|
|
Dari Bagian 1 Hari sudah gelap berkabut malam nan pekat, namun Dina belum juga
pulang. Tadi saat bicara via telepon genggam, ia bilang pada Dudung
suaminya bahwa ia ikut teman-temannya dulu jalan-jalan seusai pulang
sekolah. Dina memang kebagian jadwal sekolah dimulai dari siang sampai
sore hari. Tapi Dudung kelihatan sangat gelisah sekali malam itu,
bahkan sejak siang hari tadi.
Bukan kecemasannya pada Dina istrinya yang belum pulang itu yang
menyebabkan hal tersebut. Namun nafsu birahinya hari itu begitu
meledak-ledak tak tertahankan mempengaruhi libidonya serta sudah
mencapai puncaknya. Kedua pembantu rumah itu telah pulang sejak sore
hari. Mereka berdua memang bukan pembantu yang menetap di rumah besar
dan cukup mewah tersebut, sehingga kini di rumah itu tinggal Dudung
sendirian yang tengah menanti kepulangan istri termudanya.
Dina muncul di pintu kamar dengan seragam sekolah putih abu-abu
yang dikenakannya sejak siang hari tadi. Dudung semakin bertarung
dengan kalbunya yang sedari tadi memenuhi benak maksiatnya di kepala.
Pandangan Dina masih saja acuh tak acuh padanya, tetap menunjukkan
keangkuhannya pada dirinya yang telah ia rasakan sejak malam pertama
mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Namun kini ia mendapat
balasan ekspresi wajah yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari
suaminya yang tua ini. Wajah Dudung kini begitu garang menghampiri
keberadaan dirinya yang tengah melangkah menuju kamar mandi di kamar
itu. Sorot matanya begitu tampak mengerikan di mata Dina. Namun tangan
Dina telah tercekal oleh Dudung.
"Mas?! Mau apa kamu?!!"
"Mau apa?! Aku ingin menuntut hakku atas dirimu!"
"Apa-apaan kau Mas?! Aku sudah capek sehabis jalan-jalan dengan teman!"
"Hmm?! Capek?! Kapan kamu pernah bilang bahwa kamu tidak capek? Aku sudah jenuh mendengar segudang alasanmu!"
Dina berusaha melepaskan tangannya yang tercekal itu, namun Dudung
begitu kuat mencengkram tangan mungil nan halus miliknya. Kelopak mata
indah milik Dina nan biasanya begitu angkuh di mata Dudung, kini mulai
berkaca-kaca menuntut belas kasihan pada suaminya itu.
"Lepaskan aku! Ahh.. Tolong!", jerit Dina akhirnya.
"Percuma saja engkau berteriak! Takkan ada yang mendengar!", balas Dudung.
Dan memang benar rumah besar itu sedemikian rapat struktur
bangunannya, sehingga suara-suara dari dalamnya dapat teredam. Terlebih
lagi di kamar itu daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati asli
nan tebal. Dudung melemparkan tubuh Dina yang masih lengkap dengan
sepatu seragam sekolahnya ke ranjang. Dina pun terjerembab di atas
kasur mewah tersebut, belum lagi ia sempat bangun, Dudung telah
menyusul menerkamnya bak singa lapar mendapatkan mangsanya.
Permohonan Dina tak digubrisnya sama sekali malam itu. Dudung sibuk
mengikat istri ketiganya itu di atas ranjang dengan tali yang telah ia
persiapkan sebelumnya. Dan ia mengikat pergelangan tangan kanan Dina
dengan mata kaki kanannya, demikian pula tangan kiri diikat menjadi
satu dengan kaki kirinya.
"Jangan Mas! Ampun! Ampunn!", mohon Dina begitu mengiba pada
suaminya ini. Tapi Dudung malah membekap mulutnya dengan gelungan sapu
tangan yang diikatkan melewati belakang kepalanya.
"Mmph.. Mmphh!", habislah daya upaya Dina untuk berteriak kini.
Mulut mungil gadis itu telah dibungkam sepenuhnya oleh sang suami.
Dudung demi mendapati istrinya telah tak berdaya itu segera
melolosi baju tidurnya yang seperti jubah dengan tali di pinggangnya.
Seketika tubuh bugilnya yang hitam namun kekar itu dipertunjukkannya
kepada Dina istrinya. Dina pun terkesiap, tak disangka sosok kurus
suaminya itu begitu tegap dan ia secara refleks memandang ke arah
selangkangan Dudung yang telah bugil ini serta melihat kemaluannya yang
panjang mengangguk-angguk di antara jembutnya yang merona putih dan
hitam di sana-sini seperti rambut di kepalanya yang bercampur dengan
uban.
Dina terduduk di ranjang itu dalam keadaan terikat tangan dan
kakinya. Bola mata indahnya nan bening itu tetap memancarkan belas
kasihan yang mendalam. Tapi Dudung sudah tak peduli lagi akan hal itu.
Kesabarannya telah habis untuk memaklumi istri mudanya yang belum
berhasil ia tundukkan. Ilmunya tak akan sempurna kalau belum menggauli
gadis itu. Ditatapnya wajah Dina yang cantik menawan itu. Hidung istri
ketiganya begitu bangir dan mungil, semungil tubuhnya yang saat ini
terikat erat. Bibirnya ranum merekah memerah di balik sumpalan sapu
tangan. Rambutnya panjang terurai melewati bahu. Ah! Betapa cantiknya
dara belia ini.
Dina pun meronta-ronta ketika Dudung berusaha membuka kancing
seragam SMU-nya yang masih menyisakan rona keringat di sana-sini.
Mereka berdua masing-masing bertahan pada kemauannya yang bertolak
belakang. Terjadi pergumulan seru di antara keduanya. Meskipun dalam
keadaan terikat Dina terus mengelak ke kanan dan ke kiri sehingga
Dudung kesulitan untuk melepaskan kancing-kancing seragam sekolahnya.
Namun tak diduganya sebuah tamparan telak menghantam pipi kirinya yang
mulus putih itu. Plak!
Gadis itu membelalakkan matanya tak percaya bahwa suaminya akan
berbuat kasar pada dirinya. Sesaat ia seperti tak sadar, sehingga
memudahkan Dudung membuka kancingnya. Namun itu tak berlangsung lama,
Dina berontak lagi menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Dudung kesulitan
dalam menjalankan aksinya. Mulut Dina menceracau tak jelas di balik
bungkaman sapu tangan. Baru dua buah kancing yang terlepas di dadanya.
Sampai sini Dudung sudah kehilangan akal sehatnya. Diambilnya gunting
dari laci meja rias, kemudian diguntingnya seragam sekolah istrinya
sampai menyisakan kutangnya saja. Namun rok abu-abunya masih menutup
lengkap dari belahan pinggang rampingnya sampai ke bawah mendekati
kedua lututnya.
Dina menangis sesenggukan, sementara Dudung semakin liar matanya
menatap tubuh mulus istrinya itu yang telah sah dinikahi. Benar-benar
putih dan bersih dari jenjang leher sampai pusarnya. Dudung pun lelah
dengan ulah istrinya yang selalu mengiba lewat kelopak mata bening
indahnya menatap minta dikasihani olehnya. Ia lalu membalikkan tubuh
istri mudanya itu sehingga menungging di atas ranjang pelaminan mereka.
Dalam keadaan demikian posisi Dina benar-benar terjepit. Ikatan
pergelangan tangan kanan dengan mata kaki kanan serta pergelangan
tangan kiri dengan mata kaki kirinya benar-benar mengunci dirinya saat
menungging. Pipi kanannya terpuruk di kasur ranjang dengan berurai air
mata kesedihannya, namun dalam posisi itu Dudung sudah tak melihatnya.
Dan memang itulah yang diinginkan Dudung, agar ia bisa puas menikmati
jenjang tubuh dara belia ini tanpa harus melihat ekspresi mengiba itu.
Dudung melepas sepasang sepatu sekolah Dina yang masih melekat di
kedua kakinya. Aroma pengap kaus kakinya yang putih bersih tercium oleh
Dudung bagaikan undangan birahi yang datang dari surga ketujuh
untuknya. Bagai kesetanan Dudung melolosi sepasang kaus kaki sekolah
istri mudanya yang berpeluh tersebut untuk kemudian tanpa sepengetahuan
Dina kaus kaki itu di ciuminya bergantian. Dengan tangan tuanya, dudung
mengelus punggung gadis belia itu dengan lembut sebelum melepaskan tali
kutang istri ketiganya tersebut.
Bra Dina kini telah jatuh ke sprei ranjang itu. Dudung kini
jakunnya turun naik menikmati keindahan kedua bukit payudara istri
mudanya yang menggantung membulat padat merangsang. Dielusnya puting
payudara gadis itu bergantian kanan dan kiri sambil sesekali
diremasnya. Tubuh Dudung kini membungkuk di atasnya seraya mencumbui
tengkuk istrinya yang menungging tak berkutik dan masih tetap
mengusap-usap kedua belah gunung kembarnya yang begitu kenyal di
jari-jari tangannya.
Dina mulai merasakan sensasi aneh mulai menjalari tubuhnya ketika
tangan-tangan tua lelaki ubanan itu merayap di belahan dadanya. Memang
seumur-umur ia sama sekali belum pernah disentuh oleh lelaki sedekat
dan seintim ini. Tapi ketidaksukaannya terhadap suaminya yang main
paksa itu masih teramat kuat, sehingga ia berusaha menahan gairah dan
rasa yang mulai mengisi sendi-sendi di tubuhnya.
Namun usaha Dudung tak hanya sampai di situ. Tak percuma ia sudah
beristri lebih dari satu kalau tidak bisa membangkitkan birahi
perempuan. Lewat sentuhan jari-jari tangannya ia mulai mengelusi
titik-titik gairah istri ketiganya yang paling muda ini. Bahkan kini
wajah Dudung menyusup ke kolong dada Dina yang menungging menggantung
dan sambil telentang Dudung mulai menjilati dan mengulumi puting
payudara indah milik istri mudanya tersebut.
Percuma saja Dina bertahan dengan kekukuhannya untuk menolak gairah
perawannya yang tengah dibangkitkan oleh sang suami. Maklumlah seorang
gadis belia seusianya belum mampu mengendalikan diri serta belum tahu
cara bermain cinta. Seperti bermain layang-layang, ia tidak tahu kapan
harus menarik dan kapan harus mengulur. Demikian pula saat bermain
cinta, gadis itu tidak dapat mengendalikan sensasi birahi pada dirinya,
sehingga langsung terhanyut ke dalam pusaran arus dahsyat yang
disodorkan suaminya.
Puting payudaranya yang masih berwarna merah muda itu
perlahan-lahan mulai membesar dan mengeras serta semakin kenyal
memadat. Dudung pun merasakan perubahan itu dan ia pun senang karena
daya upayanya membangkitkan gairah perawan istri ketiganya itu mulai
menampakkan hasil. Ia semakin tekun menjelajahi lekuk liku tubuh dara
belia yang telah separuh telanjang di hadapannya kini.
Setelah puas mempermainkan bukit kembar istrinya yang begitu indah
menawan dipandang mata, Dudung pun bangkit berdiri dan mengambil posisi
duduk di belakang pinggul Dina yang menungging. Perlahan ia menyibakkan
rok abu-abu seragam sekolah istri mudanya itu sampai pinggangnya, maka
kini terlihatlah sepasang paha putih Dina begitu indah terpampang
baginya. Diusapnya paha putih bak lobak milik sang dara belia yang
ceracaunya sudah tak diindahkan lagi oleh lelaki tua itu di balik
bungkaman sapu tangan di mulutnya.
Sesekali diciuminya bongkahan paha putih istrinya yang masih
beraroma keringat sehabis pulang tadi dan Dudung senang sekali dengan
bau yang melekat di situ. Dudung pun tersenyum menatap bagian
selangkangan Dina yang masih tertutup oleh celana dalam putih berenda
miliknya, sebab ada rembesan basah nan lengket bening seperti putih
telur di situ. Tahulah dia, istrinya sudah terangsang juga oleh
keahliannya membangkitkan birahi wanita.
Tak sabar Dudung menantikan saat dimana ia akan dapat melihat apa
yang tersembunyi di balik celana dalam putih berenda yang telah basah
mencetak bening seperti sebuah kepulauan pada sebuah atlas. Diraihnya
karet celana dalam itu serta diperosotkannya perlahan sampai setengah
paha atas istrinya saja. Celana dalam yang tadi menutup belahan
selangkangan Dina kini telah merosot setengah paha dengan bagian yang
tadi menutupi keintimannya menjadi berbentuk mangkuk seakan mewadahi
miliknya yang sangat pribadi itu.
Sampai di sini Dudung pun terpana menyaksikan keindahan dari
selangkangan istrinya yang begitu menawan hatinya. Betapa tidak.. Baru
kali ini ia dapat melihat kemaluan perempuan yang masih perawan,
apalagi si Dina ini adalah seorang gadis yang masih sangat muda belia
untuknya. Bulu-bulu jembut dara itu masih begitu halus dan tidaklah
lebat seperti kedua orang istrinya terdahulu. Gundukan kemaluannya
sangat kencang membentuk lekukan nan indah menawan hati. Dan yang lebih
membuat Dudung terkesima dibuatnya, lubang keintiman Dina masih
tertutup rapat menyerupai garis vertikal yang tak terlalu panjang
menunjukkan bahwa lubang kegadisannya pasti sempit dan kecil.
Di atas celah kegadisannya bertengger pula lubang sempit ketat
kepunyaan istri ketiganya ini berwarna merah muda yang berkeriput
sedikit pucat yakni liang anus Dina. Betapa Dudung merasa sangat
beruntung sekali malam itu, karena ia akan berkesempatan untuk
menikmati kehangatan tubuh mungil istrinya yang sedemikian montok
menggemaskan ini.
Dengan kedua belah ibu jarinya, Dudung membuka bibir belahan
kemaluan Dina. Tampaklah isi dalamnya terkuak berwarna merah nan nyata
bak buah pepaya mengkal yang dibelah dihiasi dengan kelentit kecilnya
nan menjulang ke bawah dan bermuara pada rimbunan jembut kelaminnya
yang menukik sedemikian rupa. Kira-kira sedalam satu buku jari dari
celah yang terbuka itu, terlihatlah selaput dara gadis itu masih
menyegel jalan masuk ke dalam lubang yang telah lama diidam-idamkan
oleh suaminya ini.
Dudung pun merasa takjub, bahwa baru kali inilah dia dapat
memandangi kemaluan perempuan yang masih suci lengkap dengan selaput
keperawanannya yang berbentuk bulan sabit kembar nan menutupi atas dan
bawah rongga keintiman dari istri mudanya ini sehingga hanya menyisakan
sedikit rongga nan sedemikian kecil dan sempitnya untuk jalan masuk
penisnya nanti. Aih! Sempit banget?
Dudung pun hanyut oleh fantasi pikiran yang dibuatnya sendiri
bagaimana nanti ia akan merasakan kenikmatan dari jepitan selaput
perawan kepunyaan Dina sang istri termudanya tersebut. Dapatkah nanti
kelelakiannya menembus celah yang begitu mungil pada selangkangan gadis
itu? Tak sadar bibirnya tersenyum mesum pada wajah tuanya yang penuh
bopeng di sana sini.
Bagaimana Dudung tak merasa sangat beruntung mendapatkan Dina,
sebab istri ketiganya ini bak bidadari nan jatuh dari langit saja dan
sebenarnya sama sekali tak ada sebanding apapun dengan dirinya yang
sudah di ambang kerentaan ini. Namun berkat keampuhan guna-gunanya
kepada ayah dan ibu gadis itu, kini ia berhasil memperistrinya secara
sah! Dan ia berhak menuntut haknya sebagai suami pada istrinya yang sah
tersebut dalam ikatan benang merah perkawinan resmi di antara keduanya
nan sudah terjalin.
Kini.. Dan di kamar ini ia akan membagi kebahagian ranjangnya
bersama sang istri tercinta yang tengah tergolek menungging tak berdaya
di hadapannya yang masih tak henti-hentinya menyaksikan celah keintiman
nan memukau dalam pandangannya itu.
Ke Bagian 3
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,502 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,215 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,573 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,104 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,572 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,596 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,459 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,740 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,306 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,420 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,763 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,371 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,546 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,797 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,099 |
|
|
|
|
|
|
|