|
|
Sambungan dari bagian 01 Beberapa saat kemudian, tanganku kupindahkan ke vaginanya dan klitoris
Mami kugosok-gosok dengan jariku. Hal ini membuat kocokan tangan Mami
di batang kemaluanku semakin cepat, membuat nafasku semakin tidak
teratur dan nafas Mami kembali terengah-engah. Setelah beberapa menit
berciuman dan nafas kami berdua sudah tidak beraturan lagi, secara
perlahan Mami menghentikan kocokan di penisku, dan menghentikan
ciumannya serta terus berbisik di dekat telingaku.
"Iwaan, Mamii sudaah.. nggak.. tahaan Waan.. toloong.. punyanya Waan.. dimasukin.. ke Mamii.., Waan. Ayoo.., Waan..!"
Mendengar kata-kata Mami ini, nafsuku semakin menjadi-jadi, tapi
perasaanku juga semakin bingung, karena sempat terpikir Mami kan
istrinya Papaku dan Mami walau bukan Mama kandungku, tapi sekarang kan
telah menjadi Mamaku. Aku berusaha melawan kebingungan ini, dan
tersentak dari lamunanku ketika mendengar Mami kembali agak berbisik
dengan suara yang sedikit menghiba.
"Iwaan.. ayoo.. Sayaang.. tolongiin.. Mamii.. Waan..!"
Dan seperti tanpa berpikir, aku menjawab sekenaku, "Maam..
boo..leeh.. Maam..?" tanyaku, dan kulanjutkan pertanyaanku karena masih
ragu, "Nggak..apa-paa. Maam..?"
"Ii.. yaa.. Sayaang.., boleeh.. boleh.., Waan." jawab Mami sambil mencium bibirku.
"Sinii.. Sayaang..!" kata Mami sambil menarik badanku.
"Coba posisikan badanmu di atas Mami," lanjutnya.
Aku segera bangun dan kunaiki badan Mami pelan-pelan. Dan setelah
aku berada di atas badan Mami, kurasakan Mami membuka kedua kakinya
lebar-lebar.
"Sinii.. Waan, Mami bantu..," kata Mami sambil memegang batang kemaluanku dan dibimbingnya ke arah vagina Mami.
Aku hanya menurut saja apa yang dikatakan Mami, maklum aku masih terlalu buta, dan ini akan menjadi pengalaman pertamaku.
"Sudaah, Waan, sekarang tekan pantatmu pelan-pelan..!" perintah
Mami dan kuikuti permintaan itu dengan menekan pantatku pelan-pelan.
Tapi baru saja sedikit aku menekan pantatku, penisku terasa
seperti tertahan di vagina Mami, dan mendadak tangan Mami menahan
gerakan turun pantatku dan berbisik sambil sedikit meringis.
"Aduuh.. Waan, tahaan duluu.. saa.. kiit.. Waan."
Kuhentikan tekanan pantatku dan kuangkat sedikit ketika mendengar keluhan Mami.
"Iwaan.. pelan-pelan yaa Sayaang. Sudah lama Mami nggak begini..
dengan Papamu, apalagi.. punyamu.. itu besaar sekali, lebih besar dari
punya Papamu..," kata Mami lemah tapi membuatku menjadi sangat bangga
karena punyaku dikatakan Mami masih lebih besar dari punya Papa.
"Sekarang.. gimana Maam..?" tanyaku tidak sabar ingin segera memasukkan penisku ke dalam liang senggama Mami.
"Waan..," kata Mami lagi, "Coba naik turunkan pantatmu pelan-pelan,
dan nanti kalau pantatmu Mami tahan, berarti kamu harus tarik pantatmu
ke atas, dan waktu pantatmu nggak Mami tahan, kamu boleh tekan lagi.
Beberapa kali.. sampai nanti kamu bisa rasakan sendiri kalau punyamu
sudah masuk ke dalam punya Mami, bisaa.. kan Waan..?" kata Mami sambil
mencium bibirku.
"I.. yaa Maam, Iwan coba sekarang.. yaa." jawabku.
Lalu kuikuti pelajaran yang diberikan Mami. Tapi ketika pantatku
kutekan, sering kulihat wajah Mami sedikit meringis seperti menahan
rasa sakit. Setelah beberapa kali kunaik-turunkan pantatku pelan-pelan,
suatu saat pantatku malah ditekan agak keras oleh kedua tangan Mami dan
terasa batang kemaluanku seperti terjeblos ke dalam lubang.
"Bleess.." dan kudengar Mami agak berteriak, "Aaacchh.., Iwaan..," sambil seperti menahan nafasnya.
Karena kaget dengan teriakan Mami, kutahan gerakanku dan kudiamkan
sebentar sambil menunggu reaksi lebih lanjut dari Mami yang saat ini
sedang memejamkan matanya.
Tapi baru saja aku mau berpikir apa yang akan Mami lakukan atau
katakan, terasa batang kemaluanku seperti tersedot-sedot dan
dipijat-pijat. Sedotan dan pijatan di penisku ini terasa sangat kuat
sekali, dan terasa sangat enak. Karena rasa sedotan dan pijatan di
batang kemaluanku terasa begitu nikmat, secara tidak sadar aku kembali
menekan penisku masuk.
"Bleess..!" dan kembali kudengar Mami sedikit berteriak, "Waan..,
aarrchh.. saakiit," sambil kedua tangan Mami sedikit mendorong
pantatku.
Terpaksa kuhentikan tekanan penisku, tapi kurasa penisku sudah
masuk semuanya ke dalam liang senggama Mami sambil menunggu reaksi
Mami.
Tidak lama kemudian, tangan Mami menekan pantatku dan kurasakan
kembali sedotan-sedotan dan pijatan-pijatan yang sangat kuat di batang
kemaluanku. Karena rasa enak ini, secara tidak sadar aku mulai
menaik-turunkan pantatku pelan-pelan sehingga penisku naik turun di
dalam lubang vagina Mami, dan Mami pun mulai menggerakkan pantatnya
naik turun mengikuti irama pergerakan penisku yang naik turun. Mami
mulai mengeluarkan desahan-desahan.
"Waan.. teeruuss.. Sayaang.. aachh.. enaak.. Waan.. aduuh.. enaak.. Waan."
Kurasakan batang kemaluanku begitu hangat di dalam vagina Mami yang
sangat basah, sehingga setiap kali tedengar bunyi, "Ccrreet.. creett.."
Hal ini membuatku semakin mempercepat gerakan penisku naik turun.
Tidak sadar terucap, "Maam.. Iwaan.. jugaa.. enaak.. Maam, ayoo
Maam..!" sambil kedua tanganku mencengkeram kepala dan rambut Mami.
Beberapa menit kemudian, kurasakan gerakan badan dan pantat Mami
semakin liar dan semakin cepat, serta kedua tangannya mencengkeram kuat
di punggungku. Tiba-tiba kedua kaki Mami dilingkarkan kuat-kuat di atas
pantatku dan memeluk badanku kuat-kuat sambil berteriak cukup kuat.
"Waan, Mamii.. nggaak.. kuaat.. mauu.. keluaar.. aacrrhh..
aacrhh.." dan terus terdiam dengan matanya tertutup dan nafasnya
memburu terengah-engah.
Melihat Mami terdiam dengan nafasnya yang terengah-engah itu, aku
merasa kasihan dan segera kuhentikan gerakan penisku naik-turun, tapi
dengan posisi batang kemaluanku masih terbenam semua di dalam liang
senggama Mami.
Setelah nafas Mami mulai agak teratur. Mami membuka matanya dan
segera mencium bibirku sambil berkata lirih.., "Iwaan, terima kasiih
yaa.. Sayaang.., Iwaan pintaar.. dan.. bisa muasin Mami."
Kembali bibirku diciumnya, dan segera kujawab.., "Maam.., Iwan
nggak tahu.. Maam, tapi Iwan sayaang.. Mami dan Iwan.. mauu Mami
senang."
Setelah kami diam sejenak dengan posisi masih seperti tadi, lalu kuberanikan bertanya ke Mami.
"Maam, jadi sekarang sudah selesai..? Kalau begitu.. Iwan.. cabut.. ya.. Maam..?"
"Jaangaan.. Waan," jawab Mami sambil mengencangkan pelukannya,
"Sebentar lagi kita lanjutkan seperti tadi.. sampai Iwan.. mencapai
klimaks," sambung Mami.
"Klimaks gimana Maam..?" tanyaku tidak mengerti.
"Aduuh.. Iwaan," jawab Mami sambil memencet hidungku, "Nanti Iwan
pasti tahu sendiri deh. Nanti Iwan terasa seperti mau kencing, lalu
Iwan coba tahan selama mungkin, lalu lepaskan kalau sudah tidak kuat,
dan dari punyamu akan keluar air mani yang menyemprot," lanjut Mami.
Aku hanya menjawab singkat, "Iyaa.. Maam, Iwan.. mengerti."
Setelah kami diam sesaat, Mami lalu berkata, "Waan, toloong cabut
punyamu duluu Waan, Mami mau mengelap punya Mami supaya agak kering,
biar kita sama-sama enak nantinya.
"Bener juga kata Mami," kataku dalam hati, "Tadi memek Mami terasa sangat basah sekali."
Lalu pelan-pelan batang kemaluanku kucabut keluar dari vagina Mami,
dan kuambil handuk kecil yang ada di tempat tidur sambil kukatakan,
"Maam, biar Iwan saja yang ngelap.. boleeh Maam..?"
"Terserah kamuu.. deh Waan," jawab Mami pendek sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar.
Aku merangkak mendekati vagina Mami, dan setelah dekat dengan
kemaluan Mami, lalu kukatakan, "Iwan bersihkan sekarang yaa.. Maam..?"
Kudengar Mami hanya menjawab pendek, "Yaa, boleeh Sayaang."
Lalu kupegang dan kubuka bibir kemaluan Mami, dan kutundukkan
kepalaku ke vaginanya. Lalu kusedot-sedot klitoris Mami agak kuat dan
pantat Mami tergelinjang keras, mungkin karena kaget.
"Iwaan.., kamu nakaal.. yaa."
Hisapan dan jilatan kembali kulakukan di semua bagian kemaluan
Mami, dan membuat Mami menggerak-gerakkan terus pantatnya. Kedua
tangannya kembali menekan kepalaku. Beberapa saat kemudian, terasa
kepalaku seperti ditarik Mami.
"Iwaan.., sudaah.. Sayaang.., Mami nggak tahaan. Sini.. yaang..!"
Lalu kuikuti tarikan tangan Mami. Tanpa disuruh, aku langsung naik
di atas badan Mami dan setelah itu kudengar Mami seperti berbisik di
telngaku.
"Iwaan, masukiin.. punyamu.. Sayang. Mami sudah nggak tahaan.. Yaang..!"
Tanpa membuang-buang waktu, kuangkat kedua kaki Mami dan kutaruh di
atas bahuku sambil ingin mempraktekkan seperti apa yang kulihat di film
tadi. Sambil kupegang batang kemaluanku, kuarahkan ke vagina Mami yang
bibirnya terbuka lebar. Lalu kutusukkan pelan-pelan, sedangkan Mami
dengan menutup matanya seperti pasrah saja dengan apa yang kuperbuat.
Karena vagina Mami masih tetap basah dan apalagi baru kujilat dan
kuhisap-hisap, membuat kemaluan Mami semakin basah, sehingga sodokan
penisku dapat dengan mudah memasuki lubang kemaluan Mami.
Untuk meyakinkan apakah penisku sudah masuk vagina Mami apa belum,
sambil tetap kutusukkan penisku, aku bertanya, "Maam, sudaah..
maasuuk..?"
Kudengar Mami menjawab, "Iii.. yaa.. Saayaang, teeruuskan.. yang dalaam..!"
Karena kurasa sudah benar dan Mami memintaku untuk lebih dalam,
lalu kehentakkan batang kemaluanku agak kuat masuk ke dalam vagina
Mami.
Mulai kuayunkan penisku keluar masuk liang senggama Mami dengan
cepat, sehingga badan Mami bergoyang semua sesuai dengan ayunanku,
serta kedua buah dada Mami juga bergoyang-goyang keras, sedangkan dari
mulut Mami kudengar desisan.
"Sshh.. shh.. Waan.. teruuss.. Yaang.. shh.. aduuh.. enaak Waan, teruus.. yang dalaam.. Yaang..!"
Karena tidak tahan mendengar ocehan-ocehan Mami, sehingga hal itu membuat nafsuku semakin meningkat.
Sambil mempercepat ayunan penisku keluar masuk vagina Mami, secara
tidak sadar keluar dari mulutku, "Maam, sshh.. Maam, Iwaan.. juuga..
sschh.. enaak.."
Karena rasa enak yang tidak dapat kuungkapkan disini, makin
kupercepat gerakan batang kemaluanku keluar masuk liang senggama Mami.
Apalagi sesekali terasa penisku seperti tersedot-sedot atau terhisap
oleh kemaluan Mami.
Lalu secara refleks tercetus dari mulutku, "Maam.., sepertinya
Iwaan.. sudah kepingin.. seperti yang.. Mamii.. bilang tadii..
dicabuut.. yaa.. Maam..?"
Sedangkan Mami, mungkin setelah mendengar kata-kataku barusan,
lalu juga mempercepat semua gerakan badannya, dan juga melepas kedua
kakinya dari bahuku serta memelukku kuat-kuat sambil berkata
tersendat-sendat.
"Iwaan, jangaan.. Yaang.., jangan..! Biakan.., Mamii.. jugaa. sudah mau keluaar Yaang..! Ayoo.. kitaa.. samaa.. samaa Yaang..!"
Aku sudah kehilangan kesadaran karena keenakan dan apalagi mendengar kata-kata Mami yang cukup merangsang ini.
Lalu, "Maam..!" teriakku agak panjang sambil kepala dan rambut Mami kuremas dan kujambak kuat-kuat.
Bersamaan dengan teriakanku, Mami pun tiba-tiba berteriak cukup
keras sambil kedua kakinya dilingkarkan kuat-kuat ke pantatku dan
rambutku di remas-remasnya.
Aku dengan nafas terengah-engah, tertelungkup lemas di atas badan
Mami. Dan Mami pun kulihat lemah lunglai dengan nafas terengah-engah
sambil menutup kedua matanya, berusaha menenangkan diri dengan mengatur
nafasnya. Setelah nafasku agak teratur, kucium bibir Mami lalu
kubisikkan di telinga Mami.
"Maam.., terimaa kasih Maam, Iwaan.. sayaang Mamii," kataku sambil
kembali kucium bibir Mami, sedangkan Mami tetap masih memejamkan
matanya dan nafasnya sudah kembali teratur.
Ia menjawab, "Iwaan.., Mami puaas Sayang. Terima kasiih Waan,"
katanya sambil memiringkan badannya sehingga posisi kami sekarang
menjadi tiduran saling berhadapan dan penisku yang terasa masih tegang
itu masih tetap berada dalam liang senggama Mami.
Beberapa saat kemudian sambil saling memandang dan berpelukan, kutanyakan pada Mami, "Maam.., punya Iwan boleh Iwan cabut..?"
Mami sambil memencet hidungku menjawab, "Jangan dulu Sayang. Biarin
dulu di dalam punya Mami. Mami masih kepingin merasakan punyamu yang
besar itu."
"Coba deh Waan. Coba Iwan kocok keluar masuk punya Iwan, biar Mami
bisa merasakan enaknya punyamu," katanya lagi sambil salah satu kaki
Mami diangkatnya dan diletakkan di atas pinggulku.
Tanpa menunggu kata-kata Mami lainnya, lalu kumulai
memaju-mundurkan pelan-pelan batang kejantananku ke dalam vagina Mami.
Mami kulihat memejamkan matanya seperti sedang menikmati
gesekan-gesekan penisku yang keluar masuk lubang kemaluannya. Tapi
setelah beberapa saat, kurasakan dalam posisi miring ini sepertinya
masuknya kemaluanku ke dalam vagina Mami terasa kurang dalam. Lalu,
secara perlahan kudorong bahu Mami sehingga telentang. Dan bersamaan
dengan doronganku, kunaiki tubuh Mami, sehingga batang kemaluanku yang
ada di dalam vagina Mami tidak sampai terlepas. Mami sepertinya
mengerti kemauanku, dan sepertinya malah membantuku dengan memeluk
badanku rapat-rapat serta membuka kakinya lebar-lebar.
Lalu kuayun penisku perlahan-lahan keluar masuk kemaluan Mami.
Karena Mami masih diam saja, dan tetap masih menutup kedua matanya,
lalu kutanyakan sambil berbisik di dekat telinganya.
"Maam.., gimana Maam, enaak apa nggak punya Iwaan..?
Kulihat Mami membuka matanya, lalu mencium bibirku serta terus berbisik.
"Wan.., teruuskan.. Saayaang, Mami menikmatinya Wan,
Setelah Mami selesai menjawab pertanyaanku, kurasakan Mami mulai mengerakkan dan memutar pantatnya perlahan-lahan.
Karena Mami mulai menggerakkan pantat atau pinggulnya lagi,
kuputuskan untuk menghentikan gerakan kemaluanku keluar-masuk dengan
posisi penisku sudah masuk semua ke dalam liang senggama Mami. Ingin
merasakan enaknya gerakan Mami, tapi mungkin karena merasakan, aku
sekarang diam, Mami ikut berhenti juga dan membuka matanya lalu
memandangku sayu seperti bertanya.
"Kenapa diam.. Wan..?"
Agar Mami tidak bertanya lebih lanjut, lalu kukatakan di telinga
Mami, "Maam.., Iwan diam karena kepingin merasakan sedotan dan pijatan
seperti tadi Maam."
Mami hanya tersenyum dan dipegangnya kepalaku, lalu diciumnya
pipiku sambil berbisik, "Waan.., kamu mulai nakal.. yaa..? Niih..
Mami.. kasih.. apa yang Iwaan minta..!" lanjut Mami sambil memeluk
badanku.
Tidak lama kemudian, terasa batang kemaluanku seperti disedot-sedot
dan dipijat-pijat, mulai dari lemah, makin kuat dan kuat, sehingga
secara tidak sadar aku berbisik agak keras.
"Maam.., enaak.. enaak.. Maam.. Aduh enaak.. aahh.. enaak.. Maam,"
Karena sedotan dan pijatan di batang kemaluanku terasa semakin
kuat, secara tidak sadar kumulai lagi mengocok penisku keluar masuk
vagina Mami. Mula-mula pelan, lalu kupercepat.
Karena enaknya, aku langsung bilang, "Maam.., enaak Maam.. Iwaan.. mau lagi Maam. Ayoo Maam..!"
Mungkin karena melihatku mulai bernafsu lagi, Mami langsung mulai menggerakkan pinggulnya lagi yang makin lama makin cepat.
Selang beberapa lama, aku merasakan kalau air maniku sudah mau keluar, tapi kucoba menahannya selama mungkin.
Tiba-tiba, "Mami.., Maam.., Iwaan sudaah mau keluar.."
Mendengar bisikanku ini, kurasakan gerakan pinggul Mami semakin cepat dan pelukan tangannya di badanku juga semakin keras.
"Waan.., Mami juga sudah dekat Waan.. Ayoo Waan.. sama-sama..!"
Belum sampai Mami menyelesaikan kata-katanya, aku berteriak agak
keras, "Mamii.. Iwaan keluar.. ahh..," sambil kubenamkan seluruh batang
kemaluanku kuat-kuat ke dalam vagina Mami.
Bersamaan dengan teriakanku itu, kudengar Mami pun berteriak cukup
kuat, "Iwaan.., Maamii keluaar.. jugaa.. Ayo Wan, cepaat.. archh..!"
Dengan nafas tersengal-sengal, kutelungkupkan badanku yang lemas
itu di atas badan Mami, dan Mami juga dengan nafasnya yang
terengah-engah, tergeletak seperti tidak bertenaga dengan kedua
tangannya terkapar di samping badannya.
Setelah nafasku sedikit teratur, kucabut batang kemaluanku dari
dalam liang senggama Mami. Kujatuhkan badanku tiduran di samping Mami,
dan terdengar Mami berbisik, "Terima.. kasiih.. yaa.. Sayang..!"
Dan setelah berhenti sejenak, sambil mencium pipiku, Mami berkata
lagi, "Waan.., ini hanya kita berdua ya yang tahu, Papamu atau adikmu
jangan sampai tahu ya Wan."
Supaya hati Mami tenang, lalu kujawab, "Maam, Iwan akan jaga itu.., terima kasiih ya Maam," sambil kucium pipi Mami.
Aku terus bangun dan mandi bersama Mami di kamar mandi Mami.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
836,547 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
591,051 |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
513,086 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
510,659 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
501,162 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
479,413 |
| Tanteku yang Seksi Sekali |
ricky_junetri@yahoo.com |
409,109 |
| Kisah Cinta Ibu dan Anak - 1 |
rahasia_donk2003@yahoo.com |
372,943 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
368,609 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
349,188 |
| Istriku Selingkuh dengan Keponakan |
wirata65@yahoo.com |
341,657 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
314,511 |
| Seks Sekeluarga 01 |
rhysal19@yahoo.com |
304,170 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
292,388 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
287,469 |
|
|
|
|
|
|
|