|
|
Dari Bagian 01 "Jangan melawan manis, kalau ingin selamat!!", ancam lelaki yang
menodongkan belati di lehernya sambil mencengkram kedua tangan gadis
itu dengan tangan yang satunya lagi.
Lelaki yang membekap mulut gadis itu mengeluarkan sehelai kain dari
saku celananya lalu dengan serta merta membungkam mulut mungil dara
belia cantik sang mempelai wanita ini.
"Mmmpphh..!", hanya suara itu yang terdengar di balik rontaannya
melawan niat busuk lelaki-lelaki itu, namun apalah dayanya karena
sebentar saja mulutnya telah tersumpal oleh kain yang dijejali lelaki
besar yang sangat kekar itu. Sedangkan lelaki keduanya kini menelikung
kedua belah tangan si gadis ke belakang punggungnya dan mengikatnya
dengan seutas tambang kecil yang agaknya telah dipersiapkan untuk
melumpuhkan korbannya. Sekejap saja gadis itu telah dibuat tak berdaya
oleh mereka dan hanya menyisakan suara-suara yang tak jelas maknanya
dibalik gumpalan kain yang memenuhi rongga mulutnya.
"Hahaha.. beruntung sekali kita boss! Sudah merampok, dapat gadis
pula..", seringai lelaki yang menghunus belati tadi kepada lelaki kekar
perkasa bertubuh gelap yang ternyata adalah pemimpin kepala rampok itu.
Tampak tonjolan otot-otot lengannya yang begitu perkasa dibalik kaosnya
yang berwarna gelap di dalam kamar membuatku iri dengan tubuh
kejantanannya itu.
"Jangan khawatir.. kalian nanti akan kubagi pula kesenangan ini,
sekarang ayo cepat baringkan dia diatas kasur!!", perintah kepala
rampok itu dengan parang masih berada dipinggangnya. Berdua mereka
membaringkan paksa tubuh dara pengantin baru itu yang sudah dalam
keadaan terikat lengkap dengan busana pengantinnya tersebut hingga
terlentang.
Kedua belah kaki gadis itu yang masih bersepatu pengantinnya
berusaha menendang-nendang tubuh kedua pelaku, tetapi tangan-tangan
kekar mereka menangkap kaki-kaki indah miliknya serta mengikat kedua
belah mata kakinya ke tiang kelambu ranjang pelaminan tersebut kiri dan
kanan, sehingga kini gadis itu terkangkang di atas ranjang mahligai
perkawinannya sendiri.
Gadis itu membanting-bantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan
serta berharap untuk bisa lepas dari keadaannya yang telah terikat erat
kedua tangannya ke belakang punggungnya itu. Namun jeratan utas tambang
itu semakin dirasanya semakin kuat membelenggu pergelangan kedua tangan
dan kakinya, sementara kedua lelaki didepannya tertawa-tawa menyeringai
kegirangan mendapati ketakberdayaan dirinya itu.
Akupun terkesiap mendapati kenyataan ini, karena tak pernah
kubayangkan bahwa aku akan menyaksikan peristiwa kriminalitas secara
nyata yang mana aku adalah sebagai saksi matanya sendiri. Malam
pengantin yang kuimpikan antara gadis tadi bersama suaminya telah pupus
sudah. Kini yang terpampang di mataku adalah tragedi yang menimpa
sepasang pengantin baru di hari yang seharusnya menjadi hari
kebahagiaan baru bagi mereka. Dari balik celah dinding itu aku melihat
derai air mata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang
putih mulus membuyarkan dandanan di wajahnya yang semakin manis di
pandang itu, namun wajahnya dalam posisi itu membelakangiku sehingga
aku hanya dapat menatap permukaan wajahnya saja dari celah atas dinding
kamarku.
Kepala rampok itu mengelus-elus paha putih korbannya yang masih
terbalut stocking hitam panjang dan menikmati setiap sentuhan jarinya
pada permukaan kulit paha sang dara belia diantara selusupan tangan
kekarnya kedalam isi gaun pengantin perempuan itu yang berwarna putih
berkilat. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya pada sepatu yang
dikenakan gadis muda sang mempelai wanita dengan wajah penuh gairah
kelelakiannya. Perlahan ia melepaskan sepatu kanan pengantin gadis itu
yang mungkin telah dipakainya sejak pagi tadi hingga malam hari ini
pukul sembilan lebih empat puluh lima menit.
Sepatu itu terlepas sudah, menyisakan telapak kaki indah milik
seorang dara jelita yang masih belia berbalut stocking hitamnya yang
tampak serasi menutupi kulit jenjang kakinya. Segenap aroma sembab dari
kakinya menebar seisi ruangan kamar pengantinnya, bahkan melalui celah
itu aku dapat membauinya pula, namun lelaki kepala para perampok itu
malahan menciumi telapak kaki gadis itu tepat di depan penglihatanku
dengan penuh gairah dan nafsu serta menjilat dan menghisap-hisap jari
kaki lentik milik gadis korbannya yang terus meronta-ronta dalam
ketakberdayaannya di mataku. Puas dengan kaki kanan, ia melanjutkannya
dengan kaki yang kiri sambil sesekali membelai-belai betis indah gadis
itu yang terpampang indah dipelupuk matanya.
"Kamu jaga di bawah dululah! Nanti kalau aku sudah selesai, baru
aku panggil kau!", perintah kepala rampok itu pada anak buahnya itu,
mungkin ia merasa terganggu dan risih oleh tatapan anak buahnya yang
melihat aksi maniaknya itu.
"Oke boss! Aku akan mengantongi barang-barang berharga di rumah ini
segera!", ujar anak buahnya penuh semangat, lalu ia keluar kamar
tersebut meninggalkan bossnya bersama dengan gadis belia tersebut. Aku
tak tahu apa yang telah terjadi dengan sang suami dari gadis itu,
agaknya mereka telah berhasil melumpuhkannya dan entah bagaimana dengan
nasibnya sekarang.
Keadaan di malam sepi itu benar-benar menunjang aksi mereka untuk
menguras harta benda rumah itu secara perlahan-lahan. Bahkan dengan
santainya lelaki ketiganya kini tengah duduk di teras rumah sebelahku
itu sambil merokok sekaligus berjaga-jaga dan melihat situasi keadaan
di luar. Sangat sepi diluar dan hanya menyisakan hawa dingin dan lampu
penerang yang sangat redup serta hampir tidak kelihatan apa-apa dari
jendela kamarku yang gelap.
Ketika kulihat kembali, tampak lelaki itu meraih gaun pengantin
gadis itu di bagian dadanya kemudian menariknya dengan kasar hingga
robeklah busana pelaminan di dada gadis belia cantik itu. Aku sangat
iba sekali terhadap perlakuan kasar lelaki itu pada gadis tersebut,
tetapi aku sangat ingin sekali melihat kelanjutannya, sehingga aku
hanya bisa pasrah dengan keadaanku yang lemah ini. Terus terang aku tak
mau tersangkut paut dengan peristiwa ini, namun dibalik itu aku ingin
menikmati pula hobi mengintipku yang baru kali ini mendapati adegan
yang lain dari biasanya seumur perjalanan hidupku.
Lelaki bajingan itu merengkuh tubuh gadis itu yang bagian dadanya
telah terbuka menampilkan kedua belah payudaranya yang begitu indah,
padat dan berisi berikut puting susunya yang berwarna merah muda
sebagaimana layaknya seorang perawan pada umumnya. Aku sendiri pun
mengakui kehalusan kulit dada gadis ini yang begitu tiada cacat cela
sama sekali terpampang di hadapan bajingan itu dan aku. Daging dadanya
saat tersentuh oleh jari-jari perkasa lelaki itu begitu kenyalnya dan
lelaki kekar itu mulai memilin-milin puting payudaranya yang selama ini
belum pernah tersentuh oleh lelaki, namun kini bajingan kepala perampok
itu begitu leluasanya mempermainkan bagian sensitif dari dara itu yang
terlarang.
Seketika kelelakianku mulai terangsang dan bangkit seraya
membayangkan seperti apa rasa nikmatnya memelintir-lintir puting susu
dari seorang gadis, apalagi gadis ini begitu sempurna dimataku laksana
seorang dewi bagiku dan mungkin saja bagi lelaki bajingan itu
merasakannya pula bahawa pada malam itu adalah malam keberuntungannya
mendapati mangsanya yang begitu secantik ini.
Benar-benar jauh dari film-film biru yang selama ini aku tonton,
dan betapa adegan bajingan itu yang tengah mengulum puting payudara
gadis yang sedang mekar-mekarnya itu membuat gairah kejantananku mulai
bangkit di antara penderitaan yang tengah dialami gadis itu yang
terpaksa membiarkan dirinya menjadi santapan birahi lelaki itu. Namun
di tengah-tengah kerakusan bajingan itu melahap payudara indah milik
sang mempelai perempuan, ia juga perlahan-lahan mulai membangkitkan
gairah korbannya agar tidak sepenuhnya nanti akan melayaninya secara
terpaksa saat di gaulinya. Kedua tangannya yang kasar dan kelihatan
sangat kuat berotot itu terus digunakan untuk mengusap-usap kedua belah
paha kaki gadis itu yang terkangkang akibat terikat tambang di
tiang-tiang kelambu ranjang pelaminannya.
Akhirnya aku mendengar suara lenguhan pertama yang keluar dari
bibir gadis itu, meskipun teredam oleh secarik ikatan kain yang
menyumpal mulut mungilnya.
"Ehmm... hmmphh..!", erang gadis belia itu yang masih terikat tanpa
daya, sementara wajah cantiknya telah penuh dengan linangan air matanya
masih tergolek ke kiri dan ke kanan berusaha menahan adanya sensasi
yang mulai mendera tubuhnya. Suatu sensasi yang baru kali ini ia
rasakan selama hidupnya dan perlahan-lahan sensasi itu semakin melanda
dirinya begitu membuatnya semakin merasa malu dan terhina diperlakukan
seperti itu oleh lelaki yang bukan suaminya dan bahkan tidak ia cintai
sama sekali.
"Manisku.. kalau kau terus meronta dan melawan, maka aku tak akan
segan-segan untuk menyuruh anak buahku di bawah untuk menghabisi nyawa
suamimu!! Patuhlah kepadaku, maka kau akan kulepaskan esok pagi!",
ancam kepala bajingan itu tepat ditelinga gadis belia ini.
"Bagaimana hah?! Sekarang aku akan melepaskan ikatan pada kedua
kakimu, tetapi kau harus berjanji untuk tidak melawan dan memberontak
lagi, mengerti?!", tukas kepala perampok itu lagi.
Agak lama aku menunggu jawaban dari gadis itu untuk sesaat waktu
dan dengan perlahan kepala si gadis itu mengangguk dengan sangat berat
hati seakan hatinya telah tersayat oleh sembilu mendengar ancaman yang
menghentikan perlawanannya. Wajah cantiknya semakin penuh dengan derai
air mata pilu keterpaksaannya malam itu kepada lelaki bajingan ini yang
tersenyum girang mendapati korbannya telah takluk olehnya.
Ke Bagian 03
| Title | Author | Views |
| Perkosaan Rani Mahkota Sari |
Rani Sister |
119,875 |
| Pemerkosaan Terhadap Sesama ABG |
cucumama2000@yahoo.com |
79,595 |
| Nikmatnya Lubang-lubang Tetanggaku |
forum_pas@yahoo.com |
78,113 |
| Pesta Perawan |
Jeki Velani |
73,232 |
| Diperkosa Maling Bejat |
David Sebua |
68,441 |
| Tragedi Malam Pengantin - 01 |
cupcupwaowao@yahoo.com |
43,863 |
| Memperkosa Seorang Istri Setia 01 |
boby5555@usa.net |
40,920 |
| Terjebak Permainan |
askepecun@yahoo.com |
33,578 |
| Mosaik Para Istri Yang Diperkosa - 2 |
Rusliani |
33,151 |
| Para Pemerkosa yang Brutal 02 |
tommy_axl@yahoo.com |
32,693 |
| Riska |
thomas_liem_2003@yahoo.com |
32,655 |
| Tak Berdaya |
sonic_blueus@yahoo.com |
31,130 |
| Rampok... Rampok... - 2 |
dion79@eudoramail.com |
29,550 |
| Vita... Reuni SMA - 1 |
askepecun@yahoo.com |
28,598 |
| Rampok... Rampok... - 1 |
dion79@eudoramail.com |
26,757 |
|
|
|
|
|
|
|