|
|
Sambungan dari bagian 01 Ketika Suster Vita telah menempati posisinya, saya melihat Suster Vina
mengelap liang kemaluannya dengan tissue yang diambilnya dari meja
kecil di sampingku. Suster Vita seakan menunggang kuda, dia menggoyang
maju mundur, perlahan tapi penuh kepastian. Makin lama makin cepat
iramanya. Sementara kedua tangan saya asyik meremas-remas dadanya yang
mengembung indah. Kenyal sekali rasanya, cukup besar ukurannya dan
lebih besar dari miliknya Suster Vina. Yang ini tidak kurang dari 36C.
Sesekali saya mainkan putingnya yang mulai mengeras. Dia mendesis,
hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Desisan itu sungguh manja
kurasakan, sementara Suster Vina telah selesai dengan membersihkan
liang hangatnya. Kemudian dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang
Suster Vita dan juga memainkan rambutku, mengusapnya. Kemudian karena
sudah cukup pemanasannya, dia mulai menaiki ranjang lagi.
Dikangkangkannya kakinya yang jenjang di atas kepala saya. Setengah
berjongkok gayanya saat itu dengan menghadap tembok di atas kepala
saya. Kedua tangannya berpegangan pada bagian kepala ranjang.
Mulai disorongkannya liang kenikmatannya yang telah kering ke mulut
saya. Dengan cepat saya julurkan lidah, lalu saya colek sekali dan
menarik nafas, "Hhhmm.." bau khas kewanitaannya. Saya jilat liangnya
dengan lidah saya yang memang terkenal panjang. Saya mainkan lidah
saya, mereka berdua mengerang bersamaan, kadang bersahutan. Saya lihat
lubang pantatnya yang merah agak terbuka, lalu saya masukkan jari
jempol ke dalam lubang pantatnya.
Suster Vina merintih kecil, "Auuwww.. Mas nakal deh..!"
Lalu saya jilati lubang pantatnya yang sudah mulai basah itu, tapi kemudian, "Tuutt..!"
Saya kaget, "Suster kentut ya..?" tanya saya.
Suster Vina tertawa kecil lalu minta maaf. Lalu kembali saya teruskan jilatan saya.
Lama sekali permainannya, sampai tiba-tiba Suster Vita mengerang
besar dan panjang serta mengejang. Setelah Suster Vita selesai, dia
mencabut batang kejantanan saya, sedang lidah saya tetap menghajar
liang kenikmatan Suster Vina. Sesekali saya menjilati klit-nya. Dia
menggelinjang setiap kali lidah saya menyentuh klit-nya. Mendengar
desisan Suster Vina sudah lemas dan beranjak turun dari posisinya, saya
menyudahi permainan ini. Saya lunglai rasanya menghabisi dua suster
sekaligus.
"Kasihan Mas Sony, nanti sembuhnya jadi lama.. soalnya ngga sempet istirahat..!" kata Suster Vina.
"Iya dan kayanya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya malem ini." sahut suster Vita.
"Kalo itu dibuat system arisan saja." kata Suster Vina sadis sekali kedengarannya.
"Emangnya gue piala bergilir apa..?" kata saya dalam hati.
Malam itu saya tidur lelap sekali dan saya sempat minta Suster Vina
menemaniku tidur, saya berjanji tiap malam, mereka dapat giliran
menemani saya tidur, tetapi setelah mendapat jatah batin tentunya.
Malam itu kami tidur berdekapan mesra sekali seperti pengantin baru dan
sama-sama polos. Sampai jam 4 pagi, dia minta jatah tambahan dan kami
pun bermain one on one (satu lawan satu, tidak keroyokan seperti semalam). Hot sekali dia pagi
itu, karena kami lebih bebas tetapi yang kacau adalah setelah selesai.
Saya merasa sakit karena luka kaki saya menjadi berdarah lagi. Jadi
terpaksa ketahuan dech sama Suster Vita kalau ada sesi tambahan, dan
mereka berdua pun ramai-ramai mengobati luka saya, sambil masih ingin
melihat kejantanan dasyat yang meluluh lantakkan tubuh mereka
semalaman.
Setelah itu, sekitar jam 5:00, saya kembali tidur sampai pagi jam
7:20. Saya dibangunkan untuk mandi pagi. Mandi pagi dibantu oleh Suster
Vita dan sempat dihisap sampai keluar dalam mulutnya.
Pada pagi harinya, Dokter Vivi melihat keadaan saya.
"Gimana Mas Sony, masih sakit kakinya..?" katanya.
"Sudah lumayan Dok..!" kata saya.
Lalu, "Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya..!"
Dengan stetoskopnya, Dokter Vivi memeriksa tubuh saya. Saat
stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga
suatu aliran aneh menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya
rasakan batang kejantanan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup,
takut kalau Dokter Vivi tahu. Tapi untung dia tidak memperhatikan
gerakan di balik selimut saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya,
apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati, semakin membuat
batang kejantanan saya bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di
balik selimut.
"Wah, kenapa kamu ini..? Kok itu kamu berdiri..? Terangsang saya ya..?" katanya.
Mati deh! Ternyata Dokter Vivi mengetahui apa yang terjadi diselangkangan saya. Aduh!
Lalu dia dengan tiba-tiba membuka selimut sambil berkata, "Sekarang saya mau periksa kaki mas.." katanya.
Dan, "Opss.. i did it again..!" terpampanglah kemaluan saya yang besar dihadapannya.
Gila! Dokter Vivi tertawa melihat batang kejantanan saya yang besar dan mengeras itu.
"Uh, kontol Mas besar ya..?" kata Dokter Vivi serasa mengelus kemaluan saya dengan tangannya yang halus.
Wajah saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat
dicegah lagi, senjata saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan
Dokter Vivi. Dokter Vivi masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang
kejantanan saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas biji
kembar saya.
"Mmm.. Mas pernah bermain..?" katanya manja.
Saya menggeleng. Saya pura-pura agar ya..ya..ya..
"Aahh.." saya mendesah ketika mulut Dokter Vivi mulai mengulum kemaluan saya.
Lalu dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir, digelitiknya
ujung kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh
kemaluan saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter Vivi yang cantik
itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya kemaluan saya. Terasa geli
dan nikmat sekali.
Dokter Vivi segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan
mengeluarkan kejantanan saya dari dalam mulutnya berulang-ulang,
naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluan saya dengan dinding
mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi saya.
"Auuh.. aahh.." akhirnya saya sudah tidak tahan lagi.
Batang kemaluan saya menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke
dalam mulut Dokter Vivi. Bagai kehausan, Dokter Vivi meneguk semua
cairan kental tersebut sampai habis.
"Duh, masa baru begitu saja Mas udah keluar." Dokter Vivi meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.
"Dok.., saya.. baru pertama kali.. melakukan ini.." jawab saya
terengah-engah (kena dia, tetapi memang saya akui hisapannya lebih
hebat dari kedua suster tadi malam). Dokter Vivi tidak menjawab. Ia
mencopot jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat
pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga
celana jeans-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang
tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin meloncat keluar dari balik
BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter
Vivi mencopot BH-nya dan memelorotkan CD-nya. Astaga! Sungguh besar
namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau
lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih
menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling
sempurna yang pernah saya lihat selama hidup ini. Saya merasakan batang
kejantanan saya mulai bangkit lebih tinggi menyaksikan pemandangan yang
teramat indah ini.
Dokter Vivi kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya
yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa mau membuang waktu, saya
langsung menerima pemberiannya. Mulut saya langsung menyergap payudara
nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi
itu, mengingatkan saya ketika menyusu pada kedua suster tadi malam.
"Uuuhh.. Aaah.." Dokter Vivi mendesah-desah tatkala lidah saya
menjilat-jilati ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang.
Saya permainkan puting susu yang memang amat menggiurkan ini
dengan bebasnya. Sekali-sekali saya gigit puting susunya itu. Tidak
cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter Vivi menggelinjang
sambil meringis-ringis.
Tidak lama kemudian, saya menarik tangan Dokter Vivi agar ikut naik
ke atas tempat tidur. Dokter Vivi memahami apa maksud saya. Ia langsung
naik ke atas tubuh saya yang terbaring telentang di tempat tidur.
Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk, ia mengarahkan kemaluan
saya ke lubang kewanitaannya yang di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu
lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kejantanan
saya sudah masuk 2 cm ke dalam liang senggamanya, ia menurunkan
pantatnya, membuat senjata saya hampir tertelan seluruhnya di dalam
lubang surganya. Saya melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup
kencang waktu ujung kepala kemaluan saya menyentuh pangkal rahim Dokter
Vivi. Menyadari bahwa saya mulai terangsang, Dokter Vivi menambah
kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya, berputar-putar
ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya
berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat
tubuh saya menjadi meregang merasakan nikmat yang bukan main.
Saya merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang keperkasaan saya
sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba
menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter Vivi
yang liar itu.
Akhirnya, "Aaahh.." jerit saya.
"Ouuhh..!" desah Dokter Vivi.
Dokter Vivi dan saya menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks
hampir bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang rahim
Dokter Vivi yang masih berdenyut-denyut menjepit keperkasaan saya yang
masih kelihatan tegang itu.
Lalu, wajah, mata, dahi, hidung saya habis diciumi oleh Dokter Vivi sambil berkata, "Terima kasih Mas Sony, ohh.. endangg..!"
Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi yang sama, yaitu
kakinya melingkar di pinggang saya sambil memeluk tubuh saya dengan
hangat. Nah itulah cerita saya.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Aku Tidak Mau... Tapi Aku Menikmatinya |
roy_takeshi@yahoo.com |
128,615 |
| Teman Suamiku, Teman Tidurku 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
84,719 |
| Staff Admin Untuk Rame-Rame |
daricerita@mail.com |
68,691 |
| Majikan dan Pembantunya |
inidony@yahoo.com |
65,305 |
| Tugas Kenikmatan |
diandra_marcia@yahoo.com |
60,904 |
| Wah... !!! |
roy_takeshi@yahoo.com |
60,210 |
| Pesta Seks dengan Gadis SMA - 2 |
robertsasmita@yahoo.com |
56,264 |
| Mencicipi Pacar Teman |
gadis.ikon@yahoo.com |
52,161 |
| Kegelisahan Seorang Isteri |
rienmariana@yahoo.com |
51,797 |
| Andani Citra: Kegilaan di Lift Kampus - 1 |
andacc@kittymail.com |
44,641 |
| Ryu - 1 vs 3 |
Ryu_Hot@plasa.com |
44,081 |
| Kisah Bahagia di Hari Minggu - 4 |
sheilatanki@plasa.com |
44,051 |
| Pesta Pribadi |
Pesta Free Sex |
43,701 |
| Tante-tante Kesepian |
arip75rianto@lovemail.com |
42,797 |
| Pertama Kali Bertiga - 1 |
aishamaharani@yahoo.com |
40,479 |
|
|
|
|
|
|
|