|
|
Dudung masih menanti jawaban dari lelaki
sebayanya yang tengah menghisap batang cerutunya dalam-dalam. Dirasanya
memang pinangan yang diajukannya teramat berat untuk dilontarkan kepada
orang tua Dina. Lelaki tua di hadapannya itu sebentar-sebentar
mengernyitkan keningnya seakan tak percaya bahwa Dudung, sang dukun
pengobatan asal madura yang sebelumnya telah memiliki 2 orang istri itu
berniat untuk menjadikan anak gadis semata wayangnya sebagai istri yang
ketiga, padahal usia calon menantu dan calon mertua itu terpaut sama,
yakni 48 tahun!
"Edan kamu Dung?! Kamu masih menginginkan Dina, anakku? Kamu pasti
sudah tidak waras!!", hardik si Somad, ayah Dina sekaligus calon
mertuanya itu.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku Pak Somad, aku berjanji
akan membahagiakan Dina, maka aku memberanikan diri kembali ke sini
untuk melamarnya", tukas Dudung sambil dalam hati tetap komat-kamit
membaca mantra gaib yang menjadi andalannya untuk membuat lelaki itu
takluk pada kemauannya.
"Sudahlah Pak, serahkan saja keputusannya kepada anak kita, toh
mereka ini yang akan berumah tangga nantinya", sela si ibu Dina yang
duduk di sebelah Somad.
Wanita berusia 45 tahun ini melirik Dudung seakan memberi tanda
setuju akan pinangannya. Tentu saja ibu Dina bisa berkata begitu karena
jampi-jampi Dudung sebelumnya telah berhasil menaklukkan hatinya sejak
kemarin-kemarin.
"Lalu apa kata orang-orang nanti? Kita ini kan orang terpandang di
jawa tengah.. Bukankah pernikahan ini nantinya akan mencemari nama baik
kita, istriku?", jawab Somad kepada istrinya sambil menekan ujung
batang cerutunya yang telah pendek sampai gepeng di asbak ruang tamu
rumahnya yang begitu besar sekaligus mewah ini.
"Sudah lupakah engkau Pak? Bahwa Dudung telah banyak berjasa pada
kita semua? Dia telah menyembuhkan penyakit kita sekeluarga, termasuk
Dina dan aku! Ingatkah yang paling penting? Sewaktu engkau tergeletak
hampir mati terkena guna-guna dari saingan bisnismu? Kalau bukan karena
si Dudung ini, mungkin sekarang aku telah menjadi janda Pak", tutur
istrinya seakan membela Dudung.
Dudung pun diam-diam membatin dalam hatinya, ini pun terpaksa ia
lakukan karena wangsit dari guru kebatinannya yang mengharuskan dirinya
memperistri Dina. Menurut gurunya, hanya Dina yang jika diperistri
dapat menyempurnakan semua ilmu kanuragannya, termasuk pula ilmu
pengobatannya. Sebab Dina mempunyai tanda-tanda lahir yang berjodoh
dengan Dudung dalam wangsit tersebut.
"Ngghh..", tampak Somad terperangah dengan ucapan istrinya barusan
dan tampaknya ini sangat berpengaruh padanya, sehingga ia seperti
kehabisan kata-kata sesaat.
Dudung masih terus merapal seluruh mantera-mantera yang
dipunyainya, ketika itu ia teringat akan sesuatu hal dan menatap ke
sebuah pintu kamar di penghujung ruang tamu itu. Di sana lah tadi si
Dina mendekam setelah tahu kedatangan dirinya kembali malam ini. Namun
tekadnya sudah bulat, meskipun sebelumnya ia takut akan penolakan
mereka yang selama ini selalu memberikan bantuan finansial apabila
Dudung memerlukan biaya untuk mencari maupun membeli ramuan pengobatan
alternatif yang diperlukannya serta keperluan usaha sampingan ternak
unggasnya.
"Nah kan baru merasa kamu kalau Dudung telah menyelamatkanmu
dahulu! Mengenai pernikahan biar saya yang atur saja Pak. Mereka kita
nikahkan di villa pribadi kepunyaan Bapak yang agak jauh dari keramaian
kota", saran ibu Dina memberi solusi atas argumen suaminya itu.
Kemudian disusul isak tangis dari dalam kamar yang ditatap Dudung
tadi. Di sanalah Dina, gadis yang masih berusia 18 tahun itu bersemayam
di dalamnya. Tampaknya ia baru saja mendengar percakapan itu dan
tangisnya merupakan tanda ketidaksetujuannya atas apa yang baru saja
diperbincangkan kedua orang tuanya di hadapan Dudung, sang dukun.
*****
"Dung.., setelah resepsi ini selesai, aku mohon kesabaranmu dahulu
kepada Dina. Sejujurnya dia masih tidak menyukaimu, namun setelah aku
dan suamiku memberi pengertian padanya agar tidak menolaknya kalau
tidak ingin berat jodoh, maka ia mau juga memakai busana pengantinnya
untukmu", pesan ibu Dina sambil merapikan kerah kemeja di balik busana
jasnya.
"Baik Bu", jawab Dudung seperti anak kecil yang tengah mematuhi wanti-wanti dari ibunya.
Memang ibu Dina kini telah menjadi ibu mertua si Dudung, padahal
usia Dudung lebih tua darinya beberapa tahun. Jadinya terkesan lucu..
Apalagi Dudung tak mempunyai wali dari orangtuanya yang telah
meninggal, dan apalagi kedua istrinya yang tidak hadir menunjukkan
ketidaksenangannya pada dirinya karena menambah madu lagi.
"Kamu dan Dina nanti dapat tinggal di rumah baru yang telah
disediakan oleh Bapak, namun Dina harus tetap bersekolah. Biar
bagaimanapun Dina harus menamatkan SMU-nya terlebih dahulu agar
nantinya ia dapat memasuki jenjang perkuliahan. Aku tak mau sekolahnya
sampai putus hanya karena pernikahan ini", tukas ibu mertuanya lagi.
Seketika Dudung berjalan di balik busana kebesarannya melewati
banyak tatapan mata ketidaksetujuan atas dirinya dari kerabat-kerabat
keluarga Dina. Namun ia tidak terlalu khawatir akan hal itu, karena
orang tua Dina yang diimpikannya telah berhasil ia taklukkan sudah.
Namun yang dikhawatirkannya adalah Dina yang akan menjadi istrinya ini
tak boleh ditaklukkan dengan ilmunya, apalagi sampai dizinahinya, kalau
itu dilakukan, akan habislah seluruh ilmu yang selama ini ia punyai.
Selain itu usaha berhari-hari dalam semedi demi menegosiasikan agar
tidak jadi memperistri si Dina ditolak oleh gurunya, karena syarat
menikahi gadis itu menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar
lagi. Maka dari itu ia hanya bisa mengguna-gunai ayah dan ibunya saja
demi tercapainya tujuan untuk mempersunting anak semata wayang mereka.
Dengan langkah mantap namun hati berdebar Dudung menghampiri sosok Dina
yang begitu cantik di matanya dalam busana pengantin wanita yang begitu
indah dan sangat mahal tentunya.
Dudung tak henti-hentinya menelan ludah dan sebentar-bentar melirik
ke arah Dina yang bersanding di sebelahnya mengagumi lekuk liku tubuh
gadis belia itu ketika mereka berdua menghadap penghulu. Untaian
nasihat dan wejangan dari sang penghulu sama sekali tak didengarnya,
Dudung hanya sibuk berkhayal dengan fantasi pikirannya sendiri
bagaimana caranya untuk menundukkan si Dina ini nantinya. Tetapi ia
dikagetkan ketika telinganya menangkap bahwa untuk kedua kalinya sang
penghulu kembali mengucapkan kalimat;
"Bersediakah Saudara Dudung untuk mengambil Saudari Dina sebagai
istrinya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal
memisahkan kalian berdua??"
"Ya! Saya bersedia!", fiuhh.. Hampir saja ia melewatkan moment penting tersebut.
"Bersediakah Saudari Dina untuk mengambil Saudara Dudung sebagai
suaminya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal
memisahkan kalian berdua?"
Keheningan melanda untuk beberapa saat di antara tatapan mata yang
menyorot ke arah sang pengantin perempuan. Sebelum pada akhirnya suara
manis lembut nan halus sedikit tercekat itu menjawab..
"I.. Ya.. Bersedia"
*****
Dudung merasa nyaman berbaring di ranjang pelaminan besar dan mewah
di kamar rumah barunya bersama istri mudanya. Tak pernah diimpikannya
sama sekali bahwa dirinya telah menjadi menantu orang kaya serta
mendapatkan istri secantik Dina ini. Tak ada orang lain lagi di situ
selain dirinya.
Suara gemericik air shower di kamar mandi itu masih terdengar. Di
sanalah istri mudanya yang benar-benar masih sangat muda tersebut
sedang mandi membersihkan tubuhnya. Aroma sabun wanginya sungguh
menebar sampai ke dalam kamar pengantinnya yang dilengkapi oleh kamar
mandi. Tadi juga ia telah merasakan bagaimana enaknya membasuh tubuh
dengan shower, yang mana selama ini belum pernah dalam hidupnya Dudung
menikmati fasilitas mewah seperti yang ada di rumah ini sekarang.
Yang dinantinya telah usai mandi. Dari balik kamar mandi itulah
sosok istrinya keluar dengan busana baju tidur yang sedemikian indah
sedikit transparan hingga membuat Dudung terkesima untuk beberapa saat.
Dipandangnya Dina yang tengah mengeringkan rambut hitam panjangnya
dengan handuk tebal. Sehabis mandi begitu terlihatlah keputihan dan
kemulusan tubuhnya dari muka sampai ke ujung jari kakinya. Malahan
saking putih dan bersihnya hingga alur-alur urat kebiruan di tubuhnya
terlihat nyata di penglihatan Dudung.
Rasanya kedua istrinya terdahulu tak dapat menyamai kecantikan dan
keindahan wajah dan tubuh istri ketiganya ini. Dan yang terpenting..
Masih perawan! Istri pertama yang dikawininya ternyata sudah tak
perawan lagi setelah diperdaya cinta pertamanya, sedangkan istri
keduanya adalah seorang janda tanpa anak yang dikawininya karena rasa
kasihan ketika ia melanglang buana menuntut ilmu kanuragan dan
menemukan mereka berdua dalam waktu yang terpisah.
"Dina istriku.. Kamu sudah mandi?", tanya Dudung dengan wajah dan
suaranya dibuat semanis mungkin kepada istrinya itu. Padahal ini adalah
pertanyaan tolol yang tak perlu dijawab, karena sudah tahu si Dina
sudah mandi, kenapa masih ditanya? Namun orang yang sedang mabuk
kepayang memang begitulah adanya. Dina tak menjawab pertanyaan itu,
wajahnya tertegun tanpa ekspresi kepada sosok kurus hitam namun kekar
yang terbaring di ranjang pengantin tersebut, suaminya sendiri.
Dudung pun mengambil inisiatif, ia bangun dari pembaringannya dan
menarik lengan istrinya ke ranjang peraduan mereka. Masih acuh tak acuh
Dina menanggapinya, tapi ia tak menolak ketika Dudung membawanya duduk
di tepian ranjang itu. Dudung merengkuh tubuh istrinya yang telah harum
mewangi karena habis mandi dan mencoba untuk mencium tengkuk istrinya
itu, namun tak disangka-sangkanya Dina beringsut dari pelukannya,
sehingga ciuman itu luput.
"Dina sayang, ada apa denganmu? Kini kita sudah resmi menjadi suami
istri yang sah.. Aku ingin mencumbuimu", tanya Dudung sambil menahan
kesabarannya atas perlakuan Dina tadi.
"Aku letih sekali Mas setelah resepsi seharian ini", keluh Dina memberi tanda bahwa dirinya tidak mau disentuh oleh Dudung.
Namun Dudung tak putus asa, ia langsung memberanikan diri untuk
mengusap payudara istrinya yang masih tertutup baju tidur dan
kutangnya, tapi Dina melihat gelagat itu dan secara refleks menepis
tangan suaminya itu.
"Ahh.. Kenapa?", Dudung pun heran atas ulah istrinya ini.
"Aku benar-benar capek sekali Mas.. Sekarang tidurlah Mas.. Khan
masih ada hari esok", jawaban Dina memang masuk akal, akhirnya Dudung
pun mengalah untuk malam ini, padahal malam ini adalah malam pertama
pernikahan mereka.
Hari-hari berikutnya pun begitu.
"Aku sedang mendapat haid Mas"
"Bah!", umpat Dudung dalam hati. Padahal nafsunya sudah di ubun-ubun. Dia pun memakai pakaiannya untuk pergi.
"Mas Dudung mau kemana?"
"Apa pedulimu? Aku mau plesir..!", gerutunya pada Dina. Tujuannya
cuma satu, ia akan meminta 'jatah' ranjang dari salah satu istrinya
yang lain malam itu juga untuk digauli.
Setelah seminggu lewat pun masih belum ada perubahan. Padahal seharusnya masa menstruasi istri ketiganya ini telah berakhir.
"Dina ada ujian mid-test besok Mas, harus kebut belajar malam ini"
Dudung pun terdiam. Sia-sia usaha rayuan dan cumbuan yang ia
lakukannya selama ini pada Dina yang selalu menolaknya secara halus.
Masih juga dia pakai alasan klise untuk menolakku? Lihat saja nanti!
Umpatnya dalam hati.
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,502 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,214 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,573 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,104 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,572 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,595 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,459 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,740 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,305 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,420 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,763 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,371 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,546 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,797 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,099 |
|
|
|
|
|
|
|