|
|
Dari Bagian 2 Liang itu masih membasah pada dinding-dinding dalamnya dengan cairan
bening lengket di sana-sini. Baunya sangat sedap di penciuman Dudung
kala ia mendekatkan hidungnya di belahan indah yang ia rekahkan dengan
jari-jarinya. Aromanya sangat nyata terpancar dari dalamnya, begitu
memancarkan keharuman nan pekat bercampur dengan bau pesing yang
memikat. Namun wanginya tentu sangatlah jauh melebihi kedua istri
tuanya yang sudah mendekati masa menopause. Tak heran karena kemaluan
Dina masih suci serta belum pernah disetubuhi oleh lelaki, tentu saja
baunya masih sangat sembab asli perawan murni!
Siapa yang tahan menyaksikan pemandangan itu begitu lama? Dan ini
pun berlaku juga buat si Dudung yang langsung menyelipkan lidahnya di
antara celah keintiman istri mudanya untuk kemudian melahap lendir
bagian terlarang itu dengan rakus dan lahap. Sruph! Sruph! Dihirupnya
air madu di selangkangan Dina untuk kemudian di telannya tanpa rasa
jijik sama sekali olehnya di antara geliatan-geliatan sensasi geli yang
dirasakan istrinya tersebut, padahal rasanya agak-agak asin sedikit.
Dina semakin berkelojotan diperlakukan demikian, bahkan semakin
Dudung gencar menjilati belahan kegadisannya, lendir kemaluannya juga
terus-terusan mengalir dari dalam selangkangannya. Bokongnya turut
bergerak-gerak seirama jilatan lidah Dudung yang seakan mengorek-ngorek
isi belahan kegadisannya nan intim. Selain itu kedua tangannya sibuk
pula mengelusi bongkahan pantat Dina nan menyesaki rongga-rongga dada
Dudung yang dipenuhi birahi hebatnya selama ini.
Ingin rasanya Dudung segera menikmati kepunyaan Dina, namun ia tak
mau terburu-buru melaksanakan niatnya, apalagi langsung main hantam
kromo. Dia ingin membuat Dina juga sama-sama menikmati permainan asmara
ini berdua dengannya nanti, karena itulah janji yang telah ia ucapkan
kepada penghulu maupun kepada ayah dan ibu Dina, bahwa ia akan membuat
Dina bahagia dengan perkawinannya. Selain itu situasi rumah kini
mendukung sekali niat Dudung untuk menggauli istrinya malam itu seiring
dengan pekatnya malam nan mulai temaram dengan kedinginannya.
Dengan kelincahan lidahnya yang menari-nari di dalam belahan liang
kegadisan milik Dina, Dudung juga mengait-ngait kelentit dara belia
muda ini sehingga tampak melejit-lejit dibuatnya. Umbai itilnya turut
bergoyang-goyang seirama ulasan lidah suami tuanya yang sah. Rasanya
sungguh membuatnya lupa daratan, bagaikan di tengah laut lepas
terombang-ambing tak bertepi hanyut dalam gerakan badai ombak ganas
namun serasa lembut di awang-awang. Semakin lama kelentit dara itu
mengembang memerah terisi oleh buluh-buluh darahnya nan tersirap sudah
di pangkuan wajah suami tuanya.
Diam-diam Dina membatin dalam dirinya dengan hati berkecamuk antara
kebenciannya pada Dudung serta gejolak pada tubuhnya nan seperti tak
bisa ia bendung lagi. Tubuh dara yang menungging terikat itu bergetar
hebat diperlakukan sedemikian rupa. Seluruh urat-urat di tubuhnya yang
setengah telanjang itu seakan bereaksi menjadi satu menciptakan sebuah
gelombang besar yang siap meletup setiap saat. Semakin ia berusaha
menekan rasa itu, semakin beratlah ia menanggung derita karenanya.
Celah keintimannya semakin berdenyut-denyut disertai rasa gatal nan
menyerang berkepanjangan.
Perlahan-lahan kedua belah telapak kaki indahnya menekuk hingga
tampak berjinjit di hamparan sprei putih mahligai cinta rumah
persembahan orang tuanya untuk mereka. Getaran di tubuh mulusnya
semakin kuat sampai mirip menyerupai geleparan-geleparan kecil.
Otot-otot di perutnya yang ramping nan terbuka separuh telanjang itu
terlihat berkedut-kedut seiring dengan bongkahan pantatnya yang semakin
mengeras. Dudung pun mengetahui apa yang tengah menimpa istrinya
sekarang dan ia pun menambah kuluman serta jilatannya mengulas ke
segenap penjuru daerah keintiman istrinya yang terlarang bagi lelaki
lain selain dirinya yang telah disahkan resmi sebagai suaminya.. Itulah
keuntungan terbesarnya malam ini.
"Ouggh! Efhh.. Ouh.. Aaffrghh!!"
Itulah jeritan gadis sekolah berusia 18 tahun saat di ambang puncak
kenikmatannya yang tak tertahankan lagi seiring dengan banjirnya isi
lubang kemaluannya nan kini sarat dengan cairan putih seperti air
santan kelapa. Lendir itulah yang kiranya dinanti-nantikan oleh Dudung
sejak tadi, sebab air kemaluan orgasme seorang perawan dianggap
berkhasiat sebagai obat awet muda serta dapat menguatkan kembali
keperkasaan lelaki.
Serta merta disedotnya air santan yang mengalir dari lubang berbulu
basah milik sang istri mudanya itu bak orang haus di padang pasir saat
meneguk air oase pada sela-sela pinggul dara itu yang masih
berkelojotan melepas luapan puncak birahi pertamanya di hadapan sang
suami. Curahan air santan itu bersemburat lewat isi dalam liang
kemaluannya yang dilihat Dudung berdenyut bahkan cenderung mengempot.
Dudung pun terkesiap melihat empotan pada lubang kemaluan Dina yang
masih utuh dengan selaput keperawanannya sambil berpikir.. Seperti
inikah?
Dina pun terkapar dalam keadaan masih menungging di ranjang
bersimbah peluh di sekujur tubuhnya merasakan sisa-sisa kenikmatan
duniawi yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Baru kali ini ia mencapai
keadaan surgawi dunia perkawinan, padahal suaminya belum lagi
menyebadaninya. Gadis itu terlena beberapa saat sehingga ia sama sekali
tak sadar bahwa Dudung di belakangnya tengah mengambil posisi berlutut
pada bokongnya nan terhidang sambil menggenggam batang pelirnya yang
telah tegang mengacung.
Batang pelirnya berukuran cukup panjang di usia senjanya itu dan
sudah mempunyai jam aksi yang sangat banyak bersama kedua istrinya
terdahulu. Kepala kejantanannya diarahkan tepat pada celah masuk
gerbang surga sang dara belia nan cantik yang sungguh mempesona
dirinya, sebab saat itu dirasanya paling tepat untuk memulai
penetrasinya pada Dina yang memeknya sudah sembab membasah tertimpa
oleh orgasme pertamanya sendiri barusan.
Daging kepala kontolnya telah lekat pada pintu masuk belahan
kemaluan sang istri dan dalam kondisi siap untuk melakukan ritual
persetubuhan dengannya. Ujung penisnya yang seperti helm baja serdadu
itu sudah terarah sepenuhnya ke belahan selaput bulan sabit kembar
kepunyaan Dina istrinya nan masih perawan tersebut. Gadis itu terhenyak
ketika Dudung menghentakkan pinggulnya berusaha menembus gerbang pintu
surga miliknya yang paling berharga. Namun apalah dayanya sebagai
perempuan lemah dalam kondisi terikat erat kedua tangan dan kakinya,
apalagi Dudung mencengkeram kuat-kuat pinggang rampingnya dimana rok
abu-abunya masih melekat tersibak di situ.
Dina hanya bisa melenguh kesakitan saat suaminya mulai menodainya.
Berkali-kali pelir Dudung terpeleset-peleset ketika dihunjamkan ke
dalam lubang memek berbulu basah itu. Dara itu pun hanya dapat menjerit
dalam bungkaman sumbatan sapu tangan di mulutnya. Peluh keduanya telah
mengucur membasahi sprei ranjang perkawinan mereka malam itu. Dudung
pun baru tahu bahwa ternyata memperawani seorang gadis akan sesulit
ini. Tapi kepalang tanggung sudah, ia terus berusaha sekuatnya menembus
benteng pertahanan istri ketiganya itu dengan gencar. Akhirnya topi
baja sang dukun pengobatan ini berhasil jua terjepit oleh bibir memek
Dina yang perawan.
Kini dirasa oleh Dudung bahwa ujung kontolnya telah bersentuhan
dengan selaput dara gadis bidadari impiannya itu. Sudah terasa hawa
hangat mengaliri daging kepala pelirnya dan memberikan rasa nyaman yang
sukar dilukiskan. Perlahan ia menekan selangkangan Dina dengan kekuatan
pinggulnya nan berotot dan kontolnya mulai melesak masuk ke dalam
kemaluan istri termudanya ini. Dina menggigit kuat-kuat saputangan
penyumbat mulut mungilnya berusaha menahan pedih pada memeknya yang
mulai dijejali pelir lelaki tua itu. Wajahnya yang terpuruk pada kasur
dihentak-hentakkannya ke kiri dan kanan menghalau rasa sakit saat
selaput daranya mulai ditembusi oleh kontol lelaki yang hampir sebulan
setengah telah menjadi suaminya itu.
Bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh Dina, Dudung malah
merasakan nikmat nan amat sangat menjalari tonggak kejantanannya.
Kontolnya serasa menembus sesuatu yang lunak basah namun sangat lembut
dan begitu hangat saat daging keduanya berpadu. Tidak hanya itu, lelaki
tua itu juga merasakan kontolnya seperti diurut-urut oleh daging hangat
yang berdenyut-denyut menjepit kuat urat-urat kejantanannya ini.
Semakin dalam kontolnya ia benamkan ke dalam celah memek yang penuh
sesak itu, makin terasa hangatnya daging belia si Dina yang masih sekal
dan ranum ini. Ketika masih menyisakan kira-kira satu setengah
sentimeter dari pangkal selangkangannya yang berjembut ini, pelir
Dudung telah berhenti sampai di situ.
Saat ia kembali menekan pinggulnya, tetap saja kontolnya sudah
tidak dapat terbenam semuanya dan paling mentok sisa satu sentimeter
saja. Agaknya kontol Dudung telah mentok ke dasar belahan memek gadis
belia itu dan memang gadis seusia Dina lorong kemaluannya masih belum
berkembang sempurna untuk menerima kehadiran kontol lelaki, namun itu
bukan berarti mengurangi kenikmatan sama sekali jika bersanggama
dengannya. Malahan lelaki akan merasa perkasa bila pelirnya mentok di
dasar peranakannya. Itu memberi sugesti bahwa kejantanannya sungguh
panjang dan kuat. Demikian pula dengan Dudung, ia pun bangga demi
mendapati kontolnya mentok ke dasar belahan kemaluan gadis itu. Apalagi
dasar memek Dina dirasanya begitu nikmat menahan helm bajanya kini.
Diremasnya kedua belah payudara Dina yang menggantung bebas itu
sambil merasakan jepitan selaput daranya yang begitu menciptakan nikmat
yang tak tertandingi dari apa yang didapat dari para istrinya terdahulu
tanpa peduli lagi akan raungan yang tersumbat dari mulut istri
terakhirnya ini nan sudah terpedaya di tangannya. Setelah puas barulah
Dudung mencabut tonggak zakarnya dari lubang peraduan itu diiringi
dengan genangan darah kesucian Dina yang membasahi kulit luar batang
pelirnya. Sebagian lagi menetes-netes jatuh ke gumpalan celana dalam
yang masih berkutat di paha putihnya nan mulus. Celana dalam putih
berenda miliknya kini telah bernoda darah keperawanannya sendiri dan
inilah yang diinginkan Dudung sebagai bukti penyerahan diri sepenuhnya
dari sang istri kepadanya.
Setelah itu mulailah Dudung menggenjot tubuh Dina yang sudah
mempersembahkan keperawanannya ini perlahan-lahan agar memek Dina yang
masih terasa peret namun legit itu dapat menyesuaikan diri dengan
ukuran pelirnya yang dikeluar-masukkan ke dalam lubang sanggama istri
termudanya ini. Betapa hancur hati Dina demi mengetahui dirinya sudah
berserah segala-galanya bagi lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya
itu. Tak ada lagi sikap tinggi hatinya ketika kini dalam posisi
sedemikian rupa ia dipaksa melayani kemauan sang suami yang menuntut
haknya. Dina pun sadar bahwa sebagai seorang perempuan yang telah
menikah berkewajiban untuk melayani sang suami termasuk pelayanan
ranjang seperti dirinya sekarang.
Pertanyaan di benak Dudung terjawab sudah dengan apa yang
dirasannya detik ini. Rupanya lorong merah kemaluan istrinya mempunyai
kekhasan yang khusus dan jarang sekali bisa ditemui dari setiap memek
wanita. Dinding lubang vagina gadis itu dapat mengempot-empot dan
menyedot-nyedot kelelakian Dudung yang terbenam di dalamnya. Agaknya
ini merupakan tanda lahiriah nan dimaksudkan oleh gurunya. Tentunya
wanita seperti Dina ini dapat memuaskan seorang suami dengan
keistimewaan yang dipunyainya itu. Dan Dudung pun merasakan hal itu
seraya mengusap peluhnya di dahi dengan penuh rasa puas, sudah dapat
perawan, bisa ngempot lagi memeknya!
Dudung begitu terlena oleh permainan asmara paksa dan siksa ini
atas istri termudanya ini. Bibirnya mendesah-desah seperti orang yang
kepedasan di antara laju batang pelirnya yang keluar masuk
menggesek-gesek dinding vagina sang dara belia nan terus mengurut zakar
tuanya. Perlawanan Dina sudah tiada lagi, yang ada tubuhnya hanya
mengikuti hempasan-hempasan yang dilakukan oleh Dudung pada memeknya
dalam keadaan menungging seperti anjing. Lelaki bermuka bopeng yang
beruban di rambutnya itu pun sangat senang mendapati istrinya telah
bertekuk lutut dan paha padanya kini dan ia semakin gencar mengayuh
biduk-biduk birahinya yang tertunda sekian lama akibat sifat
ketak-acuhan gadis ini pada dirinya.
Hmm.. Somad! Lihatlah..! Kini anak semata wayangmu ini sedang
kugauli di kamar rumahmu dan ia sudah berhasil kuperawani serta
kutundukkan. Ternyata sungguh enak sekali memek anakmu ini Somad! Aku
telah memenuhi janjiku akan membahagiakannya lagi.. Dan lagi setelah
ini.. Sampai aku benar-benar puas nantinya.. Hmm.. Telah sekian lama
aku bersabar dari hinaan dan cercaan darimu saat aku bermaksud baik
meminang putrimu ini.. Lihatlah Somad! Aku dan putrimu telah bersatu
dalam hubungan badan yang ditentang keras olehmu.. Padahal anakmu ini
sebetulnya telah haus akan belaian seorang lelaki di usia belianya ini.
Tak tahukah engkau bahwa putrimu begitu cantik untuk hanya dipajang di
rumah mewahmu ini? Tak sadarkah engkau kemaluan anakmu ini sudah matang
untuk dibuahi oleh seorang lelaki? Tetapi kau tidak mungkin menyaksikan
semua ini, karena hal ini tabu bagimu, meskipun ia anakmu, tapi aku..?
Dapat menyaksikan semua bagian-bagian yang tersembunyi dari anak
gadismu kini, sebab akulah yang berhak melakukan ini padanya! Ha.. Ha..
Ha..
{Demikianlah umpatan hati Dudung di sela-sela ritual persetubuhannya}
Dudung menjatuhkan dirinya dari posisi berlutut ke berbaring miring
sambil menarik pinggul Dina yang masih tercengkeram oleh tangan-tangan
tuanya tanpa kejantanannya lepas dari kemaluan istrinya. Dalam posisi
tubuh keduanya rebah miring tersebut pelir Dudung semakin dirasa
menusuk-nusuk tajam ke dalam lubang surga gadis itu. Duhh.. Kebayang
nggak sih? Dina di usia belianya itu cantiknya seperti gadis pom-pom
girls yang selalu menyemangati pagelaran olahraga. Tubuh rampingnya
meliuk-liuk seirama hentakan Dudung pada selangkangannya yang terbuka
bebas itu di ranjang. Kaki sebelah kanannya terjuntai bergoyang-goyang
di udara menambah gairah bagi setiap lelaki yang melihatnya saat
demikian sementara kontol sang suami keluar masuk di bawahnya menyumpal
memeknya yang basah berjembut lembab namun berdenyut-denyut itu.
Lelaki tua seumuran ayah gadis itu leluasa sekali tengah membuahi
rahimnya malam itu mendaki jenjang demi jenjang luapan syahwat nan
menggelora diburu birahi terpendamnya yang menuntut penuntasan
secepat-cepatnya. Batang zakar Dudung sudah berkilat-kilat berlumur
cairan kewanitaan Dina dan hentakan yang diarahkan ke liang vagina sang
dara ini dirasa semakin menggelitik kembali umbai kelentitnya serta
membawa rasa gatal tak berkesudahan meminta untuk digesek dan digesek
lagi.. Terus dan terus..
Ke Bagian 4
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,502 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,214 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,573 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,104 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,572 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,595 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,459 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
117,740 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,305 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,420 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,763 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,371 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,546 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,797 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,099 |
|
|
|
|
|
|
|