|
|
Cerita ini seperti disampaikan Mar (18) kepada
penulis. Ditulis ulang tanpa merubah maknanya, sebagai sumbangsih untuk
pencinta dan pembaca sumbercerita.com
*****
Sebut saja aku Mar, wanita berusia 18 tahun, sudah menikah dan
sedang hamil 8 bulan. Aku berani menceritakan kisahku setelah Sam (60),
ayah kandungku diamankan polisi lima bulan lalu, setelah sempat
digebuki Mas Hamdi (25), suamiku.
Sebagai wanita yang tumbuh ditengah keluarga miskin dilingkungan
pesisir, aku terbiasa hidup dan kerja keras membantu orangtuaku yang
nelayan. Kampung kami di pulau L (Edited ***) agak jauh dari kota dan
seperti terisolir membuat tatanan kehidupan bermasyarakat disana kurang
terbuka, aku pun tumbuh menjadi gadis kurang pergaulan.
Sejak berusia 11 tahun, ayah dan ibuku bercerai. Ibu kawin lagi
dengan lelaki idamannya membawa Fery, adikku. Mereka pun tinggal di
kota, dirumah barunya. Sejak itu pula aku hidup bersama ayahku dirumah
kami dikampung pesisir itu, karena Anto dan Santi, kedua kakakku sudah
merantau kepulau seberang.
Kehidupanku bersama ayah berjalan wajar. Untuk makan sehari-hari,
ayah masih sanggup mencari nafkah sebagai nelayan, sedangkan aku turut
membantu bibi berjualan dipasar. Hingga aku menginjak usia 17 tahun,
dan tumbuh menjadi gadis yang kata masyarakat kampungku aku lumayan
cantik. Diusia itu aku disunting Mas Hamdi, anak lelaki bibiku.
"Kamu sudah dewasa nak, setelah menikah nanti jadilah istri yang
taat kepada suami. Ayah harap kamu tidak seperti ibumu yang tergiur
harta kekayaan lelaki lain sehingga kamu menderita," kata ayah setelah
menerima pinangan bibi, orang tua Hamdi.
Pesta penikahan yang cukup mewah untuk ukuran kami tak membuat aku
bergembira karena pikiranku tertuju iba pada ayahku yang nantinya akan
sebatangkara kutinggalkan. Tapi aku pun sangat mencintai Mas Hamdi,
suamiku.
Dimalam pertama kami, aku benar-benar bahagia bersama Mas Hamdi.
Malam itulah kuserahkan semua yang kumiliki padanya, sangat berkesan
bagiku.
"Aku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi mengecup keningku saat kami dipembaringan, usai pesta kawin kami malam itu.
"Aku juga Mas.." jawabanku tulus dan kami pun berpelukan erat.
Kecupan Mas Hamdi dikeningku terus turun ke pipi, hidung, dan
selanjutnya Mas Hamdi mengecup bibirku dan mengulumnya dalam. Tangannya
mulai melucuti kebaya putih yang kukenakan, menyibak bra yang kupakai,
lalu menyentuh puting susuku, meremas dan mencubit kecil susuku.
"Aouhh Mass, geli Mas," terus terang baru sekali itu aku dijamah lelaki, perasaanku bukan main takut bercampur enak.
Mas Hamdi tak peduli, bagaikan singa lapar ia kemudian melucuti
seluruh kain yang melilit tubuh bawahku dan juga melepaskan seluruh
pakaiannya.
"Tenang ya sayang, sakit sedikit kok.. nanti juga enak," kata itu keluar dari bibir Mas Hamdi saat menindih tubuhku.
"Aahh mass, sakit sekali Mas," aku agak menjerit saat benda tumpul milik Mas Hamdi mengoyak vaginaku.
Malam pertama itu Mas Hamdi menyetubuhiku dengan beringas, dan tak
memberiku kesempatan untuk mencapai klimaks yang nikmat. Tapi aku pikir
mungkin itulah gaya seks pria pesisir yang terbiasa hidup keras sebagai
nelayan.
Meski aku bahagia hidup bersama suamiku, namun rasa BHakti pada
ayah tak pernah kusingkirkan. Walau kami hidup beda rumah, dengan jarak
200 meter. Tetapi seringkali kubawakan ayah makanan dan minuman,
biasanya tiga hari sekali. Apalagi Mas Hamdi pun menyuruhku untuk tetap
memperhatikan ayahku yang mulai tua, dan jarang melaut lagi. Tapi
selama itu segela sesuatunya masih berjalan lancar.
Hingga suatu siang, empat bulan setelah aku menikah, aku membawakan
makanan dan minuman kerumah ayah yang letaknya agak terpisah dari rumah
lainnya dikampung kami. Saat itu aku sudah hamil dua bulan.
"Ini yah, saya bawakan sayur dan ikan. Ayah nggak usah masak lagi
untuk nanti malam tinggal dihangatkan saja," kataku setiba dirumah
ayah.
"Duh.. makasih ya sayang. Kamu ini benar-benar anak berBHakti," kata ayah seraya menghampiri dan mengecup keningku.
Kupikir kecupan itu pertanda sayang seperti yang selama ini
diperbuat padaku, kubiarkan saja itu dan kemudian aku ke dapur untuk
memindahkan makanan dari rantang yang kubawa kepiring didapur. Ayah
rupanya membuntutiku dan ikut kedapur, lalu disaat tanganku sibuk
menyusun piring dimeja makan, ayah memelukku dari belakang.
"Kamu sudah hamil ya sayang," tanya ayah sambil memeluk dan memegangi perutku dari belakang.
"Iya yah, sebentar lagi saya akan kasih ayah cucu," jawabku
membiarkan ayah tetap memelukku, karena kupikir ayah sangat
menyayangiku.
"Kalau mulai hamil, perutmu harus sering diusap dan dipijit pelan
supaya bayinya nggak turun," ayah berkata itu sambil mengusap perutku
dengan posisi tetap memelukku dari belakang.
Kubiarkan ayah melakukan itu sementara aku tetap sibuk memindahkan makanan untuk ayah.
"Si Hamdi sering mijitin kamu nggak sayang," ayahku bertanya lagi.
"Uh ayah ini, Mas Hamdi kan kerja, pulangnya capek mana sempat
mijitin saya. Bukannya saya sebagai istri yang harus mijitin dia?"
kujawab ayah dan melepaskan pelukan ayah, lalu aku pindah keruangan
depan.
Siang itu, seperti biasanya sebelum pulang aku sempatkan untuk
ngobrol bersama ayahku. Selain menanyakan kebutuhan apa saja yang harus
kubawakan, aku juga kerab berkeluh kesah tentang sikap mertuaku, ibu
Mas Hamdi yang sampai saat itu belum bisa kuakrabi sebagai menantu.
Tapi siang itu ayah justru membicarakan masalah kehamilanku, masalah
perawatan janin diperutku, termasuk masalah harus rajin diusap dan
dipijat perutku.
"Nah.. suamimu kan nanti malam melaut, kamu datang kemari saja
supaya ayah bisa pijitin ya," begitu pinta ayah sebelum aku pulang.
Aku pun mengiyakan saja, soalnya biasanya Mas Hamdi pulangnya agak
siang setelah melaut. Lagipula, dirumah mertua aku sering bingung mau
melakukan apa, maklum mertuaku belum sreg benar kepadaku kelihatannya.
Malam itu setelah Mas Hamdi pamit melaut, aku langsung kerumah
ayah. Tentu saja aku pamit ke mertua untuk menengok ayah, kataku pada
mereka, ayah sedang sakit. Waktu aku datang, ayah sedang mendengarkan
siaran radio sambil menghisap rokok tembakau lintingan diruang tamu.
"Malam yah.. kok ngelamun sih?" sapaku sambil bergelayut dilengan ayahku.
"Iya sayang, ayah lagi ingat masa muda dulu," ayahku tetap asyik dengan rokok lintingnya.
Dari bibirnya segera meluncur secuil perjalanan hidupnya yang sebenarnya sudah sering diceritakan pada kami, anak-anaknya.
"Tuh kan ayah jadi cerita, jadi nggak nih mijitin saya? katanya
sayang sama cucu yang masih diperut ini?" aku merajuk menghentikan
ceracau ayahku tentang hidupnya.
"Iya..iya, tapi sekarang kamu mandi dulu sana," perintah ayahku.
Aku langsung mandi dan terus kekamar ayahku. Saat itu seluruh
pakaianku kutanggalkan dan hanya menggunakan kain sarung milik ayah
untuk menutup tubuhku. Biasanya dikampung ini, melilit tubuh dengan
sarung sudah jadi tradisi tiap wanitanya.
"Sekarang berbaring diranjang itu ya sayang, ayah ambilkan minyak
kepala dulu," ayahku memandangi tubuhku dengan senyuman, lalu
meninggalkanku sendirian dikamar, aku pun menunggunya sambil berbaring
diranjang. Tak lama kemudian ayah datang membawa sebotol kecil minyak
kelapa.
"Memang susah anak muda sekarang, nggak perhatian sama istrinya," ayahku bicara sendiri ketika duduk ditepi ranjang.
"Iya, untung saya masih punya ayah yang perhatian ya yah," kataku.
Tangan ayah segera menyibak kain yang kukenakan dibagian atas,
sehingga susuku tanpa pembungkus bebas terlihat. Tetapi aku sama sekali
tak risih karena sejak kecil sampai gadis pun aku sering dilihat mandi
telanjang oleh ayah. Jemari ayah yang kasar mulai mengusapi perutku
dengan minyak kelapa, sesekali tangannya memijit bagian perutku.
"Tuh kan? Posisi bayimu agak turun, kamu sering merasa sakit ya?" ayah bertanya sambil tangannya terus memijiti perutku.
"He-eh yah.., sering capek juga kakinya," jawabku menikmati pijitan ayah.
"Ya sudah, nanti ayah pijitin seluruh badanmu ya," ayah mengatakan
itu, lalu pijitannya pindah kebetisku, pijatannya bergantian betis dan
perut.
Sambil dipijit, aku dan ayah tetap ngobrol, mulai masalah harga
ikan yang sedang turun, sampai masalah masa lalu ayah dengan ibuku.
"Uhh.. sakit yah," aku agak berteriak saat merasakan sakit dibagian perut saat tangan ayah memijit.
Ayah menghentikan pijitannya, tetapi tangannya tetap berada diatas perutku.
"Ini ya yang sakit Mar? Wah.. ini bisa bahaya, kalau dibiarkan
nanti anakmu bisa cacat lho kalau lahir," kata ayah dengan raut wajah
serius.
"Cacat? Jadi gimana dong yah, Mar nggak mau punya anak cacat," aku
takut sekali waktu itu, takut menanggung malu jika kelak melahirkan
anak yang tak normal.
Ayah tak langsung menjawab pertanyaanku, ia kelihatan sedang berpikir, tapi kemudian tersenyum.
"Bisa kok ayah obatin, tapi ayah harus siapin obatnya dulu ya,"
ayah kemudian meninggalkanku sendirian dalam kamar. Tak lama ayah
datang lagi dan membawa baskom plastik berisi air dan beberapa kembang
kenanga.
Ayah kemudian menjelaskan padaku bahwa ia akan mengobati kehamilanku dengan pengobatan tradisional.
"Tapi ayah harus masukan air kembang ini kedalam rahimmu sayang,
kamu bisa tahan sakit sedikit kan?" ayah mengatakan itu dengan sangat
meyakinkan.
Semula aku ragu, apalagi ayah bilang kalau dia akan memasukan air
kembang itu dengan cara menyemburkannya divaginaku. Tetapi keraguanku
pupus setelah ayah berkali-kali meyakinkanku. Sampai sekarang pun aku
tak tahu pasti apa kata ayahku itu benar atau hanya sekedar akal
bulusnya saja. Tetapi yang jelas, saat itu aku menurut saja ketika ayah
menyingkap sarung yang kukenakan dibagian bawah dan meminta aku
mengangkangkan kaki dalam posisi terlipat, seperti posisi wanita yang
hendak
bersenggama dengan lelaki. Ayah sendiri naik keranjang dengan
posisi bersimpuh dihadapan kangkangan kakiku. Terus terang aku malu dan
kikuk menyadari betapa vaginaku terpampang jelas tanpa penghalang
didepan mata ayahku.
"Kamu tenang saja ya sayang, tidak lama kok," katanya, lalu meneguk
air kembang dalam baskom dan menampung dalam mulutnya yeng
menggelembung.
Aku sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, apalagi
saat kepala ayah mulai merunduk melewati dua pahaku, mendekati vaginaku
yang tak terbungkus CD. Beberapa detik kemudian kurasakan dingin
mejalar dipermukaan kemaluanku, rupanya ayah sudah menyemburkan air
dalam mulutnya tepat kevaginaku. Yang kurasakan selain dinginnya air
kembang, juga perasaan geli dibagian vitalku. Ayah mengulangi lagi
meneguk air itu dan menyemburkan ke vaginaku, beberapa kali. Hal itu
menimbulkan perasaan tak menentu padaku, geli, dingin bercampur enak.
"Gimana Mar, sudah agak membaik rasa sakitnya?" ayah bertanya padaku.
Namun belum sempat kujawab tangan kanan ayah tiba-tiba membelai vaginaku.
"Sabar ya, ayah harus pastikan air kembang itu masuk sampai
kerahimmu," katanya, sambil tangannya terus mengusapi bibir vaginaku.
Usapan tangan ayah divaginaku yang sudah basah terkena air kembang
membuat sensasi tersendiri kurasakan, aku pun tak bisa berkata-kata
lagi karena mendadak lemas seluruh sendi tubuhku.
"Uhh yahh.. sudah yah.., Mar nggak bisa tahan geliinya," bibirku
meminta ayah menghentikan aksi usapnya, tetapi kedua tanganku tak
menahan tangan ayah yang aktif, tetapi tanganku justru meremasi sprei
ranjang kanan dan kiri.
"Disini ya sayang yang geli itu," ayah bertanya sambil jempol
kanannya menekan klitorisku dan menguyak-nguyak benda sensitifku itu
memutar kecil.
"Nnnghh.. iya yah.. geli sekali disituhh," nafasku mulai tersengal
menahan geli yang nikmat dibawah usapan jempol ayah dibagian
klitorisku.
Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
631,353 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
476,909 |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
454,430 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
429,672 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
395,090 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
366,802 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
321,271 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
300,342 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
286,227 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
270,171 |
| Anakku Tersayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
261,298 |
| Anakku, Sarana Pelampiasanku |
putri.andien@eudoramail.com |
258,669 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
253,293 |
| Mamaku Sayang 02 |
ichapunya@yahoo.com |
252,068 |
| Gairah Kakak Kandung 01 |
Pecinta Wanita |
251,466 |
|
|
|
|
|
|
|