|
|
Dari bagian 1 Dan kini disambarnya tubuh Citra yang sudah kepayahan. Tubuh Citra yang
dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga
menungging. Dia membuka lebar bibir vagina Citra dan menyentuhkan
kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke
vaginanya. Sambil menggenjot Citra dia meremas-remas payudaranya yang
makin menantang gara-gara menungging. Citra yang sudah lemah hanya bisa
mendesah sambil meremas-remas sprei.
"Aduhh.. aahh.. gila Ver.. enak banget!!" ceracanya sambil merem-melek wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.
Sambil menggenjot Citra perlahan-lahan, tangan Pak Indra merayap ke
pangkal pahaku. Dia membuka bibir vaginaku dan memasukkan jarinya. Aku
yang masih lelah hanya bisa mengangkang sambil menghayati jari-jarinya
yang keluar masuk vaginaku. Berbeda dengan menggenjot tubuh Citra
dengan cepat, dia memasukkan dan mengelurkan jarinya dari vaginaku
dengan lembut. Lama kelamaan aku merasakan nikmat dan ingin keluar.
"Oohh.. terus Pak.. kocok terus" desahku terus sambil meremas-remas dadaku sendiri.
"Yak.. dikit lagi.. aahh.. Pak.. sudah mau" aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks.
"Neng Citra.. Neng Verna.. bapak juga.. mau keluar.. eerrhh" geramnya dengan mempercepat gerakkannya.
Jari-jarinya terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya
menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku,
tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya
dari vagina Citra dan berdiri di ranjang. Disuruhnya aku berlutut dan
mengoral penisnya yang berlumuran cairan cinta. aku berlutut mengemut
penis basah itu sambil tangan kananku mengocok vaginaku sendiri yang
tanggung belum tuntas. Citra bangkit perlahan dan ikut bergabung
denganku menikmati penis Pak Indra. Aku mengemut batangnya, Citra
mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati 'sosis' itu.
Di tengah kuluman ku mendadak kurasakan vaginaku dibawah sana makin
banjir dan aku orgasme dari masturbasiku sendiri. Disusul beberapa
detik kemudian, Pak Indra mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang
panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi
wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam
genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan
kelabakan.
"Sabar, sabar dong neng, bisa putus penis bapak kalau rebutan
gini" katanya terbata-bata. Setelah tidak ada yang keluar lagi. Aku
menjilati sisa sperma di wajah Citra, demikian pula sebaliknya.
Akhirnya aku dan Citra ambruk kecapaian disusul Pak Indra yang ambruk
di atas dadaku.
Aku tertidur sebentar dan terbangun ketika kurasakan bahwa hanya
aku dan Pak Indra yang ada diranjang. Pak Indra tampak tertidur dengn
wajah yang puas. Mungkin dia masih merasa mimpi bisa mengerjain 2 orang
mahasiswa yang cantik-cantik dan berbody aduhai. Gratis lagi. Kurasakan
lengket pada wajah dan sekujur tubuhku. Aku langsung pergi ke kamar
mandi yang ada di kamar itu. Aku menguyur tubuhku yang masih belepotan
sperma Pak Indra. Kuusap semua daerah-daerah sensitifku. Kubersihkan
dadaku yang masih berwarna kemerahan. Kulihat banyak cupangan di sana
sini. Kemudian aku membersihkan vaginaku yang masih terasa perih.
Bagaimana tidak perih disodok penis sebesar penis Pak Indra. Padahal
selama ini aku cowok-cowok yang pernah tidur denganku tidak ada yang
memiliki penis seukuran Pak Indra. Aku tersenyum sendiri, ternyata
bukan hanya Pak Indra yang beruntung bisa menikmati tubuhku, ternyata
aku juga beruntung bisa merasakan penis supernya. Membayangkan hal itu
tiba-tiba libidoku langsung naik, aku mulai meraba-raba vaginaku.
Setelah mandi aku melap tubuhku dengan handuk dan mengenakan kimono
yang ada di kamar mandi itu, itu pasti punya Citra. Aku keluar kamar
mandi, kulihat Pak Indra masih tertidur, mungkin dia masih kecapaian
melayani 2 orang gadis sekaligus. Kulihat kearah penisnya yang sudah
lemas. Tapi walupun masih lemas, penisnya lumayan besar juga. Gimana
kalau sudah berdiri tegak? Perlahan-lahan aku dekati penis itu.
Kusentuh dengan jari-jariku. Lalu kukocok-kocok. Perlahan-lahan
ukurannya makin lama makin besar. Sambil mengocok-ngocok penis Pak
Indra, perlahanlahan kemasukkan kemulutku. Kujilati dan kukulum.
Selain itu jari-jari lentikku meremas-remas buah jakarnya. Kurasakan
Pak Indra bangun. Setelah melihat apa yan kulakukan dia tersenyum
sambil meringis merasakan kenikmatan. Mungkin baru kali ini penisnya di
oral seorang gadis muda yang cantik. Mimpipun mungkin dia tidak berani.
"Aahh.. terus, Ver!" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Aku menjilati penis itu dengan sangat bernafsu. Sungguh besar penis
itu, sehingga tidak muat di mulutku yang mungil. Paling yang masuk
kemulutku hanya ¾ nya saja. Kemudian dia bangun dan berdiri dengan
penis yang masih tertancap dimulutku. Dia memaju mundurkan penisnya di
mulutku sambil tangan memegang kepalaku. Sampai akhirnya menyemprotlah
maninya dimulutku. Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.. tujuh. Ada
tujuh kali penisnya memnyemprotkan maninya dimulutku. Sebagian kutelan
dan sebagian mengalir di sela-sela pipiku.
"Nikmat sekali Ver" katanya sambil ambruk di kasur yang empuk itu.
"Sabar ya.. bapak cari tenaga dulu. Entar giliran kamu yang bapak puasin.."
Aku membersihkan sisa-sisa sperma di bibirku. Aku merasa haus
sekali. Kemudian aku ambil air di meja dekat jendela kamar itu. Aku
minum satu gelas sampai habis. Ketika aku melihat ke kolam renang,
kulihat disana adegan yang mendebarkan hati. Muklas, penjaga villa
tetangga Citra, sedang menggenjot Indah di kolam yang dangkal. Indah
dalam posisi berpegangan pada tangga kolam. Muklas dari bawahnya juga
dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah
dari belakang. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang
tubuhnya. Sedangkan Citra sedang duduk di pinggir kolam sambil
mengelus-elus kemaluannya sendiri.
Muklas makin lama makin cepat menggenjot penisnya pada vagina
Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang
tubuhnya. Tubuh mungil Indah sudah tampak kewalahan. Apalagi menurut
ceritanya Indah adalah cewek yang gampang banget orgasme jika lagi ML
sama cowok-cowok di kampus kami. Apalagi dengan penjaga villa seperti
Muklas, berbadan tegap dan masih muda serta memiliki penis yang nggak
kalah besar dari Pak Indra. Pasti dia sudah orgasme berkali-kali.
Sambil melihat mereka aku mengelus-elus vaginaku sendiri. Tali
kimomo yang kukenakan kulepas. Birahiku langsung naik melihat adegan di
kolam. Entah mengapa aku cepat sekali BT(Birahi Tinggi) hari ini.
Muklas memajukan mulutnya melewati ketiak Indah dan langsung menjilati
payudara Indah dengan rakus. Indah makin menjerit-jerit. Jeritannya
sampai ke kamar dimana aku berada. Indah tak kuasa menahan rintihannya
setiap Muklas menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat
tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kemudian
kulihat Indah mencengkram tangan Muklas dengan kuat. Tubuhnya menggigil
dan menjerit tertahan. Ternyata dia orgasme.
Kemudian Indah naik ke kolam dan langsung ambruk di tepi kolam
sambil menutup matanya. Pasti dia sangat kecapaian. Kemudian kulihat
Citra mendekati Muklas. Muklas yang belum keluar, memamerkan penisnya
yang besar ke arah Citra. Kemudian Citra turun ke air yang disambutnya
dengan pelukan Muklas, tangannya mengelusi punggung Citra terus turun
hingga meremas bongkahan pantatnya yang padat. Sementara tangan Citra
juga turun meraih kemaluan Muklas. Kulihat mereka bercakap-cakap
sebentar.
Kemudian diangkatnya badan Citra yang langsing dengan posisi kaki
dipinggang Muklas. Diletakkannya tubuh mulus Citra pada lantai di tepi
kolam, di sebelah Indah yang terkapar. Kemudian Muklas merapatkan
badannya diantara kedua kaki Citra yang tergantung. Dengan sekali
dorong tertancaplah penis Muklas di vagina Citra. Mereka melakukan push
dan up secara teratur.
Saat asyik-asyiknya menikmati pemandangan erotis di tepi kolam, aku
dikejutkan sebuah tangan kasar yang merabai dadaku. Aku menoleh sekilas
ke belakang dan kulihat Pak Indra tersenyum sambil memilin-milin
putingku. Aku masih meraba-raba vaginaku, sedangkan Pak Indra makin
keras meremas payudaraku. Kurasakan sesuatu menyodok-nyodok pantatku
dan kutahu bahwa itu adalah penis Pak Indra. Dia membalikkan tubuhku
sehingga kami berhadap-hadapan. Diciumnya bibirku. Aku agak kewalahan
dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit
baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah
kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia
juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah
oleh liurnya.
Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang
telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya
membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat
bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon
dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba ke bawah mencari
kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi
untuk dientot.
Kemudian tubuhku diangkatnya ke meja, lalu di baringkannya.
Vaginaku semakin merekah karena posisiku yang telentang, apalagi aku
sengaja mengangkangkan kakiku. Dia mengelus-elus bibir vaginaku. Aku
mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main disana,
ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk.
"oh.. terus, pak!" hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri
karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga
akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat.
Dengan merem melek aku menjambak rambut Pak Indra yang sedang
menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan
cairanku tidak keluar lagi, barulah dia melepaskan kepalanya dari situ,
nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah
dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada
mulutnya yang belepotan cairan itu.
"Ayo.. Pak masukkan" teriakku.
Kulihat penis Pak Indra sudah berdiri dengan sangat tegak. Kuraih
benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Pak Indra ikut
menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh
bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan
karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai
jeritan kecil ketika Pak Indra mengehentakkan pinggulnya hingga
penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat
diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher
jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan
mendesah sejadi-jadinya. Tubuhku tersentak-sentak tak terkendali,
kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang
terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut Pak Indra. Aku
memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vaginaku.
"Ah.. terus pak.. terus!" desahku.
"Vagina Neng seret amat ya.. serasa masih mimpi bapak!" katanya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Payudara Neng juga montok. Mimpi apa bapak semalam bisa ML dengan
gadis cantik seperti Neng" katanya lagi disusul meremas-remas dadaku.
Aku hanya bisa merintih-rintih, apa yang dibilang Pak Indra tidak
kuperhatikan lagi. Susah payah aku bertahan agar tidak keluar dulu. Aku
ingin Pak Indra takluk dihadapanku. Tapi aku sudah tak tahan lagi,
kulihat langit-langit kamar sudah berbayang-bayang disusul dengan
cairan bening mengalir deras dari vaginaku.
"Pak.. aku.. keluar.." teriakku.
Tanpa memberiku istirahat, kemudian Pak Indra membalikkan badanku
sehingga tanganku bertumpu pada meja. Kemudian kurasakan penisnya
menyeruak ke vaginaku. Aku hanya bisa menahan nafas dan menggigit bibir
saat penisnya mulai keluar masuk. Aku merasakan nikmat yang tiada tara
ketika penisnya dengan cepat menerobos vaginaku. Aku terlonjak-lonjak
ke depan sampai payudaraku menempel pada kaca jendela. Mulutku
megap-megap dan terkadang meringis. Aku bisa melihat ke tepi kolam, d
imana Muklas dengan gencar menikmati tubuh putih Citra. Sampai-sampai
dada Muklas tertekan ke dada Citra yang bulat menggiurkan itu. Kedua
kaki Citra menggelepar-gelepar menepuk permukaan air.
Kemudian aku memfokuskan diri pada Pak Indra, yang nampaknya masih
belum ada tanda-tanda orgasme. Aku sudah lemas sekali. Sambil
mengoyangkan pinggulnya kepala Pak Indra menyeruak melewati ketiakku
dan langsung menciumi dadaku yang paling disenanginya. Aku hanya bisa
merintih dan menjerit sebisaku saat mulutnya dengan rakus menjilat dan
sekali-kali menggigit puting susuku, sehingga membuatku makin ke
awang-awang.
Frekuensi sodokannya makin lama makin cepat, aku mulai menggila dan
mulai menjerit sekuat-kuatnya beradu dengan erangannya dan deritan meja
yang ikut bergoyang. Dia mencengkram kedua tangannya di dadaku.
Kurasakan kukunya mencengkeram dadaku yang montok. Aku merasakan sakit
disana, tapi tidak sebanding dengan sensasi yang kudapat.
Hujaman-hujamannya kurasakan nikmat disekitar tubuhku.
"Ahh..!" aku tiba-tiba menjerit kecil ketika kurasakan cairanku
ingin meledak keluar. Aku mendesah panjang tak kuasa menahan orgasmeku
yang kedua. Masih dalam suasana orgasme, Pak Indra terus mengenjotku,
sehingga orgasmeku semakin panjang. Aku seperti berada di puncak awan.
Sel-selku sepertinya pecah dan tulang-tulangku seperti dilolosi. Aku
tengkurap diatas meja tidak tahan lagi menahan berat tubuhku. Aku
sangat lemas sekali. Pak Indra ternyata sangat hebat, nggak tahu apakah
dia tadi memakan obat kuat dulu ataukah memang kemampuannya yang
dasyat. Aku hanya mendesah desah saat penis hitamnya itu masih terus
menyodok nyodok vaginaku tanpa memberi istirahat.
Kemudian Pak Indra menjambak rambutku sehingga aku tertarik
kebelakang. Dia meremas dadaku dengan keras. Yang kurasakan sekarang
sakit pada rambut dan dadaku tetapi sangat nikmat pada vaginaku.
"Sebentar lagi.. sebentar.. lagi..!" erangnya.
Aku sudah sangat lemas, hanya tarikannya pada rambutku yang
menopang tubuhku. Kemudian dengan tiba-tiba dia melepas penisnya lalu
menggendong tubuhku yang sudah sangat capek kearah tempat tidur.
Tubuhku dihempaskan disana. Aku bisa melihat penisnya yang mengkilat
gara-gara cairan cintaku. Dengan sekali sentakan masuklah penisnya yang
besar itu ke vaginaku. Aku hanya bisa mendesah dan mengerang, tak kuasa
mengalami sensasi yang kualami.
Setelah lima menit menyodok dengan gaya itu. Dia mengeluarkan
penisnya dari vaginaku, kemudian menjepitnya di dadaku.
Digesek-geseknya penisnya di dadaku yang lumayan besar. Aku
mendesah-desah setiap penis itu melewati pangkal dadaku. Hal itu
berlangsung sekitar 5 menit. Kemudian kulihat Pak Indra mengerang
sambil menyebut-nyebut namaku. Lalu muncaratlah spermanya yang mirip
susu kental itu di wajah dan mulutku. Aku yang sudah lemas hanya bisa
membuka mulut. Kurasakan sperma dari wajahku mengalir masuk ke mulutku.
Aku hanya bisa ternganga menikmati suasana itu. Sampai cairan spermanya
masuk ke sela-sela mulutku. Setelah puas menuntaskan hajatnya Pak Indra
memintaku membersihkan barangnya. Dengan terpaksa aku bangun dan mulai
membersihkan penis yang hitam besar itu. Kemudian kami sama-sama
ambruk.
"Kamu hebat, Ver!", katanya "lain kali kalau bapak ajak ML lagi, mau ya!"
Aku hanya mengengguk. Tentu saja aku mau dengan orang seperti Pak Indra, dimana aku bisa orgasme berkali-kali.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Aku Tidak Mau... Tapi Aku Menikmatinya |
roy_takeshi@yahoo.com |
128,615 |
| Teman Suamiku, Teman Tidurku 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
84,724 |
| Staff Admin Untuk Rame-Rame |
daricerita@mail.com |
68,691 |
| Majikan dan Pembantunya |
inidony@yahoo.com |
65,305 |
| Tugas Kenikmatan |
diandra_marcia@yahoo.com |
60,904 |
| Wah... !!! |
roy_takeshi@yahoo.com |
60,211 |
| Pesta Seks dengan Gadis SMA - 2 |
robertsasmita@yahoo.com |
56,264 |
| Mencicipi Pacar Teman |
gadis.ikon@yahoo.com |
52,161 |
| Kegelisahan Seorang Isteri |
rienmariana@yahoo.com |
51,798 |
| Andani Citra: Kegilaan di Lift Kampus - 1 |
andacc@kittymail.com |
44,645 |
| Ryu - 1 vs 3 |
Ryu_Hot@plasa.com |
44,083 |
| Kisah Bahagia di Hari Minggu - 4 |
sheilatanki@plasa.com |
44,051 |
| Pesta Pribadi |
Pesta Free Sex |
43,701 |
| Tante-tante Kesepian |
arip75rianto@lovemail.com |
42,803 |
| Pertama Kali Bertiga - 1 |
aishamaharani@yahoo.com |
40,479 |
|
|
|
|
|
|
|