar lanang sekampung tahu kau biso dipake"
Dian dipaksa berjongkok.
"Ayo, isep."
Dian dipaksa mengoral Tono. Tempat itu adalah bekas pembuangan
sampah yang sudah dipagari seng. Dian dengan jengah memasukkan penis
Tono ke mulutnya, kemudian mulai menyedot dengan cepat, berharap Tono
segera ejakulasi. Tono mencengkeram kepala Dian yang bertopi itu
kemudian menyetubuhi mulutnya. Diluar rumah Dian memang mengenakan
topi. Dan hal itu malah semakin membuatnya merangsang.
"Pelorotkan jins kau Dian.."
Tono menarik Dian berdiri. Dian memang mengenakan kaos ketat dan
jins ketat, walaupun berkerudung. Dian menangis, tapi ia tahu percuma
membantah. Perlahan ia membuka kancing jinsnya kemudian menurunkan
retsletingnya. Tono menelan ludah ketika jins itu merosot ke mata kaki.
Dian mengenakan celana dalam mini berenda.
"Ayo, nunduk! Cepat."
Dian dipaksa berpegangan pada sebuah bekas meja. Kemudian celana
dalamnnya dipelorotkan menyusul jinsnya. Tono telah ngaceng berat.
Tanpa ba bi Bu lagi ia menyodokkan penisnya ke vagina Dian dari
belakang.
"Ukhhnnghh. Nghh!" Dian merasa ngilu di selangkangannya. Tono
merasakan vagina Dian yang kering dan kesat menjepit penisnya,
menimbulkan kenikmatan.
"Jeritlah kalau berani Dian. Uh! Uh! Uh!"
Tono mulai menyetubuhi Dian. Menyodok nyodok Dian hingga tubuhnya
tersentak sentak. Dian mencengkeram pinggiran meja itu keras, menggigit
bibirnya menahan jeritan kesakitan. Di samping seng terdengar beberapa
orang lewat. Dian mati-matian menahan jgn sampai bersuara. Tono yang
melihat itu semakin bernafsu memperkosa Dian. Kaos Dian digulungnya
hingga leher sehingga ia bebas meremas remas payudara Dia n yang bundar
menggantung. Bahkan Tono mencabut penisnya dan memindahkannya ke lubang
dubur Dian.
"Ngngkh!! Nghh!!" Dian menggigit bibirnya.
Hampir terjerit. Dan Tono menungganginya seperti anjing. Hingga,
croott.. Crrt.. Crrt. Spermanya memancar mengisi dubur Dian. Tono
meremas buah pantat Dian dengan keras. Ia mencabutnya perlahan.
"Ohh.. Nikmat Dian. Besok lagi yo he he he." Tono membenari
celananya sambil menyeringai. Meninggalkan Dian yang terduduk lemas.
Jin dan celana dalamnya di mata kaki.
Dian pamit menginap dirumah temannya malam itu. Walaupun hari sudah
malam ia nekad naik bis kota. Awalnya bis itu ramai. Tapi ketika
memasuki km 7 yang mulai sepi isi bis itu hanya 6 orang pemuda ditambah
kenek dan sopir.
"Eh Dian! Kebetulan."
Dian terkejut. Keenam pemuda itu kebetulan yang memiliki foto
dirinya. Dian segera mengetuk kaca supaya bis berhenti. Terlambat.
Sopir dan kenek bis ikut menyeringai menatapnya. Dian menangis
menyadari ia berada di kandang macan.
"Ayo!"
Dian ditarik ke tengah bis. Tanpa aba-aba keenam pemuda itu telah
mengerubungi gadis itu. Menarik kerudungnya lepas, sebagian
memelorotkan jinsnya dan melepas kaosnya. Dian meronta-ronta. Lampu bis
itu menyala. Walaupun berada di pinggiran kota yang sepi orang dari
luar dapat melihat jelas ia ditelanjangi. Tapi keenam pemuda itu terus
memeganginya. Ia memakai bra dan celana dalam berenda biru yang kontras
dengan kulit putih dan tubuh langsingnya.
"Jangan kak.. Dijingok uwong."
Dian menangis tak berdaya sementara tangan-tangan kasar itu
menggerayangi tubuhnya, meremas buah dadanya, pinggul dan
selangkangannya. Menyelusup di underwearnya. Tiba-tiba bis berhenti
menepi. Diluar hutan. Sopir dan kenek ikut mengerubunginya. Dian
dikeroyok 8 laki-laki yang haus birahi. Sementara kedua tangannya
dipegangi, celana dalam dan branya dilepas. Dian telanjang bulat ketika
digotong keluar. Dian dipaksa memeluk sebuah batang pohon kemudian
tangannya diikat melingkari pohon tersebut dengan tali branya sendiri.
Dan mulailah mereka bergiliran menyetubuhi Dian. Tubuhnya agak
ditundukkan, kakinya direntangkan. Dan mereka menungganginya
bergiliran. Dian hanya dapat memeluk pohon itu erat. Ia diperkosa
sambil berdiri agak tertelungkup. Payudaranya yang menggantung
diremas-remas kasar. Bahkan setelah puas menggagahinya, mereka
bergiliran pula menyodomi gadis itu. Dian dijadikan alat pemuas nafsu
oleh 8 lelaki. Ketika lelaki ke-8 selesai meyodominya, Dian pingsan.
Ia terbangun masih terikat telanjang bulat di pohon itu. Hari mulai
pagi. Mulutnya dibungkam dengan celana dalamnya sendiri. Tangannya
diikat dengan branya. Disebelahnya ada tasnya. Dengan KTP yang
diletakkan dan dompet yang dibuka. Semua dapat melihat siapa namanya,
juga alamatnya. Dan sebuah kertas diletakkan ditanah. Tertulis besar.
"Namaku Dian, juburi aku, perkosa aku, gratis!"
Dian panik dan meronta. Ia berada di tepi jalan. Seketika sebuah
truk orang berhenti melihat gadis telanjang, siap menungging. Sekompi
orang turun sambil tertawa dan menyeringai bernafsu.
"Ayo kita kabulkan permintaan gadis ini!!"
Dian berusaha meronta ketika orang pertama berdiri di belakangnya, kemudian mulai menggagahinya bertubi tubi.
"Mmmffhh!! MMhh!! Nghh!".
Ketika sadar Dian mendapatkan dirinya di pinggiran kota Palembang.
Tergeletak di tepi jalan dengan berpakaian lengkap. Tanpa pakaian
dalamnya.
Malam tahun baru. Dian menghabiskan waktunya di keramaian bundaran
air mancur di kota Palembang bersama teman-temannya. Suasana sangat
ramai. Ia tak tahu beberapa pasang mata mengikuti gerak geriknya.
"San, aku nak kencing dulu!"
Teriaknya diantara hingar bingar suara massa dan terompet,
teman-temannya mengangguk sambil terus bersenang-senang. Dian bergegas
menerobos kerumunan dan mencari WC umum yang terletak di belakang
monumen. Beberapa lelaki mengikutinya. Dian baru saja menunaikan
hajatnya ketika mendadak pintu didobrak. Ia menjerit ketika beberapa
laki-laki mencengkeramnya, menarik dan membopong tubuhnya keluar.
Celana dalam dan jinsnya masih menggantung di betisnya. Mulutnya
dibungkam dan ia dibopong ke taman yang cukup gelap.
Dian ditelungkupkan diatas rumput. Sementara kedua tangannya
dipegangi, sesuatu yang keras melesak di duburnya. Dian menjerit
kesakitan, namun suaranya tersamar oleh teriakan keramaian yang hanya
berjarak 5 meter dari tempatnya diperkosa. Dian dapat merasakan jins
dan celana dalamnya dilepas. Kemudian blus ketatnya ditarik paksa, juga
kerudungnya.
Dia ditelanjangi di tempat umum. Dian merasakan lelaki yang
menyodominya menyodok lebih dalam dan deras sebelum ia bergetar dan
cairan spermanya memancar mengisi anusnya yang perih. Dian hanya mampu
menangis. Kini kedua tangannya diikat ke pohon bougenvil dengan branya
sendiri, terentang lebar. Ia tertelungkup dengan posisi menungging.
"Ayo, giliran." terdengar suara laki-laki.
Mata Dian ditutup dengan kerudungnya sendiri. Ia benar-benar tak
berdaya. Tak tahu siapa saja yang akan memperkosanya. Seseorang mulai
menungganginya lagi, menyetubuhinya dari belakang. Pinggulnya
dicengkeram keras. Setelah selesai, beberapa jari te rasa membukai
lubang anusnya lagi, kemudian seseorang mengisinya dengan minyak
goreng.
"Biaar dak sakit Dian.. Kau jadi lonte malam ini. He he he."
Dian menjerit jerit ketika sesuatu yang keras lagi-lagi melesak di
dubburnya dan menyentak-nyentak. Para tukang becak, sopir angkot, dan
kuli-kuli berkumpul mengantre menyodomi Dian. Sementara Budi dan
kawan-kawan, pemuda yang memergoki Dian waktu pertama mengawasi dengan
puas. Setiap lelaki membayar seribu rupiah untuk membuang sperma mereka
di anus dan vagina Dian malam ini. Bahkan beberapa diantara mereka
memaksa menyetubuhi mulut Dian dan menyemprotkan spermanya dimulut
gadis itu. Budi benar-benar puas mlihat Dian tak berdaya seperti itu.
Bahkan ia pergi ke bundaran yang masih ramai dan mengundang para pemuda
tanggung untuk memakai Dian. Dian terikat diatas rumput dengan posisi
yang benar-benar siap pakai. Maka para pemuda itu mengantre pula
menyodomi Dian. Segera saja taman gelap itu menjadi ramai. Setiap
selesai memakai Dian, mereka pergi bercerita pada rekan lain. Bahkan
seorang pemuda dari Kertapati langsung menelpon rekan-rekannya dengan
HP.
Tiga mobil kijang yang penuh pemuda segera tiba. Bebrapa bahkan
masih SMP. Budi semakin bernafsu. Lelaki yang mengantre Dian semakin
ramai. Bahkan mereka tidak sabar dan memakai Dian beramai-ramai.
Teriakan dan tangisan Dian semakin membuat mereka bernafsu. Dian
dipakai ketiga lubang tubuhnya sekaligus. Sementara tubuh telanjangnya
dilentangkan dibangku taman, kedua kakinya dikangkangkan lebar,
sehingga para pemerkosanya dengan leluasa menyetubuhi vagina dan
anusnya sesuka hati. Sementara kepalanya yang terjuntai diujung bangku
sengaja dipegangi dan mereka menytubuhi mulutnya. Sementara kedua
tangannya terus dipegangi dan kedua payudaranya disudot kanan kiri.
Dian beberapa kali hampir mati tersedak ketika mulutnya disetubuhi
dengan brutal. Mereka terkadang sengaja menutup hidung Dian sambil
menekankan penis mereka ke dalam mulutnya.
Dan semakin Dian panik karena tak bisa bernafas mereka semakin
bernafsu. Pemerkosaan semakin brutal ketika serombongan tukang becak
yang mabuk mengeroyok Dian. Sementara mulut, vagina dan anusnya
disodok-sodok, buah dadanya digigiti dan diremas kasar, bahkan perut
Dian yang rata dan mulus dipukuli hingga Dian hampir pingsan. Akibatnya
ketika penis ditarik dari anusnya, kotoran Dian ikut muncrat tak
terkendali.
Dian benar-benar dilecehkan. Ia diperkosa, disodomi, dan dipaksa
oral sex bergiliran oleh puluhan lelaki ditengah taman kota, ditengah
keramaian, dan kini ia dipaksa membuang hajat. Siksaan terakhir adalah
ketika tukang becak itu memegangi tubuh telanjang Dian diatas rumput.
Kedua tangan dan kakinya direntangkan lebar. Sementara yang lain
memegangi kepalanya dan memaksa Dian membuka mulut lebar-lebar. Saat
itulah salah seorang darri mereka menyendoki kotoran Dian dari anusnya
kemudian menjejalkan ke mulutnya. Dian dipaksa memakan taiknya sendiri.
Bahkan ketika Dian menolak mereka lagi-lagi memencet hidung Dian
hingga tak bisa bernafas, Dian menjerit histeris tak berdaya ketika
dirasakannya taiknya yang asam, pahit dan busuk itu masuk ke
tenggorokannya.
Para penyiksanya tertawa puas. Seorang dari mereka memasukkan
penisnya kemulut Dian dan dengan lancar kencing dimulutnya. Sementara
yang lain memegangi Dian dengan erat. Dian benar-benar diperkosa dan
dilecehkan habis-habisan malam itu.
Ketika polisi datang jam 4 pagi pemerkosaan itu baru berhenti.
Mungkin ada sekitar 100 penis yang sudah dijejalkan pada mulut, anus
dan vaginanya. Dian pingsan tak berdaya, sekujur tubuh dan wajahnya
penuh sperma kering.
E N D
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,428 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,169 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,461 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,076 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,521 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,553 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,407 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,728 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,280 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,413 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,757 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,356 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,543 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,790 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,069 |
|
|
|
|
|
|
|