|
|
Namaku Edo. Aku adalah seorang mahasiswa di
sebuah PTS swasta terkenal di Jakarta. Cerita berawal 2 tahun yang
lalu, ketika anak pamanku yang tinggal di Malang disekolahkan oleh
orangtuanya ke Jakarta. Devi namanya. Usianya saat itu baru 16 tahun.
Walaupun begitu, ia terlihat lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya.
Tingginya sekitar 165 cm, rambut panjang sebahu dengan bentuk tubuh
yang proporsional. Dadanya cukup besar, kutaksir ukurannya sekitar 34
B. Hidungnya mancung dan
kulitnya putih mulus. Maklum, ibunya keturunan Belanda.
Selama bersekolah di Jakarta, Devi tinggal di rumahku. Makin hari,
kami semakin akrab. Terkadang, bila ada waktu luang, ku jemput dia
sepulang sekolah dengan mobilku. Tidak jarang kuajak dia ke
tempat-tempat rekreasi yang ada di Jakarta, atau ke mal untuk sekadar
Window Shopping. Semua itu kulakukan hanya untuk berdekatan dengannya.
Sejujurnya, aku tergiur dengan keindahan tubuhnya. Namun semua itu
masih bisa kutahan. Aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak melakukan
hal-hal yang menjurus padanya, mengingat dia adalah sepupuku sendiri.
Suatu hari, hujan turun deras sekali. Rumahku sedang kosong saat
itu. Kedua orangtuaku sedang sibuk dangan urusan bisnisnya
masing-masing. Adikku main ke rumah temannya, sedangkan pembantuku
pulang kampung. Tinggallah aku sendiri di kamarku, bersantai sambil
menyaksikan film porno ditemani sebotol Vodka. Aku adalah seorang
pecandu alkohol. Tiba-tiba kudengar bel pintu berbunyi.
"Siapa yang datang hujan-hujan begini?", pikirku dalam hati.
Segera saja kubuka pintu dan tampak di depan pintu pagar rumahku
ada seorang gadis berseragam SMU yang kehujanan. Ternyata gadis itu
adalah Devi.
"Kehujanan ya Vi?" dia mengangguk.
"Kenapa ngga minta di jemput?"
"Tanggung Kak, Devi udah di perjalanan pas hujan tadi"
"Ya sudah kamu mandi air panas sana, biar nggak demam nanti."
Dia pun menurut. Saat itu aku baru menyadari di depanku ada
pemandangan yang sangat indah. Tubuh Devi yang sangat indah terlihat
jelas di balik seragam sekolahnya yang basah kuyup. Saat itu, Devi
mengenakan Bra hitam yang sangat seksi. Melihat pemandangan seperti
itu, penisku langsung menegang. Tiba-tiba muncul keinginan kuat untuk
mencicipi tubuh Devi, sepupuku sendiri. Aku langsung melepaskan semua
pakaianku, supaya lebih gampang melaksanakan niat jahatku. Kutunggu dia
di depan kamar mandi.
Selang beberapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan muncul Devi
dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia tampak
kaget setengah mati melihatku dalam keadaan bugil.
"Kak..", belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, kuterkam tubuhnya.
Kudekap erat dan kutarik handuk yang melilit di tubuhnya dengan
cepat, sehingga ia langsung telanjang bulat sama sepertiku. Ku seret
dia ke dalam kamarku. Dia mencoba memberontak tapi sia-sia. Tenagaku
jelas lebih kuat darinya.
"Kak, apa-apaan ini? Lepaskan!" Aku tidak peduli dengan teriakannya.
Sesampainya di kamar, kuhempaskan tubuhnya ke ranjang. Kutindih tubuhnya, kuciumi lehernya yang putih mulus.
"Kak, sudah Kak, cukup! Ingat aku saudaramu.."
"Diam kamu!"
"Kak Edo mabuk yah.. sadar Kak.."
Teriakan dan rontaannya malah membuatku semakin terangsang. Kulumat bibirnya yang merah dan tipis menggiurkan itu.
"Mmmhh.. mmppff.." Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan oleh bibirku.
Sementara tangan kiriku meremas dadanya yang putih dan montok.
Begitu kenyal dan halus. Kumainkan putingnya yang berwarna pink itu. Ia
masih belum menyerah untuk berontak. Tetapi, semakin ia berontak,
semakin aku bernafsu untuk memperkosanya. Ciumanku turun ke dadanya.
Kulumat puting susunya dengan rakus. Kadang kugigit-gigit. Devi
menggelinjang kegelian.
"Kak.. sshh.. cukuphh.. udah dong.. sshh" Ujarnya setengah mendesah.
Aku malah semakin gencar melancarkan seranganku. Kali ini jemariku
kuarahkan ke vaginanya. Kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ternyata
Devi sudah tidak perawan.
"Ooo, kamu sudah pernah toh.. gimana rasanya, enak kan? Sudahlah,
nggak usah malu-malu. Nikmati aja.." Mendengar kata-kataku, Wajah Devi
merah padam menahan malu.
"Tidak! Devi nggak mau.."
Mulutnya menolak, tetapi kurasakan vaginanya semakin basah karena
jariku bergerak keluar masuk. Pantatnya pun bergerak-gerak merespon
gerakan jariku. Kupermainkan klitorisnya dengan jariku. Dia tersentak
kaget.
"Aahh.. jangan.. mmhh". Ciumanku pindah lagi ke bibirnya.
Kumainkan lidahku. Selama beberapa detik tidak ada respon. Tetapi
beberapa saat kemudian lidahnya membalas lidahku. Dia juga sudah tampak
mulai pasrah, tidak lagi mencoba berontak seperti tadi. Kulepaskan
ciumanku dari bibirnya. Kujilati dari wajahnya ke leher, turun ke dada,
perut dan akhirnya sampai pada lubang kenikmatan. Kujilat-jilat bibir
vaginanya sementara jariku masih bergerak keluar-masuk vaginanya.
"Ooohh.. udahh.. geli.." Tangannya mencoba mendorong kepalaku. Tapi kutepiskan dengan tanganku yang satu lagi.
Kuteruskan permainan lidahku di vaginanya. Kali ini kugelitik klitorisnya.
"Uuhh.. sshh.. jangaannhh.. sshh".
Vaginanya semakin basah. Kupikir, inilah saatnya.
Aku segera bangkit dan mengarahkan penisku yang sudah pada
ketegangan maksimal. Devi sepertinya tahu apa tindakanku selanjutnya.
Dia mencoba mendorongku, tapi kupegangi kedua tangannya. Kubuka lebar
kedua pahanya dengan pahaku. Kumajukan pinggulku dan, bless! Dengan
sekali tekan, amblaslah penisku ke dalam vaginanya.
"Jangan Kaakk.. oohh" teriaknya berusaha mencegahku.
Tetapi sudah terlambat. Aku tidak membuang waktu. Langsung
kukocokkan penisku, semakin lama semakin cepat. Vagina Devi masih
sangat sempit. Mungkin karena belum terlalu sering diterobos. Kurasakan
vaginanya berdenyut-denyut. Nikmat sekali. Devi pun sepertinya sudah
lelah untuk melawan. Ia malah terlihat seperti sedang menikmati setiap
sodokan yang kulakukan.
"Ssshh.. mmhh.. uuhh.." begitu saja yang keluar dari mulutnya.
Wajahnya merah, entah merah karena malu, atau karena nafsu.
Bibirnya yang seksi terbuka, membuatku ingin melumatnya. Langsung saja
kucium bibirnya. Kali ini, Devi langsung membalas ciumanku. Lidah kami
saling membelit satu sama lain. Tanganku tidak tinggal diam. Kuremas
lembut payudaranya yang indah. Kadang kupelintir putingnya yang sudah
menegang.
"Oohh.. sshh.. uuhh" desahannya semakin keras.
"Gimana, enak kan?" tanyaku.
Wajahnya semakin merah mendengar pertanyaanku. Dia hanya terdiam.
Kuhentikan sodokanku. Ternyata pantatnya masih terus bergoyang-goyang.
Kusentakkan pinggulku secara tiba-tiba. Kupercepat gerakanku sampai
pada batas maksimal kemampuanku.
"Aaahh.. Kak Edohh.. uuhh.. sshh.."
"Kenapa sayang? kamu menikmatinya?"
"Iyahh.. oohh.. eennaakkhh.. sshh.. aahh..".
Tak terasa 15 menit sudah kami berpacu dalam nafsu.
"Kak.. sshh.. Devi.. mauhh.. kkelluarrhh.. oohh.."
"Tahan dulu sayang.. hh.. sebentar lagi.."
"Nggak bisaahh.. Devvii kkelluuaarr.. aakkhh.."
Badannya mengejang tak karuan diiringi teriakan kenikmatan yang
membahana. Sementara kecepatanku sama sekali tidak kukurangi. Tangan
kiriku menggelitik klitorisnya, tangan kananku meremas dan memainkan
payudara kirinya, sedangkan bibirku menghisap puting susu sebelah
kanan. Semua kulakukan untuk menambah nikmatnya sensasi orgasme.
"Sabar ya sayang. Aku belum keluar." bisikku mesra di telinganya.
Kucabut penisku dari vaginanya untuk memberinya kesempatan
beristirahat. Kujilati lehernya sampai ke belakang telinga. Kugelitik
klitorisnya dengan jemariku. Tak lama kemudian, vaginanya kembali
basah.
"Kamu mau lagi sayang?". Devi mengangguk pelan.
Kali ini dia lebih agresif. Dia langsung memegang penisku da meremasnya.
"Punya Kak Edo besar dan panjang yah.. sampai mentok."
Aku hanya tersenyum. Bangga juga ada yang memuji senjataku,
walaupun bukan yang pertama kali penisku diakui kehebatannya. Devi
meneruskan aksinya. Dia tidak lagi meremas, melainkan menjilati penisku
dari ujung sampai ke buah zakar. Nikmat sekali rasanya. Tak lama
kemudian, dia mengulun penisku. Kulumannya sangat nikmat. Lembut, tapi
sangat terasa. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati
setiaphisapan yang dilakukannya padaku. Saat kubuka mata, Devi sudah
duduk di atas penisku. Dia lalu mengarahkan penisku ke lubang
vaginanya. Dan.. slebb.. tertelan sudah batang penisku oleh vaginanya.
Devi bergoyang diatasku seperti orang menunggang kuda. Terkadang, ia
memutar pinggulnya, persis seperti goyang Inul. Kuremas-remas
payudaranya yang menggantung seksi di depanku. Kadang kuhisap dan
kujilati putingnya.
"Oohh.. sshh.. geli.. mmhh.." Devi merintih-rintih di atasku.
Selang 20 menit kemudian, Devi orgasme untuk yang kedua kalinya.
Dia langsung ambruk di dadaku. Kubalikkan tubuhnya. Kutusuk dari
belakang. Kugerakkan pinggulku secepat mungkin. Devi hanya mampu
merintih dan mendesah. 5 menit kemudian, akumerasa ada sesuatu yang
hendak keluar dari senjataku.
"Vi.. aku.. mauhh.. kkeelluarr.."
"Janganhh.. dihh.. dalammhh.. mmhh"
Langsung kucabut penisku dan kuarahkan ke wajahnya. Kubiarkan dia
mengulum penisku. Beberapa detik kemudian.. croott.. croott.. aku
ejakulasi di wajahnya. Sebagian spermaku masuk ke mulutnya, dan
sebagian lagi membasahi wajah, leher dan dadanya.
Kami berbaring lemas dengan nafas tersengal. Kami
berbincang-bincang dan akhirnya dia menceritakan tentang mantan
pacarnya yang merenggut keperawanannya. Mantan pacarnya adalah kakak
kelasnya sewaktu di Malang. Sekarang, anak itu sudah meninggal akibat
overdosis narkoba. Devi pindah ke Jakarta untuk berusaha melupakan
peristiwa itu. Ia beralasan kepada orangtuanya bahwa sekolah di Jakarta
lebih bagus. Setelah cukup lama berbincang-bincang, kuajak dia mandi
bersama.
Nafsuku kembali bangkit saat kami saling menyabuni tubuh
masing-masing. Saat itu dia menyabuni penisku sambil meremas-remasnya.
Langsung kucium bibirnya dan dia membalas dengan tak kalah ganasnya.
Kami kembali melakukannya, kali ini dengan posisi berdiri di bawah
guyuran shower. Tak henti-hentinya kuremas payudaranya yang montok dan
kenyal itu. Kami melakukannya selama kurang lebih 12 menit lalu orgasme
hampir berbarengan. Aku kembali berejakulasi di wajahnya. Entah
mengapa, aku sangat merasa sangat puas bila melihat wajah wanita
berlumuran spermaku.
Kami masih sering melakukannya hingga saat ini. Tak hanya di rumah
tetapi juga di tempat-tempat lain seperti di hotel, mobilku, bahkan
pernah kami melakukannya di WC sekolahnya. Padahal, aku sudah punya
pacar dan Devi pun begitu. Ada kepuasan yang berbeda bila bercinta
dengannya. Ada satu hal yang sama-sama ingin kami coba, yaitu beradegan
three some. Ada yang berminat untuk ikutan?
E N D
| Title | Author | Views |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
836,509 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
591,027 |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
513,056 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
510,636 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
501,135 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
479,398 |
| Tanteku yang Seksi Sekali |
ricky_junetri@yahoo.com |
409,083 |
| Kisah Cinta Ibu dan Anak - 1 |
rahasia_donk2003@yahoo.com |
372,876 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
368,568 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
349,176 |
| Istriku Selingkuh dengan Keponakan |
wirata65@yahoo.com |
341,607 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
314,505 |
| Seks Sekeluarga 01 |
rhysal19@yahoo.com |
304,163 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
292,383 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
287,457 |
|
|
|
|
|
|
|