|
|
Aku adalah seorang bujangan yang mempunyai
sebuah rumah di perumahan yang terletak di pedalaman pinggiran kota.
Telah lama aku tak mengunjungi rumahku itu, karena aku telah lama kost
di kota dan bekerja di sana. Sampai suatu hari aku memutuskan mengambil
cuti seminggu untuk sekadar beristirahat setelah lama jenuh bekerja.
Saat itulah waktu cutiku kugunakan untuk mengunjungi rumahku yang telah
lama aku tinggalkan.
Lingkungan daerah rumahku memang masih sangat sepi sekali. Terlihat
hanya beberapa rumah yang terisi pada setiap kompleknya. Keamanannya
sudah tidak terjamin sejak pengembangnya terkena kredit macet. Lampu
penerangannya di kala malam hari masih sangat kurang, sehingga aku
malas untuk menginap disana. Tetapi kini guna untuk mengisi waktu luang
cutiku, maka aku putuskan untuk menginap disana.
Hari itu telah gelap dan tak seorangpun yang tahu aku memasukki
rumahku, namun aku sempat melihat rumah sebelahku tinggal terdapat
tanda pengenal bahwa rumah itu adalah rumah sepasang pengantin baru.
Sekejap hatiku tergetar, sejak kecil aku mempunyai hobi mengintip,
terutama dalam hal mengintip perempuan dan yang paling aku berhasil
melaksanakan aksiku adalah ketika ia sedang mandi, tak lebih dari itu.
Namun saat ini keinginan untuk mengintip seperti apa sepasang pengantin
baru ini begitu sangat menggugah hatiku untuk tidak menolaknya.
Kupastikan rumah sebelahku itu dalam keadaan kosong. Rasanya mereka
masih berpesta dan belum pulang ke rumah baru mahligai tersebut.
Kutatap seisi teras depannya, belum ada sendal atau sepatu diluar,
menandakan penghuninya masih bepergian. Secepat kilat aku mempelajari
situasi rumah tetanggaku itu, meskipun aku tak tahu siapa yang
menghuninya, sebab sejak kubeli rumahku ini, rumah yang berdempetan
dengan rumahku ini masih kosong, namun kini telah bersih dan dicat
begitu rapihnya laksana rumah baru saja.
Aku yakin sekali bahwa kamar pengantin itu pasti bersebelahan
dengan kamarku dan letaknya ada di lantai dua juga serta hanya
terhubung oleh satu bata saja dengan rumahku. Kuambil sebuah bor dari
perkakas tua dirumahku, tanpa pikir panjang lagi aku menduga-duga
sebelah mana dinding kamarku yang harus kubor agar aku dapat mengintip
kedalam. Setelah kira-kira pas dengan ukuran mataku, penuh nekat karena
sudah mempunyai maksud yang kuat aku membor dinding itu. Suara bising
dari bor tersebut menyadarkanku akan bahaya kalau aksiku ketahuan oleh
si pemilik rumah sebelahku. Sesaat lamanya aku terdiam tanpa berani
bergerak, khawatir kalau dugaanku salah bahwa penghuninya belum pulang
dari resepsi pernikahan.
Dinding kamarku kini berlubang sudah, sebesar ibu jari orang
dewasa. Kudekatkan bola mataku ke lubang tersebut, ada gelungan kelambu
putih yang tembus pandang kedalam dan aku lega karena dengan adanya
gelungan kelambu tersebut yang mungkin merupakan aksesoris kamar
pengantin tersebut agak menutupi samar lubang yang telah aku buat. Aku
dapat menatap ranjang yang terpampang di ruangan kamar yang tak begitu
besar itu.
Dan benar, itu adalah kamar pengantin mereka, terlihat dari adanya
hiasan-hiasan yang melekat di dalam kamar tersebut seperti
pernak-pernik bebungaan yang menempel di tepian meja rias yang
bercermin serta lemari dua pintu yang bercermin pula menghadap padaku.
Terbayang di otakku jika nanti aku dapat menyaksikan malam pengantin
mereka bisa dari berbagai sudut karena adanya cermin-cermin itu.
Suara deru mesin mobil dari kejauhan segera membuyarkan lamunanku
dan aku segera mengintip dari jendela kamarku yang dilantai dua melihat
kedepan rumahku. Ada dua mobil berhenti tepat di depan rumah sebelahku
dan salah satunya benar mobil pengantin yang aku tunggu sejak tadi.
Kulirik arlojiku, hmm.. masih jam 9 malam, namun daerah rumahku ini
sudah seperti komplek mati saja sejak jam setengah sembilan tadi. Pintu
mobil pengantin itu terbuka, keluarlah sang dayang pengiring pengantin
terlebih dahulu untuk mengiringi kedua mempelai yang akan memasukki
rumah, sedangkan mobil dibelakangnya adalah kerabat-kerabat dari kedua
mempelai. Tetapi kini pandanganku terfokus kepada mempelai wanitanya
dari balik tirai jendela kamarku yang lusuh aku menatap dan ingin tahu
seperti apakah gerangan wajah dan tubuh si pengantin wanitanya.
Dan betis indah yang terbalut oleh stocking berwarna hitam serta
kaki seorang dara yang bersepatu pengantin putih mempesona itu
terjuntai keluar dari celah pintu mobil itu. Tampak begitu mulus dan
kencang ketika sosok wanita yang menjadi pengantin itu telah keluar
dari dalamnya, aku begitu terkesima dibuatnya. Ternyata gadis yang
menjadi mempelai perempuan sebelah rumahku ini masih belia serta sangat
cantik sekali dan itu terlihat dari wajahnya yang terlihat manis,
bersih dan putih kulitnya. Tubuhnya begitu langsing padat berisi
terbalut oleh busana pengantin masa kini yang menampakkan lekuk liku
tubuhnya tanpa gembungan hola hop yang biasa dikenakan pengantin yang
mempunyai bodi biasa-biasa saja. Ada mahkota geraian bunga-bunga di
rambut hitamnya yang sebahu turut mempercantik penampilannya yang
begitu sangat mempesona di mataku.
Dara itu tersenyum manis pada suaminya yang juga seorang lelaki
muda berbadan sedang dan ganteng, namun mengapa saat itu aku merasa ia
tersenyum untukku? Ah! dasar aku ini seorang bujang lapuk yang hobinya
hanya mengintip saja dan tak berani sama sekali untuk mendekati makhluk
wanita dimanapun dan kapanpun, tetapi herannya kalau mengintip dan
menguntitnya aku berani. Kutepak dahiku sendiri, tolol! Mana mungkin
senyum gadis itu untukku? Itu hanya untuk suaminya seorang, tak lebih!
Selain itu dia tidak melihatku yang tengah menatapnya dari sela-sela
jendela kamar di lantai dua yang mana lampu terasnya tak kunyalakan,
sehingga mereka menyangka kalau rumahku ini masih kosong dan tak
berpenghuni.
Mereka semua di dalam rumah itu kini dan aku tak berkutik sama
sekali serta hanya dapat menunggu acara ramah tamahnya kerabat-kerabat
mereka. Namun ternyata hanya kisaran setengah jam saja mereka di rumah
itu, setelahnya aku kembali mendengar suara mesin mobil keduanya
dihidupkan dan deru kedua mobil itu semakin jauh di telingaku. Inilah
saat yang aku telah nanti-nantikan sejak tadi, aku kembali ke kamarku
yang dindingnya telah bolong itu dan dengan hati berdebar-debar karena
masih takut ketahuan aku menempatkan bola mataku lagi pada celah lobang
dinding yang telah tembus ke kamar pengantin tersebut.
Dari celah dinding yang berlubang itu aku dapat mendengar suara
langkah kaki bersepatu dara itu yang tengah menaikki tangga dan di
akhiri dengan suara bukaan pintu kamar pelaminan tersebut. Hatiku
semakin dag dig dug tatkala aku kembali melihat gadis itu dari jarak
yang begitu dekat. Betapa sungguh cantik wajah dara itu dan masih
begitu belia diusianya yang berkisar dua puluhan tahunan ini dengan
busana pengantinnya yang masih lengkap berikut sepatunya.
Tertegun aku menikmati kecantikannya yang aduhai tak terlukiskan
ini bak mutiara indah yang meluluh lantakkan isi hati setiap pria.
Gadis itu tengah mematut-matut diri di depan cermin meja riasnya
membelakangiku, namun raut wajahnya masih dapat kulihat dengan jelas
pada pantulan cermin yang menghadap ke posisi tempatku mengintip.
Kulihat ia tersenyum manis sekali di hari dalam kehidupannya yang baru
itu, mungkin ia sangat bahagia sekali berpasangan dengan suaminya yang
telah kulihat pula begitu serasi dengannya tadi.
Aku semakin gembira saja membayangkan hal yang sebentar lagi akan
terjadi diantara mereka itu, karena sebentar lagi mereka akan melakukan
ritual malam pertama sebagai kewajiban dari pasangan suami istri yang
telah mengikat diri dalam mahligai perkawinan. Kini untuk memastikan
keadaan aman untuk selanjutnya, aku melihat situasi depan rumahku untuk
kedua kalinya, namun kali ini aku melihat sesuatu yang membuat aku
terkejut.
Pintu pagar rumah sebelahku tengah di loncati oleh tiga orang tak
dikenal yang bertubuh gelap diantara penerang lampu yang begitu
remang-remang dan kejadian itu begitu sangat cepatnya sehingga
membuatku takut setengah mati. Pasti ketiga lelaki itu berniat jahat
kepada penghuni rumah pengantin baru ini, namun belum lagi jelas aku
melihatnya, tubuh ketiga lelaki itu telah melesat masuk kedalam rumah
tersebut. Ingin rasanya aku berteriak untuk mencegah kejadian itu,
tetapi aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.
Apalagi aku sempat melihat ketiga sosok lelaki itu bertubuh jauh lebih
besar dariku yang kerempeng ini serta bernyali kecil. Otomatis aku
hanya dapat terpana untuk beberapa saat.
Lalu terdengar suara dari daun jendela yang dibuka paksa di lantai
bawah rumah sebelahku itu, disertai keributan sesudahnya. Aku mengintip
kembali pada celah dinding kamar itu dan kudapati gadis pelaminan itu
wajahnya yang cantik berubah menjadi pucat akibat dilanda
keterkejutannya dengan adanya ribut-ribut di bawah itu. Ia bangkit dari
duduknya dari meja rias dan bergegas membuka pintu kamarnya untuk
melihat apa yang tengah terjadi di bawah dimana sang suaminya masih
berada. Namun terlambat, karena salah satu sosok tamu tak diundang itu
membarenginya masuk ke kamar itu seraya menahan laju tubuh gadis cantik
ini dan mendekapnya.
"Ahh..! Siapa ini?! Lepaskan! Aah.. tol.. hmmpph!", jerit gadis itu
yang langsung tertahan oleh bekapan telapak tangan sosok pria berkulit
gelap yang bertubuh besar dan sangat kekar itu.
Seseorang dari belakang lelaki itu menyusulnya dan membantu lelaki
pertama yang mendekapnya tadi yang masih dalam posisi berdiri
berhimpitan sambil mendekatkan sebilah belati yang telah terhunus di
leher jenjang gadis mempelai itu yang putih mulus.
Ke Bagian 02
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
378,494 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
252,211 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
232,556 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
188,101 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
186,571 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
147,589 |
| Nikmatnya Diperkosa |
rnurhadhi@yahoo.com |
135,452 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
82,301 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
81,416 |
| Tragedi Malam Pengantin - 02 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
77,762 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
76,368 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
74,546 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
69,796 |
| Derita Seorang Anggota Polwan 01 |
henychrist@yahoo.com |
68,095 |
| Vita... Reuni SMA - 1 |
askepecun@yahoo.com |
66,871 |
|
|
|
|
|
|
|