|
|
Dari Bagian 1 "Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain memeknya, kebelet nih!" kata Rois pada Syaiful.
"Sabar jek.. Uuhh.. Nanggung dikit lagi.. Eemmhh!" jawab Syaiful dengan terengah-engah.
Genjotan Syaiful semakin kencang, nafasnya pun semakin memburu
menandakan bahwa dia akan orgasme. Kami mengatur tempo genjotan agar
bisa keluar bersama.
"Uhh.. Uhh.. Udah mau Ci, boleh di dalam gak?" tanyanya.
"Jangan.. gue lagi subur.. Ah.. Aahh!!" desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.
"Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin memeknya!" tegur Adi.
Syaiful menyusul tak sampai semenit kemudian dengan meremas kencang
payudaraku hingga membuatku merintih, kemudian dia mencabut penisnya
dan menumpahkan isinya ke punggungku.
"Ok, next please" Syaiful mempersilakan giliran berikut.
Adi langsung menyambut tubuhku dan memapahku berdiri.
Disandarkannya punggungku pada dinding lift lalu dia mencium bibirku
dengan lembut sambil tangannya menelusuri lekuk-lekuk tubuhku, kami
ber-french kiss dengan panasnya. Serangan Adi mulai turun ke
payudaraku, tapi cuma dia kulum sebentar, lalu dia turun lagi hingga
berjongkok di depan vaginaku. Gesper dan resleting rokku dia lucuti
hingga rok itu merosot jatuh. Dia menatap dan mengendusi vaginaku yang
tertutup rambut lebat itu, tangan kanannya mulai mengelusi kemaluanku
sambil mengangkat paha kiriku ke bahunya. Jari-jarinya mengorek liang
vaginaku hingga mengenai klitoris dan G-spotku.
"Sshh.. Di.. Oohh.. Aahh!!" desisku sambil meremas rambutnya ketika lidahnya mulai menyentuh bibir vaginaku.
Aku mengigit-gigit bibir menikmati jilatan Adi pada vaginaku,
lidahnya bergerak-gerak seperti ular di dalam vaginaku, daging kecil
sensitifku juga tidak luput dari sapuan lidah itu, kadang diselingi
dengan hisapan. Hal ini membuat tubuhku menggeliat-geliat, mataku
terpejam menghayati permainan ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah gigitan
pelan pada puting kiriku, mataku membuka dan menemukan kepala Syaiful
sudah menempel di sana sedang mengenyot payudaraku. Rois berdiri di
sebelah kananku sambil meremas payudaraku yang satunya.
"Ci, toked lu gede banget sih, ukuran BH-nya berapa nih?" tanyanya.
"Eenngghh.. Gua 34B.. Mmhh!" jawabku sambil mendesah.
"Udah ada pacar lo Ci?" tanyanya lagi.
Aku hanya menggeleng dengan badan makin menggeliat karena saat itu
lidah Adi dengan liar menyentil-nyentil klitorisku. Sensasi ini
ditambah lagi dengan Rois yang menyapukan lidahnya yang tebal ke leher
jenjangku dan mengelusi pantatku. Sebelum sempat mencapai klimaks, Adi
berhenti menjilat vaginaku. Dia mulai berdiri dan menyuruh kedua
temannya menyingkir dulu.
"Minggir dulu jek.. Gua mo nyoblos nih! Walah.. Nih toked jadi bau
jigong lu gini Ful!" omelnya pada Syaiful yang hanya ditanggapi dengan
seringainya yang mirip kuda nyengir.
Paha kiriku diangkat hingga pinggang, lalu dia menempelkan kepala
penisnya pada bibir vaginaku dan mendorongnya masuk perlahan-lahan.
"Ooh.. Di.. Aahh.. Ahh!" desahku dengan memeluk erat tubuhnya saat dia melakukan penetrasi.
"Aakkhh.. Yahud banget memek lu Ci.. Seret-seret basah!"
Kemudian Adi mulai memompa tubuhku, rasanya sungguh sulit
dilukiskan. Penis kokoh itu menyodok-nyodokku dengan brutal sampai
tubuhku terlonjak-lonjak, keringat yang bercucuran di tubuhku membasahi
dinding lift di belakangku. Eranganku kadang teredam oleh lumatan
bibirnya terhadapku. Senjatanya keluar-masuk berkali-kali hingga
membuat mataku merem-melek merasakan sodokan yang nikmat itu. Aku pun
ikut maju mundur merespons serangannya. Saat itu kedua temannya hanya
menonton sambil memegangi senjata masing-masing, mereka juga menyoraki
Adi yang sedang menggenjotku seolah memberi semangat.
Sementara dia berpacu di antara kedua pahaku, aku mulai merasakan
klimaks yang akan kembali menerpa. Tubuhku bergetar hebat, pelukanku
terhadapnya juga semakin erat. Akhirnya keluarlah desahan panjang dari
mulutku bersamaan dengan melelehnya cairan kewanitaanku lebih banyak
daripada sebelumnya. Namun dia masih bersemangat menggenjotku, bahkan
bertambah kencang dan bertenaga, nafasnya yang menderu-deru menerpa
wajahku.
"Uuhh.. Uuh.. Ci.. Yeeahh.. Hampir!" geramnya di dekat wajahku.
Tubuhnya berkelojotan diiringi desahan panjang, kemudian ditariknya
penisnya lepas dari vaginaku dan menyemprotlah isinya di perutku. Dia
pun lalu ambruk ke depanku sambil memagut bibirku mesra. Karena Adi
melepaskan pegangannya terhadapku, pelan-pelan tubuhku merosot hingga
terduduk bagai tak bertulang, begitu pun dengannya yang bersandar di
lift dengan nafas ngos-ngosan. Aku meminta Syaiful mengambilkan tissue
dari tasku, aku lalu menyeka keringat di keningku juga ceceran sperma
pada perutku sambil menjilat jari-jariku untuk mendapatkan ceceran
sperma itu. Hingga kini pakaian yang masih tersisa di tubuhku cuma
sepatu dan kaos yang telah tergulung ke atas.
Tenggang waktu ke babak berikutnya kurang dari lima menit, Rois
setelah meminta ijin dahulu, memegangi kedua pergelangan kakiku dan
membentangkannya. Ditatapnya sebentar lubang merah merekah di tengah
bulu-bulu hitam itu, kedua temannya juga ikut memandangi daerah itu.
"Ayo dong.. Pada liatin apa sih, malu ah!" kataku dengan
memalingkan muka karena merasa risi dipelototi bagian ituku, namun
sesungguhnya aku malah menikmati menjadi objek seks mereka.
"Hehehe.. Malu apa mau nih!" ujar Syaiful yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku.
"Lu udah gak virgin sejak kapan Ci? Kok memeknya masih OK?" tanya Rois sambil menatap liang itu lebih dekat.
"Enam belas, waktu SMA dulu" jawabku.
Kami ngobrol-ngobrol sejenak diselingi senda gurau hingga akhirnya
aku meminta lagi karena gairahku sudah kembali, ini dipercepat oleh
tangan-tangan mereka yang selalu merangsang titik-titik sensitifku.
Rois menarikku sedikit ke depan mendekatkan penisnya pada vaginaku lalu
mengarahkan benda itu pada sasarannya. Uuh.. Vaginaku benar-benar
terasa sesak dan penuh dijejali oleh penisnya yang perkasa itu. Cairan
vaginaku melicinkan jalan masuk baginya.
"Aa.. aadduhh, pelan-pelan dong!" aku mendesah lirih sewaktu Rois
mendorong agak kasar. Sambil menggeram-geram, dia memasukkan penisnya
sedikit demi sedikit hingga terbenam seluruhnya dalam vaginaku.
"Eengghh.. Ketat abis, memek Cina emang sipp!" ceracaunya.
Dia menggenjot tubuhku dengan liar, semakin tinggi tempo
permainannya, semakin aku dibuatnya kesetanan. Sementara Syaiful sedang
asyik bertukar ludah denganku, lidahku saling jilat dengan lidahnya
yang ditindik, tanganku menggenggam penisnya dan mengocoknya. Sebuah
tangan meraih payudaraku dan meremasnya lembut, ternyata si Adi yang
berlutut di sebelahku.
"Bersihin dong Ci, masih ada sisa tadi!" pintanya dengan
menyodorkan penisnya ke mulutku saat mulut Syaiful berpindah ke
leherku.
Serta merta kuraih penis itu, hhmm, masih lengket-lengket bekas
persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya, setelah
beberapa jilatan baru kumasukkan ke mulut, aku dapat melihat ekspresi
kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku.
Tak lama kemudian, Syaiful berkelojotan dan bergumam tak jelas,
sepertinya dia akan klimaks. Melihat reaksinya kupercepat kocokanku
hingga akhirnya cret.. cret.. Spermanya berhamburan mendarat di sekitar
dada dan perutku, tanganku juga jadi belepotan cairan seperti susu
kental itu. Saat itu aku masih menikmati sodokan Rois sambil mengulum
penis Adi.
Kemudian Adi mengajak berganti posisi, aku dimintanya berposisi
doggy, Rois dari belakang kembali menusuk vaginaku dan dari depanku Adi
menjejalkan penisnya ke mulutku. Kulumanku membuat Adi berkelojotan
sambil meremas-remas rambutku sampai ikat rambutku terlepas dan
terurailah rambutku yang sebahu itu. Penis itu bergerak keluar-masuk
semakin cepat karena vaginaku juga sudah basah sekali.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian muncratlah sperma Adi memenuhi
mulutku, karena saat itu genjotan Rois bertambah ganas, hisapanku
sedikit buyar sehingga cairan itu tumpah sebagian meleleh di pinggir
bibirku. Setelah Adi melepas penisnya, aku bisa lebih fokus melayani
Rois, aku ikut menggoyang pinggulku sehingga sodokannya lebih dalam.
Bunyi 'plok-plok-plok' terdengar dari hentakan selangkangan Rois
dengan pantatku. Mulutku terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat,
sampai beberapa menit kemudian tubuhku mengejang hebat yang menandakan
orgasmeku. Kepalaku menengadah dan mataku membeliak-beliak, sungguh
fantastis kenikmatan yang diberikan olehnya. Kontraksi otot-otot
kemaluanku sewaktu orgasme membuatnya merasa nikmat juga karena
otot-otot itu semakin menghimpit penisnya, hal ini menyebabkan
goyangannya semakin liar dan mempercepat orgasmenya. Dia
mendengus-dengus berkelojotan lalu tangannya menarik rambutku sambil
mencabut penisnya.
"Aduh-duh, sakit.. Mau ngapain sih?" rintihku.
Dia tarik rambutku hingga aku berlutut dan disuruhnya aku membuka
mulut. Di depan wajahku dia kocok penisnya yang langsung menyemburkan
lahar putih. Semprotan itu membasahi wajahku sekaligus memenuhi
mulutku.
"Gila, banyak amat sih, sampai basah gini gua!" kataku sambil menjilati penisnya melakukan cleaning service.
Setelah menuntaskan hasrat, Rois melepaskanku dan mundur
terhuyung-huyung sampai bersandar di pintu lift dimana tubuhnya merosot
turun hingga terduduk lemas. Dengan sisa-sisa tenaga aku menyeret
tubuhku ke tembok lift agar bisa duduk bersandar. Suasana di dalam lift
jadi panas dan pengap setelah terjadi pergulatan seru barusan. Aku
mengatur kembali nafasku yang putus-putus sambil menjilati sperma yang
masih belepotan di sekitar mulut, aku bisa merasakan lendir hangat yang
masih mengalir di selangkanganku.
Adi sudah memakai kembali celananya tapi masih terduduk lemas, dia
mengeluarkan sebotol aqua dari tas lusuhnya, Syaiful sedang berjongkok
sambil menghisap rokok, dia belum memakai celananya sehingga batang
kemaluannya yang mulai layu itu dapat terlihat olehku, Rois masih
ngos-ngosan dan meminta Adi membagi minumannya. Setelah minum beberapa
teguk, Rois menawarkan botol itu padaku yang juga langsung kuraih dan
kuminum. Kuteteskan beberapa tetes air pada tissue untuk melap wajahku
yang belepotan.
Kami ngobrol-ngobrol ringan dan bertukar nomor HP sambil memulihkan
tenaga. Aku mulai memunguti pakaianku yang tercecer. Setelah berpakaian
lengkap dan mengucir kembali rambutku, kami bersiap-siap pulang. Adi
menekan tombol lift dan lift kembali meluncur ke bawah. Lantai dasar
sudah sepi dan gelap, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Lega
rasanya bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar gedung ini, kami
pun berpisah di depan gedung sipil, mereka keluar lewat gerbang samping
dan aku ke tempat parkir.
Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum sendiri sambil
mendengar alunan musik dari CD-player di mobilku, masih
terngiang-ngiang di kepalaku kegilaan yang baru saja terjadi di lift
kampus.
*****
Mohon maaf atas menghilangnya milis yahooku karena dihack
seseorang, selain itu aku sendiri sudah lulus dan bekerja sehingga
tidak punya banyak waktu untuk mengurus milis itu. Bisa menuangkan
pengalamanku ke dalam tulisan saja sudah cukup menyibukkanku dan biasa
kulakukan kalau ada waktu senggang di kantor, jadi harap maklum pada
penggemar cerita-ceritaku.
E N D
| Title | Author | Views |
| Aku Tidak Mau... Tapi Aku Menikmatinya |
roy_takeshi@yahoo.com |
128,632 |
| Teman Suamiku, Teman Tidurku 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
84,802 |
| Staff Admin Untuk Rame-Rame |
daricerita@mail.com |
68,713 |
| Majikan dan Pembantunya |
inidony@yahoo.com |
65,323 |
| Tugas Kenikmatan |
diandra_marcia@yahoo.com |
60,912 |
| Wah... !!! |
roy_takeshi@yahoo.com |
60,216 |
| Pesta Seks dengan Gadis SMA - 2 |
robertsasmita@yahoo.com |
56,282 |
| Mencicipi Pacar Teman |
gadis.ikon@yahoo.com |
52,197 |
| Kegelisahan Seorang Isteri |
rienmariana@yahoo.com |
51,805 |
| Andani Citra: Kegilaan di Lift Kampus - 1 |
andacc@kittymail.com |
44,655 |
| Ryu - 1 vs 3 |
Ryu_Hot@plasa.com |
44,103 |
| Kisah Bahagia di Hari Minggu - 4 |
sheilatanki@plasa.com |
44,064 |
| Pesta Pribadi |
Pesta Free Sex |
43,711 |
| Tante-tante Kesepian |
arip75rianto@lovemail.com |
42,908 |
| Pertama Kali Bertiga - 1 |
aishamaharani@yahoo.com |
40,492 |
|
|
|
|
|
|
|