|
|
Dari Bagian 2 Kulihat Dewi sudah menelentang dengan mata tertutup. Bibirnya sedikit
terbuka dan mendesis-desis. Pahanya telah dibuka lebar-lebar.
Kemaluannya merekah merah dan basah oleh cairan vaginanya, dihiasi oleh
bulu-bulu hitam lebat di seputarnya. Tangan kirinya berpegangan erat
dengan tangan Fenny seakan-akan menimba kekuatan dan dukungan. Dadanya
kelihatan bergemuruh oleh denyut jantungnya. Ia terlihat menahan napas.
Aku tahu, ia tak sabar menantikan sensasi indah bersatu dengan diriku.
Kuarahkan kemaluanku yang sudah menegang dan berkilat-kilat.
Ujung kemaluanku menguak perlahan-lahan bibir kemaluannya. Ia
mendesah nikmat. Lalu perlahan-lahan aku menyuruk masuk. Mulutnya
semakin lebar terbuka. Batang kemaluanku yang berkasa itu menerobos
dinding-dinding vaginanya yang telah basah berlendir. Ketika separuh
batang kemaluanku telah menerobos liang nikmatnya Dewi, aku berhenti
sejenak dan membiarkan dia menikmatinya. Kulihat ekspresi wajah Dewi
yang menggelinjang kenikmatan. Rambut hitamnya yang terserak di bantal
mempertegas ekspresi wajahnya yang putih mulus. Tangannya meremas-remas
kain seprei. Dari mulutnya keluar desah-desah nikmat yang menggelora.
Aku tersenyum bangga, bisa menikmati tubuh wanita secantik dan semontok
Dewi.
Ketika aku dengan hati puas menikmati ekspresi penuh kenikmatan
wajah Dewi, di saat itulah ciuman bibir Fenny mendarat di belakangku,
tepat di atas pantatku. Aku terkejut karena geli. Reaksiku tak terduga.
Aku menyodokkan kemaluanku dengan keras ke arah Dewi. Batang kemaluanku
yang besar dan panjang itu dengan ganasnya menerobosi lubang surgawi
Dewi dan tertanam sepenuhnya di lubang yang sudah basah berlendir itu.
Dewi tersentak dan membelalakkan matanya sambil mengerang hebat.
Jeritannya keras dan panjang membelah udara malam yang hening itu.
"Aaoohh..", erang Dewi penuh kenikmatan.
Pantatnya dihentak-hentakkan ke atas untuk menerima kemaluanku
sepenuhnya. Pahanya yang padat itu membelit pinggangku, sehingga aku
sepenuhnya bersatu dengan dirinya. Ia melolong-lolong seperti orang
hilang ingatan. Sementara itu jilatan lidah Fenny di seputar bokongku
membuat rasa nikmat itu semakin menjadi-jadi. Setelah berhenti sejenak
dan memberi kesempatan kepada Dewi untuk menikmati sensasi nikmat ini,
aku mulai bergerak. Kemaluanku kugerakkan maju mundur secara berirama.
Mula-mula perlahan-lahan, lalu bergerak makin cepat. Tubuh montok Dewi
bergetar-getar seirama dengan genjotan kemaluanku. Mulutnya terbuka dan
mendesis-desis.
Melihat indahnya bibir-bibir mungil merah merekah itu, aku segera
mendaratkan bibirku di sana. Kulumat habir bibir-bibir seksi itu. Dewi
membalas tak kalah hebatnya. Lidahku terpilin-pilin oleh sedotan
mulutnya. Tubuhku mulai berpeluh, menetes dan menyatu dengan keringat
Dewi. Pahanya kini dibuka lebar-lebar sehingga aku dapat leluasa
menggenjot kemaluannya itu. Kecipak bunyi cairan vaginanya karena
sodokan kemaluanku secara berirama menambah panas pertarungan penuh
birahi ini.
"Aku mau keluar.." erang Dewi.
"Ayo, Mas.. Lebih keras! Auu!!"
Mengingat masih ada Fenny yang harus dipuaskan, aku mempercepat
gerakanku agar Dewi secepatnya orgasme. Benar! Dalam hitungan dua
menit, Dewi menjerit sekeras-kerasnya sambil menghentak-hentakkan
pantatnya ke atas. Tubuhnya menggeletar dengan hebas karena didera rasa
nikmat yang luar biasa. Jeritannya itu tersekat oleh mulutku. Pahanya
ketat membelit pinggangku. Tangannya memelukku seerat-eratnya. Desah
puas terdengar dari mulutnya.
"Fenny masih menunggu", kataku mengingatkan.
Ia mengangguk dan melepaskanku. Aku mencabut kemaluanku yang masih
tegak keras dan berkilat-kilat karena dilumuri lendir vagina Dewi. Dari
kemaluannya kulihat aliran lendir orgasmenya. Dewi tetap berbaring
dengan paha terbuka dan mata tertutup. Buah dadanya membusung ke atas,
agak memerah karena remasan dan gigitanku. Kemaluannya tetap merekah
terbuka dan bergetar-getar, masih harus terbiasa dengan genjotan
kemaluanku yang keras dan besar ini.
Aku menoleh dan kulihat Fenny menatapku dengan pandangan yang
menyiratkan harapan agar nafsunya pun segera dipuaskan. Aku
menghampirinya. Ia bergerak dan menyiapkan dirinya untuk disetubuhi.
Tak kusangka, ia langsung menungging. Rupanya ia suka doggy style
penetration.
"Aku tahu, Mas Ardy suka pantatku", katanya sambil tertawa kecil.
"Ayo, Mas! Fenny udah nggak sabar, nih. Pengen cepat dirudal oleh penismu yang gede itu."
"Siapa takut!" sahutku.
Karena Fenny sudah sangat terangsang, aku tidak menunggu lama-lama.
Langsung saja kuarahkan kemaluanku ke arah kemaluannya yang merekah,
diapiti oleh kedua bongkahan pantatnya yang montok, padat dan lebar
itu. Sungguh pemandangan yang indah dan sangat mengungkit birahi yang
terpendam. Pantat yang lebar dan mulus itu pasti menjanjikan kenikmatan
yang tak ada duanya. Bulu-bulu kemaluannya yang hitam lebat itu
menutupi sedikit liang nikmat Fenny. Kusibak rambut-rambut itu dan
tampaklah bibir-bibir vagina yang berwarna merah muda, segar dan basah
berlendir. Apa lagi yang dapat menghalangiku menyetubuhi si pantat
besar ini?
Fenny menurunkan kepalanya hingga bertumpu ke bantal. Pantatnya
diangkat. Tangannya meremas ujung-ujung bantal itu seakan-akan mencari
kekuatan. Nafasnya berdesah tak teratur. Bulu-bulu halus tubuhnya
meremang, menantikan saat-saat sensasional ketika kemaluanku ini akan
menerobosi lubang surgawinya. Aku merapat. Kuelus-elus kedua belahan
pantatnya yang mulus padat itu. Perlahan-lahan jari-jariku mendekati
bibir-bibir vaginanya yang telah basah itu. Jariku mempermainkan rambut
lebat di seputar lubang itu. Fenny mengerang-erang menahan birahinya
yang semakin menggila. Pantatnya bergetar-getar menahan rangsangan
tanganku.
"Ayo, Mas", erang Fenny.
"Udah nggak tahan nih!"
Kuarahkan kemaluanku yang masih sangat keras itu ke arah lubang
kenikmatan Fenny. Kuletakkan kepala kemaluanku di atas bibir-bibirnya.
Fenny mendesah. Kemudian perlahan tapi pasti aku mendorongnya ke depan.
Kemaluanku menerobosi lubang nikmatnya itu. Fenny menjerit kecil sambil
mendongakkan kepalanya ke atas. Sejenak aku berhenti dan membiarkan
Fenny menikmatinya. Ketika ia tengah mengerang-erang dan
menggelinjang-gelinjang, mendadak aku menyodokkan kemaluanku ke depan
dengan cepat dan keras. Dengan lancar batang kemaluanku meluncur ke
dalam liang vaginanya. Fenny tersentak dan menjerit keras.
"Ampunn, Mas!" jerit Fenny.
"Auu..!!"
Di saat itu terdengar telepon berdering. Siapa sih yang nelpon
malam-malam begini? Dewi beranjak menerima telepon ini. Sambil terus
menggenjoti kemaluan Fenny, aku menangkap pembicaraan itu.
"Eh, Yen", kata Dewi.
"Tuh lagi asyik di sana. Fenny sampai menjerit-jerit tuh. Bisa
dengar kan? Ya.. Aku sampai orgasme berulang-ulang lho. Mas Ardy memang
jagoan deh. Ok.. Aku ke sana."
Dewi membawa cordless telepon itu ke samping ranjang. Ia
mendekatkannya ke kepala Fenny yang menjerit kenikmatan. Rupanya Mei
dan Yen ingin mendengarnya juga. Aku terpacu untuk menunjukkan
kejantananku. Maka aku mempercepat genjotan kemaluanku di vagina Fenny.
Kujambak rambutnya sehingga wajahnya mendongak ke atas. Semakin keras
dan cepat genjotanku, semakin keras erangan dan jeritan Fenny. Bunyi
hentakan pantatnya semakin memukau. Akhirnya kurasakan lahar sperma di
kemaluanku akan memuncrat. Maka aku mempercepat kocokanku, biar Fenny
duluan orgasme. Benar!
"Aa..h.!" jerit Fenny.
"Aah.. Aku keluar! Aku keluar!"
Diiringi jeritan kerasnya, tubuh Fenny menggeletar hebat didera
rasa nikmat orgasme yang tak terkatakan. Punggungnya melengkung ke atas
dan mengejang. Hentakkan pantatku membenamkan kemaluanku dalam-dalam ke
vagina Fenny. Dinding liang kemaluannya itu terasa menjepit batang
kemaluanku, mengiringi muntahan spermaku memenuhi lubang kenikmatannya.
Tanganku mencekal pahanya yang padat itu dan menarik erat-erat ke arah
kemaluanku, sehingga kemaluanku yang kubanggakan itu terbenam
sedalam-dalamnya di kemaluan Fenny.
Punggung Fenny yang padat berisi itu bersimbah peluh. Rambutnya
melekat. Ia mencengkam seprei kuat-kuat seakan-akan hendak menimba
kekuatan dari sana, menahan deraan rasa nikmat yang melanda sekujur
tubuhnya. Rasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, diimbangi oleh rasa
bangga karena dapat beradu birahi dengan dua wanita Cina yang yang
cantik dan bahenol. Kebanggaanku menjadi lebih lengkap karena keduanya
sudah meraih orgasme berkat kejantananku.
"Udah dulu ya, Mbak", suara Dewi membuyarkan lamunanku.
"Fenny udah keluar, tuh! Aku mendingan mandi, deh! Sebentar lagi
pasti giliranku." Rupanya ia mengobrol dengan Mei dan Yen lewat
telepon.
Rasa bangga menjalari kepalaku mendengar ucapan Dewi itu. Sambil
tetap membiarkan kemaluanku menancap di tubuh Fenny, aku menoleh ke
arah Dewi. Aku tersenyum, ia membalasnya. Ia mendekatiku dan
mendaratkan bibirnya di bibirku. Kami berpagutan erat sementara tubuh
Fenny yang masih menyatu dengan tubuhku terus menggeletar menggapai
sisa-sisa kenikmatan. Oh, malam yang teramat indah dan akan kukenang
seumur hidupku.
"Oh! Nikmatnya!" kata Fenny.
"Aku belum pernah sepuas ini!"
"Aku juga", sahut Dewi.
"Luar biasa Mas Ardy ini!"
Aku mencabut kemaluanku dari kemaluan Fenny. Kuperhatikan liang
vaginanya yang dipenuhi spermaku bercampur cairan kemaluannya, menetes
jatuh membasahi pahanya. Kami bertiga rebah di atas ranjang. Kedua
wanita itu menempel lekat, Dewi di sisi kiriku dan Fenny di sisi
kananku. Ciuman hangat mendarat di kedua pipiku. Sekitar lima belas
menit kami hanya berbaring diam melemaskan badan, mereguk sisa-sisa
kenikmatan dan menghimpun tenaga.
"Mandi, yuk!" ajak Dewi.
Bertiga kami beralih ke kamar mandi. Seperti dengan Mei dan Yen
dulu, kamar mandi itu berubah menjadi arena pemuasan nafsu birahi. Dewi
dan Fenny memandikanku. Keduanya menyabuniku bukan dengan tangan. Dewi
sibuk menyabuni seluruh bagian belakang tubuhku dengan buah dadanya,
sementara Fenny menyapu bersih seluruh bagian depan tubuhku dengan
pantatnya yang lebar.
Ke Bagian 4
| Title | Author | Views |
| Aku Tidak Mau... Tapi Aku Menikmatinya |
roy_takeshi@yahoo.com |
57,774 |
| Wah... !!! |
roy_takeshi@yahoo.com |
38,679 |
| Tugas Kenikmatan |
diandra_marcia@yahoo.com |
37,701 |
| Staff Admin Untuk Rame-Rame |
daricerita@mail.com |
32,532 |
| Majikan dan Pembantunya |
inidony@yahoo.com |
28,709 |
| Kegelisahan Seorang Isteri |
rienmariana@yahoo.com |
25,809 |
| Kisah Bahagia di Hari Minggu - 4 |
sheilatanki@plasa.com |
25,802 |
| Andani Citra: Kegilaan di Lift Kampus - 1 |
andacc@kittymail.com |
24,788 |
| Teman Suamiku, Teman Tidurku 01 |
mh_asnawi@hotmail.com |
24,094 |
| Pesta Seks dengan Gadis SMA - 2 |
robertsasmita@yahoo.com |
24,028 |
| Pertama Kali Bertiga - 1 |
aishamaharani@yahoo.com |
23,094 |
| Pesta Pribadi |
Pesta Free Sex |
21,522 |
| Cemburu Membawa Sensasi - 1 |
Madfani2003@yahoo.com |
18,554 |
| At The Party - 1 |
viranomahendra@yahoo.com |
18,430 |
| Makna Persahabatan - 1 |
ardy_it@yahoo.com |
18,318 |
|
|
|
|
|
|
|