|
|
Aku Iwan, masih kelas 3 di salah satu SMU di
Jakarta Selatan dan tinggal bersama Papa dan Mami serta adikku Ita yang
sekolahnya sama dengan sekolahku, hanya Ita masih duduk di kelas 1 dan
masuk siang, sedangkan semua kelas 3 kebagian masuk pagi. Di rumahku
juga ada seorang pembantu yang agak tua. Perlu diketahui, Mama
kandungku telah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat sakit, dan
Papaku mengawini adiknya Mama kira-kira setahun yang lalu. Aku serta
Ita memanggilnya Mami yang sebelumnya memang sudah kami kenal dengan
baik. Habis dia kan tanteku juga.
Mami ini dicerai oleh suaminya, dengar-dengar sih katanya karena
sudah kawin 4 tahun tapi belum punya anak. Nah, mungkin Papa merasa
sudah duda serta tanteku sudah janda dan apalagi mereka sudah kenal
baik sebelumnya, jadilah mereka kawin.
Nah, ceritaku ini terjadi kira-kira 3 minggu yang lalu di siang
hari ketika aku pulang dari sekolah. Setelah ganti dengan celana pendek
dan kaos singlet saja, aku langsung makan yang telah disediakan oleh
Pembantu. Setelah selesai makan, aku bermaksud ke ruang tamu mau
mendengerkan lagu-lagu dari Laser Disc. Tetapi sewaktu melewati kamar
Papa dan Mami yang pintunya agak terbuka sedikit, kudengar suara-suara
yang agak aneh dan berisik. Karena ingin tahu suara apa itu, kuhentikan
langkahku dan kuintip dari pintu kamar Papa dan Mami yang agak terbuka
sedikit tadi. Ternyata Mami sedang duduk membelakangiku dan sedang
melihat TV.
Setelah keperhatikan lebih cermat, ternyata Mami sedang nonton film
blue dari Laser Disc. Dan kuperhatikan lagi, tangan kiri Mami bergerak
maju mundur di sekitar bagian pahanya. Mamiku ini walau sudah agak
berumur kira-kira 37 tahun, tapi aku sangat bangga, karena banyak mata
yang mengaguminya kalau kami sedang jalan-jalan di Mall, mungkin karena
Mami agak seksi dan warna kulitnya yang putih bersih serta bentuk dada
yang menonjol serasi. Itu komentar yang pernah kudengar dari beberapa
orang temannya Mami.
Mami yang sedang nonton TV itu mengenakan baju atau daster merah
muda tipis dan sangat minim, habis sih pahanya hampir kelihatan semua,
bulu ketiaknya yang lebat kelihatan juga. Sayangnya Mami menghadap ke
depan, sehingga yang terlihat hanya punggungnya yang putih bersih.
Karena selama ini aku belum pernah melihat film seperti itu, lalu
kuputuskan untuk melihatnya terus dari celah pintu itu dan melihat
adegan demi adegan. Batang penisku tidak terasa menjadi tegang sekali.
Saking asyiknya nonton sambil berdiri, ditambah nafsuku makin
meninggi, tidak terasa berdiriku menjadi tidak tenang dan dengkulku
menyenggol pintu kamar Mami dengan keras. Tapi dengan cepat aku mundur
menjauhi pintu.
"Iwaan.., kamukah itu..?" kudengar suara Mami memanggilku, tapi aku tidak menjawab.
"Iwaan.., sini.. doong.. naak..!" kudengar kembali Mami memanggilku.
Karena tidak enak, lalu aku kembali menuju pintu kamar Mami dan kujawab, "Ada.. apa.. Mam..?" sambil kuperlihatkan kepalaku.
"Sini.. Wan..!" kata Mami sambil melambaikan tangannya dan film blue tadi masih terus berjalan.
Karena ingin melanjutkan nonton film tadi, lalu aku masuk kamar Mami dan Mami melanjutkan kata-katanya.
"Wan, sini.., duduk dekat Mami, Mami tahu kok kalau Iwan pingin nonton film itu kan..?" lanjut Mami sambil menunjuk TV.
"Sini.. Wan.. kamu sudah besar.. Sudah seharusnya kamu juga tahu."
"Maaf ya Mam, saya telah mengganggu Mami," kataku.
"Aaahh.. kamu ini," kata Mami. "Sudahlah, duduk sini.. kita nonton sama-sama," lanjut Mami sambil mencium pipiku.
Perasaanku menjadi tidak karu-karuan bercampur malu ketika pipiku
dicium Mami, apalagi tercium bau minyak wangi yang dipakainya terasa
harum menusuk hidungku, sehingga nafsuku makin menjadi-jadi. Setelah
beberapa saat hanya diam saja dengan mata kami tetap tertuju ke arah
TV, tiba-tiba aku dikejutkan dengan pertanyaan Mami.
"Waan, kamu.. tadi sudah lama ya.. nontonnya dari pintu..?"
"I.. ya Mam," jawabku malu tanpa menengok Mami.
"Jadi.. Iwan.. tahu.. Mami.. lagi ngapain..?" tanya Mami lagi dan lagi-lagi hanya kujawab pendek dengan tanpa menoleh ke Mami.
"Waan..," kembali Mami memanggilku, tapi kali ini suaranya terdengar agak lain.
Dan ketika kuberanikan menatap wajah Mami, kulihat kedua mata Mami agak berair.
"Waan, Iwan. Jangan sampai salah.. yaa, Mami sering nonton film
seperti ini bersama Papamu, yaah.. Mami sangka Mami bisa mengembalikan
kondisi Papamu kembali. Tapi.., sampai saat ini masih belum."
"Lho.., memangnya Papa kenapa Maam..?" tanyaku karena betul-betul aku tidak mengerti apa yang dimaksud Mami.
"Aduuh.., Iwaan gimana sih menjelasinnya sama kamu..? Kok kamu sepertinya nggak ngerti sama sekali," kata Mami.
"Betuul Mam.." jawabku, "Iwan betul-betul nggak ngerti.. kenapa sih dengan Papa..?" tanyaku kembali.
Lalu Mami menggeser duduknya mendekatiku sehingga sekarang Mami
duduknya sudah menempel denganku, sehingga bau wangi Mami terasa sekali
dan membuat penisku yang dari tadi sudah tegang karena lihat film
menjadi lebih tegang lagi.
"Waan," kata Mami perlahan, "Papamu sudah kira-kira enam bulan
ini.., ininya.. (sambil tiba-tiba tangan kanannya meremas batang
kemaluanku) nggak bisa bangun."
"Aaahh.. Mami." sahutku sambil berusaha melepaskan tangan Mami
dari penisku, walaupun rasa penisku berdenyut enak, tapi aku berusaha
melepas tangan Mami, karena malu dan apalagi selama ini belum pernah
penisku dipegang oleh orang lain.
"Waan, Mami kan masih kepingin. Tapi.. yaahh.. karena punya Papamu
nggak bisa bangun, jadi.. terpaksa Mami melakukan seperti yang Iwan
lihat tadi.
"Maam, Mami kepingin apa sih.. dan tadi.. Iwan.. nggak lihat jelas.., Mami.. tadi ngapain sih..?" tanyaku lebih berani.
"Waan, Mami kan masih kepingin seperti yang di TV itu lho.. dan..
ini.. lho.. Waan," sambil tangannya mengambil sesuatu dari bawah bantal
dan diperlihatkan padaku.
Setelah kulihat, ternyata manian yang berbentuk penis. Oh..,
rupanya itu yang tadi dimaju-mundurkan. Lalu kami berdiam sejenak dan
kembali melihat TV yang adegannya semakin seru.
"Waan..," tiba-tiba aku dikejutkan oleh panggilan Mami.
"Yaa.. Maam," kujawab sambil menengok ke arah Mami.
"Waan, boleh.. Mami.. lihat punyamu..? Mami rasakan tadi kok.. punyamu.. besar betul dan.., keras lagi..?" lanjut Mami.
"Maam, jangan.. aahh.. Maam, Iwan.. maluu.., apalagi nanti ada orang lain yang.. lihat," jawabku sekenanya.
"Lhoo.., kok sama.. Mami sendiri maluu..? Disini kan cuman kita berdua. Waan, boleh yaa.. Waan..?"
Dan tanpa menunggu jawabanku, bahuku didorong Mami hingga rebah di
tempat tidur, dan Mami dengan cekatan membuka resleting celana pendekku
dan menarik turun bersama CD sampai terlepas dari badanku.
"Aduuh.. Waan, besar betul punyamu ini," komentar Mami sambil memegang batang kemaluanku dan memijatnya pelan.
Aku hanya memejamkan mataku sambil menikmati enaknya penisku yang sedang dipegang Mami.
"Waan.., Mami enakin seperti yang di TV.. yaa..?" kata Mami lagi,
dan kudiamkan saja pertanyaan Mami sambil menunggu dan ingin tahu apa
yang akan dilakukan Mami.
Tiba-tiba.., "Huub..," penisku yang berdiri tegak itu telah masuk
semuanya ke dalam mulut Mami dan sangat terasa sekali ketika Mami mulai
menghisap dan mengocok maju mundur dengan mulutnya.
"Maam.. Maam.. eenaak.. Maam.. eenaak.. Maam..," tidak terasa aku
berkomentar seperti itu karena merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Dari mulut Mami yang tersumpal dengan batang kemaluanku hanya
terdengar bunyi, "Hhhmm.. hhm.. hhmm..," sambil tangannya mempermainkan
kedua biji kemaluanku.
Batang kemaluanku terasa seperti tersedot-sedot, dan kadang terasa
lidah Mami mengenai kepala penisku dan menambah keenakan yang pertama
kali kualami, dan secara tidak sadar kepala dan rambut Mami
kuremas-remas dengan kedua tanganku sambil sesekali kutekan kepalanya,
sehingga seluruh batang kemaluanku terasa masuk semua ke dalam mulut
Mami.
Beberapa menit kemudian, Mami melepaskan batang kemaluanku dari
mulutnya, dan datang menghampiriku sambil mencium pipiku dan berbisik
di dekat telingaku.
"Waan, enaak.. Waan..?"
Karena memang aku menjadi keenakan, dan apalagi ini menjadi pengalaman pertamaku, kujawab dengan jujur.
"Iyaa.. Maam.., enaak sekali rasanya."
Lalu kudengar Mami berbisik lagi, "Iwaan.., sekarang.. Iwan mau kan tolongin Mami..?"
Karena aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan Mami, langsung saja kutanyakan, "Maam, tolongin.. apaan..?"
"Aduh.. Waan," kata Mami lagi seperti keheranan.
"Itu.. lho Waan.. tolong ciuum tetek Mami seperti yang Iwan lihat
di TV itu..!" kata Mami sambil melepaskan dasternya sambil terus
tiduran.
Sekarang baru kulihat dari dekat payudara Mami yang sangat putih
dengan kepala susunya yang kecoklatan. Karena nafsuku sudah meninggi
dan ingin segera mencoba apa yang kulihat di TV tadi, tanpa menjawab
kata-kata Mami, langsung saja aku bangun dan mendekati payudara Mami.
Pertama kucium payudara Mami kanan-kiri dengan kepalaku agak kutekan,
lalu seperti yang kulihat tadi di TV, kujilati payudaranya dan sesekali
kusedot puting susu Mami yang kecoklatan itu, dan mungkin karena
keenakan, kudengar Mami berguman.
"Iwaan.. Waan teruss.. Waan.. enaak.. teruus.. Waan..!" sambil kedua tangannya meremas-remas rambutku.
Mendengar kata-kata Mami itu, nafsuku semakin meninggi dan berusaha
mencoba membuat Mami lebih enak, apalagi kuingat bahwa Mami sudah enam
bulan ini tidak pernah mendapatkannya dari Papa. Sedotan dan jilatanku
di sekitar payudara Mami lebih kupergiat, apalagi sekarang tangan kanan
bukan lagi meremas rambutku, tetapi sudah meremas dan mengocok batang
kemaluanku. Sambil berguman, "Enaak.., Waan.. enaak. Teruuss Waan..!"
dan kembali kedua tangan Mami meremas rambutku lebih kuat lagi.
Setelah beberapa saat, terasa remasan-remasan tangan Mami di
kepalaku itu seperti diikuti dengan dorongan agar kepalaku turun ke
bawah. Walaupun tanpa kata-kata dan masih ingat dengan adegan TV yang
aku sempat tonton tadi, aku menjadi yakin kalau sekarang Mami
menyuruhku untuk pindah dan mencium bagian vaginanya. Tanpa menunggu
dorongan Mami lagi, kuturunkan badanku pelan-pelan sambil kujilati
bagian badan Mami mulai dari perut, terus ke pusar dan terus turun ke
bagian bawah pusar Mami, dan sekarang sudah sampai di kemaluan Mami
yang masih tertutup dengan CD-nya. Tercium bau kemaluan Mami yang
membuatku semakin bernafsu.
"Waan..," kudengar panggilan Mami dengan kedua tangannya masih tetap meremas-remas rambutku.
"Too.. loong.. buu.. kaa celananya Waan..!" katanya lanjut.
Tanpa menunggu lebih lama, dan karena aku ingin melihat bentuk
aslinya vagina itu seperti bagaimana, pelan-pelan kutarik turun celana
dalam Mami. Ketika aku kesulitan menarik turun lebih lanjut karena
terdindih pantat Mami, Mami mengangkat pantatnya sedikit, dan dengan
mudah CD-nya kulepas.
Kulihat di hadapanku, vagina Mami yang sekelilingnya ditumbuhi oleh
bulu-bulu hitam yang halus. Tanpa ada yang menyuruh, lalu kucium dan
kujilati di bagian belahan vagina Mami sambil mempraktekkan seperti apa
yang kulihat di film tadi, sedangkan Mami segera menggerakkan
pantatnya, dan kepalaku kembali diremas-remas dan ditekannya. Ketika
aku coba menjulurkan lidahku menusuk belahan kemaluan Mami, terasa
lidahku terkena cairan dari dalam vagina Mami yang agak asin, sedangkan
kedua kaki Mami secara perlahan-lahan direnggangkan.
Karena tidak sabar, kubantu membuka kedua kaki Mami sehingga
sekarang kakinya terbuka lebar, dan aku berada di tengah. Dan karena
aku ingin tahu lebih jauh tentang vagina, apalagi baru kali ini kulihat
dari jarak sangat dekat, maka kugunakan kedua tanganku untuk membuka
belahan kemaluan Mami. Kulihat dengan jelas di bagian atas ada seperti
daging menonjol berbentuk seperti kerucut dan ada lubang kecil, dalam
pikiranku mungkin ini yang disebut orang klitoris. Sedangkan di bagian
dalam vagina Mami, semuanya berwarna kemerahan dan basah oleh cairan.
Agak ke bawah lagi terlihat ada bagian yang berlubang sebesar jari
kelingking.
Melihat semua isi kemaluan Mami, aku jadi teringat pelajaran
Anatomi yang diajarkan di sekolah. Melihat ini semua, nafsuku semakin
meninggi dan tanpa ada yang menyuruh lagi dan karena aku baru saja
dapat pelajaran dengan melihat film blue barusan, lalu sambil masih
memegangi kedua bibir kemaluan Mami, kujilat dan kuhisap klitoris Mami.
Tiba-tiba Mami menggelinjang kuat sambil kedua tangannya meremas
rambutku makin kuat dan berguman agak kuat.
"Iwaan.. arrchh.. uu.. Waan.. aarcchh.. enaak Waan.. teruu.. ss..,
aarrchh.. aduuh Waan.. enaakk.. teruus..!" kudengar Mami mengoceh terus
dan membuatku makin bersemangat menghisap dan menyedot seluruh bagian
kemaluan Mami.
Dari mulai bibir kemaluan, klitoris, bagian dalam, sampai semuanya
kutusuk-tusukkan lidahku ke lubang yang ada di vagina Mami. Inilah
mungkin yang membuat gerakan pantat Mami semakin menggila dan
terus-terusan mengoceh.
"Aduuh.., Waan.. enaak.. teruus.., archh.. enak Waan, aduh.. Waan.. Mamii.. mauu.., sampee.., aarchh..!"
Kedua kaki Mami sudah melingkar kuat di atas punggungku, dan
kepalaku ditekannya kuat-kuat ke dalam vaginanya, sedangkan seluruh
wajahkuku sekarang penuh dengan cairan-cairan yang keluar dari vagina
Mami, tapi tidak kuperdulikan, habis.. enak sih. Setelah itu ocehan
Mami berhenti, dan badan Mami pun terlihat lemas lunglai, dan yang
terdengar hanyalah suara nafasnya yang cepat seperti habis lari
marathon.
Melihat Mami seperti itu, aku yakin kalau Mami baru saja mencapai
puncaknya. Karena kasihan melihat Mami yang sedang terengah-engah
kecapaian, kuhentikan jilatan dan sedotan mulutku ke liang senggama
Mami, dan kuletakkan kepalaku di paha Mami dan kuelus-elus kemaluan
Mami sambil menunggu apa yang akan diminta oleh Mami lagi. Setelah
kudengar nafas Mami mulai agak teratur, kurasakan kedua tangan Mami
yang masih memegang kepalaku itu berusaha menarikku ke atas sambil
berkata lirih.
"Iwaan.. kesinii.. Sayaang..!"
Aku segera merangkak, menghampiri Mami yang masih tiduran telentang.
Mami sambil menggeser badannya sedikit, melanjutkan kata-katanya, "Sinii.. Waan.. tiduran di samping Mami."
Dengan perasaan kurang enak, malu dan lain sebagainya, aku berusaha
menenangkan diri dan tiduran di samping Mami. Mami segera merangkulku
dan terus mencium pipiku, dan terus seperti berbisik di dekat
telingaku.
"Waan.., kamuu.. kok.. pintar betul tadi.., Iwan sudah pernah yaa.. sebelumnya..?"
"Dengan.. pacarmu yaa..?" sambung Mami lagi.
"Beel..uumm.. Maam, swear..," kataku cepat, "Kan.. belajar dari.. film yang Mami putar tadi."
"Oohh.., berarti Iwan murid yang cerdas doong," puji Mami sambil tetap memelukku dan kembali mencium pipiku.
Agar Mami agak senang, kucium juga pipinya, dan entah bagaimana mulanya, tahu-tahu bibirku telah dicium Mami.
Kalau soal ciuman, kuakui aku memang pernah mencium pacarku, jadi
ketika lidah Mami menjulur masuk ke mulutku, pelan-pelan kuhisap
lidahnya. Mungkin karena lidahnya kusedot, Mami langsung menjadi
beringas dan memelukku erat-erat. Ciumannya semakin hot dan tentu saja
aku tidak mau mengecewakan Mami, apalagi tangan Mami yang satunya sudah
mengocok-ngocok penisku, jadi kuimbangi ciuman Mami sambil salah satu
tanganku kuremas-remaskan ke payudara Mami.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
836,337 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
590,920 |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
512,951 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
510,565 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
501,014 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
479,341 |
| Tanteku yang Seksi Sekali |
ricky_junetri@yahoo.com |
408,997 |
| Kisah Cinta Ibu dan Anak - 1 |
rahasia_donk2003@yahoo.com |
372,680 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
368,400 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
349,088 |
| Istriku Selingkuh dengan Keponakan |
wirata65@yahoo.com |
341,486 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
314,487 |
| Seks Sekeluarga 01 |
rhysal19@yahoo.com |
304,120 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
292,350 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
287,429 |
|
|
|
|
|
|
|