|
|
Dari bagian 1 "Oke.. Mari kita ikat kedua orang ini" kataku.
Kemudian kami mengikat suami istri itu yang sekali gus membangunkan mereka.
"Siapa kalian?!" suara Pak pejabat setengah membentak.
"Diam dan patuhi perintah kami biar tidak ada yang terluka," kataku dengan berwibawa yang membuat ciut nyali Pak pejabat itu.
Pertama kami mengikat Pak pejabat dengan kedua tangannya ke belakang
dan kakinya juga dengan posisi duduk dan kaki tertekuk. Sementara
istrinya sangat katakutan melihat todongan pistol kami. Sepertinya dia
tidak sadar kalau tidak mengenakan celana dalam lagi. Sementara saya
mengikat istrinya, kedua anak buahku memeriksa semua lemari yang ada di
kamar itu. Kedua tangan si nyonya kuikat ke depan tapi tersambung
dengan ikatan pada kedua kakinya sehingga dia tidak bisa duduk. Mereka
kami taruh di lantai yang berlapis karpet mewah itu. Mereka tentunya
takut berteriak karena todongan pistol kami.
Setelah kami menemukan barang-barang berharga dan sejumlah uang
tunai, secepatnya kami bergegas meninggalkan mereka. Kusuruh anak
buahku duluan mengantar barang-barang tersebut ke mobil kami. Mereka
kira aku tidak memperhatikan, mereka meronta-ronta hendak melepaskan
tali pengikat. Tapi tiba-tiba aku menoleh ke mereka yang membuat mereka
langsung terdiam. Mungkin karena berusaha melepaskan tali, membuat baju
istri pejabat itu tersingkap sehingga memperlihatkan pantatnya yang
bulat.
Posisinya tertidur menyamping dengan kaki dan tangan terikat jadi
satu. Sehingga aku dapat melihat lekukan pinggulnya yang sangat indah.
Kulihat pantatnya yang berhadapan denganku saat itu.
"Ooohh.." tiba-tiba aku tersentak melihat pantatnya yang bulat.
Vaginanya terjepit diantara kedua belah pahanya. Terlihat wajah
kedua suami istri itu cemas dengan apa yang akan kulakukan. Mereka
heran bagaimana bisa sang nyonya tidak mengenakan celana dalam lagi.
Perlaha kudekatkan wajahku ke belahan pantat dan vagina si nyonya yang
terjepit pahanya.
Kembali jantungku berdebar kencang tak teratur. Siapa yang tahan
lihat pemandangan seperti ini. Wajah si nyonya tampak semakin cemas
saja melihat aku mulai mengendus vaginanya.
"Tolong jangan sentuh istriku, ambillah semua yang ada asal jangan kau ganggu istriku.." kata Pak pejabat memohon.
Bukannya aku tak berperasaan, tetapi apapun rasanya tak sanggup
untuk menggantikan vagina istrinya yang telah membuat birahiku naik.
Kujulurkan lidahku sampai menyentuh bibir vagina si nyonya yang
sekaligus menyentuh clitorisnya yang keluar dari bibir vaginanya.
"Auwww.. Jangan.. Kumohon.. Jangan sentuh aku.." kata si nyonya
memohon. Dengan posisi seperti ini, berarti dia memunggungi aku. Dia
berusaha menoleh ke arah wajahku yang mulai menjilati vaginanya.
"Auhh.. Jangan.. Auhh.." katanya dengan suara memelas dan kegelian.
Aku tak perduli lagi, kali ini aku mau merasakan vaginanya secara
utuh, sebagai balasan yang tadi. Kembali kujilati bibir-bibir vaginanya
sambil mengelus-elus bongkahan pantatnya yang bulat besar. Terlihat
belahan pantatnya membelah sampai ke vaginanya, sungguh pemandangan
yang sangat indah.
Sementara batang zakarku kembali tegang. Segera kubuka semua
pakaianku tanpa melepas cadar zorro ku. Sepertinya Pak pejabat sudah
pasrah, mungkin sebagai lelaki dia dapat merasakan apa yang kurasakan,
yaitu nafsu yang harus dituntaskan. Untuk itu sia-sia saja dia memohon
bila sudah sejauh ini.
Kemudian kubuka pakaian tidur istrinya dengan mengguntingnya.
Terpampanglah tubuh nyonya pejabat yang sangat mulus dan putih.
Kugunting lagi BH nya dan tersembullan buah dadanya yang lumayan besar
dan sudah mulai mengeras. Kedua tanganku meraba buah dadanya dari
samping. Kuremas-remas dengan gemasnya.
"Akhh.. Jangan.. Akhh.." saya jadi merasa lucu tidak bisa membedakan larangan atau erangan yang keluar dari mulutnya.
Sambil meremas buah dadanya, kuciumi tengkuknya sampai ke punggungnya yang membuat bulu romanya merinding.
"Akhh.. Tolong.. Jangan teruskan.. Akhh.." katanya lagi berusaha menghentikanku.
Sementara badannya menggeliat-geliat merespon ciumanku. Ciumanku
terus turun menyusuri pinggangnya yang ramping sampai ke buah
pantatnya. Kujilati buah pantatnya dua-duanya. Kugigit daging pantatnya
yang kenyal.
"Auwww.. Sakit.." erangnya kesakitan.
Kususupkan kepalaku ke pusarnya yang terjepit diantara ikatan
tangan dan kakinya. Kujangkau sedapat mungkin bagian depan vaginanya
sampai bagian itu basah dengan ludahku. Puas dengan itu, kembali kedua
tanganku meremas dua buah pantatnya sementara mulutku melumat bibir
vaginanya yang terjepit tanpa tersisa. Lubang vaginanya mulai
mengeluarkan lendir bening, pertanda dia juga mulai terangsang.
Kujilati kedua batang pahanya yang mulus dan kembali lagi ke lubang vaginanya. Kucoba memasukkan lidahku ke lobang vaginanya.
"Auw.. Jangan.. Akhh.. Jangan.." dia mulai menangis tapi seperti kenikmatan juga.
Mungkin karena di depan suaminya membuat dia tersiksa antara
menikmati tapi takut dengan suaminya. Sebenarnya aku masih ingin
berlama-lama dengan tubuh nyonya pejabat ini tapi karena keburu pagi
dan anak buahku terlalu lama nunggu dan bisa curiga, akhirnya aku
berusaha menuntaskannya.
Tubuhku kurebahkan dan mensejajarkan dengan posisi tubuhnya dimana
bagian tubuhnya yang sebelah kiri berada dibawah. Dia memunggungiku
sementara badanku menghadap punggungnya. Perlahan kupaskan posisi
selangkanganku dengan pantatnya yang membuat batang zakarku menyentuh
belahan pantat dan bibir vaginanya. Tanganku yang kiri kususupkan dari
bawah tubuhnya sampai dapat menggenggam buah dadanya sebelah kiri.
Kupegang dengan erat yang membuat dia mengerang.
"Akhh.. Aaku mau diapakan.." tanyanya.
Tangan kananku mulai menggenggam batang zakarku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya yang terjepit pahanya.
"Auw.. Jangan.. Tolong.. Jangan dimasukkan.." katanya sambil
menjauhkan vaginanya dari penisku yang mulai menyentuh bibir vaginanya.
Biar tidak bergerak, kuangkat kaki kananku dan meletakkan diatas
pinggulnya serta mengunci pergerakannya. Setelah tenang kembali
kuarahkan batang zakarku ke lubang vaginanya.
Perlahan kuselipkan kepala penisku ke lubang vaginanya, dan..
"Auw.. Jangan.. Kumohon jangan masukkan.." katanya mengerang.
Tapi aku tak perduli lagi, kutekan pantatku sampai kepala penisku terbenam di jepitang lubang vaginanya.
"Pah.. Gimana donghh.. Ini.." katanya sambil menoleh ke suaminya yang wajahnya memerah.
Tapi Pak pejabat tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kurasakan kepala
penisku sudah mantap terjepit di lubang vaginanya, kemudian tangan
kananku meraih buah dadanya yang satu lagi.
"Tolong.. Jangan.. Tekaann.. Auw.." tiba-tiba dia menjerit ketika
kutekan penisku hingga batang zakarku amblas semuanya yang membuat
tubuhku sampai melengkung.
"Bleessek" suara batang zakarku menyusuri liang vaginanya.
Sesaat kudiamkan penisku didalam liang vaginanya. Kuciumi
tengkuknya dan berusaha menciumi bibirnya tapi tidak sampai. Perlahan
kuayun pantatku mengocok vaginanya. Karena terjepit pahanya membuat
lubang vaginanya agak keset dan nikmat sekali rasanya.
"Akhh.. Hentikan.." katanya masih menangis berusaha menolak nikmat yang semakin dia rasakan.
Kupercepat ayunan pantatku membuat badannya terdorong-dorong ke depan.
"Auw.. Auwww.. Akhh.." erangannya keluar setiap penisku kudorong kedepan.
"Akhh.. Pahh.. Tolongin.. Pahh.. Akhh.." tiba-tiba kurasakan tubuhnya mengejang, pahanya semakin keras menjepit kontolku.
Badannya semakin menggulung ke depan menyebabkan badanku semakin
ikut melangkung karena tertarik kontolku yang dijepit kuat vaginanya.
"Akkhh.. Pahh.." erangnya disaat kurasakan kepala zakarku disirami oleh cairan orgasmenya didalam liang vaginanya.
Kemudian dia lemas dan pasrah ketika semakin cepat kugoyang
tubuhnya. Pak pejabat sekilas kulihat malah menonton keluar masuknya
batang zakarku di vagina istrinya. Nampak wajahnya merah padam, mungkin
ikut terbawa suasana juga. Beberapa menit kemudian aku ingin
menuntaskan permainan ini. Kupercepat kocokan penisku di vaginanya,
sampai menimbulkan bunyi, blessep.. bleessep.. blep, perpaduan antara
batang zakarku dengan lubang vagina ibu pejabat itu.
Sesaat kemudian kudekap erat tubuhnya. Kedua tanganku dengan kuat membetot buah dada nyonya besar itu.
"Auwww.." jeritnya kaget merasakan ketatnya genggaman tanganku di buah dadanya.
Kemudian kaki kananku kembali kuletakkan di atas pahanya dan
menjepitnya dengan kuat. Dengan pegangan yang kuat terhadap buah
dadanya dan disertai jepitan kakiku di sekitar pahanya, kutekan penisku
perlahan ke dalam liang vaginanya sampai mentok terganjal buah
pantatnya. Walaupun sudah mentok, kudorong terus sekuat tenaga sampai
tubuhnya terdekap dengan sangat kuat oleh tangan dan kakiku.
"Akhh.. Ohh.. Ampuunn.." erangnya masih dengan malu-malu
mengeluarkan ekspresi kenikmatannya. Kelihatannya dia juga hendak
orgasme yang kedua kalinya. Kurasakan dia juga mendorong pantatnya
dengan kuat agar batang zakarku lebih dalam masuk ke laing vaginanya.
"Akhh.." erangan suaraku sangat berat melepaskan spermaku ke liang vaginanya.
"Cabuutt.. Jang.. an.. Keelluuaarrkhaann.. Di.. Dal.. lam.."
katanya disaat spermaku muncrat didalam rahimnya tetapi sudah tidak
kuperdulikan lagi. Spermaku terasa muncrat menembaki dinding rahimnya
yang membuat banjir liang vaginanya.
"Aukhh.. Akhh.. Oohh.." tiba-tiba tubuhnya juga mengejang sampai
melengkung ke depan. Kurasakan lagi semprotan cairan orgasmenya
menyirami kepala penisku.
"Ahh.." erangnya lagi di sisa-sisa orgasmenya sementara masih terasa kedutan vaginanya mengurut-urut batang zakarku.
Tubuh kami berdua melemas. Untuk sesaat masih kudekap tubuhnya dan
membiarkan batang zakarku tetap terbenam didalam liang vaginanya. Kami
berdua terdiam dan dia juga tidak memperdulikan suaminya lagi. Mungkin
ini kenikmatan yang paling indah dia rasakan dengan tubuh yang terikat.
Beberapa saat kemudian kucabut penisku dari dalam vaginanya."Plop!"
terdengar suara dari lubang vaginanya manakala penisku tercabut.
"Akhh.." erangnya lagi merasakan gesekan penisku meninggalkan liang vaginanya.
Segera kukenakan pakaianku. Sesaat kutatap mereka berdua.
"Maaf.. Pak, Bu, saya tidak bisa menahan diri," kataku sambil berlalu meninggalkan kamar itu.
Di tangga kudapati anak buahku mau menyusul aku. Mereka takut apa
yang terjadi padaku di atas. Setelah kubilang semuanya aman dan
terkendali, kami bergegas meninggalkan rumah itu dengan hasil yang
paling besar artinya sepanjang karirku merampok.
Sesaat kami hendak meninggalkan rumah itu, terdengar dari atas suara teriakan seorang perempuan.
"Rampookk..!"
E N D
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,423 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,166 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,451 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,075 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,520 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,552 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,404 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,728 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,279 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,413 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,757 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,356 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,543 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,790 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,064 |
|
|
|
|
|
|
|