|
|
Dari bagian 1 Rasa gatal yang sangat kurasakan dipucuk-pucuk kedua susuku yang putingnya sudah mengembang pertanda birahi yang kualami.
Ayah meneruskan aktifitasnya mengusapi klitorisku dengan jempolnya,
usapan itu perlahan melemah dengan posisi jempol beranjak menjauh dari
klitorisku. Saat itu aku sudah sangat terangsang oleh ayah, pinggulku
kini yang naik mengejar jempol ayah agar tak meninggalkan klitorisku.
Aku menggelepar dengan napas sudah sangat tidak beraturan lagi,
pikiranku sudah melayang dan tak ingat lagi bahwa yang merangsangku
adalah ayahku sendiri. Tapi disaat aku sudah sangat terangsang seperti
itu, ayah justru menghentikan aktifitasnya di klitorisku. Pinggulku
yang tadinya sedikit mengangkat mencari jempol ayah langsung
terjerembab lagi, aku terpejam menahan gejolak yang berkecamuk
ditubuhku.
"Auhh yahh, kenapa?" tanyaku agak kecewa, tapi mendadak malu saat
ayah menatapku, malu karena aku seperti meminta hal yang lebih dari
ayahku.
"Mar.. sepertinya air kembang itu tidak masuk benar dalam rahimmu. Ayah ulangi semburannya ya," kata ayahku.
"Yah.. sudah saja ya, Mar.. nggak tahan gelinya," pintaku, tapi anehnya tubuhku tetap berbaring seolah tak ingin menjauhi ayah.
Ayah tak menjawab permintaanku dan kembali meneguk air kembang lalu
ditampung dimulutnya. Aku memejamkan mata saat kepala ayah kembali
tunduk mendekat ke pangkal pahaku. Aku kembali merasakan dingin di
permukaan vaginaku saat ayah mulai menyemburkan air kembang, tapi kali
ini lain, setelah semburan itu aku merasa ada benda kenyal nan lembut
menyapu permukaan
vaginaku. Kupikir itu jemari tangan ayah, tetapi tidak, itu bukan
tangan, benda bertekstur lembut, hangat, dan kenyal itu adalah lidah
ayah. Ya, ayah mengusapi tepatnya menjilati permukaan vaginaku dengan
lidahnya.
"Ihh.. mmpphh yaahh, aauhh hhsstt," aku tak kuasa menahan rasa
nikmat dijilati ayah, terus terang sejak kawin dengan Mas Hamdi belum
pernah aku diperlakukan seperti itu. Mas Hamdi selalu main langsung
tembak, tanpa rangsangan lebih dulu sehingga selama ini aku sendiri
belum pernah merasakan apa yang disebut kenikmatan orgasme. Jilatan
ayah mulai meningkat, kini lidahnya justru sering menelusup belahan
bibir vaginaku yang mulai banjir. Cairan bening kental dari vaginaku
diseruput ayah seperti menyeruput kopi hangat dari gelasnya.
"Ngghhsstt.. yah.. Mar nggak bisa tahnn.. ouhh.." aku mulai menggelinjang tak menentu rasanya.
Namun disaat aku mulai melambung tinggi, ayah menghentikan lagi
aktifitasnya di vaginaku, membuat aku menggelepar menahan birahiku
sendiri.
"Mar.. ayah agak sulit masukan air kembang itu kerahimmu. Tahan sebentar lagi ya," katanya.
"Yah.. cepetan ya, Mar nggak kuat lagi, geli sekali yah," aku merasa semakin lemas karena birahiku dipermainkan seperti itu.
Saat itu aku berhayal seandainya Mas Hamdi ada tentu dialah yang
akan memuaskanku dengan penisnya, karena aku merasa sudah siap betul
dan ingin sekali untuk disetubuhi lelaki. Tapi pikiran itu kutepis,
karena bukankah ayah yang sedang mengobati kandunganku? Aku tak
berpikir bahwa ayah pun terangsang saat itu.
Tapi tak lama kemudian kurasakan nafas ayah kembali mendekati
vaginaku, setelah meneguk air kembang yang hampir habis di baskom. Ayah
tidak lagi menyemburkan air itu dengan berjarak dari vaginaku, tetapi
bibir ayah langsung menempel dibibir vaginaku dan ia menyemburkan air
itu. Kurasakan aliran air itu masuk hingga ke dinding rahimku, rasanya
sama seperti saat Mas Hamdi menumpahkan spermanya ketika kami
bersenggama. Setelah itu bibir ayah melumati bibir vaginaku, lidahnya
mulai masuk dibelahan vaginaku membuat nikmat yang sangat dibagian
sensitif itu, aku benar-benar kepayang dibuat ayah. Kini jemari tangan
ayah turut menyibaki vaginaku, membukanya lebar dan lidahnya menyapu
klitorisku dari atas kebawah dan sebaliknya dari bawah keatas.
"Ouhh.. yah.. suddhh yaahh, Mar mau kencingg rasanya ah.." seluruh
sendiku terasa ngilu dan mengembang bersama kedutan kecil didinding
vaginaku, aku hampir sampai puncak orgasmeku.
"Iya sayang, sudah selesai kok," lagi-lagi ayah menghentikan
aktifitasnya, tapi saat kubuka mata ternyata kali ini tubuh ayah sudah
berada diatas tubuhku dengan bertopang pada dua tangannya.
"Yah.. kok ayah begitu? Ouhh yahh.. ahh," belum habis kagetku
karena ayah menindih, aku merasakan ada benda keras yang masuk ke
vaginaku.
Ternyata ayah sudah melepaskan celananya dan penisnya yang tegang
dimasukan ke vaginaku. Aku hendak berontak karena hal itu tabu
dikampungku dan dimanapun, bukankah seorang ayah tak boleh melakukan
itu pada anak perempuannya. Perang bathin kualami saat itu, aku ingin
mendorong tubuh kekar ayahku tetapi aku sudah sangat lemas saat itu.
Sementara dorongan birahiku ingin segera terpuaskan dengan senggama
bersama lelaki.
"Oohhgg, Mar.. angap saja ayah Hamdi Mar.. ouhh ayahh nggak
tahhann," ayah tetap menindihku dan kini pinggulnya mulai naik turun
diatas tubuhku membuat penisnya bebas keluar masuk diliang nikmatku
yang sudah licin dan becek oleh cairanku sendiri.
"Nghhg.. aahsstt, yahh.." aku tak kuasa lagi menolak penis ayah yang mulai mengobati rasa gatal di vaginaku.
Dengan mata terpejam aku malah ikut menyambut goyangan ayah dengan
goyangan pinggulku. Merasa aku tak melawan, ayah pun semakin liar
menyetubuhiku, anak kandungnya. Kini sambil menggenjotku, bibir ayah
menjelar menghisapi puting susuku, sehingga senggama kami sempurna dan
kenikmatan yang kurasakan pun semakin tak tertara bila dibanding
senggamaku bersama suami.
Sekalipun usia ayah sudah kepala enam, tetapi kondisi fisiknya
masih kuat dan kurasakan penisnya pun masih normal dengan ukuran yang
sedikit lebih besar dari punya Mas Hamdi.
"Yahh.. Marr mauu kencinghh yahh uuh..sstt,"
Sepuluh menit berlalu dalam senggama, kurasakan kenikmatan mulai
mengumpul di pangkal pahaku, bongkahan pantatku, ujung-ujung jari
kakiku, dan juga di liang nikmatku. Kedutan semakin terasa didinding
vaginaku, dan akhirnya kurasakan kejang dibagian pinggul sampai kakiku,
kakiku kemudian kugunakan untuk menjepit pinggul ayah dan menekannya
agar lebih dalam penisnya bersarang di vaginaku. Tanganku memeluk tubuh
berkeringat ayah, sementara kepalaku terangkat dengan bibir menyedok
kulit dada ayah. Dalam kondisiku yang puncak itu, ayah masih menggejot
penisnya beberapa kali sebelum akhirnya
ayaHPun mengejang dan mengerang diatas tubuhku.
"Ahhgg Mar.. ngghh," ayah lalu lunglai dan berbaring disampingku
yang juga lemas tak bertenaga. Tulangku seakan dicopoti saat itu, namun
kuakui itulah kali pertama aku kepuncak nikmatnya senggama.
Malam itu aku tidur bersama ayahku dirumahnya, dan paginya kami
seperti melupakan kejadian itu. Akupun pulang kerumah mertua pagi
harinya, dan bersikap seperti biasa saat Mas Hamdi pulang melaut.
*****
Kejadian pertama bersama ayah, membuat aku agak malu untuk datang
kerumah ayah lagi. Sudah dua minggu ini aku tidak menjenguk atau
mengantarkan makanan untuk ayah. Entahlah, walau sebenarnya aku tak
keberatan disetubuhi nikmat oleh ayah, tetapi aku malu kalau disangka
ayah ingin mengulangi kenikmatan itu lagi.
Sore itu, sebelum Mas Hamdi melaut seperti biasa ia meminta jatah
dilayani kebutuhan biologisnya. Sebagai istri kulayani suamiku
semaksimal mungkin. Tapi seperti biasa juga, Mas Hamdi hanya memikirkan
kepuasannya saja, dan sudah mengejang menyemprotkan air maninya sebelum
aku merasa terangsang, apalagi orgasme.
"Mhh, aku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi selalu mengatakan itu sambil
mengecup keningku setiap kali usai menikmati klimaks diatas tubuhku,
lalu ia mengenakan kembali pakaiannya dan meninggalkanku sendiri
dikamar, ia pun melaut bersama teman-temannya.
"Hati-hati Mas..," hanya itu yang kuucapkan melepas pergi suamiku.
Aku tetap berbaring diranjang tanpa mengenakan kembali pakaianku,
rasa kecewa terhadap suamiku tumpah lewat air bening yang meluncur
ditepian mataku. Aku merasa tersiksa dua minggu ini setiap kali
berhubungan intim dengan suamiku, tersiksa karena tak mendapatkan
nikmat yang maksimal seperti yang kudapat dari ayahku. Setelah suamiku
menhilang dibalik pintu, aku bangkit dan mengunci kembali pintu kamar.
Kembali berbaring diranjang tanpa busana, aku menghayalkan kenangan
nikmat bersama ayah. Tak terasa tanganku mulai meremasi payudara
sendiri, sambil membayangkan ada lelaki yang sedang mencumbuiku, aku
pun menjelajahi bagian tubuh sensitifku sendiri. Malam itu aku mencapai
orgasmeku dengan masturbasi sambil menghayalkan ayahku, lalu tertidur
pulas.
Esoknya, pagi-pagi benar sebelum Mas Hamdi pulang melaut, aku
menyiapkan makanan untuk kubawa kerumah ayah. Entahlah, aku ingin
sekali kerumah ayah pagi itu.
"Eh kamu Mar.. ayah kira siapa," kata ayah menyambut ketukan pintuku.
"Iya nih yah, bawakan ayah makanan," aku menjawab tanpa mampu menatap mata ayah, aku malu dan jadi canggung pada ayahku sendiri.
Ayah kemudian menyuruhku masuk, dan seperti biasanya aku langsung
kedapur untuk memindahkan makanan dirantang yang kubawa kepiring di
dapur rumah ayahku.
"Gimana sayang, sudah nggak sakit lagi perutmu?" suara ayah
menyapaku, dan aku agak terkejut ketika ayah tiba-tiba sudah mendekap
tubuhku dari belakang sambil tangannya mengusapi perutku yang nampak
sedikit membuncit dengan usia kehamilan 3 bulan.
"Eh ayah.. Mar sampai kaget. Kadang-kadang masih tuh yah, tapi
agak membaik kok setelah dipijit ayah waktu itu," aku bingung harus
menjawab apa saat itu.
"Gimana kalau ayah pijit lagi? biar nggak sakit-sakitan perutmu
itu," nafas ayah tepat menghembusi tengkukku, membuat aku menahan geli
dan merinding.
Sebelum aku menjawab, tangan ayah kurasakan membelai bongkahan
pantatku dan mulai menyingkap naik bagian bawah daster yang kupakai
pagi itu.
"Enghh ayah.. jangan lagi ah," aku berusaha menepis tangan ayah dan
kembali meneruskan kegiatanku merapikan piring di meja dapur ayah. Tapi
tangan ayah seperti tak mau pergi, dari belakang itu ayah malah
memasukan tangannya kebalik dasterku dan mengusapi bongkahan pantatku,
sesekali meremasinya.
"Ya sudah, kalau nggak mau dipijitin dikamar, ayah pijitin disini
saja ya. Kamu kan bisa sambil rapikan piring itu," ayah semakin berani
menyusupkan tangannya kebalik CD ku, sehingga kini tangan kasarnya
mengusapi pantatku tanpa penghalang. Saat tangan ayah langusng
menyentuh kulit pantatku secara langsung, aku merasakan desiran aneh
yang kemudian memacu libidoku.
Kucoba menahan desiran itu dan tetap merapikan makanan diatas meja
dapur, tetapi aku tak lagi menepis aktifitas ayah, aku membiarkan ayah
berbuat semaunya.
"Asshtt yah.. janganhh geli yah," aku menggelinjang saat bibir ayah mengecup tengkukku, tapi aku tak mampu menghindarinya.
"Kamu merunduk diatas meja ya sayang, tenang saja.. supaya perutmu
cepat sembuh, ayah pijitin sambil berdiri ya," ayah menekan bahuku dari
belakang sehingga posisi tubuhku merunduk dengan kedua tangan menopang
dibibir meja.
Penasaran juga apa yang akan ayah lakukan, aku pun tak bisa
menjawab selain mengikuti perintah ayah itu. Kini pekerjaan merapikan
piring sudah tidak ada lagi, yang ada aku merunduk pasrah di meja itu,
menunggu apa yang akan ayah lakukan selanjutnya.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
836,767 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
591,171 |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
513,224 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
510,768 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
501,284 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
479,526 |
| Tanteku yang Seksi Sekali |
ricky_junetri@yahoo.com |
409,232 |
| Kisah Cinta Ibu dan Anak - 1 |
rahasia_donk2003@yahoo.com |
373,162 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
368,777 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
349,262 |
| Istriku Selingkuh dengan Keponakan |
wirata65@yahoo.com |
341,855 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
314,554 |
| Seks Sekeluarga 01 |
rhysal19@yahoo.com |
304,237 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
292,405 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
287,497 |
|
|
|
|
|
|
|