|
|
Dari Bagian 1 Beberapa saat kemudian kuputar badanku pada posisi semula. Risa
mengangkangkan kakinya hingga gundukan bukit itu nampak jelas sekali.
Hutannya yang hitam dan rimbun membuat pemandangan tampak begitu indah,
begitu pula 'kacang basahnya' yang melambai-lambai. Wajahnya yang
merah, bibirnya yang seksi menahan gairah semakin menambah
kecantikannya malam ini.
"Cepetan dong Ryan.." Perlahan namun pasti kugerakkan tongkatku menuju gua yang lebat itu
"Ouhh.." Risa merintih saat kepala tongkatku mulai masuk kemulut gua yang sudah basah dan licin.
"Ah.. Ouh.. Ohh."
"Oh.. Oh.. Uhh.."
Desahannya dan desahanku bersahutan tatkala pelan-pelan batang
tongkatku masuk ke dalam gua. Sejenak tongkat itu kutarik keluar
kemudian kumasukkan lagi dengan sangat perlahan.
"Ahh.. Ouhh.. Nikmat sekali Ryan.. Ohh"
"Aku sayang kamu Risa"
"Aku juga Ryan.. Oh nikmat sekali.. Ohh"
Tongkatku terus bersenam maju mundur di dalam gua Risa. Sementara itu mulutku juga terus bergerilya di gunung kembar Risa.
"Ahh.. Ryan.. Oh.. Terus Ryan.. Dalem lagi.. Ohh" Risa terus
menggelinjang ke sana ke mari, pantatnya juga terus bergoyang bagaikan
Inul di atas panggung.
"Oh.. Oh.. Aku tak tahan lagi Ryan.. Tongkatmu enak sekali, aku hampir sampai.. Terus Ryan lebih keras lagi.. Ohh"
"Ahh.. Uhh.. Uh.. Aku juga hampir keluar sayang, dikeluarkan dimana? Di luar apa di dalam?"
Tiba-tiba ada sesuatu lahar panas yang akan segera muntah dari tongkat kenikmatanku.
"Di dalam aja biar nikmat.. Oh.. Uh.." Cret.. Cret.. Crett.. Keluarlah lahar panas dari tongkatku.
"Ohh.. Aku sampai.." Pada saat yang bersamaan Risa juga sampai pada puncaknya.
"Uhh.. Ogh.."
Lolongan panjang kami mengakhiri pertempuran pertama yang luar
biasa nikmatnya. Perlahan nafas kami teratur kembali seperti turun dari
puncak kenikmatan yang sensasional.
Prakk.. Tiba-tiba terdengar suara vas bunga tersenggol, aku dan
Risa saling berpandangan, terkejut sekaligus sadar kalau Rico masih ada
di ruang tengah.
"Risa.. Rico kan belum pulang?"
"Belum.. Kamu sih terlalu bernafsu.."
"Habis kamu juga sih.. Terlalu menggairahkan he he.."
"Jangan-jangan dia lihat kita?"
"Biarin aja deh, kan malah lebih sensasional"
"Dasar Gabrut kamu.."
"Eh Risa, aku punya ide"
Tiba tiba muncul dalam benakku untuk mengajak Rico ikut serta dalam
permainan kami, seolah aku sudah lupa kalau tadi sempat merasa cemburu
dengan keberadaannya.
"Ide apaan?"
"Gimana kalau Rico kita ajak sekalian main dengan kita"
"Maksudmu?"
"Kita ajak dia untuk bercinta bersama, kan lebih asyiik.. Pasti jauh lebih nikmat"
"Ah gila kamu.. Gak mau emangnya aku cewek apaan.."
"Bukan begitu, pasti lebih sensasional. Percayalah ini tidak akan
mempengaruhi hubungan kita. It's just sex not love. Aku juga tetap
mencintaimu"
Sejenak Risa berpikir, mungkin ia menganggap ideku sangat gila,
tapi entah kenapa tiba-tiba bulunya merinding dan tampak wajahnya
bergairah, mungkin ia membayangkan permainan tersebut. Namun ia juga
tidak mau kalau tampak menggebu menginginkan permainan itu karena
bagaimana pun kami memang saling mencintai.
"Apa kamu serius Ryan?"
"Serius" aku coba meyakinkan Risa.
"Kamu nggak cemburu kalau aku main seks juga dengan Rico?"
"Ya enggaklah kan aku yang minta, asalkan ada aku"
"Kamu nggak ngambek lagi kayak tadi saat liat aku hanya bercanda dengan Rico"
"Enggak.. Percayalah.. Ini mungkin malah akan membuat hubungan kita semakin dewasa"
"Terserah kamulah" Risa akhirnya pasrah, yang penting tak mengubah
apapun pada hubungan kami, karena tiba-tiba ia pun mulai bergairah.
"Ok kalau gitu aku akan bicara ama Rico"
Aku segera turun dari ranjang, kupakai celanaku kemudian aku keluar
dari kamar. Kulihat Rico lagi merokok di ruang tengah, dari wajahnya
nampak ia sangat gelisah melihat permainan tadi, mungkin ia juga sangat
terangsang tapi tak ada pelampiasan. Kaget ia ketika melihatku
melangkah ke arahnya.
"Eh Ryan.."
"Ric.. Sori ya perlakuanku tadi, aku agak emosi karena badanku lagi capek, pikiranku juga stress akibat kerjaan"
"Gak pa-pa kok Ryan.. Aku paham, biasalah dalam setiap berhubungan, cemburu itu kan tanda sayang" ungkapnya sok bijak dan arif.
"Sori juga tadi kamu kami tinggal sendirian di ruang tengah"
"Gak pa-pa kok"
"Tapi tadi kamu lihat kan aku ngapain dengan Risa?"
"Enggak.. Aku nggak.. Tahu.." Katanya agak gugup.
"Gak usah bohong Ric.. Aku nggak pa-pa kok, kita kan udah sama-sama dewasa, malah kalau kamu mau boleh kok kalau kamu ikutan"
"Maksudmu?"
"Iya kalau kamu mau, kamu boleh kok ikutan"
"Ikutan apaan?"
"Ikutan bermain seperti yang kamu lihat tadi"
"Apa aku nggak salah denger?
"Enggak.. Tadi aku juga udah bicarakan ama Risa, Risa juga setuju
kok, itung-itung ini sebagai tanda maaf kami berdua, lagian kamu kan
juga udah lihat semuanya"
Rico tercenung, mungkin ia tak percaya dengan apa yang barusan ia
dengar, ia seolah sedang bermimpi. Tapi aku segera menyadarkannya.
"Yuk kita ke kamar.. Kasihan Risa dah menunggu lama" kutarik tangan Rico untuk ikut ke kamar Risa.
Begitu masuk kamar, nampaklah Risa sedang telentang di tempat tidur
sambil diselimuti sedikit di bagian bawah perutnya. Rico melongo
melihat pemandangan yang luar biasa, paha yang putih mulus, dada yang
indah membusung, pemandangan yang mungkin selama ini hanya ia bayangkan
saat melakukan onani karena aku pun tahu kalau memang sudah sejak lama
ia sangat tertarik dan bernafsu ketika melihat Risa. Namun sejauh ini
ia cukup tahu diri karena Risa sudah ada yang punya. Tapi kini Rico
melihat Risa yang betul-betul dalam posisi menantang, atas ajakanku
sendiri yang merupakan pacarnya Risa.
"Kok diem Ric, kenapa?" Sapa Risa memecahkan kesunyian.
Kulihat sebenarnya Risa agak gugup dipandangi seperti itu. Apalagi
kini di depannya ada dua lelaki yang selama ini memang dekat dengannya
yang satu sahabatnya yang satu adalah pacarnya. Atau mungkin ia juga
membayangkan sebentar lagi kedua orang dekatnya itu akan menjamah
tubuhnya dan memberikan kenikmatan kepadanya. Kulihat pancaran wajahnya
sangat bergairah. Sedangkan aku sendiri juga tidak tahu kenapa, saat
ini sama sekali tidak ada rasa cemburu sedikit pun, malah yang justru
aku sangat terangsang menghadapi permainan yang akan segera kami mulai.
"Yuk Ric kita mulai pestanya" Kuajak Rico segera mendekat ke Risa.
Kulepas semua baju yang ada di tubuhku, juga kuminta hal yang sama
dengan Rico. Kini kami bertiga dalam keadaan yang sama-sama telanjang.
Kulirik tongkat Rico yang sudah tegak, dari sisi ukuran memang tak jauh
beda. Namun masing-masing punya kekhasan tersendiri. Punyanya agak
melengkung sedangkan punyaku menjulang dengan kokohnya.
Aku memulai duluan dengan merundukkan kepalaku pada bagian bawah perut Risa. Hutannya yang lebat kuciumi dengan seksama.
"Ouh.. Ouh.." Risa merintih kenikmatan.
Rico pun tidak mau ketinggalan, ia mengambil bagian pada wajah
Risa. Ia ciumi bibir Risa dengan lembutnya. Bibir sensual yang selama
ini hanya ada dalam bayangannya.
"Ouh.. Ogh.. Uh.." Risa tak tahan menahan sensasi serangan bawah
atas, tubuhnya menggeliat ke sana ke mari, pantatnya bergoyang bagai
tampah yang sedang diputar-putar. Sambil terus beradu bibir dengan Risa, tangan Rico bergerilya ke dalam payudara Risa yang ranum.
"Ouh.. Ou.." sensasi yang Risa rasakan makin menjadi-jadi.
"Hh.. Uh.." Desah nafas kami makin tak beraturan.
Sambil terus kujilati 'kacang basah' Risa, kulihat Rico mengubah
posisi. Tongkatnya yang melengkung itu ia sodorkan ke mulut Risa. Dan
Risa pun menyambutnya dengan antusias.
"Ouhh.. Ups.." Pelan dan pasti tongkat Rico keluar masuk dari mulut
Risa.. Terkadang Risa melahapnya hingga hampir mengenai telurnya.
"Ohh.." Kudengar erangan Rico menahan kenikmatan dari mulut yang
selama ini ia bayangkan. Sementara aku sendiri juga mengubah posisi,
tongkatku yang sudah tegak kucoba untuk kumasukkan ke dalam tempat
'kacang basah' Risa.
"Aauuww.. Ohh.. Auww" Risa berteriak tertahan menahan kenikmatan
tongkatku, namun tertahan suaranya oleh tongkat Rico yang sedang maju
mundur.
Kulihat wajah pacarku ini benar-benar cantik dan menggairahkan
dengan dua buah tongkat yang sedang memasuki lubang atas dan bawahnya.
Kugerakkan tongkatku maju mundur mengikuti gerakan Rico yang juga maju
mundur dalam mulut Risa.
"Ohh.. Ua.. Uuaoww" berbagai suara-suara tertahan serta desahan nafas memecah kesunyian malam itu.
Setelah berlangsung selama 10 menit, kemudian Rico menoleh ke
arahku, meski ia tak bicara tapi aku mengerti kalau ia minta ijin
kepadaku untuk tukar posisi, karena ia ingin merasakan juga nikmatnya
'kacang basah' Risa. Kami pun bertukar tempat. Tongkat Rico di bawah,
sedangkan tongkatku di mulut Risa.
"Ouhh.. Ohh.." Tongkatku maju mundur dalam mulut Risa, kadang
kepalanya ia jilat, kadang batangnya bahkan kadang seluruhnya ia telan.
"Ouhh enak sekali Ris.. Punya kamu masih seret.. Ohh" Terdengar Rico meracau merasakan nikmatnya gua Risa.
"Ris, kamu makin cantik sekali, dengan wajah penuh permen gitu..
Ohh" matanya melotot kugodain seperti itu, tapi makin tambah nikmat.
"Ohh Ris.. Dada kamu montok sekali.. Ohh"
"Ahh.. Kamu menggairahkan sekali Ris.."
"Auh.. Ohh" sensasi yang kami rasakan makin menjadi.
Mata Risa berkejap-kejap tanda ia sudah mau mencapai orgasme, aku
hapal betul tanda-tanda ini karena aku sering bermain cinta dengan
Risa.
"Ohh.. Ohh.." Di saat yang sama akupun juga merasakan hal serupa,
akhirnya kutumpahkan seluruh lahar panasku kemulutnya. Crutt.. Crutt..
"Ups.. Ohh.."
Mulut Risa belepotan oleh cairan lahar panasku. Sebagian ia telan
karena ia mempercayai akan membuatnya awet muda. Sedangkan Rico masih
terus memompa, tapi kulihat ia pun hampir mengeluarkan lahar panasnya.
"Ohh.. Huu.. Ohhghh.."
Cret.. Cret.. Crret.. Tumpahlah lahar panas Rico yang ia keluarkan
di perut Risa, sengaja ia tidak mau mengeluarkan di dalam karena takut
resiko pada kehamilan Risa, meski sebenarnya Risa sudah meminum obat
anti hamil.
Kami bertiga kemudian tergeletak lemas, namun puas setelah mencapai
puncak bersama-sama. Karena Risa di rumah sendirian, maka semalam kami
terus berpesta. Kadang aku dengan Risa, kadang Rico dengan Risa, kadang
juga bertiga. Tapi yang pasti aku tidak dengan Rico karena aku masih
waras bukan gay. Dan kulihat Risa sangat menyukai permainan ini.
Sejak saat itu hubunganku dengan Risa semakin mesra, tanpa ada rasa
cemburu tapi semakin cinta. Dan rencananya kami juga akan segera
menikah. Sedangkan petualangan kami terus berlanjut yang mungkin di
lain waktu kuceritakan.
E N D
| Title | Author | Views |
| Aku Tidak Mau... Tapi Aku Menikmatinya |
roy_takeshi@yahoo.com |
128,626 |
| Teman Suamiku, Teman Tidurku 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
84,783 |
| Staff Admin Untuk Rame-Rame |
daricerita@mail.com |
68,703 |
| Majikan dan Pembantunya |
inidony@yahoo.com |
65,321 |
| Tugas Kenikmatan |
diandra_marcia@yahoo.com |
60,912 |
| Wah... !!! |
roy_takeshi@yahoo.com |
60,216 |
| Pesta Seks dengan Gadis SMA - 2 |
robertsasmita@yahoo.com |
56,278 |
| Mencicipi Pacar Teman |
gadis.ikon@yahoo.com |
52,191 |
| Kegelisahan Seorang Isteri |
rienmariana@yahoo.com |
51,803 |
| Andani Citra: Kegilaan di Lift Kampus - 1 |
andacc@kittymail.com |
44,653 |
| Ryu - 1 vs 3 |
Ryu_Hot@plasa.com |
44,101 |
| Kisah Bahagia di Hari Minggu - 4 |
sheilatanki@plasa.com |
44,061 |
| Pesta Pribadi |
Pesta Free Sex |
43,711 |
| Tante-tante Kesepian |
arip75rianto@lovemail.com |
42,886 |
| Pertama Kali Bertiga - 1 |
aishamaharani@yahoo.com |
40,492 |
|
|
|
|
|
|
|