|
|
Sambungan dari bagian 01 Tak lama kemudian mama memelukku sambil sesekali terisak, "Jangan marah
ya.. jangan siksa perasaan mama." kata mama disela-sela isak tangisnya.
"Maafin Donny Ma, tadi Donny kurang kontrol," sahutku pelan sambil membelai punggung mulusnya.
"Donny pengen menyerahkan keperjakaan Donny untuk mama, pengen
kalau mama orang pertama yang mengajari tentang semuanya, tapi Donny
sadar itu salah.." ujarku memperbaiki kesalahan ketika ciuman hangat
jatuh di keningku, kemudian turun dan tanpa sadar mulut kami beradu
lagi tapi tidak sekencang yang pertama namun begitu lembut hangat dan
mesranya. Giliran mama sekarang yang memelukku erat seolah tak ingin
dilepaskannya lagi.
"Maafin mama.." ujarnya sambil terus memelukku.
"Mama terlalu egois.." lanjutnya sembari menciumi pipiku dengan penuh kasih sayang.
"Kalau memang itu yang Donny mau," tanpa meneruskan kalimatnya
selanjutnya, mama bangkit kemudian berjalan menuju kamarnya. Seribu
pikiran telah merambah kepalaku, aku bingung harus bagaimana. Tapi
akhirnya aku memilih alternatif kedua, ikut masuk ke dalam kamarnya.
Aku terpana saat melihat mama tidur terlentang sambil matanya
menatap sayu ke arahku. Bulu-bulu lembut tampak semerawut di sekitar
selangkangannya. Pelan aku mendekatinya, sepertinya gayung bersambut.
"Mama ingin jadi orang pertama yang memberikan sayang seluruhnya
pada Donny." kata mama sambil berusaha menutupi selangkangannya dengan
kedua tangan, nyata sekali kalau mama masih caanggung untuk bugil di
depan orang. Seketika seranganku ke mulutnya dibalas lebih garang lagi.
Aku benar-benar tidak tahan, kucoba memasukkan penisku secepat mungkin.
Namun selalu meleset.
"Abis Donny sihh besar sekali.." sambil tangannya menuntun penisku ke liang tempat aku lahir.
"Ditekan.. sayang.." lanjut mama sambil tangannya tetap memegang
penisku agar diam. Aku berusaha untuk menekan, namun terasa seperti ada
sesuatu yang menahan. Aku terus berusaha sampai akhirnya, "Slebs.."
kepala penisku amblas melewati pintu lubang yang sangat sempit itu.
"Ukhh.." mama menjerit tertahan sepertinya mama merasakan sakit. Aku
terus menekan menerobos masuk hingga benar-benar amblas seluruhnya,
kepala adikku seperti menyentuh sesuatu yang kenyal di kedalamansana.
"Sayang yang pelan dong.." ujar mamaku sambil meringis menahan
sakit. Aku mulai mengocokkan keluar masuk, mama benar-benar menikmati
setiap gerakan yang kuberikan. "Uuhh.." mama merintih pelan. Mama mulai
mendekap tubuhku erat. Sedangkan aku terus menurun-naikkan tubuh hingga
aku merasakan nikmat luar biasa. Mama mulai maracau tak karuan ketika
gerakanku semakin cepat menghantamnya. Suara desahan nafas bercampur
dengan suara vagina yang dikocok oleh penisku, begitu kontras. Nyata
sekali kalau vagina mama benar-benar telah basah bahkan mungkin sangat
becek hingga mengeluarkan suara yang menurutku aneh, sepertinya ada
sesuatu terjadi pada mama, ia semakin mendekapku erat, goyangan
pinggulnya semakin liar dan hal itu membuatku seperti akan meledak,
keringat telah membanjiri tubuh kami berdua. Aku semakin akan mendekati
puncak ketika tiba-tiba mama menjerit dan telah sampai pada puncaknya
yang sedetik kemudian aku menyusul ke surga dunia tersebut. Aku
terkulai lemas. Diam tanpa ada suara sedikitpun. Sejenak kemudian ada
suara isak tangis dari mulut mama, rupanya mama tersadar kemudian
berlari ke kamar mandi, setelah itu hening.
Keesokan harinya keadaan tetap seperti biasanya, hari itu libur
sekolahku aku tetap berada di rumah untuk menemani mama, aku tak tega
untuk meninggalkannya seorang diri di rumah. Saat itu mama sedang
mencuci pakaian, mama adalah seorang yang rajin, semua pekerjaan rumah
dikerjakan sendiri olehnya, itu yang membuatku terkagum-kagum padanya,
ia selalu mengerjakan semua tanpa pernah meminta tolong kecuali mamang
setelah ia tak mampu. Tapi saat itu aku berinisiatif untuk membantunya
lagi pula 70% yang dicuci mama adalah bajuku sendiri. Tanpa basa basi
aku langsung menuju ember untuk mengucek baju baju ringan agar bersih.
"Lho mimpi apa semalam kok tumben nyuci.." kata mama sedikit menyindir.
"Nggak kok cuma pengen bantu aja." sahutku sambil nyengir tak karuan.
Kami pun larut dalam pekerjaan itu, beberapa menit kemudian tugas
harian itu selesai. Baju yang kupakai basah semua begitu juga dengan
mama. Akupun mandi lagi, setelah selesai disusul mama. Saat itu kami
sedang menonton TV, ketika langit mendung dan menampakkan akan datang
hujan, benar saja beberapa menit kemudian gerimis pun jatuh perlahan
dari langit, kami pun berlari ke belakang menyelamatkan baju-baju yang
hampir kering.
"Jduaarr.." petir menyambar dengan lantangnya seolah tak ada yang
berani melawan. TV telah mati, otomatis. Aku diam sendiri melamun,
sedangkan mama masih asyik dengan majalah Femina-nya duduk di ruang
tamu, hujan turun dengan lebatnya, aku pun ikut larut duduk di ruang
tamu sambil membaca majalah Femina yang banyak terdapat di kolong meja
ruang tamu, sesekali aku memperhatikan wajah mama, memang benar kata
orang kalau mama seorang wanita yang cantik, tinggi semampai dengan
kulit putih mulus, leher jenjang dan dada membulat indah, seandainya
sajaorang juga tahu kalau mama mempunyai vagina yang indah dengan warna
kemerahan dan terlihat seperti milik gadis belasan tahun maka
lengkaplah mama sebagai wanita sempurna.
Bolak balik aku membuka halaman namun tak ada satupun isi majalah
yang menarik minatku untukmembacanya. Majalah itu kuletakkan kembali di
bawah meja, aku duduk sendiri lagi, kembali kuperhatikkan mama, aku
teringat semalam bagaimana mama bagai kuda binal memacu mengejar
kenikmatan. Tak terasa penisku membengkak. Sepertinya mama tahu kalau
sedang diperhatikan.
"Donny ngapain juga ngeliatin mama seperti itu.." tanyanya sambil membalik ke halaman berikut.
"Nggak kok Ma.. mama cantik sih," jawabku lugu sambil memperbaiki posisi penisku.
Mama tersenyum renyah, ufhh sungguh manis jika mama tersenyum.
Kemudian mama meletakkan kembali majalahnya untuk bangkit menuju
jendela menyaksikan hujan yang turun dengan lebatnya. Aku melihat dari
belakang betapa sexy-nya tubuh mama, pantatnya menonjol keluar, penisku
serasa meledak saja, melihat hal itu. Aku pun beranjak menyaksikan
hujan dari belakang mama. Kupeluk tubuh mama, mama memegang tanganku di
perutnya. Penisku sengaja kutempel di belakang pantatnya.
"Ma.. Donny sayang mama," lirihku pelan.
"Mama juga sayang sama Donny." sahut mama sambil mencium keningku,
kemudian ia berbalik menghadapku, mama memelukku dengan melingkarkan
kedua tangannya di leherku. Aroma tubuh wanita asli tanpa farfum pun
keluar dari tubuh mama terutama kedua ketiaknya, membuatku semakin
terangsang. Lama kami saling pandang, mama begitu cantiknya dengan
hidung bangir bibir tipis dan mungil. Semakin aku memeluknya erat
serasa tak ingin kulepaskan lagi.
"Dansa yuk.." ajak mama gembira sambil meregangkan pelukannya.
"Boleh tapi tapenya khan di kamar," jawabku bingung.
"Ya.. iya dansanya di kamar Donny aja," sahutnya kembali
menjelaskan.Tak berapa lama berselang alunan piano chopin pun beralun
sendu, begitu romantisnya kami berdansa layaknya pasangan yang lagi
dimabuk asmara. Mama memeluk leherku dengan lembut aku pun tak mau
kalah, pinggang mama yang ramping kujadikan sandaran tanganku. Tak lama
kemudian mama merebahkan wajahnya di dadaku, aku merapatkan pelukanku
sambil mengelus elus punggungnya, kuciumi rambut mama yang wangi
sembari tangan kananku terus menelusuri tubuhnya hingga menuju pantat
yang membulat sempurna. Sambil berdansa santai, kuremas pantat indah
mama.
"Tu khan.. Donny nakal lagi," kata mama protes sambil mencubit belakang leherku.
Aku tak mempedulikan kata-katanya, aku terus meremas pantatnya,
perlahan kutarik roknya yang sebatas lutut hingga mendapatkan ujungnya.
Dari situ aku memasukkan tanganku untuk memegang langsung pantat yang
dibalut celana dalam yang aku belum tau warnanya itu.
"Donny, jangan lagi ah.." ujar mama masih menandakan dengan suara yang lembut.
Mama tetap bersandar di dadaku, aku terus mendekapnya erat tanpa
melepaskannya sedikitpun. Kami terus masih berdansa ketika tanganku
telah berhasil masuk ke dalam celana dalam melewati sisi sampingnya.
Terasa sekali kulit pantat mama begitu lembutnya. Perlahan kulorotkan
celana dalam penghalang itu, mama masih diam ketika celana itu telah
lorot sampai setengah paha, dengan bantuan kakiku akhirnya celana yang
ternyata berwarna kuning itu merosot sampai telapak kaki mama.
"Donny mau telanjangi mama lagi yaa?" tanyanya sambil menatapku, kali ini mama mengangkat kepalanya menatapku.
Aku diam tak bisa menjawab, terpaksa wajahku tertunduk malu. Aku
tak kuasa memandangi wajah mama. Aku berpikir mungkin mama masih
menginginkan kejadian semalam, tapi dugaanku ternyata meleset.
"Maafin Donny Maa.." sahutku tertunduk, "Abis Donny pengen seperti tadi malam lagi.." lanjutku polos tanpa ada yang tertahan.
"Donny pengen lihat mama telanjang lagi?" tanya mama sambil mengelus pipiku.
Aku diam tak bisa menjawab kecuali memandangi kuku kakiku yang mulai panjang.
"Atau mungkin Donny pengen tiduri mama lagi yaa?" kembali
pertanyaan itu bagai petir yang berkecamuk di luar menghantam
ubun-ubunku.
Mama tersenyum, kemudian menjauh dariku hingga posisi kami
berhadapan tapi di sisi tembok yang berlawanan. Perlahan sekali mama
menarik kaos yang digunakan hingga terlepas sama sekali, kini mama
hanya menggunakan bra yang ternyata berwarna kuning juga sepertinya
satu paket dengan celana dalam yang tadi berhasil kulorotkan dengan rok
sebatas lututnya. Chopin masih sibuk dengan pianonya dalam tape-ku.
Saat kemudian kembali bra kuning itu dilepaskan mama hingga menampakkan
gundukan kenyal dan montok itu seperti terbebas dari penjara bernama
BH. Aku masih terpana dengan kelakuan mama, sepertinya bukan aku saja
yang sakit jiwa tapi mama juga sudah tertular dengan penyakit
incest-ku. Dalam hati aku berpikir ternyata rok itu telah mencapai
lutut hingga ketika tangan halus mama melepaskannya. Tak ada lagi
penghalang yang menutupi tubuh indah mama. Cegukkan air liur terdengar
seperti pemaksaan ditelan keluar dari mulutku.
"Mama nggak mau mengotori kamar Donny.." sambil mengambil
pakaiannya yang berserakan di lantai mama berlalu menuju kamarnya.
Kembali hal ini meninggalkan sejuta pertanyaan di benakku, tapi seperti
kemarin aku selalu memilih alternatif yang kedua, mengikuti ke
kamarnya. Kali ini aku tak mau setengah-setengah, seluruh pakaianku
kulepas semua, ketika aku berjalan ke kamar mama kondisiku sudah dalam
keadaan bugil dengan penis tegang mengacung-acung.
Tak ada yang istimewa, kulihat mama duduk di meja rias menghadap
cermin tetap dalam keadaan bugil. Aku mendekati untuk selanjutnya duduk
di belakang mama sambil memeluknya. Mama tersenyum penuh arti kemudian
berdiri lagi dan meninggalkanku lagi yang duduk terpaku. Ternyata
dugaanku benar mama berdiri menuju tempat tidur, terlentang sambil
memandangku. Dan aku sudah paham dalam kondisi ini mama sudah dalam
keadaan terangsang. Sekarang sudah saatnya aku akan mempraktekkan teori
dalam film blue bagaimana cara memuaskan wanita.
Bersambung ke bagian 03
| Title | Author | Views |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
836,419 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
590,985 |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
513,013 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
510,606 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
501,085 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
479,370 |
| Tanteku yang Seksi Sekali |
ricky_junetri@yahoo.com |
409,051 |
| Kisah Cinta Ibu dan Anak - 1 |
rahasia_donk2003@yahoo.com |
372,799 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
368,495 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
349,149 |
| Istriku Selingkuh dengan Keponakan |
wirata65@yahoo.com |
341,552 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
314,494 |
| Seks Sekeluarga 01 |
rhysal19@yahoo.com |
304,141 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
292,368 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
287,439 |
|
|
|
|
|
|
|